Baraya, ieu seratan aya dina Majalah GEMA JABAR edisi 2 taun 2003. Serata ieu dina wanda bahasa (lain basa sunda), da aslina kitu. Diseken ngahaja suga aya mangfaatna kanggo balarea. Dikirim mung ka milis ieu wungkul da milis sunda nu sanes teu patos diijinan nganggo mun seratan nganggo bahasa. Muhun, anu nyeratna Tantan Hermansah. Enya, kuring eta teh.
Islam Sunda: Gambaran Awal Satu di antara sekian banyak bentuk Islam yang muncul dalam suasana lokal, adalah Islam yang tampak dalam sistem kebudayaan Sunda. Secara historis, Islam mengukuhkan diri dalam sistem kekuasaan dan kebudayaan Sunda terjadi ketika Kerajaan Banten Islam yang dipimpin oleh Maulana Makhdum atau Sunan Gunung Jati berdiri pada paruh pertama abad ke-16. Van Bruinessen (1995) menerangkan bagaimana sikap masyarakat Islam pada kerajaan ini demikian inklusif. Hal ini terbukti ketika pada awal berdirinya, mereka banyak menerima imigran non Muslim untuk tinggal dan bekerja di daerah kekuasaannya. Padahal Kerajaan Banten juga banyak melakukan pemetaan sosial-budaya dengan memasukan spirit ke-Islaman di dalamnya. Ini terbukti dengan menerapkan berbagai tata-aturan perundang-undangan yang bernafaskan Islam (Van Bruinessen, 1995: 248-267). Dengan realitas sosio-kultural di atas, maka Islam dalam tradisi masyarakat Sunda menunjukan keadaan pertumbuhan yang subur. Selain disebabkan oleh proteksi kekuasaan (atau struktural), ke�adaan ini juga didukung oleh rah budaya Sunda sendiri yang cende-rung inklusif. Dari proses yang panjang tersebut, membekas pada struktur dan sistem sosial budaya masyarakatnya di kemudian hari. Sehingga dari sini kita bisa mulai menemukan jejak kultural Islam Sunda. Kita tahu, budaya Sunda menganut asas egaliteraniasme, pluralisme dan semangat keber-samaan yang tinggi. Hal ini setidaknya nampak dalam jejak historis, mengapa di kawasan ini banyak peninggalan masa lalu yang tidak berbau mistik, tidak feodal, tidak penuh dengan kemewahan, serta penuh dengan nuansa kera-gaman. Sebab dalam sistem budaya Sunda, asas yang dibangun adalam persatuan, kesatuan dan penga-kuan. Persatuan dan kesatuan dalam sistem budaya Sunda yang saya pahami bukan model keseragaman termasuk dalam berbagai hal: sistem hidup, sistem bermasyarakat, sistem berekonomi dan sebagainya. Sebagai contoh ringan citra budaya Sunda adalah tidak adanya keha-rusan untuk mengganti nama, menjadi Indonesia misalnya, bagi kalangan pendatang yang menetap di kawasan ini. Di daerah kelahiran saya, Garut, misalnya, banyak suku Cina, India, Arab, dan Iain-lain berusaha di kawasan ini tanpa risau menggunakan bahasa dan kebu�dayaan mereka sehari-hari. Bahkan, banyak golongan ini mendapatkan pengakuan dari bangsa Sunda. Di Garut, sampai ada sekolah khusus untuk kaum Cina! Artinya, dalam sistem budaya Sunda, tidak menjadi persoalan seseorang itu berlatar-belakang suku bangsa apa, yang penting adalah sejauh mana kontri-busi diri mereka pada perkem-bangan kebudayaan setempat, tanpa harus menanggalkan budaya mereka sendiri. Sedangkan konsep pengakuan mengacu kepada hasil telusuran salah seorang ilmuan Sunda yang menggambarkan konsep mandala dalam sistem kepemimpinan Sunda. Menurutnya, para pemim-pin Sunda menjadi pemimpin karena hasil dari pengakuan warga yang mau mengangkat dan mengi-kutinya. Dalam konteks ini, kontrak sosial terjadi antara pemimpin dan yang memimpin. Sehingga pemim�pin dalam sistem budaya Sunda menjadi semakin bermakna karena ia bukan penguasa, namun sebagai wakil dan penengah bagi persoalan yang ada pada pengikutnya. Pada perjalanan selanjutnya, jika seseorang yang dijadikan pemimpin itu sangat baik dalam memimpin pengikutnya, maka para pengikut itu akan menyebarkan gagasan dan model kepemimpinan itu kepada orang lain. Sehingga orang yang menyebarkan gagasan itu kemudian menjadi pemimpin pula bagi pengikutnya. Begitulah, rakyat dalam sistem budaya Sunda merupakan diaspora dari gagasan kepemimpinan yang berwibawa dan profesional. Asas ini dalam konsep politik modern sering disebut sebagai asas desentralistik. Di sini pula menariknya model budaya kepempinan Sunda. Jika suatu saat pimpinan puncak menga-lami kemandegan, kemunduran, maupun kehancuran, maka tidak serta merta akan menghancurkan pemimpin-pemimpin kecil yang ada di bawahnya. Dalam konteks ini pula kita bisa menemukan relevansi konsep 'mandala' yang secara harafiah bisa berarti wakil. Namun wakil dalam pengertian 'Mandala' lebih dalam, sebab mereka juga adalah penjaga keseimbangan kosmologi sosial dan cultural masyarakat Sunda. Dari sudut basis ekonomi, pedesaan di kawasan Sunda juga berbasis ekonomi pertanian � seperti umumnya pedesaan di Indonesia. Namun berbeda dengan daerah pedesaan Jawa yang ber-budaya pertanian sistem padi sawah, di wilayah budaya Sunda sampai abad ke-19 M., sistem pertanian yang menonjol digunakan oleh masyarakat Sunda adalah pertanian berladang, yang dikenal dengan istilah 'huma". Dari model kehidupan seperti itu, maka muncul dalam kebudayaan Sunda, dengan ciri kebudayaan desa yang mandiri serta memiliki eksistensi masing-masing. Sehingga perbedaan antara kebudayaan desa dengan kota, dalam struktur budaya Sunda tidak terlalubesar (Ekajati, 1995; 109-112). Sistem sosial ini jelas beda dengan sistem budaya Jawa yang dibangun dari pertanian padi sawah, yang kemudian membentuk satu sistem sosial yang penuh dengan keter-gantungan. Model kultural yang penuh dengan ketergantungan ini yang kemudian banyak diter-jemahkan oleh penguasa kita belakangan ini. Sistem feodal dalam kebu�dayaan Sunda sebenarnya masuk belakangan saja. Kultur feodal ini, menurut sebagian sejarahwan, masuk seiring dengan dikuasainya kawasan Sunda oleh bangsa Jawa, khususnya masa kerajaan Mataram. Mereka inilah yang mulai me-masukan kebiasaan feodal dalam sistem kebudayaan Sunda, selain mentransfer sistern ekonomi dari pola ladang berpindah kepada pola ladang menetap. . Seiring dengan masuknya kolonialisme, sebenarnya budaya Sunda tetap menjadi perhatian penjajah Belanda. Penjajah yang terkenal "senang" memelihara budaya lokal ini pun melihat berbagai potensi budaya besar dalam sistem budaya Sunda. Bahkan, penyiapan Bandung se�bagai calon Ibukota Hindia Belanda, mengukuhkan tesis bahwa budaya Sunda telah lama diperhatikan banyak kalangan. Kenyataan lain pun patut dicermati sebagai pertanyaan, misalnya: Mengapa organisasi Persatuan Islam, sebuah organisasi yang beraliran puritan, malah muncul di kawasan Sunda, padahal thefoundhingfathemya bukan orang Sunda. Mengapa pula Soekarno memusatkan perjuangannya di kawasan Sunda. Bahkan, teori marhaenisme dia temukan pula pada sosok individu orang Sunda. Juga sejumlah pertanyaan lain yang perlu penelitian lebih dalam lagi. Dari basis produksi di atas, kemudian muncul sistem dan corak budaya yang berbeda. Dalam kon-struk masyarakat Sunda, kosmologi kehidupan tidak hanya dipahami sebagai proses alamiah semata. Bagi mereka keseluruhan proses sosial yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari sistem makna dan keyakinan keagamaan yang dipahami dan dirasakan dalam kehidupan sehari-harinya (Ekajati, 1995). Keyakinan atau spirit keagamaan ini yang kemudian menjadi perspektif masyarakat Sunda dalam melihat berbagai kenyataan. Dari gambaran di atas, kita bisa menelusuri jejak Islam dalam system kultural budaya Sunda. Di mana Islam Sunda adalah spirit ide dan gagasan cerdas yang dituangkan para pendahulunya untuk mem-bentuk sebuah masyarakat yang berperadaban. Sehingga, dalam perjalanannya kemudian Islam Sunda adalah Islam yang inklusif, egaliter, dan pluralis. Saya yakin bahwa entri point terpenting dalam sistem Islam Sunda adalah spiritualitasnya. Spiritualitas yang terbangun tidak karena ambisi dan keserakahan, namun justru oleh semangat pengabdian kepada Ilahi. Sebab, dalam Islam Sunda, wujud kebu-dayaan merupakan kemampuan masyarakat secara kreatif dalam menghadapi berbagai perubahan dalam diri sebagai identitas sosialnya. Sehingga Sunda dan Islam, ketika menjelma menjadi sebuah wujud budaya, tidak meng-alami kesulitan yang berarti. Hal demikian terjadi karena sistem budaya Sunda ibarat meme yang ada dalam benak setiap orang yang mampu pindah dari satu benak ke benak yang lainnya dengan sangat cepat. Meme sendiri adalah satu unit informasi yang tersimpan dalam benak seseorang yang mempe-ngaruhi kejadian di lingkungannya sedemikian rupa sehingga makin tertular luas di benak orang lain (Bourdie, 1996, dikutip P. T. Simbolon, 1998). Artinya sebagai meme, sistem budaya Sunda memungkinkan diri terbuka pada berbagai hal yang akan berdampak kepada kemajuan-kemanusiaan. Termasuk dalam hal ini adalah sikap budaya Sunda kepada spiritualitas kemodernan (pembahasan tentang ini bisa dilanjut kemudian). Sehingga saya melihat bahwa meme kesundaan inilah yang memungkinkan terjadi tumbuh kembang bentuk kebu-dayaan masa depan yang mema-jukan, yang kebetulan dalam hal ini Islam sangat cocok dengan spiri�tualitas tersebut. Maksud saya, yang penting saat ini adalah, Islam Sunda kita adalah model Islam yang terbuka pada setiap perubahan yang memajukan, berfikir maju, tetap egaliter, menjunjung tinggi keber-bedaan, serta toleran dan civilize. Dalam konteks demikian pula, tampa merendahkan sistem budaya lain, Islam Sunda adalah perpaduan cerdas yang patut disosialisasikan kepada bangsa lain di dunia ini.* ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
