Sepertiga Malam Di Sepertiga Sisa Ramadhan
------------------------------------------------------------- 

Dua-pertiga bulan Ramadhan terlampaui sudah. Itu berarti dua-pertiga dari 
kewajiban berlapar-lapar dan berhaus-haus di siang hari telah terjalani dan 
masih tersisa sepertiga bulan hingga komplit sebulan berpuasa ditunaikan. 
Sepertinya belum lama puasa dimulai dan tahu-tahu sudah hampir berakhir. 
Kebanyakan orang akan berujar: "Ora keroso...(tidak terasa)". Sudah jelas 
lapar, haus, ngantuk, lunglai, kok dibilang tidak terasa. Tapi begitulah cara 
kita mengekspresikan "kesyukuran" atas hampir selesainya bulan Ramadhan. 
Semakin tidak terasa, diam-diam semakin senang hati kita karena seolah-olah 
beban berat hari-hari berpuasa dapat terjalani dengan mudah dan segera akan 
berlalu.

Saking tidak terasanya, sampai-sampai kita tidak ingat apa saja yang sudah kita 
lakukan dalam rangka meraih kebaikan yang ditawarkan oleh Ramadhan selama 
dua-pertiga bulan yang sudah terjalani. Jangan-jangan sesungguhnya kita memang 
tidak atau belum melakukan apa-apa, sehingga dua-pertiga Ramadhan ini hanya 
numpang lewat saja dalam penggal kehidupan kita. Makanya jadi "ora keroso". 
Jika benar demikian, alangkah sayangnya. Alangkah ruginya, kata pelaku bisnis 
yang sedang deal dengan peluang bisnis. Dan peluang bisnis yang sesungguhnya 
maha dahsyat dan digaransi tidak akan rugi itu bernama Ramadhan.

Senyampang kita masih berada di perbatasan antara dua-pertiga perjalanan menuju 
sepertiga sisanya, alangkah baiknya kalau kita mewaspadai kondisi "ora keroso" 
yang tersisa. Fenomena "ora keroso" ini patut kita curigai. Jangan sampai 
tahu-tahu ora keroso kita sudah sampai di penghujung Ramadhan dan kita terkejut 
ketika kemudian baru ngeh bahwa ternyata belum atau malahan tidak melakukan 
kebaikan apapun selama sebulan Ramadhan yang sudah terlewati. Sebab jika 
demikian, maka Idul Fitri sebagai hari kemenangan adalah omong kosong yang 
menjadi tidak ada artinya. 

Lha, apanya yang kembali ke fitri wong kita tidak pernah melakukan pembersihan 
diri. Apanya yang menang wong kita tidak pernah melakukan perjuangan. Indikasi 
tidak fitri dan tidak menang yang harus diwaspadai itu apa? Ya "ora keroso" itu 
tadi. Karena itu kita patut curiga kepada diri sendiri ketika sedang menjalani 
Ramadhan tapi kok ora keroso… Berjuang kok tidak terasa, melakukan pembersihan 
kok tidak terasa. 

(Tidak termasuk, "ora keroso" ketika ada warganya yang dinakali dan digelitiki 
tetangganya, karena bisa jadi jangan-jangan syaraf gelinya sudah afkir? 
Fenomena "ora keroso" ini seringkali melenakan. Diplomasi "ora keroso" memang 
man-nyamman..., bisa dilakukan sambil tidur, apalagi sambil berpuasa, yang 
"konon kabarnya" tidurnya orang berpuasa itu ibadah…). 

Kita sering mengira bahwa kondisi kembali ke fitri dan meraih kemenangan itu 
adalah "system" yang bergerak otomatis, seperti setelah Minggu ya Senin, 
setelah Januari ya Pebruari, setelah siang ya malam. Seolah itu adalah 
perubahan, pergantian dan perputaran waktu ke waktu yang sudah didesain dari 
sononya dan kita tinggal mengikuti nderek bingah…turut bahagia saja. Tapi 
sesungguhnya semua itu hanya ada di spanduk, iklan koran, khotbah para alim, 
sambutan pejabat, kartu lebaran dan kirim-kiriman SMS yang isinya pathing 
pecothot itu…

"No way...!", kata Tuhan. Wong tidak melakukan upaya apapun kok tahu-tahu minta 
dikembalikan ke jiwa yang fitri dan minta kemenangan. Harusnya kita merasa 
sedalam perasaan yang dapat dirasakan di atas kesadaran keseharian kita bahwa 
kita ini memang sedang berjuang keras melakukan gerakan kebersihan spiritual 
untuk menaikkan derajat dan kualitas kesungguhan penghambaan. 

Dengan kata lain, jangan-jangan peluang emas sebulan Ramadhan itu ternyata 
hanya numpang lewat saja dalam kehidupan kita. Berharap bertemu peluang emas 
tahun berikutnya? Ya, insya Allah..., jika Tuhan menghendaki. Jika tidak? 
Wassalam... Sebab kehendak Tuhan itu ada di luar batas jangkauan mahluk lemah 
bin penuh dosa seperti kita. Apalagi kalau kita ini tergolong gerombolannya 
mahluk hidup yang dosanya full enggak setengah-setengah...

***
 
Banyak riwayat menerangkan tentang kebaikan waktu ibadah di malam hari. Dan 
bagian paling bernilai dari waktu malam itu adalah di sepertiga terakhir waktu 
malam, dimana itu adalah waktu paling woenak untuk memantapkan posisi selimut 
dan waktu paling tidak woenak untuk bangun, kecuali terpaksa buang hajat. 
Boro-boro mengambil air wudhu.

Mesin Ramadhan memang tidak hanya bekerja di malam hari. Mesin Ramadhan 
beroperasi tiga shift 24 jam non-stop, tak sedetik pun berlalu tanpa kebaikan 
berlipat ganda menyertainya. Termasuk setiap kebaikan yang dilakukan oleh 
siapapun hamba beriman walau hanya sedenyut nadi dan setarikan nafas yang 
dibarengi dengan niat ibadah. Namun shift malam adalah waktu terindah dan 
bernilai sangat tinggi diantara sepanjang waktu kerja mesin Ramadhan. Belum 
lagi adanya satu malam kemuliaan yang bernilai lebih dari seribu bulan yang 
tersisip di antara sepertiga terakhirnya. 

Kebaikan yang ditebar dan dijanjikan "future value"-nya tak terhingga oleh Sang 
Maha Pemilik Hidup itu tidak diragukan lagi dan dipastikan ada di sana, di 
sepertiga terakhir waktu malam. Itu hanya berlaku bagi mereka yang mau 
mengorbankan posisi woenak-nya untuk bangkit dan bersujud ke haribaan Sang Maha 
Pencipta. Waktu sepertiga malam itu adalah waktu "kritis" dimana batas antara 
seorang mahluk dengan khaliknya sangat tipis dan sangat dekat sekali. Nyaris 
apapun yang dikeluhkan dan dimintakan oleh setiap hamba pada periode waktu 
"kritis" itu dijanjikan pasti akan dipenuhi oleh Penciptanya. Dalam bahasa 
gaul, itulah saat dimana seorang hamba memadu kasih dan bermesraan dengan 
Penciptanya.

Muhammad saw. sang penutup daftar para Nabi dan Rasul yang pernah ada yang 
hidupnya sudah dijamin bebas dari salah (maksum) saja masih merasa perlu 
memohon ampun kepada Penciptanya. Tidak lain agar di dalam rengkuhan 
ampunan-Nya maka kemesraan terbangun dengan sendirinya tanpa prasangka. Apalagi 
kita? Dalam kejadian keseharian kita, memohon maaf atau ampunan adalah momen 
strategis dalam percaturan pergaulan (mu'amalah) para hamba. Hanya ketika 
keberadaan kita dimaafkan oleh pihak lain, maka sekecil apapun yang kita 
lakukan, pihak lain akan dengan senang hati memberi apresiasi. Sebaliknya 
ketika keberadaan kita tak termaafkan, maka sebesar apapun kebaikan, kesetiaan, 
keloyalan, upeti yang kita sajikan akan dipandang sebelah mata oleh pihak lain. 
 

Karena itu teladan Rasulullah Muhammad saw. semestinya kita ambil benang 
merahnya. Hanya ketika keberadaan penghambaan kita ini termaafkan (dalam bahasa 
agama disebut diridhoi) oleh Sang Maha Pencipa, maka setiap rengekan kita 
kepada Sang Pengabul Setiap Doa akan berpeluang besar untuk disambut dengan 
suka cita. Maka jangan heran kalau Rasulullah selama hari-hari Ramadhan, lebih 
khusus lagi dalam periode sepertiga malam di sepertiga bulan Ramadhan, tidak 
henti-hentinya bersujud sambil meneteskan air mata bermohon ampunan-Nya dengan 
sepenuh penyerahan diri, dan berdoa : "Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha 
pengampun dan suka mengampunkan, maka ampunkanlah bagiku" (Allahumma innaka 
'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'anni).

Jika kemesraan dengan Allah dapat dibangun sedemikian intensnya, lebih-lebih 
pada sepertiga malam di sepertiga Ramadhan, maka nyanyian kemesraan itu 
sesungguhnya ditujukan kepada Sang Kekasih Hati yang telah menjanjikan kebaikan 
tak terhingga dan tak terukur banyaknya. Sehingga ketika kita berkesempatan 
tiba di penghujung Ramadhan, tersayat hati ini bagai akan berpisah selamanya 
dan tidak pasti kapan akan berjumpa kembali. Bergejolak adrenalin kita akan 
kerinduan yang bakal kita rasakan. Berdesir darah kita akan penyesalan kenapa 
sebulan Ramadhan ini ora keroso... tahu-tahu berlalu begitu saja. 

Maka akan ada nyanyian galau ketika kita berkesempatan tiba di penghujung 
Ramadhan nanti (meminjam kata-kata Iwan Fals) :

kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin kukenang selalu
hatiku damai jiwaku tentram di sampingMu
hatiku damai jiwaku tentram bersamaMu

Sebab, tak satu oknum pun mampu menggaransi bahwa kemesraan ini akan datang 
berulang pada putaran waktu selanjutnya

Yogyakarta, 31 Agustus 2010 (21 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar 

(Catatan ini adalah ekspresi kegelisahan atas resolusi Ramadhan yang saya buat 
sendiri tapi sangat berat untuk saya penuhi. Semoga ada hikmahnya bagi siapa 
saja yang membacanya) 

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke