Menuju Pendakian Terindah Ke Puncak Rinjani
----------------------------------------------------------------

Pada sekitar pertengahan Desember yll. saya bertanya kepada sahabat kecilku : 
"Tahun baru nanti mau kemana?". Pertanyaan ini dipahami oleh sahabat kecilku 
(Noval, 15 tahun) yang mulai 'gila' mendaki gunung yang maksudnya adalah 
mendaki gunung apa? Tahun baru setahun yll. saya temani sahabat kecilku mendaki 
puncak Merapi dan tahun baru sebelumnya ke puncak Lawu. Rupanya kali ini Noval 
belum ada rencana. Ketika saya tanya apakah tahun baru nanti mau muncak? Noval 
mengiyakan.

Majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi, yang bertajuk "55 
Pendakian Terindah" yang barusan saya beli serta-merta saya sodorkan kepada 
Noval untuk dibacanya. Setelah itu saya beri penawaran : "Pilih satu gunung dan 
Insya Allah bapak temani untuk mencapai puncaknya pada Tahun Baru nanti, 
mumpung bapak masih sehat 'gilanya'. Kecuali puncak Carstensz karena untuk yang 
satu itu memerlukan persiapan yang sangat khusus dan kita belum siap". Akhirnya 
terpilih nominasi antara gunung Semeru atau Rinjani. Setelah kemudian 
mempertimbangkan tingkat kesulitan, tingkat bahaya dan kondisi cuaca, maka 
dipilihlah gunung Rinjani di pulau Lombok, NTB. Di balik itu sebenarnya saya 
bermaksud memenuhi janji saya untuk menemani Noval yang menyimpan obsesi ingin 
mendaki semua gunung di Indonesia dan mengalahkan bapaknya.    

Puncak gunung Rinjani (3.726 mdpl) dapat disebut sebagai puncak tertinggi 
ketiga di Indonesia setelah Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) sebagai bagian dari 
pegunungan Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci (3.800 mdpl) di Jambi. Tahun 
1995 saya pernah mendaki Carstensz hingga mencapai batas esnya saja. Memang 
sengaja pendakian itu tidak dimaksudkan untuk mencapai puncaknya mengingat 
persiapan teknis maupun perlengkapan yang sangat terbatas jika harus mendaki 
gunung es.

Puncak Kerinci sudah pernah saya capai pada tahun 1995 dalam sebuah pendakian 
menuju puncak di bawah hujan lebat di tengah belantara Sumatera yang masih 
menyembunyikan harimau, berdua dengan ditemani seorang gadis sahabat saya 
Winda. Sedangkan puncak Rinjani pernah saya capai pada tahun 1991 juga berdua 
dengan seorang sahabat saya Riady Bakri yang kini menekuni hobi fotografi, dan 
sempat menikmati momen yang begitu menggetarkan hati ketika kami sholat subuh 
berjamaah menjelang mencapai puncak. 

Melalui tulisan ini saya ingin mengenang dan menyampaikan terima kasih disertai 
penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua sahabat saya itu (kalau mereka 
sempat membaca tulisan ini, terutama Winda yang sekarang entah dimana). Mereka 
telah membuktikan menjadi teman seperjalanan pendakian yang luar biasa di 
tengah upaya yang tidak mudah menaklukkan kedua puncak gunung itu menjadikannya 
sebagai pendakian terindah.  

Pendakian ke Rinjani pada tahun 1991 kami tempuh selama tiga hari dengan 
mengambil rute mendaki melalui daerah Senaru di sisi utara dan turun melalui 
daerah Sembalun di sisi timur daratan pulau Lombok. Kali ini kami akan 
mengambil rute sebaliknya yaitu mengawali pendakian dari Sembalun dengan 
pertimbangan medan pendakiannya relatif landai dan akan turun melalui Senaru 
yang medannya lebih terjal selama empat hari karena akan menyempatkan untuk 
mengeksplorasi kawasan danau Segara Anak yang memiliki bentang alam yang sangat 
eksotis (seperti sering terlihat di awal acara kumandang adzan maghrib stasiun 
TV7).  

Cuaca pada akhir tahun memang selalu kurang menguntungkan bagi pendaki gunung 
karena bersamaan dengan datangnya musim penghujan. Oleh karena itu kemungkinan 
terburuk harus sudah kami antisipasi termasuk jika harus gagal mencapai puncak 
ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat ekstrim. Kerugian lain adalah kemungkinan 
tidak dapat menikmati pemandangan indah di puncak gunung akibat tebalnya awan, 
kabut atau malah hujan lebat. Situasi terburuk itu sangat kami sadari peluang 
terjadinya, termasuk biaya yang tidak sedikit Jogja – Lombok pp.

Oleh karena itu sambil bercanda tapi serius, saya bilang kepada Noval : "Kita 
memang akan mendaki Rinjani hanya berdua, tapi kita memohon kepada Sang Maha 
Pemilik Rinjani agar bersedia menjadi pemimpin pendakian. Maka mulai sekarang 
juga kita jangan berhenti berdoa agar rencana pendakian kita berjalan lancar 
dan cuaca pun cerah".

Di balik semua rencana pendakian ini sebenarnya saya menyimpan misi khusus. 
Sebagai seorang ayah, saya akan menjadikan perjalanan pendakian ini sebagai 
media untuk mengajari Noval tentang kehidupan dan perjuangan hidup. 
Kedengarannya seperti ambisius. Tapi memang benar, lebih baik ambisius tetapi 
didahului dengan pematangan gagasan dan pemikiran, rencana aksi, strategi 
pencapaian dan pemahaman dalam pelaksanaannya, dari pada ambisius tapi tanpa 
bekal apa-apa seperti orang-orang yang sering kita lihat bergaya di televisi 
atau di koran-koran akhir-akhir ini. 

Bagi mereka yang tidak suka dengan kegiatan ngoyoworo (membuang-buang waktu) 
seperti mendaki gunung ini mungkin akan berkata bahwa lebih baik biaya besar 
yang digunakan untuk mendaki gunung disalurkan kepada mereka yang lebih 
membutuhkan (mohon maaf, tak endhas-endhasi wae...). Jangan khawatir, untuk 
yang terakhir itu kami sudah mengalokasikan anggarannya tersendiri, dan sisanya 
baru dipakai untuk mendaki gunung (sisa tapi jumlahnya lebih banyak...).      

Kini saya ingin mengajak sekaligus mengantarkan sahabat kecilku yang adalah 
anak lelaki saya menuju ke puncak Rinjani mengawali hari baru tahun 2010. 
Semoga akan menjadi pendakian terindah bagi Noval, sahabat kecilku, dan 
mengulang salah satu pendakian terindah yang pernah saya lakukan 18 tahun yll. 

Tertarik Bergabung?

Jika ada pembaca tulisan ini yang berminat bergabung melakukan pendakian ke 
puncak Rinjani bersama-sama dengan saya dan sahabat kecilku, silakan 
menghubungi saya di alamat email dan no. HP di bagian bawah. Siapkan 
perlengkapan pendakian Anda, sedangkan untuk transportasi lokal dan konsumsi 
selama pendakian silakan bergabung dengan kami tanpa biaya. Kami tunggu di 
Mataram, NTB, hingga tanggal 30 Desember 2009 pagi karena siangnya kami akan 
meluncur menuju desa terakhir di Sembalun, Lombok Timur.

Jika tidak ada aral melintang, rencana pendakian kami kira-kira sbb.: 
31-Des-09 pagi : Memulai perjalanan menuju Plawangan Sembalun.
01-Des-09 dini hari : Menuju puncak (summit attack) dan langsung turun ke danau 
Segara Anak.
02-Des-09 pagi : Meninggalkan danau Segara Anak melalui Plawangan Senaru.  
Saya akan berusaha mem-posting status perjalanan saya di Facebook, sepanjang 
ada sinyal dan battery tidak drop. Hidup pendaki gunung...! (Email : 
[email protected]; HP. 08122787618).

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke