http://www.angelfire.com/in/faktanya/

 

 

Benarkah Terjadi Perkosaan Massal? 

 

JAKARTA (2 Agustus 1998) -- Pemberitaan media massa nasional dan internasional 
mengenai perkosaan massal telah menyulut sejumlah aksi demonstrasi di Jakarta, 
Singapura dan Hongkong, namun belakangan ini ada dugaan bahwa informasi itu 
merupakan propaganda politik untuk menjatuhkan nama Indonesia. Selain curiga 
atas adanya ketidakbenaran informasi yang dilansir media massa, beberapa pihak 
menduga informasi itu bohong dan sengaja disebarkan untuk menjatuhkan dan 
menjelekkan pemerintah dan masyarakat Indonesia di mata dunia. Bahkan menurut 
beberapa kalangan, informasi tersebut merupakan bagian dari ''upaya 
sistematis'' untuk menambah buruk citra Indonesia di luar negeri. Perkosaan 
massal -- seperti dilaporkan Tim Relawan -- terjadi saat kerusuhan 13-15 Mei 
lalu. Tim itu menampung pengaduan, lalu melaporkannya ke Komnas HAM. Namun tim 
itu tidak pernah melaporkan kasus-kasusnya kepada polisi untuk pengusutan lebih 
lanjut. Tim Relawan mempublikasikan korban perkosaan dan pelecehan seksual
 yang melapor hingga 3 Juli 1998 sebanyak 168 orang -- 152 di Jakarta dan 
sekitarnya dan 16 di di Solo, Medan, Palembang, dan Surabaya. Umumnya, mereka 
yang melapor adalah wanita keturunan Cina. Menurut juru bicara Tim Relawan, Ita 
Fatia Nadia, modus operandi perkosaan merupakan peristiwa yang tak bisa 
dipisahkan dari kerusuhan Mei itu. Tanpa melakukan cek dan recek apalagi 
penelitian, pers menulis berita itu. Akibat laporan yang dimuat di berbagai 
media cetak dan elektronik nasional dan internasional, citra bangsa Indonesia 
yang tengah terpuruk akibat resesi ekonomi, semakin buruk. Apa pun alasannya, 
informasi kasus perkosaaan mendesak untuk dituntaskan. Pemerintah telah 
mengutuk terjadinya kerusuhan. Dan sesuai dengan tuntutan masyarakat, telah 
pula dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) diketuai Wakil Ketua Komnas 
HAM, Marzuki Darusman. Selain itu, pemerintah juga membentuk komite khusus bagi 
perlindungan wanita dari segala tindak kekerasan. Komite ini independen dan 
setingkat
 dengan Komnas HAM. Setelah tuntutan untuk membentuk tim khusus diwujudkan 
pemerintah, isu perkosaan massal di masyarakat relatif menurun. Pemberitaan di 
media massa cetak dan elektronik juga cenderung reda. Sebelumnya, pers tampak 
bersemangat mengulas masalah itu. Setelah lewat media cetak, penyebaran isu 
tersebut dilakukan secara terbuka disertai penghujatan kepada Islam melalui 
internet. Tak heran jika Komite Indonesia untuk Solidaritas Islam (KISDI) Jumat 
(31/7) mengadukan majalah Jakarta-Jakarta kepada Menpen, karena di Rubrik 
Metro-Sex edisi 609 Juli 1998, ada tulisan berjudul Vivian yang secara lugas 
menuduh umat Islam sebagai dalang perkosaaan. Pengamat sosia, Eddy Noor, 
berpendapat laporan telah terjadi perkosaan massal sulit dipercaya serta tidak 
logis. Laporan itu, menurut dia, diungkapkan secara sepihak oleh 
aktivis-aktivis LSM tanpa disertai keberanian untuk menunjukkan korban dan 
mengadukannya kepada polisi. Ia menambahkan laporan itu merupakan ''upaya 
sistematis''
 untuk menjelekkan pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai tindakan balas 
