Nyuhunkeun tanggapanna kana seratan dihandap ieu Dari Republika, 20 Oktober 2004
Membangun Jabar dengan Dasar Budaya (Tanggapan terhadap Abidin Aslich dan Agus Kresna) Laporan: Iwan Hermawan, M Pd Mahasiswa Program Doktor Pendidikan (S3) Universitas Pendidikan Indonesia Program Studi IPS Membaca tulisan Sdr Abidin Aslich (Republika, 15/9) yang cukup emosional dalam menanggapi tulisan Sdr Agus Kresna (Republika, 8/9) pada awalnya membuat panas hati juga, jangan-jangan wacana Cirebon pecah dari Jawa Barat seperti halnya Banten akan kembali mengemuka. Namun, setelah membaca kata demi kata dalam tulisan tersebut, saya jadi mafhum. Karena sebenarnya tulisan tersebut merupakan ungkapan hati nurani dari seorang wong Cerbon yang seolah kurang diperhatikan dalam beberapa tulisan tentang Sunda di harian ini. Memang benar apa yang diuraikan oleh Sdr Abidin Aslich, tulisan yang disajikan oleh Sdr Agus Kresna lebih mengedepankan emosi dalam mengungkapkan maksudnya melakukan mulang tarima ka sunda. Akibatnya, yang muncul ke permukaan adalah sikap primordialis dan dapat meruncingkan pertentangan di antara masyarakat kita. Jika dibiarkan, hal ini akan sangat berbahaya dan menimbulkan bencana bagi keutuhan Jawa Barat. Padahal, apa yang sebenarnya diharapkan dalam kata-kata mulang tarima ka Sunda bukanlah suatu fanatisme buta terhadap kasundaan dan memaksakan nilai sunda pada orang lain yang berbeda dasar budayanya. Melainkan, bagaimana masyarakat Sunda mampu memperlihatkan hidup sebagai Orang Sunda yang luhung elmuna, jembar budayana, pengkuh agamana, dan rancage gawena. Bukan menjadi orang yang malas dan hanya mengandalkan fasilitas agar bisa manggung. Jika masyarakat Sunda sudah mampu memperlihatkan diri sebagai Orang Sunda yang nyunda maka apa yang menjadi harapan Sdr Agus Kresna dan kita semua selaku orang Sunda, yaitu Sunda bisa nanjung, menjadi suatu kenyataan. Nilai Lokal Naisbitt dalam bukunya Global Paradox (1994) mengungkapkan, Think Globally, Act Locally (Berpikirlah secara Global, berbuatlah secara lokal). Ungkapan ini menunjukkan kepada kita bahwa di era globalisasi, nilai dan tradisi lokal harus tetap dipertahankan. Selain itu, nilai budaya lokal yang dituduh sebagai penghambat globalisasi sebenarnya mempunyai kekuatan yang bisa dijadikan dasar atau acuan di era global. Menilik dari apa yang diungkapkan oleh Naisbitt dan belajar dari keberhasilan negara lain dalam mempertahankan budaya setempat dalam pergaulan global, maka tidak salah, jika kita dalam membangun negeri ini umumnya dan Jawa Barat pada khususnya berupaya untuk tetap mempertahankan adat istiadat lokal dalam melakukan pembangunan. Karena nilai lokal tidak lebih jelek dari nilai yang datang dari luar, bahkan mungkin di satu sisi bisa lebih baik. Kenyataan yang sebaliknya justru terjadi pada diri kita, sebagian dari kita telah menganggap segala macam budaya yang datang dari luar adalah yang terbaik. Kita menganggap nilai yang berasal dari adat istiadat lokal (setempat) ketinggalan zaman dan mencibir mereka yang masih pengkuh mempertahankan adat istiadat titinggal karuhun dan menganggapnya sebagai orang aneh. Akibatnya, nilai-nilai tradisional yang sebenarnya bernilai tinggi dan luhur terkikis oleh nilai-nilai yang datang dari luar. Kebanggaan mereka akan segala sesuatu yang bernuansa lokal seolah memudar dari waktu ke waktu, seiring dengan semakin derasnya arus budaya global yang terus menggempur masuk tanpa bisa dicegah. Melihat semakin tergerusnya budaya lokal sebagai dampak negatif dari pengaruh global, maka UNESCO dalam salah satu deklarasinya menyatakan, kebudayaan suku-suku dan bangsa-bangsa adalah warisan kemanusiaan. Oleh karena itu, perlu penyelamatan dan perawatan demi kepentingan generasi yang akan datang. Deklarasi ini menunjukkan betapa pentingnya memelihara nilai dan adat istiadat lokal di tengah-tengah masyarakat setempat. Di era otonomi daerah saat ini, kekhasan daerah merupakan sumberdaya yang tiada tara nilainya. Karenanya, setiap daerah perlu memelihara agar keberadaannya dapat terus diwariskan kepada generasi berikut. Pembangunan kota dan kabupaten di Jawa Barat sangat perlu melandaskan diri pada budaya setempat. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan tersebut dapat dirasakan oleh warga secara maksimal. Pada daerah yang merupakan basis kebudayaan Sunda, tidak salah jika menjadikan nilai budaya Sunda sebagai patokan dalam pelaksanaan pembangunan. Demikian pula halnya daerah yang basis kebudayaan Cirebon perlu menjadikan nilai budaya Cirebon sebagai dasar dalam pembangunannya. Sedangkan bagi provinsi, kebijakan pembangunan haruslah mampu menjadi payung bagi semua basis budaya Jawa Barat untuk tetap terus bertahan. Selain itu sebagai daerah yang terbuka bagi setiap pendatang dari berbagai tujuan, diharapkan kaum pendatang mampu memberikan penghargaan dan menjunjung tinggi adat istiadat setempat di mana dia tinggal. Sikap pindah cai pindah tampian atau sikap di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung merupakan sikap mental yang harus terus dikembangkan di tengah masyarakat kita. Tujuannya, agar antara pendatang dan penduduk asli tidak terjadi saling curiga yang pada akhirnya dapat memicu konflik horizontal. Akhirnya, harapan kita agar Jawa Barat menjadi provinsi yang berbudaya dapat terlaksana. Semoga. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IotolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
