Dinten kamari KOMPAS ngulas (deui) ngeunaan waduk Jatigede-Sumedang,
di handap ieu salasahiji artikelna. Nyanggakeun!
-------------------------------------------------------

Nusantara       
Senin, 01 November 2004

Darmaraja Pernah Jadi Pusat Kerajaan

TEMPAT yang dinamakan Situs Cipeueut di Desa Cipaku, Kecamatan
Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu berada di pinggiran
areal persawahan penduduk. Pada salah satu sisinya, mengalir kali
kecil yang disebut Cireunghas, sesuatu yang oleh para arkeolog
dianggap lazim dijumpai di situs-situs megalitik. Kali kecil tersebut
bermuara di Sungai Cimanuk. Karena airnya hanya selutut, penduduk
menyebrangi sungai kecil itu tanpa melewati jembatan.

SITUS Cipeueut yang luasnya sekitar 2,5 hektar itu hanya bisa ditempuh
melalui jalan setapak melewati pematang sawah sejauh lebih kurang 500
meter. Namun, begitu memasuki areal situs, jalan setapak yang dilalui
sudah dihampari batu-batu kali, hasil jerih payah juru kunci, Iyat
Ahdiyat, yang rela merogoh koceknya sebanyak Rp 350.000.

Udara sekitar situs tersebut terasa sejuk. Pohon-pohon tua setinggi 10
sampai 20 meter, yang dibiarkan tumbuh di sekitar situs, menjadikan
tempat berkumpulnya beberapa satwa seperti burung dan kalong. Jalan
setapak itu berakhir pada salah satu bukit kecil, di mana pada bagian
puncaknya terdapat tumpukan batu-batu kali sebesar kepala manusia yang
tersusun rapi. Pada salah satu bagian dari hamparan batu-batu
tersebut, terdapat batu yang lebih besar yang menyerupai menhir. Batu
tersebut ditutup kain putih.

Tempat yang banyak dikunjungi para peziarah pada waktu-waktu tertentu
itu dipercaya masyarakat setempat sebagai makam Prabu Guru Haji Aji
Putih. Di tempat lainnya, yang letaknya sekitar 50 meter dari situs
tersebut, terdapat makam Nyi Mas Ratu Ratna Inten atau Nyi Mas Dewi
Nawangwulan, permaisuri Prabu Guru Haji Aji Putih.

SITUS Cipeueut dan beberapa situs lain di sekitarnya merupakan
kompleks bangunan punden. Konstruksi punden di situs tersebut,
berdasarkan penelitian yang dilakukan W Anwar Falah dan Agus dari
Balai Arkeologi (Balar) Bandung pada tahun 1994/1995, pada dasarnya
sama dengan situs-situs lainnya di Kecamatan Darmaraja. Yakni dengan
pola konstruksi batu (andesit) berbentuk persegi (square) dengan satu
sampai tiga undakan yang tampak di permukaan. Di permukaan punden
didirikan menhir. Pola struktur punden semacam itu merupakan pola baku
dari tradisi megalitik yang banyak dijumpai di Jawa Barat dan Lampung.

Selain kedua situs tersebut, di Kecamatan Darmaraja masih terdapat 43
situs lainnya yang tersebar di beberapa desa. Lutfi Youndri, yang
meneliti situs-situs di Kecamatan Wado, mencatat sekitar 36 situs di
daerah itu. Lima situs yang sudah diteliti Balar Bandung di kecamatan
itu antara lain Situs Cigangsa, Situs Cipawenang, Situs Cengkok, Situs
Putrapada, dan Situs Gagaksangkur.

Situs Cigangsa merupakan kompleks kuburan Islam, sedangkan Situs
Cipawenang merupakan sumber air yang dipercayai mempunyai kekuatan
magis. Sementara Situs Cengkok merupakan kompleks pemakaman kuno Aria
Naggadisuta dan para pengikutnya. Situs Putrapada dan Situs
Gagaksangkur yang dipercaya sebagai makam Aria Secadati dan makam
Raden Sutadinata, keduanya terletak di atas sebuah bukit.

Mengingat cukup banyaknya situs-situs di daerah itu, hingga kini baru
sebagian kecil yang sudah diteliti Balai Arkeologi Bandung. Padahal,
dengan ketinggian daerahnya yang rata-rata sekitar 250 meter di atas
permukaan laut, situs-situs di dua kecamatan tersebut dan kecamatan
lainnya dipastikan akan ikut tenggelam menjadi perairan Waduk
Jatigede. Dalam perencanaan, tinggi maksimal duga muka air Waduk
Jatigede sekitar 262,5 meter. Hal itu berarti, situs-situs purbakala
di daerah akan berada sekitar 12,5 meter di bawah permukaan air waduk.

BAGI masyarakat setempat, keberadaan situs-situs tersebut memiliki
makna penting, terutama perannya dalam sejarah lokal. Karena itu,
sejumlah tokoh masyarakat setempat sempat mendatangi Tim Kelompok
Kerja Waduk Jatigede untuk mempertimbangkan pengaruh pembangunan waduk
terhadap nilai-nilai budaya di daerah mereka.

Situs Cipeueut, tempat yang dipercaya sebagai makam Prabu Guru Haji
Aji Putih adalah pendiri Kerajaan Tembong Agung. Dalam sejarah
Sumedang, kerajaan tersebut merupakan cikal- bakal Kerajaan
Sumedanglarang yang menjadi pelanjut Kerajaan Pajajaran setelah burak
karena serangan pasukan Islam dari Banten dibantu Demak.

Kerajaan Tembong Agung berpusat di Leuwihideung, sebuah desa yang kini
berada di Kecamatan Darmaraja. Di desa ini terdapat 15 situs, satu di
antaranya merupakan situs petilasan Kerajaan Tembong Agung yang
terletak di Dusun Muhara.

Wakil Kepala Balar Bandung Nanang Saptono mengungkapkan, persoalan
yang dihadapi peninggalan purbakala dalam pembangunan waduk,
sebelumnya pernah dialami dalam pembangunan Waduk Gajah Mungkur di
Wonogiri, Jawa Tengah. Pada daerah yang akan digenangi terdapat Candi
Bendo.

Candi tersebut tergolong langka dan memiliki beberapa keistimewaan
karena di dalamnya terdapat arca serupa dengan arca di Candi Plaosan,
relief berupa pisang bali seperti Candi Sewu, Kalasan, Mendut, dan
Candi Jago serta teknik penyambungan batu yang diterapkan
memperlihatkan kesamaan dengan Candi Borobudur. Sayang, candi yang
memiliki keunikan itu tidak berhasil diselamatkan.

Kasus serupa terjadi pula di daerah genangan Waduk Cirata (Jabar) dan
Kedung Ombo ( Jateng). Pada Situs Selaawi dan Pasir Penghiasan yang
berada di daerah calon genangan Cirata, Lembaga Ekologi Universitas
Padjadjaran (Unpad), Bandung, yang bekerja sama dengan Pusat
Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) berhasil mengungkapkan
bahwa di daerah tersebut pernah ada aktivitas manusia pada masa yang
amat panjang. Data arkeologis yang ditemukan di daerah itu antara lain
beliung persegi, kapak perimbas, batu giling, serut, tatal batu, dan
gurdi. Selain alat batu, ditemukan pula gerabah, keramik asing, dan
bekas-bekas pertukangan logam.

Tidak semua situs purbakala yang berada di daerah genangan harus
dikorbankan, sepanjang masih bisa dilakukan langkah-langkah
penyelamatan. Untuk menyelamatkan Candi Muaratakus dan daerah
sekitarnya dari genangan waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air
Kotapanjang, tinggi duga muka air diturunkan menjadi 85 meter dari
rencana sebelumnya 100 meter.

Menurut Nanang, untuk menyelamatkan peninggalan-peninggalan purbakala
di daerah yang akan ditenggelamkan menjadi Waduk Jatigede, bisa saja
dilakukan dengan memindahkan ke daerah yang lokasinya lebih aman.
Sebelum dipindahkan, peninggalan-peninggalan tersebut perlu diteliti
lebih dulu. Akan tetapi ia mengingatkan, dengan pemindahan tersebut,
maka nilai arkeologis situs tersebut sudah terputus. (Her Suganda)
 
-- 
kumi


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate 
antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke