Kadang wargi,
Upami teu lepat mah sdrk. mh kantos ngadongengkeun perkawis sawah anu
dijantenkeun tempat wisata. Dina hiji kasempetan seminar di Budpar Jawa Barat,
pribados kantos oge ngadugikeun hal eta. Makalah lengkep ngeunaan hal eta,
sumangga dipidangkeun dina ieu email.
PENYUSUNAN KEMASAN PARIWISATA
YANG BERNUANSA BUDAYA JAWA BARAT
Oleh : Ganjar Kurnia
Manekin de Pis
Apabila berjalan-jalan ke kota Brussel, hampir di setiap penjuru kota,
kita akan menemukan penunjuk jalan ke arah �manekin de pis� alias patung (anak
kecil) yang sedang buang air kecil. �Manekin de pis� sendiri berada di pusat
kota (Centrum); jadi kalaupun wisatawan diberi petunjuk �centrum�, pasti menuju
ke arah sana. Tapi apa daya tariknya �centrum� ? bukankah di semua kota juga
ada pusatnya (alun-alunnya)?. Pemerintah Belgia memang menjadikan �manekin de
pis� sebagai daya tarik, karena itulah petunjuk, publikasi �manekin de pis�
terdapat di mana-mana.
Setelah tidak perlu bersusah payah menemukannya (karena banyaknya
penunjuk arah), akhirnya orang-orang sampai ke tempat �manekin de pis�. Di
sudut sebuah toko, berdirilah sebuah patung anak kecil yang sedang �buang air
kecil� berukuran kurang lebih 60 Cm. Melihat patung seperti itu, hampir semua
pengunjung terlihat senyum dikulum. Bagaimana tidak, setelah jauh-jauh dari
negaranya dan digiring dengan berbagai informasi dan publikasi yang gencar,
ketika sampai ke tempat yang dituju, ternyata hanya �begitu-begitu� saja. Tapi
janganlah salah, entah benar atau tidak, orang-orang Belgia itu �menjual� obyek
wisata sang patung ini dengan segala macam ceriteranya. Gencarnya publikasi
tentang sang patung, yang juga berisi deskripsi ide awal asal mula pembuatan
patung, siapa pembuatnya dst., membuat banyak orang penasaran untuk
mengunjunginya. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Belgia itu, mungkin bisa
disebut juga kemasan. Bagaimana sesuatu yang sebenarnya hanya biasa-biasa saja,
te!
tapi setelah dikemas dengan baik, maka dapat menjadi suatu obyek yang menjadi
daya tarik tinggi dan memberikan nilai tambah yang banyak. Di sekitar patung,
berjejer toko-toko penjual souvenir yang intinya patung �manekin de pis� tadi
ditambah dengan souvenir lain khas Belgia.
Rockfort
Sebenarnya banyak hal yang dapat diperoleh apabila kita mau
bersungguh-sungguh belajar dari kegiatan kepariwisataan di luar negeri. Hal-hal
yang kelihatannya seperti biasa-biasa saja, tetapi apabila di �menej� dengan
baik bisa menjadi obyek wisata yang sangat menarik.
Di Perancis, Rockfort menjadi tujuan wisata yang cukup banyak pengunjungnya.
Rockfort sendiri adalah nama wilayah yang kemudian dijadikan merk dagang keju.
Rockfort sebagai tempat wisata, karena di Rockfort para pengunjung bisa
mengetahui bagaimana cara-cara membuat keju. Dimulai dari melihat sapi-sapinya,
mengawinkannya, kemudian memerah susunya, dan setelah itu pengunjung mulai
diajak masuk ke ruang pabrik yang berada di goa-goa bawah tanah. Karena udara
di dalam goa itu dingin sekali (alami), sebelum masuk ke dalam goa pengunjung
dibagi selimut tebal. Dengan ditemani oleh pemandu, diterangkanlah segala macam
hal yang berkaitan dengan produksi keju Rockfort tersebut. Setelah selesai
meninjau pabrik, akhirnya pengunjung disuguhi makan keju sambil menonton tarian
khas dari daerah tersebut.
Sebenarnya hal yang sama telah pula dilakukan di Indonesia, seperti kegiatan
agrowisata di perkebunan teh atau agrowisata di perkebunan apel di Malang.
Hanya saja keseriusan dan profesionalisme di dalam mengelola obyek wisata
tersebut mungkin masih perlu ditingkatkan.
Seperi halnya di Rockfort, untuk kebun teh misalnya, para pengunjung bisa mulai
melihat jenis-jenis teh, bagaimana cara menanamnya, cara memengkas, cara
memetik, bagaimana rumus petiknya, dst. Setelah itu pengunjung bisa melihat
proses pembuatan teh di pabrik dan diakhiri dengan acara minum teh yang diisi
dengan kesenian khas perkebunan teh.
Dari laporan yang juga dipublikasikan, pendapatan dari hasil kunjungan wisata
ke Rockfort tersebut bisa mencapai 30 % dari total pendapatan perusahaan. Bagi
Rockfort, obyek wisata tersebut dianggap pula sebagai alat promosi, sehingga
kalaupun dari sektor wisatanya tidak menguntungkan, maka pengeluaran di sektor
wisata itu dianggap sebagai biaya promosi.
Obyek wisata alam lain yang bisa dijual diantaranya pesawahan dengan segala
budayanya yang notabene di luar negeri tidak ada. Kegiatan di sawah seperti
�ngawuluku�, panen dsb. menarik juga untuk dijadikan obyek wisata. Jenis-jenis
tradisi dan kesenian setelah panen, jalan-jalan di �galengan�, membuat
�oet-oetan� dari jerami, makan �timbel� di saung, �ngurek�, �ngadu
langlangyangan� bisa menjadi paket yang �mungkin� menarik para wisatawan
termasuk wisatawan dalam negeri.
Sebagaimana halnya orang-orang bangga berfoto di Vollendam, berfoto dengan
menggunakan baju petani atau pakaian adat lainnya seperti pakaian pengantin
bisa juga menjadi kekhasan tersendiri.
Jalur Wisata
Di dalam media cetak seringkali dikemukakan bahwa rendahnya waktu tinggal para
wisatawan di Jawa Barat, salah satunya disebabkan karena kurangnya obyek wisata
yang dapat dikunjungi. Kalau alasannya demikian sungguh ironis, karena Jawa
Barat sesungguhnya memiliki potensi wisata yang sangat besar.
Persoalan lainnya, seringkali obyek wisata tersebut bersifat tunggal, padahal
jarak tempuh untuk mencapainya cukup jauh. Langkah penting yang bisa dilakukan
adalah dengan membuat jalur-jalur wisata dengan segala obyeknya secara baik.
Agar ada variasi di jalur tersebut sebaiknya tercakup berbagai macam obyek
wisata, baik wisata alam, wisata budaya, wisata ilmu pengetahuan dsb. Sebagai
contoh, apabila rombongan turis datang dari Jakarta menuju Bandung, maka
alternatif jalur dan obyek yang bisa ditawarkan itu adalah : Kebun Raya Bogor,
kesenian khas Bogor sepeti topeng Cisalak atau Tanji yang sudah hampir punah,
kemudian naik ke Gunung Mas untuk melihat perkebunan teh dengan segala macam
pengolahannya dan juga menonton kesenian khas kebun teh Gunung Mas; melihat
pemandangan di Puncak/melihat kebun bunga yang khas tropis (di Paris ada sebuah
kebun bunga ros yang jadi tempat kunjungan wisata, yaitu Fountenay Aux Roses);
makan siang di Cianjur dengan sajian khas tauco dan Gurame d!
engan diiringi Cianjuran; untuk menuju Bandung bisa lewat ke Mande untuk
nonton pencak silat Cimande dsb.
Dengan titik awal Bandung, banyak pula obyek wisata yang bisa dikunjungi dan
kemudian dijadikan jalur wisata. Untuk ke arah Timur, bisa dimulai dari benjang
di Ujung Berung, pembuatan kerajinan dan senapan di Cipacing, pembuatan wayang
golek di daerah Tanjungsari (sekaligus dengan pagelaran wayang goleknya);
apabila belok ke sebelah kiri bisa ke Rancakalong untuk melihat
ngek-ngek/jentreng/tarawangsa, apabila belok ke kota Sumedang bisa melihat kuda
renggong, gembyung dsb. apabila mengarah ke Subang via Jalan Cagak akan bertemu
dengan kolam air deras, perkebunan nenas, seni gotong singa dsb.
Variasi Jenis Kesenian
Jawa Barat dikenal pula sebagai wilayah yang kaya akan berbagai jenis
kesenian. Menurut catatan di Jawa Barat terdapat 300 buah jenis kesenian dimana
10 % diantaranya dalam kondisi punah atau nyaris punah. Bervariasinya jenis
kesenian dari satu daerah ke daerah lain ini bisa juga memperkaya obyek wisata
kesenian. Apabila setiap daerah mengembangkan jenis kesenian yang menjadi khas
daerahnya saja, alias tidak perlu mengembangkan jenis kesenian dari daerah
lain, maka selain kesenian tersebut akan hidup, juga dapat menambah
variabilitas obyek kunjungan yang ujung-ujungnya bisa menambah waktu tinggal
wisatawan dan pemerataan kunjungan.
�Kalangenan�
Jack Martin seorang pembawa acara terkenal TV 3 Perancis tertawa
terbahak-bahak ketika memperkenalkan rombongan kesenian dari Bali. Rombongan
kesenian Bali tersebut terdiri dari para petani dan penari dari salah satu
banjar. Bagi Jack Martin dan orang Perancis pada umumnya, tentu lucu sekali
melihat para seniman yang notabene petani tersebut melanglang dunia; artinya
selama mereka melanglang dunia berarti mereka harus meninggalkan lahan
usahataninya. Sebagaimana diketahui, salah satu faktor yang menyebabkan wisata
berkembang di Bali adalah karfena kesenian atau upacara adat lainnya �hidup� di
masyarakat. Ada turis atau tidak, kesenian tetap hidup. Kalaulah turis tidak
ada, maka mereka akan menjalani hidup sesuai dengan profesinya masing-masing.
Apabila ada kinjungan turis, mereka tinggal dikumpulkan. Model seperti ini
dapat pula dilihat pada anak-anak di saung Mang Ujo Ngalagena di Padasuka.
Di dalam konsep ini, kesenian dijadikan �kalangenan� dan tidak perlu
dijadikan profesi khusus. Prinsipnya, apabila turis datang, tinggal kumpul dan
�breng�; kalau tidak ada turis, masyarakat kembali kepada �pacabakannya�
masing-masing.
Pengemasan
Selama ini diskursus mengenai pengemasan (baca: untuk kesenian)
seringkali terjebak ke dalam pengertian pertunjukan yang ujung-ujungnya menjadi
artificial dan mahal. Misalnya saja, kesenian yang dipagelarkan di hotel-hotel
dengan pakaian yang mewah dsb. Sebagaimana dikemukakan di atas, jenis-jenis
kesenian tersebut bisa juga dilakukan �in situ� yaitu di tempat kesenian itu
tumbuh dan hidup. Pengemasan disini lebih diartikan sebagai �manajemen�
pengelolaan di dan ke tempat pertunjukan. Walaupun bukan �kesenian�, di Bali
orang bisa melihat mayat di Trunyan atau upacara Ngaben. Untuk ke dua hal
tersebut, tidak ada rekayasa (baca: pengemasan) terhadap obyeknya. Pengemasan
justru terjadi untuk menuju obyek dan bagaimana mengelola obyek.
Untuk beberapa hal, pengemasan untuk kesenian bisa dilakukan dengan
memperhatikan waktu, aspek-aspek klimaks, tata busana dsb. Khusus untuk tata
busana hal, kesederhanaan dan tidak perlu mengada-ada dapat menjadi daya tarik
tersendiri.
Lajuning laku
Berangkat dari kerangka berfikir di atas, maka langkah yang bisa
dilakukan adalah dengan memulai mengidentifikasi obyek-obyek wisata di
sepenjang jalur wisata. Apabila obyek-obyek wisata tersebut sudah diketahui dan
ditentukan, selanjutnya diberikan bantuan teknis manajemen, �pengemasan� dan
kualitas pagelaran (untuk kesenian). Melalui kajian, pemerintah juga bisa
membantu membuat deskripsi secara jelas tentang obyek wisata tersebut. Selain
daripada itu perlu pula kiranya diberikan apresiasi kepada masyarakat �in situ�
tentang segala hal yang berkaitan dengan program ini (termasuk menjaga keamanan
dan kenyamanan).
Untuk pagelaran kesenian �in situ�, tempat penyelenggaraannya bisa menggunakan
kantor bale desa atau di tempat lain (seperti lapangan) di desa tersebut,
sehingga tidak perlu membuat bangunan kesenian khusus. Kerjasama dengan fihak
biro perjalanan, hotel, isntansi terkait lainnya (seperti urusan jalan; dsb.)
dan juga promosi publikasi pada akhirnya akan menentukan program ini.
Apabila langkah-langkah ini bisa berjalan dengan baik, ada beberapa keuntungan
yang akan diperoleh, antara lain : kesenian daerah tidak akan mati dan bahkan
tumbuh; daerah dan juga masyarakat akan mendapat penghasilan tambahan. Atau
secara khusus, bisa dikatakan sebagai �Membangun Ekonomi Kerakyatan Berbasis
Pariwisata dan Kesenian�. Mudah-mudahan.
Ganjar Kurnia
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/