Simkuring alumni SMA 3 Bandung, basa maos eta artikel dina PR-online, meni 
waas. Da baheula mah tara aya guru pelesir dina jam sakola. Meni sakitu SOMBONG 
(gede hulu?) polahna guru ayeuna? Saya ngadukung lamun aya petisi atanapi 
INVESTIGASI kalakuan guru-guru eta. Saya ngadukung DG, anu kritis kana 
kabeneren. Tong ningali korupsi atawa kalakuan anu teu bener pajabat/pangusaha 
wae, tapi hayu urang tatanan kabeneran ti mimiti anu leutik anu kuurang 
katingali sapopoe. Hatur nuhun ka wartawan PR anu tos nyuarakeun kabeneran.... 
PR terus nyuarakeun kabeneran...
 
baktos
 
Yudhi

Iwan H <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya setuju perlu adanya statemen bersama agar perilaku seperti itu di sekolah 
tidak terjadi lagi
  ----- Original Message ----- 
  From: Dess Sulaeman 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, April 27, 2005 10:05 AM
  Subject: Re: [cfbe] Bapak Kritisi Sekolah, Anak Jadi Korban


  Keterlaluan, kalau memang hal ini terjadi di sebuah
  sekolah yang bisa dikatakan sangat ELIT di kota
  Bandung itu.  Tetapi dari pengalaman, pernah saya
  bertemu dan ngobrol dengan seorang gurunya dalam sebuh
  seminar di KLH di Jakarta.
  Dengan bangga dia menceritakan kepergian guru termasuk
  TU dan pesuruh berangkat ke Bali dikarenakan ada "uang
  lebih" katanya. Kemudian dilanjutkan dengan cerita
  keberhasilan membangun "Green School" dengan
  terwujudnya sebuah taman sekolah seharga 350 juta
  rupiah!
  Waktu itu para peserta seminar banyak pula yang
  mempertanyak kedua hal itu, tetapi dengan bangga dan
  sepertinya tidak punya malu dia terus aja ngoceh!
  Betapa subur makmurnya guru2 di sekolahnya.

  Ternyata kesuburan dari segi materi tidak menunjukkan
  kesuburan ahlak dari para gurunya tersebut.

  Saya setuju, gimana Mas Eko? Mas Nanang apa perlu kita
  buat statemen untuk memberikan keberatan atas perilaku
  guru di sekolah terhadap peristiwa ini?

  Dess
  --- Bambang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  > 
  > Bagaimana kalau kita dalam kasus ini ramai-ramai
  > kirim surat (terutama
  > atas nama lembaga) supaya guru-guru yang sikapnya
  > diskriminatif bisa
  > lebih tahu bahwa perbuatannya memang kurang layak.
  > 
  >
  http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0405/27/0107.htm
  > Bapak Kritisi Sekolah, Anak Jadi Korban
  > 
  > PERJUANGAN, walau hanya untuk menanyakan hak dan
  > kebenaran, memang
  > memerlukan pengorbanan. Tapi ketika risiko dan
  > pengorbanan itu harus
  > ditanggung oleh orang-orang yang kita kasihi,
  > manusia mana yang tak
  > akan terpukul?
  > 
  > Seperti dialami oleh DG, ayah dari seorang anak
  > perempuan yang saat
  > ini duduk di kelas III SMA 3 Bandung berinisial IM.
  > Karena DG terus
  > mempertanyakan kejanggalan kebijakan yang diambil
  > oleh sekolah
  > tersebut, anak perempuannya justru menjadi korban
  > kekerasan psikologis
  > dari guru-guru yang merasa gerah dengan
  > pertanyaan-pertanyaannya.
  > 
  > Secara kebetulan, "PR" bertemu dengan DG di suatu
  > pertemuan rakyat
  > terpinggirkan di Babakan Siliwangi, Sabtu (23/4).
  > Kepada "PR" DG
  > menceritakan apa yang dialami oleh putrinya sejak
  > September 2004,
  > karena pada saat itu ia mengirim surat yang
  > mempertanyakan kenapa
  > guru-guru SMA 3 Bandung berangkat ke Bali selama
  > seminggu dengan
  > mengorbankan jam efektif belajar siswa. Sebuah
  > pertanyaan yang wajar
  > diajukan orang tua yang ingin anaknya mendapatkan
  > haknya.
  > 
  > Namun apa yang terjadi? Alih-alih mendapat jawaban
  > langsung dari pihak
  > sekolah, malah IM yang harus mendapatkan sindiran
  > dan
  > ungkapan-ungkapan sinis dari guru kelasnya. Sampai
  > keluar pernyataan
  > dari seorang guru, "Kalau sudah miskin jangan
  > macam-macam!"
  > 
  > Menurut DG, saat itu IM sempat terpukul dan tidak
  > masuk sekolah karena
  > merasa malu dan tertekan. Namun IM bisa dikuatkan,
  > untuk kembali
  > bersekolah dan DG tidak pernah berhenti untuk
  > mempertanyakan berbagai
  > kejanggalan kebijakan yang ia lihat.
  > 
  > Upaya DG untuk bertemu dengan kepala sekolah (yang
  > terdahulu) maupun
  > dengan Dewan Sekolah tidak juga berhasil. Ajakan
  > untuk berdialog
  > mengenai berbagai hal yang diangap DG merugikan
  > orang tua siswa juga
  > tak ditanggapi.
  > 
  > Di sisi lain, sejak September 2004 hingga April 2005
  > ini, ternyata
  > berbagai sindiran dan kesinisan guru kepada IM tidak
  > juga berhenti.
  > Kata-kata seperti, "Kalau ibu bertemu orang tuanya,
  > sampai wirid,"
  > "Orang tuanya itu tidak pernah bayar DSP dari kelas
  > I sampai kelas
  > III," "Sirik tanda tak mampu," dan berbagai sindiran
  > lainnya, hampir
  > setiap hari didengar IM.
  > 
  > Bahkan menurut DG, tampaknya hal semacam itu
  > dilakukan secara
  > sistematis. Di depan siswa di kelas, guru-guru tak
  > berhenti
  > menyebutkan adanya orang tua siswa yang bermasalah.
  > Dikatakan pula
  > dengan jelas, orang tua bermasalah itu ayah dari
  > seorang siswa di
  > kelas III. Puncaknya pada pekan lalu, seorang guru
  > di depan kelas
  > mengatakan bahwa DG bukan orang yang tahu berterima
  > kasih. Dituduhnya
  > DG dan IM sebagai orang yang memohon-mohon untuk
  > bisa masuk SMA 3.
  > 
  > "Saya tidak bisa terima kalau kami disebutkan
  > memohon-mohon masuk ke
  > SMA 3. Saya juga tidak bisa terima kalau kami tidak
  > pernah membayar
  > DSP dari kelas I sampai kelas III. Anak saya bisa
  > sekolah di SMA 3
  > karena mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan
  > farmasi. Kalau guru
  > itu bilang di hadapan siswa bahwa kami tidak pernah
  > bayar, itu
  > merupakan kebohongan publik," ujar DG terbata-bata.
  > 
  > Pernyataan seorang guru pada pekan lalu itu rupanya
  > membuat IM sangat
  > terpukul. Komunikasi dengan ayahnya yang awalnya
  > akrab, tiba-tiba
  > mandek. Sampai suatu hari DG menerima surat dari
  > putri sulungnya itu.
  > Ditulis dengan bahasa remaja, begini sebagian
  > isinya:
  > 
  > "Jujur, IM ga kuat lagi dijadiin objek rasa kesal
  > guru-guru yang
  > selalu bercerita dengan menyudutkan, merendahkan,
  > dan selalu merasa
  > kalau Ayah yang salah. IM mau tegar, tapi setelah
  > guru IM bercerita
  > lagi, IM merasa ga bakal kuat menanggung beban ini.
  > IM mau ujian dan
  > ga mau cape mendengar cerita guru yang sebenarnya ga
  > harus diceritakan
  > saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan ga
  > ada hubungannya
  > dengan pelajaran. Guru IM bilang kalau kita bukan
  > orang yang tau
  > terimakasih. Kita sebagai orang yang udah
  > "mohon-mohon" untuk bisa
  > masuk SMA 3 (dengan kemampuan finansial yang ancur
  > habis!), sudah
  > dibantu malah menjelek-jelekan. Apa yang diceritakan
  > guru IM selama
  > satu jam pelajaran sangat membuat IM sakit.
  > 
  > "...dan buat apa yang bakal ayah lakuin?
  > Menyelamatkan anggaran? Buat
  > apa, yah? Bukan uang kita kan? Terus apa ruginya
  > kita? Toh, orang yang
  > punya duitnya juga gak repot. Oke, niat ayah emang
  > baik, terpuji. Tapi
  > apa yang bakal kita dapet? Pahala? Wallahu'alam.
  > Kecuali, kalo emang
  > ayah ngebayar tiap bulannya duit bulanan sekolah IM.
  > Baru ayah punya
  > satu hak untuk nanya dikemanain uang-uang itu.
  > Kenyataannya sekarang?
  > Ayah gak pernah ngelakuin itu kan. Jadi, hak kita
  > apa? IM gak mau
  > disebut orang miskin yang gak tau diri. Gak enak
  > kedengerannya.
  > 
  > Kenapa IM langsung nyangkut ke hal ini? Karena tiap
  > guru yang ngomong,
  > nyeritain semua yang terjadi di sekolah dengan versi
  > dia. Pasti
  > nyangkut dengan itu, dengan ketidakmampuan finansial
  > kita. Jujur, IM
  > minder. Oke, IM tau itu bukan suatu sikap atau sifat
  > yang baek. Tapi,
  > dengan kehidupan dikelilingi oleh orang-orang yang
  > selalu melihat dari
  > kacamata uang, gimana IM gak untuk jadi kaya gitu?"
  > 
  > Dapat dibayangkan bagaimana perasaan seorang ayah
  > menerima surat
  > seperti itu dari anaknya. DG mengaku merasa sangat
  > terpukul dan emosi
  > atas perlakuan yang diterima anaknya. "Saya bisa
  > rasakan bagaimana
  > benteng pertahanan anak saya roboh, apalagi dia akan
  > ujian. Dia
  > dijadikan sasaran oleh mereka yang tidak senang
  > dengan saya," ujarnya.
  > 
  > Cucu Saputra, Kepala SMA 3 yang baru, mengaku sudah
  > mendengar kisah
  > ini dari DG secara langsung. Cucu mengatakan akan
  > menelusuri kasus
  > ini. "Saya harus melakukan konfirmasi dulu baik
  > terhadap siswa itu
  > maupun guru-gurunya. Pada intinya saya ingin
  > menekankan, kalau ada
  > masalah antara sekolah dengan orang tua, siswa
  > jangan sampai menjadi
  > korban," tegasnya.(Zaky/"PR")***
  > 
  > 
  > 
  > 


  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 


  ---------- http://groups.yahoo.com/group/cfbe ----------
  Arsip Milis: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/messages
  Website: http://www.cbe.or.id

  Hanya menerima daily digest: [EMAIL PROTECTED]
  Tidak menerima email: [EMAIL PROTECTED]
  Kembali ke normal: [EMAIL PROTECTED]
  Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
  ----------------- [EMAIL PROTECTED] ----------------- 



------------------------------------------------------------------------------
  Yahoo! Groups Links

    a.. To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/cfbe/
      
    b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]
      
    c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.




---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke