Nuhun Kang Nana, meni sae paparanna. Aya nami-nami sunda sareng hartosna anu 
sanes? Ieu aya artikel ti EraMuslim.com masihan nami teh sami sareng doa oge, 
hapunten teu disundakeun...
 
Yudhi
Nama adalah Do'aPublikasi: 25/04/2005 08:55 WIB
eramuslim - Anak saya lahir, pada saat Indonesia sedang mengalami gelap gulita. 
Kata salah seorang guru besar dari sebuah universitas terkemuka di negeri ini, 
negara kami sedang gelap dalam politik, ekonomi, sosial, budaya dan juga 
akhlak. Karena pasca turunnya kejayaaan orde baru, dan memasuki era reformasi, 
Indonesia justru semakin carut-marut. 

Saya yang hanya seorang pedagang kaki lima, justru sangat mengalami kegelapan 
itu. Jualan tak laku, sementara harga-harga bahan pokok melambung sampai langit 
ke tujuh. Pada saat itulah saya banyak sekali berdoa pada Allah agar diberi 
kecerahan dalam memasuki orde gelap ini. Sebab reformasi yang saya 
tunggu-tunggu buahnya, betul-betul tak kunjung datang. Dan saya justru sangat 
susah dalam mencari sesuap nasi. Maka para pakar 'plesetan' menamakan orde ini 
sebagai orde 'repotnasi'. Alias betapa susahnya orang-orang kecil seperti saya 
ini mencari penghidupan meski hanya sekedar untuk makan. Sebab beras bagus tak 
terbeli oleh kami, karena harganya yang demikian tinggi. 

Oleh karena itu, begitu buah hati saya lahir, seorang laki-laki, saya langsung 
memberi nama Damar. Mengambil dari kosa kata bahasa Jawa. Yang juga merujuk 
pada surat salah satu ayat dalam surat An-Nur. Yang bermakna pelita, dian, 
cahaya. Intinya adalah sesuatu yang membuat kita menjadi cerah dan bercahaya 
bila di dekatnya. 

Saya tidak main-main dalam memberi nama ini. Dengan nama itu, saya sangat 
mengharapkan kepada Allah agar Dia secepatnya menghilangkan kegelapan yang 
sedang menghinggapi saya khususnya dan negeri ini umumnya. Sama saja dengan 
mereka-mereka yang memberi nama kepada anaknya dengan Muhammad, Abu Bakar, Imam 
Syafii atau yang lainnya. Mereka tentu mengharap sekali agar anaknya kelak bisa 
mewarisi kebaikan beliau-beliau itu. Maka saya memberi nama itu sama artinya 
saya sedang berdoa padaNYa. 

Bagi William Shakespeare, nama memang tidak begitu berarti. Ia lebih menekankan 
pada apa yang dikerjakan si punya nama tersebut. Kata sastrawan besar Inggris 
itu, apa arti sebuah nama? Kalau perbuatannya tidak bagus? 

Lain dengan seorang muslim, nama harus bagus, dan perbuatan pun harus lebih 
bagus lagi. Rasulullah sendiri juga bersabda bahwa pekerjaan kita yang pertama 
kali setelah anak kita lahir adalah memberi nama yang bagus. Maka tradisi 
orang-orang di dunia Islam memberikan nama kepada anaknya, biasanya dengan 
mengambil nama-nama orang yang sudah jelas baik budi pekertinya ketika hidup di 
dunia. Seperti para nabi, sahabat, tabi'in, dan para pejuang Islam lainnya. 

Saya sendiri mengikuti tradisi baik mereka-mereka itu. Walaupun tidak mengambil 
kosa kata dari bahasa Arab. Namun maknanya sama. Yaitu berharap kepada Yang 
Esa. Dan di belakang nama Damar, saya tambahi dengan Pamuji. Yang kata teman 
saya yang kuliah di LIPIA bermakna sama dengan Ahmad, Mahmud dan juga Muhammad 
tentunya. Maka teman saya itu kalau memanggil anak saya bukan Damar Pamuji tapi 
Misbakhul Khamdi. Katanya agar agak berbau santri. Dan katanya pula agar dapat 
cahaya kebaikan juga dari 'Khotamul Ambiya' Rasulullah SAW. 

Duh, senangnya saya seandainya kelak anak saya bisa memberikan 'pepadhang' atau 
cahaya kepada dirinya, kedua orang tuanya, keluarga, masyarakat, atau bahkan 
kepada agama dan negaranya. Walaupun tidak mungkin seperti Muhammad SAW 
tentunya, tapi jika sedikit saja dari sifat-sifat kebaikan Rasulullah, sudah 
luar biasa bagi saya. 

Namun, tiba-tiba suatu saat saya merasa hati ini pahit getir. Merasa hati ini 
sangat-sangat khawatir terhadap anak saya. Kenapa? Ya, karena suatu saat saya 
melihat seorang lelaki yang baru menginjak remaja. Mukanya babak belur. Dari 
hidungnya keluar darah segar. Ia baru saja diamuk masa. Katanya, si pemulung 
itu mencuri besi di belakang rumah seseorang yang tak jauh dari rumah saya. 
Ketika ada seseorang bertanya siapa namanya, laki-laki itu menjawab lemah: 
Muhammad. 

Saya mundur dari kerumunan orang itu. Air mata ini tak bisa saya bendung. Saya 
ingat orang tua si pemulung. Ia pasti memberi nama itu niatnya sama dengan 
saya. Ia pasti memberi nama itu tidak asal saja. Akan tetapi paling tidak 
bapaknya punya pengharapan agar si anak kelak bisa sedikit-sedikit mewarisi 
sifat pemegang nama Muhammad yang pertama, yaitu anak Abdullah dan cucu Abdul 
Muthalib, Nabi Muhammad SAW. 

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi pada orang tuanya. Mungkin sang bapak 
setelah memberi nama itu jatuh miskin, lantas jadi tak bisa mengurus anak itu 
jadi baik-baik. Ibarat orang menanam padi, ia tidak sempat memberi pupuk, tidak 
sempat mencabuti rumput-rumput liar atau bahkan ia tidak bisa membeli obat 
untuk melawan hama yang datang. Sehingga ia tumbuh menjadi tanaman yang tidak 
baik. Apalagi berbuah. Atau juga mungkin anak itu korban 'broken home', 
sehingga nyaris tak terurus oleh orang tuanya. Jangankan pendidikan, makan 
harianpun ia terlantar. Dan akhirnya apapun ia kerjakan, karena tuntutan 
keadaan. 

Banyak. Banyak. Banyak sekali kemungkinan yang menimpa orang tua laki-laki itu. 
Apalagi sejak hantu 'krismon' melanda negri saya tercinta. Tidak sedikit 
diantara kita amat-amat susah mencari penghidupan. 

Saya kemudian merenung sendiri sejak peristiwa itu. Entah bisa, atau tidak 
menjaga sekaligus membimbing kebaikan kepada anak saya secara konsisten. Sebab 
siapapun tidak ada yang tahu, bahwa kitapun suatu saat mungkin akan diuji oleh 
Allah dengan cobaan yang dialami seperti keluarga si pemulung tadi. Sebab kalau 
tidak kuat dengan sebuah ujian, tidak menutup kemungkinan akan mengalami 
hal-hal yang kadang menjadi tak ingat kepada anak. Padahal Rasulullah bersabda 
bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Dalam keadaan suci bersih 
tanpa satu titik nodapun. Orang tuanyalah yang menjadikan Majusi atau Nasrani. 
Itu artinya di tangan bapak dan ibunyalah si anak mau hitam atau putih bersih. 

Wallahu a'lam 

***

Sus Woyo , Brunei Darussalam, April 2005 
<woyo72 at yahoo dot com>


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke