Dari Mana Datangnya Rejeki
---------------------------------------

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan 
maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat 
maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata 
melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada 
sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan 
sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun 
sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang 
kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera 
kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. 
Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang 
setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku 
kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat 
kubaca, yang berbunyi : "Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak...". Saya juga 
masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat 
Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya 
sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat 
itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam 
hati : "Akan kucari artinya nanti di rumah".

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku 
tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau 
tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya 
kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang 
berbunyi : "Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara 
hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya..." (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai 
"penganggur terselubung" akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber 
datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. 
Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, 
bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid 
itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?  

Ya, tentang rejeki. "Binatang klangenan" yang setiap menit, setiap jam, setiap 
hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, 
selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu 
uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau 
orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah "terkesampingkan" dari 
akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang 
melintas lebih dahulu.  

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi 
titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan "kepada siapa" 
melainkan "atas nama siapa". Seringkali yang kemudian melintas di pikiran 
adalah "melobi" kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai 
upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama 
Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga 
percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi 
seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa 
untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik 
uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.   

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang 
melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing 
dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja 
berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau 
dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, 
pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, 
bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang 
dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak 
banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan 
karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya 
tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap "nekat" merajuk kepada Tuhan. 
Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang 
"mirip" bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan 
mencuri pakaian "mirip" bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. 
Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal 
keberkahannya yang akan membedakan. "Ora dadi daging (tidak menjadi daging)", 
kata orang di kampung saya. 

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, 
hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan "melobi" Tuhan. Sebab Dialah 
yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang 
berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan 
mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang 
pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit 
atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian 
benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas 
diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke