Ibu Guru Yang Kecopetan
------------------------------------
Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman,
Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca
siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak
melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur,
sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan
suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati
dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.
Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS
rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu),
tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di
pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong
terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras
masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan
seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya
merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin
juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis
dan kurang etis, tapi seringkali lupa...).
Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya :
"Kantor polisi terdekat dimana ya pak?". Sepertinya ini pertanyaan yang agak
janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba
menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang
dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu
itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.
Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi
terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan
ibu itu? Dialog pun berlanjut.
"Lho ada apa bu?", saya mencoba bertanya menyelidik.
"Saya mau melapor kecopetan", jawabnya.
"Kecopetan dimana?", tanya saya lagi.
"Di pom bensin tadi sebelum Prambanan", jawab ibu itu sambil kemudian
menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi
kejadiannya.
"Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini".
"Saya tidak tahu pak".
"Ibu ini dari mana mau kemana?", tanyaku kemudian.
"Saya dari Sragen mau ke Gombong".
"Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi
sendirian", kataku tidak habis pikir.
"Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya
saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong", jawaban itu
membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk
persoalannya.
Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan
bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu
itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam
rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias
bukan sedang berupaya pu-tippu...
Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat
terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak,
maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu
menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat
dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok
ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan.
Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan - Wonosari itu cukup jauh. Bahkan
sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke
Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir
ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk
melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.
Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya
yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke
Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda
motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik
sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang
kemudian sempat kulontarkan kata-kata : "Sampeyan kok nekat banget".
Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena
untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah
sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil
bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : "Saya mau melapor dan mungkin
mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana.
Saya mau naik bis saja...".
Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang
seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik
baginya? Apa yang bisa saya lakukan?
Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan
kepadanya, sambil saya berkata : "Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja
dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh
gantinya yang lebih baik", kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu,
berperilaku 'sok tahu' itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan).
Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih
membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : "Hati-hati di jalan,
bu...!". Ucapan "normatif", tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan
pikirannya.
***
Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan
soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu
melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan
juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan "pamer
kebaikan" adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak
setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan
sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan "kritikal". Sebab kalau saja
saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya
melakukan tindakan apapun.
Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang
dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada
istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan,
dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih
dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum
ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga
ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu
baru ngeh..... Sesal kemudian tak berguna....
Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang
setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari
rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu
peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak
perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau
sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah
dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas,
seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera
mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali,
sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil
dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat
melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian
kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal
membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.
Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi
melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang "bisnis" yang dalam pemahaman saya
di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh
return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif
tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian
semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak
membosankan begita-begitu saja..., karena langgam improvisasi yang secara kasat
mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita
sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat
menangkap peluang "bisnis" semacam ini. Padahal bukan soal "berapa banyak" yang
menjadi esensinya.
Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar