Ketika Ditinggal Tidur Gadis Cantik Teman Seperjalanan
--------------------------------------------------------------------------

Setelah sport jantung naik ojek membelah kemacetan Jakarta, setiba di depan 
stasiun saya melihat jam di HP (saya tidak punya arloji) menunjukkan pukul 
19:40 WIB. Ini berarti saya masih punya sisa waktu sekitar 20 menit sebelum 
kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi berangkat menuju Jogja.

Walaupun nafas saya mulai terasa lebih longgar dan lega, tiba-tiba saya merasa 
harus memutuskan di antara tiga pilihan di tengah sisa waktu yang singkat. Saya 
harus menentukan antara ke toilet dulu karena sudah kebelet sejak tadi, makan 
dulu setelah sehari berpuasa dan baru sempat diisi sedikit air putih saja, atau 
sholat maghrib dan isya dijamak (digabung). Assessment singkat kemudian saya 
lakukan. Kalau ke toilet masih bisa di atas kereta dan demikian pula makan, 
tapi kalau sholat di kereta akan rada kesulitan. Maka akhirnya saya putuskan 
untuk ke mushola dan sholat dulu.

Selesai sholat, segera saya bergegas masuk stasiun Gambir dan langsung naik ke 
lantai tiga sambil terburu-buru. Pasalnya halo-halo stasiun sudah 
memanggil-manggil penumpang Argo Lawu. Rupanya tempat duduk saya di Gerbong 1, 
terpaksa harus jalan menuju ke ujung depan rangkaian kereta. Masuk gerbong, 
lalu mencari tempat duduk, kemudian meletakkan tas ransel butut berisi laptop 
ke tempat bagasi di atas tempat duduk dan..... wow, penumpang di sebelah kanan 
saya ternyata seorang gadis cantik. Setidak-tidaknya saya melihat paras ayunya. 
Untuk subyek seperti ini memang biasanya assesssment bisa cepat (tapi 
sumprit..., ini bukan karena pengalaman melainkan naluri saja).

Begitu merebahkan badan di tempat duduk kereta dan lalu saya buat perasaan 
senyaman mungkin, serta-merta begitu saja saya bercerita kepada gadis di 
sebelah saya tentang perjalanan mendebarkan yang baru saja saya lakukan naik 
ojek menuju stasiun Gambir. Gadis itu tertawa renyah mendengar cerita saya. 
Entah kenapa spontan saya merasa gadis itu bukan orang lain, sehingga tidak 
perlu berbasa-basi ini-itu. Komunikasi jadi mudah dan lancar seperti dua orang 
yang sudah lama kenal. Bagi seorang yang suka iseng ketika tidak ada kesibukan 
lain seperti yang saya alami malam itu, maka suasana akrab itu perlu saya 
bangun karena selama delapan jam ke depan dia akan menjadi teman seperjalanan 
menuju Jogja. Agar azas “praduga tak bersalah” dapat ditegakkan, sengaja saya 
tidak membuat Bab Pendahuluan dengan ingin tahu siapa namanya, apalagi no 
HP-nya. 

Tidak lama kemudian kereta Argo Lawu berangkat meninggalkan Jakarta. Saya masih 
termangu-mangu sambil tersenyum (jelas tidak sendiri karena sudah ada teman 
tersenyum di sebelah saya yang pasti jauh lebih manis), kalau mengingat 
perjalanan saya naik ojek membelah kemacetan Jakarta beberapa menit sebelumnya.

Sekitar sejam perjalanan, barulah saya ingat dua hal yang sebelum masuk stasiun 
tadi belum sempat saya tunaikan. Sekitar jam 9 malam saya pesan kopi panas dan 
nasi goreng sebagai makanan berbuka yang terlambat. Setelah itu baru ke toilet 
sembari sesudahnya menghabiskan sebatang Marlboro merah di depan toilet kereta. 
Eh bukan sebatang, melainkan dua batang. Lalu kembali duduk dan melanjutkan 
ngobrol dengan gadis di sebelah saya yang rupanya seorang karyawan bank swasta 
yang hendak libur mudik ke Magelang lewat Jogja.

Ada sedikit keheranan saya dengan pengalaman perjalanan saya hari itu. Hanya 
untuk keperluan dua jam di Jakarta, tapi perjalanannya serasa mengalami hari 
yang aneh. Saya berangkat dari Jogja siang harinya naik pesawat. Maskapai Lion 
Air memberi saya tempat duduk no. 38F pada pesawat MD 90 yang berarti berada di 
baris paling belakang dan seat paling pojok kanan yang tidak berjendela. Ketika 
kembali ke Jogja naik kereta, Argo Lawu memberi saya tempat duduk Gerbong 1 no. 
1A yang berarti paling depan. Pas benar, dari duduk paling belakang saat 
berangkat ke duduk paling depan saat kembali, padahal ada ribuan penumpang, 
ratusan agen perjalanan dan puluhan calo di antaranya.

Dalam perjalanan kembali ke Jogja pada malam Idul Adha yang seharusnya malam 
takbiran itu  rasanya sulit sekali untuk tidur, klisikan... Padahal waktu 
berangkat naik pesawat siangnya saya full tidur sejak pesawat lepas landas di 
Adisutjipto hingga mendarat di Cengkareng. Untuk mengusir kejenuhan, saya 
ber-SMS-ria dengan para sahabat di luar kereta sambil diselingi ngobrol canda 
dengan gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya malam itu. Para sahabat 
yang berada jauh di luar kereta sana bisa menjadi teman seperjalanan yang lebih 
mengasyikkan melalui SMS. Itu karena kami tidak saling terikat ruang dan waktu. 
Bisa kapan saja dilakukan, sambil apa saja, membicarakan apa saja, asyik dengan 
dirinya sendiri tanpa masing-masing perlu tahu apalagi perduli dengan suasana 
di sekitarnya. 

Diantaranya saya sempatkan ber-SMS dengan anak perempuanku di Jogja. Saya 
bercerita tentang pengalaman mendebarkan naik ojek menerobos kemacetan yang 
barusan dialami bapaknya di Jakarta dan hingga nyaris ketinggalan kereta. Salah 
satu SMS yang saya kirim ke putriku itu bunyinya begini : "Just left Jakarta, 
nearly missed the train, a beautiful girl sits right beside me...".

Rupanya oleh putriku dibalas cepat : "Ha ha ha.. oke oke.. be careful pa...", 
kata SMS putriku bernada canda. Saya tersenyum membacanya sambil berucap 
"thanks" dalam hati. Saya senang membaca pesan putriku, cuma habis itu saya 
mikir : "Lho, sing be careful iki opone... (yang be careful itu apanya)". Sebab 
yang mestinya disuruh be careful itu masinisnya, kalau saya kan tinggal duduk 
pasrah sama keretanya dan tidur kalau bisa, atau... ya ngobrol dengan a 
beautiful girl right beside me itu tadi. 

Karena kemudian saya ditinggal tidur juga oleh gadis cantik teman seperjalanan 
di sebelah saya, sementara SMS sahabat nun jauh di luar kereta sana terus 
menemani sambil takbiran di dalam kereta, sejenak pikiran saya menerawang 
jauh... 

Enam tahun yang lalu pada malam yang sama, saya dan ibunya putriku mengumpulkan 
kerikil di padang Muzdalifah. Lalu tiduran di atas tikar menikmati malam yang 
bersih dengan hembusan angin dingin yang bertiup sesekali lembut sesekali agak 
kencang melintas di bentang alam antara padang Arafah dan lembah Mina. 
Labbaikallahumma labbaik..., kupenuhi panggilanmu Ya Allah... Ingin sekali aku 
mengulanginya, ingin sekali aku kembali memenuhi ajakanMu untuk bercumbu-mesra 
dalam suasana batin yang tak terkatakan, melainkan hanya titik airmata mewakili 
kehadiranku di hadapanMu... 

Yogyakarta, 28 Nopember 2009
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke