Hadiah Terindah, Berharap Bukan Ciuman Terakhir
--------------------------------------------------------------------- 

"Ah, tradisi ndeso keluargaku masih saja begitu...", kataku dalam hati. Ketika 
salah satu dari anggota keluarga saya berulang tahun, tak seorang pun bahkan 
dirinya sendiri perduli untuk sekedar mengingat, mengenang atau mengatakan 
sesuatu. Hari ulang tahun hanyalah satu hari sebagai awal dari tahun yang 
berulang. Jadi, biarkan saja hari itu datang, dijalani dan pergi sebagaimana 
hari-hari kemarin atau dulu. Yang tidak boleh dibiarkan adalah bagaimana 
mengisinya dengan kegiatan bernilai kebaikan, apapun kegiatan itu, dari bangun 
tidur hingga pergi tidur, lalu bangun lagi dan tidur lagi, seperti nyanyiannya 
Mbah Surip. 

Ketika salah satu anggota keluarga saya ada yang ingat bahwa ada yang akan atau 
sedang berulang tahun, atau bahkan baru ingat saat harinya sudah terlewati, 
maka dibuatlah nasi kuning. Itu juga kalau sempat. Kalau tidak, ya pergi makan 
bersama di luar. Tapi itu dulu, ketika anak-anak saya yang hanya dua orang itu 
masih kecil. Sekarang ketika mereka mulai beranjak remaja, bukan hal mudah 
mempertemukan segenap anggota keluarga duduk bersama di meja makan. Ada saja 
kegiatan masing-masing yang menjadi alasan gagalnya sebuah perjamuan makan 
bersama. Padahal anggotanya hanya empat orang.

Saling memberi ucapan dan hadiah ulang tahun juga merupakan hal "aneh" yang 
tidak biasa ada dalam tradisi keluarga saya. Seingat saya, sepertinya saya 
belum pernah memberi sesuatu sebagai hadiah ulang tahun kepada istri dan 
anak-anak, kecuali membelikan mainan ketika anak-anak saya masih balita. Saya 
terkadang cemburu kepada teman-teman dan orang lain yang setiap kali istri atau 
anak-anaknya berulang tahun, bisa menyempatkan membelikan sekedar sesuatu 
sebagai hadiah ulang tahun.   

Hari ini mestinya hari yang istimewa bagi istriku, sebab hari ini adalah hari 
ulang tahunnya. Tapi saya heran pada diri sendiri, hingga tadi malam saya 
merasa tidak perlu ada sesuatu yang istimewa untuk saya lakukan. Hingga 
menjelang tidur, dengan sekuat perasaan saya mencoba untuk berbuat sesuatu yang 
beda sekedar sebagai tanda bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi 
tetap saja saya tidak tahu mau melakukan apa. Wah, jannnn...ndeso tenan... 

Sebagai suami, saya merasa tidak perlu meminta maaf, karena memang faktanya 
tidak ada yang saya salahi. Meminta maaf itu kalau biasanya ada sesuatu 
kemudian tiba-tiba tidak ada sehingga ada kebiasaan yang berubah. Atau saya 
menjanjikan sesuatu kemudian tidak saya penuhi sehingga membuat 
ketidaknyamanan. Lha, ini memang biasanya tidak ada apa-apa, maka kalau saya 
tidak melakukan apa-apa, ya mestinya tidak apa-apa. Pokoknya, lurus-lurus saja 
cara berpikir saya dan "celakanya" itu yang saya ajarkan kepada keluarga saya. 
Tapi justru karena keseharian yang lurus-lurus saja itu, maka ketika sekali 
waktu terjadi perubahan sedikit saja, betapapun sederhananya, kesan dan 
maknanya menjadi luar biasa indahnya.

Satu-satunya hal yang menandai bahwa suaminya tahu kala istrinya ulang tahun 
adalah sepenggal kalimat yang saya ucapkan menjelang tidur tadi malam : "Besok 
kamu ulang tahun. Coba malam ini sempatkan sholat tahajud bermunajat kepada 
Allah...". Itu saja. Ketika dini hari menjelang subuh saya melakukan sholat 
tahajud, saya selipkan banyak doa bagi istriku. Itu pun tidak perlu saya 
beritahukan kepadanya. Sehingga saya juga tidak tahu apakah dia tahu kalau 
suaminya memanjatkan doa sepesial untuknya di hari ulang tahunnya.  

Rencana semula hari ini mau makan bersama di luar, tapi naga-naganya bakal 
tidak kesampaian karena ternyata kedua anak saya ada kegiatan lain yang tidak 
bisa ditinggalkan. Yo wis, embuh mengko... Kalau tidak, ya terpaksa perayaan 
makan bersamanya dilakukan nanti lain hari atau kapan-kapan.    

*** 

Masjidil Haram, 15 Pebruari 2003. Hari itu adalah hari terakhir kami berada di 
Mekkah karena siang harinya harus bertolak menuju Jeddah. Kami berdua, saya dan 
istri, pagi hingga siang itu menunaikan tawaf wada' atau tawaf perpisahan 
dengan ka'bah sebelum kembali ke tanah air. Pelataran masjidil haram, di 
seputaran ka'bah sungguh luar biasa padatnya. Ratusan ribu manusia semua 
bergerak berlawanan arah putaran jarum jam memutari ka'bah. Alunan kalimat 
tasbih-tahmid-takbir-tahlil tak hentinya mengumandang seakan memusat ke ka'bah 
lalu mengangkasa menuju singgasana Sang Maha Pemangku Dunia.

Kami memulai tawaf di bagian arus terluar pelataran masjidil haram, saking 
penuhnya dan berdesakannya jamaah yang juga sedang menunaikan tawaf. Sambil 
istriku memeluk lenganku, kami berjalan perlahan memutari ka'bah. Sambil 
setengah guyon (guyon kok cuma setengah...) saya berbisik : "Saya ingat kamu 
berulang tahun hari ini. Mau enggak saya beri hadiah istimewa hari ini?", 
Istriku pun balik bertanya acuh tak acuh sambil setengah bercanda (lagi-lagi, 
bercanda tapi setengah...) : "Hadiah oppo...".

"Saya antarkan kamu ke tengah menuju ka'bah untuk menciumnya sebelum kita 
pulang ke Indonesia", kataku kemudian. Istriku hanya nyengenges saja tidak 
berkata apa-apa. Pagi itu pelataran masjidil haram nampak luar biasa padatnya. 
Untuk bergerak semakin ke tengah menuju ka'bah saja sepertinya perlu perjuangan 
berat karena saking padat dan berdesak-desakannya orang tawaf mengelilingi 
ka'bah. Jarak lurus menuju ka'bah waktu itu, yang berarti jari-jari putaran 
tawaf, barangkali lebih dari 30 meter, atau mungkin malah 50 meter. Saya lupa 
mengingatnya. 

Sambil tetap berjalan memutari ka'bah di sisi terluar saya berkata : "Ikuti 
saya, kita akan berjalan memutar perlahan-lahan semakin ke tengah hingga sampai 
ke ka'bah, setelah kita menciumnya lalu kembali berjalan memutar perlahan-lahan 
semakin keluar". Untuk mendekat ke ka'bah saja susahnya setengah mati, apalagi 
mendekati hajar aswad (batu hitam). Dalam hati aku berkata : "Jangankan tujuh 
kali putaran, bila perlu 70 kali pun akan saya lakukan". Namun cepat-cepat saya 
istighfar dengan sepenuh hati. Seketika saya tersadar bahwa itu adalah salah 
satu kesombongan yang tidak boleh sekali-kali dilakukan meski hanya dalam hati.

Akhirnya..., "Subhanallah wal-hamdulillah wa-laa-ilaaha-illallah wallahu 
akbar". Kalimat itu tak henti-hentinya kami alunkan sambil mencium ka'bah 
dengan mata berkaca-kaca dan tanpa disadari sesekali air mata pun menetes. Ya, 
aku berhasil mengantarkan istriku mencium ka'bah sebagai hadiah istimewa di 
hari ulang tahunnya. 

Tanpa pernah aku katakan kepada istriku, tapi itulah hadiah terindah yang 
pernah aku berikan di sepanjang usia perkawinan kami. Saya tidak tahu apakah 
dia merasakannya atau tidak. Tidak penting bagiku. Lebih penting kalau aku 
telah melakukannya, membimbing istriku mencium ka'bah di tengah padat 
berdesakannya masjidil haram sebelum kami kembali ke tanah air. Kami berharap 
semoga itu bukan ciuman terakhir. Kami berdoa dan sangat berharap masih ada 
ciuman berikutnya yang ingin kami berikan. 

"Selamat ulang tahun istriku. Kamu tidak perlu tahu apa yang aku rasakan dan 
pikirkan. Tapi ketahuilah bahwa ibadah kita Insya Allah akan terus 
berlanjut...".

Yogyakarta, 15 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke