http://www.jurnal-kopertis4.org/file/kopwil4-313.doc

 

Pluralitas di Indonesia merupakan sintesa dari fragmentasi-fragmentasi 
peradaban yang ada. Tidak bisa dibantah bahwa hal ini menjadi faktor yang dapat 
mendorong negeri kita selangkah mendekati "nubuatan" Huntington, benturan antar 
peradaban. Oleh karena itu suatu jalinan persekutuan lintas agama, etnis dan 
suku mutlak diperlukan demi mencegah terjadinya "clash of civilization" di bumi 
pertiwi ini. Disinilah peran agama diperlukan untuk menimbulkan inklusifitas 
diantara para pemeluknya.

 

AGAMA SEBAGAI ANTITESA CLASH OF CIVILIZATION

 

 

Menurut sebuah tesis terkemuka clash of civilization oleh Samuel P. Huntington, 
di dunia ini terdapat tiga peradaban raksasa, yakni Barat, Cina dan Islam. 
Menurutnya pula kontradiksi-kontradiksi antar peradaban ini kemudian akan 
menciptakan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar dalam hal ini 
adalah hegemoni barat, intoleransi Islam dan arogansi China. Pada suatu saat, 
dialektika-dialektika yang terjadi diantara peradaban akan menciptakan suatu 
tatanan dunia yang benar-benar baru

 

Walaupun banyak kalangan mengatakan bahwa tesis clash of civilization merupakan 
manifestasi rasisme dari Huntington, namun apabila dikaji secara kontekstual, 
kondisi yang dicuatkan oleh Huntington dengan konteks di Indonesia. Tidak 
mustahil bahwa teori ini dapat menjadi nubuat kehancuran bagi bangsa kita. 
Tentunya apabila kita tidak mampu melestarikan kerukunan antar agama, etnis, 
suku di tengah keberagaman bangsa kita. 

 

Walaupun wacana benturan antar peradaban belum memunculkan tindak tanduknya 
yang signifikan di Indonesia, objek yang dimungkinkan untuk berbenturan itu 
telah memenuhi faktor yang rawan untuk memunculkan ancaman-ancaman disintegrasi 
bangsa.  

 

Dominasi Sosio-Kultural Islam dan Cina di Indonesia

 

Dominannya kuantitas umat Muslim di Indonesia menempatkan negara kita sebagai 
negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Budaya yang bercorak Islamiyah 
juga sangat kental dalam aspek kehidupan di Indonesia. Selain itu Islam di 
Indonesia memiliki korelasi loyalitas dan militansi yang tinggi dengan segenap 
umat Muslim di dunia.

 

Korelasi ini jugalah yang mengikat keutuhan umat Islam yang tersebar di 
berbagai negara ke dalam suatu peradaban, kepada suatu �Tauhiditas Islam�. Atas 
nama persaudaraan orang Indonesia akan mengangkat senjata ke Palestina, Arab, 
atau Pakistan. Ikatan afinitas agama ini menghilangkan batas gegorafis, etnik, 
dan budaya. Meminjam istilah dari Hegel, Ruh segenap umat Islam bersatu dengan 
Ruh yang lebih besar, dan lebih global sehingga menghilangkan Ruh individu dan 
Ruh negara mereka. Hal inilah yang disebut oleh Huntington sebagai Intoleransi 
Islam.

 

Namun Intoleransi sering dimanifestasikan ke dalam suatu sikap yang kurang 
relevan dan terkadang berkesan anti-nasionalisme. Sementara di negeri sendiri 
masih banyak kesulitan yang menimpa saudara sebangsa dan setanah air, akan 
tetapi bagi para Muslimah yang cenderung fundamentalis seringkali perhatian 
kemanusiaannya lebih tersedot kepada saudara seiman yang mengalami kesulitan 
baik itu di dalam maupun di luar negeri. Hal ini menjadi problematika sosial 
yang cukup kronis mengingat pluralitas beragama di Indonesia.

 

Sedangkan peradaban Cina diungkap Huntington menjadi dominasi dalam kekuatan 
ekonomi dunia. Dalam konteksnya di Indonesia hal ini terbukti dengan gelar 
mereka sebagai Market Dominant Minorities yang diberikan oleh Amy Chua dalam 
bukunya kontroversial-World on Fire, How Exporting Free Market Democracy Breeds 
Ethnic Hatred and Global Instability. Penelitian Michael Backman (1995) tentang 
kapitalisasi pasar dari 300 konglomerat Indonesia, Backman menemukan 73 persen 
total kapitalisasi pasar Swasta di negeri ini dimiliki oleh etnis Tionghoa. 
Secara kotor dapat digambarkan etnis tionghoa yang hanya berjumlah 2 persen 
dari keseluruhan penduduk di Indonesia menguasai 70 pesen kekayaan negara. 
Sehingga sampai dengan saat ini stigma �binatang ekonomi� masih melekat pada 
mereka.

 

Bagi etnis Cina di Indonesia perilaku etnosentris tampak masih cukup kental. 
Hal ini terbukti melalui keberhasilan bisnis orang Cina lebih karena ikatan 
personal berbasis kultural-kekeluargaan daripada ikatan formal-legal. 
Masyarakat Cina terikat oleh jalinan kekeluargaan yang dinamakan bamboo 
network. Di mana pun masyarakat Cina berada, mereka cenderung bersikap 
etnosentris. Kebudayaan mereka tidak mengalami asimilasi, melainkan tetap 
lestari seperti penggunaan bahasa, budaya Cina di berbagai belahan dunia.

 

Imlek, Hijriah dan Konsep Radikal Agama

 

Pada bulan Februari ini, kedua peradaban besar tersebut merayakan peringatan 
hari besar agamanya secara beriringan. Pada tanggal 9 Februari umat Konghucu 
beserta seluruh etnis Cina merayakan tahun baru Imlek dan kemudian beriringan 
dengan hari raya umat Muslim, tahun baru Hijriah yang jatuh pada tanggal 10 
Februari. 

 

Tahun baru Imlek adalah hari kelahiran Konfusius sang pencetus Konfusiansisme 
atau agama Konghucu. Adalah kewajiban moral bagi seluruh etnis Cina tanpa 
terbatas oleh agama untuk menghormat perayaan dalam makna kulturalnya.

 

Sedangkan tahun baru Hijriah menandai kemunculan peradaban Islam di Madinnah. 
Perayaannya tentu mengingatkan kepada umat Muslim bahwa Islam pernah berdiri 
sebagai suatu peradaban teokrasi yang sempurna dimana dipimpin langsung oleh 
Nabi Muhammad dengan bimbingan wahyu Allah.

 

Peristiwa historikal yang menjadi subjek bagi kedua perayaan tahun baru ini 
merupakan pemicu yang signifikan bagi sejarah kedua peradaban tersebut dalam 
konteks religi maupun sosial. 

 

Apabila diwarnai dengan semangat fanatisme buta, tidaklah mustahil apabila 
kedua perayaan ini menjadi titik tolak untuk memunculkan rasa superioritas 
masing-masing peradaban, hal ini akan selangkah mendekati penggenapan dari 
nubuatan Huntington.

Yang menurut ramalannya tersebut, fragmentasi dari dua peradaban besar ini akan 
memunculkan eksistensinya secara anarkis di bumi pertiwi dan menenggelamkan 
peradaban Indonesia yang telah dibangun atas dasar pluralitas.

 

Oleh karena itu, selain menekankan peringatan ini kepada aspek spiritualnya, 
sekiranya perlu dikembangkan aspek sosialnya yang inklusif, agar tidak terjebak 
ke dalam suatu sikap etnosentris. Diperlukan suatu radikalitas (melihat ke 
akarnya) untuk kembali kepada konsep ideal dari beragama  sehingga makna dari 
peringatan ini dapat diadaptasikan atau dihijrahkan secara kultural untuk masa 
ini.

 

Pada masa lalu, peradaban Islam di Madinnah dibangun di atas fondasi piagam 
madinnah yang menjadi ikatan kerukunan bagi etnik, agama dan suku yang mewarnai 
kemegahan peradaban Islam tersebut. Sedangkan Konfusianisme pernah menjadi 
ajaran agama resmi bagi bangsa Cina di masa lalu. Dengan ajarannya tersebut 
Konfusius merestorasi etika sistem pemerintahan di Cina yang saat itu sangat 
senjang dalam wacana kekuasaan, dengan ajarannya yang berorientasi kepada cinta 
kasih, kebaikan, kemanusiaan, dan welas asih.

 

Apabila berefleksi dari sejarah, perjalanan dari peradaban masa lalu selalu 
disatukan oleh semangat inklusifitas yang ditebar oleh agama. Mengambil makna 
holistik dari ajaran agama yakni menuntun ke jalan yang benar, dalam konteks 
sekarang adalah memulihkan kembali jalinan kemanusiaan kita yang sudah mulai 
retak dengan perbaikan sikap, jiwa dan hati. 

 

Kedua peringatan besar ini diharapkan mampu menjadi momen untuk melangsungkan 
dialog antar peradaban agar dapat menemukan hakikat sejati dari agama yang 
senantiasa memberikan angin segar bagi kesejukan hati, jiwa dan rasa yang dapat 
mendorong jalinan kerukunan antar iman yang sejati diantara para pemeluknya.

 

Terakhir, ada baiknya apabila kita melongok sedikit konsep radikal Hassan 
Hanafi sang pemikir Islam. Menurutnya, hakikat tauhiditas dari Islam berarti 
kesatuan antar manusia tersebut, kesatuan antar sesama manusia yang tidak 
mengenal batas suku, agama dan etnik. Tauhiditas merupakan interpretasi salah 
satu agama mengenai suatu jalinan persaudaraan yang universal, yang mutlak 
diperlukan demi meramu simfoni keberagaman kita menjadi selaras, indah dan 
serasi. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, satu Indonesia. 

 


                
---------------------------------
Yahoo! Mail
 Stay connected, organized, and protected. Take the tour

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke