Apa perlu saya mencalonken diri,
Akan tetapi, pendukung warga daripada milist kendal mangsih sedikit. begitu....
 
:p

--- On Sat, 2/27/10, FARID MUJIB <[email protected]> wrote:


From: FARID MUJIB <[email protected]>
Subject: [kendal-online] detikNews: 7 Calon Kepala Daerah di Jateng Diduga 
Korup (salah satunya cabup Kendal)
To: "forum cah kendal" <[email protected]>
Date: Saturday, February 27, 2010, 4:07 PM


  







7 Calon Kepala Daerah di Jateng Diduga Korup
Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
 
Jakarta - 17 daerah di Jawa Tengah akan menggelar pemilihan kepala daerah. 
Namun 7 dari calon kepala daerah tersebut dinilai bermasalah. Ketujuhnya diduga 
terlibat korupsi.

"Soemarmo (mantan Sekda Kota Semarang) dilaporkan ke KPK 4 September 2008, 
karena diduga terlibat dalam gratifikasi proyek pembangunan Ruko Peterongan 
Plaza senilai Rp 74 juta," kata Sekretaris Komite Penyelidikan dan 
Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jateng, Eko Haryanto di 
kantornya, Jl Lempongsari Timur Semarang, Sabtu (27/2/2010).

KP2KKN Jateng melansir ke-7 calon kepala daerah yang terindikasi korupsi itu. 
Ketujuhnya yakni Moch Salim
(cabup Rembang), Siti Nurmakesi (cabup Kendal), Soemarmo (calon walikota 
Semarang), Joko Widodo (calon walikota Solo), Rudy Hadiyatmo (calon Wawali), 
Budi Prasetya (calon walikota Magelang), dan Bambang Margono (cabup Sukoharjo).

Para calon berasal dari unsur kepala daerah, yakni walikota/bupati dan wakil 
walikota/wakil bupati, dan unsur birokrasi. Tahapan kasusnya mulai dari 
pelaporan masyarakat, penyelidikan penegak hukum, hingga telah divonis 
pengadilan.

Eko Haryanto mencontohkan seperti Moch Salim (mantan bupati
Rembang) diduga menyelewangkan dana APBD dalam penyertaan modal ke PT Rembang 
Bangkit Sejahtera senilai Rp 35 miliar. Saat ini, kasusnya masih diproses Polda 
Jateng.

Eko pun berharap masyarakat jeli menilai dan memilih calon kepala daerahnya. 
Kemungkinan besar jika calon bermasalah terpilih, mereka bakal memanfaatkan 
kekuasaan untuk menutupi kasusnya atau menyelewengkan dana APBD.

Dengan majunya incumbent, lanjut Eko, potensi penggunaan dana publik dan 
penyalahgunaan fasilitas negara dalam pemilu kepala daerah, juga tinggi.

"Kami berharap pemerintah pusat dan penyelenggara pemilu membuat standar agar 
dana APBD tak diselewengkan, " pungkasnya.

(try/gus)










      

Kirim email ke