dendam atas kerugian akibat kerusuhan Mei lalu. ''Buktinya laporan itu sebatas 
laporan dengan mengandalkan pers agar tersebar sehingga citra pemerintah dan 
bangsa ini menjadi buruk,'' katanya. Mungkin saja ada satu atau dua kasus 
perkosaan, lalu masalah itu dibesar-besarkan oleh para aktivis LSM, karena 
memang kesempatan itu terbuka, sebab perkosaan sulit dibuktikan. Pemerintah, 
kata Eddy Noor, diharapkan tidak terjebak dengan propaganda itu dan pers tak 
begitu saja terseret informasi tanpa bukti. Sayangnya, pers telah terlibat jauh 
karena mereka menulis apa saja yang dikatakan para aktivis LSM tentang 
perkosaan. Ia mendesak pemerintah meminta bukti kepada LSM dan Tim Relawan dari 
laporan-laporan orang yang mengaku menjadi korban perkosaan, agar kasusnya bisa 
ditangani. Ketidaklogisan dari laporan itu, menurut dia, terletak pada 
informasi bahwa perkosaan terjadi di jalanan, di kendaraan, di taksi, atau di
 ruko. Padahal saat terjadi kerusuhan, suasana panik manusia berhamburan 
sehingga sulit bagi orang untuk melakukan perzinahan. Secara psikologis, 
katanya, suasana saat itu kurang mendukung untuk terjadinya pemerkosaan. Eddy 
menilai upaya sistematis untuk memburukkan citra Indonesia itu tak ubahnya 
dengan fitnah dan kejahatan kepada negara. Pemerintah harus menuntut bukti dan 
bila bukti itu tak ada, maka si penyebar isu harus dipidana. Anggota Komisi II 
DPR Lukman Harun juga mendesak pemerintah meminta bukti dari pihak yang telah 
mempublikasikan isu perkosaan massal. ''Selama ini yang ada hanya desakan agar 
pemerintah menyelesaikan kasus itu, sedangkan buktinya mana? Tampaknya kasus 
itu hanya dipolitisir oleh pihak tertentu agar Indonesia sebagai bangsa 
barbar,'' katanya. Lukman mendesak pemerintah agar tidak begitu saja menerima 
laporan tertulis tentang kasus itu, karena ada kemungkinan hal tersebut hanya 
untuk menjebak dan mempermalukan pemerintah. Sampai awal Agustus ini, belum ada
 laporan kasus perkosaan kepada polisi, sehingga penyelesaiannya secara hukum 
terhambat. ''Ini jelas propaganda politik untuk menjatuhkan pemerintah dan 
masyarakat,'' kata Lukman Harun. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati 
Sukarnoputri juga meragukan data itu. Tim Relawan menurutnya memang terus 
bekerja, tetapi korbannya tidak dilaporkan kepada polisi. Dalam pandangan 
Megawati, kepolisian mendapatkan informasi melalui pihak kedua, Tim Relawan. 
''Teman saya seorang polisi telah mengecek ke alamat korban dan menemukan orang 
yang dilaporkan telah diperkosa, ternyata tenang-tenang saja.'' Kenyataan itu 
menurut Megawati menimbulkan keraguan. ''Ah, masa iya telah diperkosa. Kok dia 
tenang-tenang saja,'' kata Mega pada dialog nasional ''Hati Nurani Korban 
Perkosaan'' beberapa hari lalu. Memang ada kesulitan dalam mengusut kasus 
perkosaan, apalagi yang sifatnya massal, karena budaya masyarakat yang belum 
terbuka dan jaminan kepastian hukum terhadap korban perkosaan. Semua pihak 
sedang
 menanti kejelasan mengenai isu perkosaan massal itu. Jika kasus itu benar 
terjadi, semua pihak menuntut agar hal tersebut ditangani secara hukum. Tetapi 
jika isu itu tak terbukti, para oknum yang telah bertindak buruk kepada bangsa 
dan negaralah yang harus ditindak tegas.  Sri Muryono/Antara

 

 

Sudah 40 Hari Belum Ditemukan Bukti Perkosaan

 

JAKARTA (14 Agustus 1998) -- Polda Metro Jaya menahan 16 orang dan masih 
mengejar 20 orang lagi yang sudah diketahui identitasnya yang diduga sebagai 
penggerak kerusuhan 13-14 Mei. ''Diharapkan dapat informasi, kemungkinan ada 
aktor intelektual,'' kata Kadispen Polda Metro Jaya Letkol Pol Drs Edward 
Aritonang, kemarin (13/8). 

Menurut Aritonang, pihaknya menahan mereka berdasarkan informasi dari penjarah 
yang telah diperiksa sebelumnya. Sejak dua hari setelah kerusuhan itu, Polda 
berhasil menahan 1.919 orang yang diduga menjarah, mencuri, dan membakar sarana 
umum. Dari jumlah itu, 250 orang telah disidang di pengadilan. 

Kadispen mengatakan, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tiga dari 16 tersangka 
tersebut telah diserahkan ke jaksa penuntut umum. Sehingga dalam waktu dekat 
kasus ini segera masuk pengadilan. Para tersangka itu, kini berada di tahanan 
Polda Metro Jaya. 

Tiap tersangka diperkirakan menjadi penggerak di lokasi tertentu. BE dan PH 
menjadi penggerak di kawasan Kalideres Jakarta Barat. AS tersangka penggerak 
pembakaran kantor Polsek Matraman Jakarta Pusat. MR dan AG penggerak pembakaran 
dan penjarahan Yogya Departement Store Klender Jakarta Timur. Ags dan MM 
penggerak pembakaran Pos Polisi dan Pasar Ramput Jakarta Selatan. S alias Sd 
dan Sbr penggerak pembakaran BCA Muara Karang Jakarta Barat. Ed penggerak 
pembakaran Naga Mal Bekasi. Tgh penggerak di Jl Raya Depok. Yd, Sa, dan AS 
penggerak pembakaran Pos Polisi Megaria dan kerusuhan di Jl Diponegoro. Sfs dan 
Is penggerak pembakaran ruang pamer Mitsubishi. 

Menurut Aritonang, para tersangka umumnya adalah warga sekitar tempat kejadian. 
''Mereka umumnya pemuda putus sekolah dan beberapa lainnya adalah para pedagang 
di lokasi sekitar kerusuhan,'' katanya. Adapun motifnya, katanya, diduga karena 
kecemburuan sosial. 

Penangkapan para tersangka dilakukan sejak berhasilnya penyidikan terhadap para 
perusuh yang ditangkap awal Juni. Penangkapan terhadap tersangka, ujarnya, 
dilakukan setelah pelacakan yang detil dan konfirmasi dari para saksi. Hal ini 
untuk menghindari salah tangkap. 

Pada kesempatan itu Kadispen juga menjelaskan soal tuduhan telah terjadi 
perkosaan massal terhadap wanita etnis Cina pada kerusuhan Mei tersebut. Isu 
perkosaan itu dilansir sejumlah LSM maupun internet -- bahkan telah menjadi isu 
internasional. 

Hingga lebih 40 hari melakukan pelacakan, kata Aritonang, Tim Khusus Pencari 
Fakta Polda Metro Jaya belum menemukan bukti terjadinya pemerkosaan. ''Puluhan 
tempat yang diinformasikan masyarakat telah kami selidiki tuntas. Begitu pula 
bila ada informasi korban, langsung kami dekati. Tetapi hingga kini dapat kami 
simpulkan belum ada bukti terjadinya pemerkosaan seperti diberitakan banyak 
pihak itu,'' katanya. 

Kesimpulan sementara itu diambil, kata Aritonang, setelah petugas menangani dan 
memeriksa 1.919 perusuh. Berdasarkan pemeriksaan di lokasi kerusuhan maupun di 
wilayah yang dinyatakan terjadi perkosaan masal -- Muara Karang, Pluit, Pulo 
Mas, dan Kelapa Gading --, katanya, Polda sama sekali tak menemukan bukti soal 
itu. 

Begitu mendapat masukan dari LSM, Relawan, dan Komnas HAM tentang lokasi 
perkosaan, katanya, petugas langsung menyelidikinya. Hasil pemeriksaan itu, 
katanya, selalu tidak sesuai dengan laporan. ''Hampir setiap tempat di Jakarta 
dan sekitarnya yang dilaporkan ada pemerkosaan, sudah kami udak-aduk,'' ujar 
Aritonang. 

Tawaran Polda ke LSM dan Relawan untuk secara bersama mengusut soal pemerkosaan 
itu, kata Kadispen, hingga kini belum mendapat tanggapan. Bahkan jalur telepon 
hotline yang digelar Polda, tuturnya, hanya mendapat laporan yang sangat sumir. 
''Kami selalu mendapat jawaban, 'kami terikat janji dengan nara sumber' atau 
'katanya si anu memang ada pemerkosaan'. Begitulah masukan yang kami dapat,'' 
kata Aritonang. 

Aritonang menolak berspekulasi soal kemungkinan sinyalemen maupun laporan itu 
hanya dibesar-besarkan oleh pihak-pihak tertentu. ''Kami petugas penyidik 
negara, jadi kami melakukan tugas tanpa pertimbangan lainnya. Pokoknya hingga 
kini Polisi masih terus melacak. Hanya sampai hari ini, petugas belum menemukan 
bukti,'' katanya.

 

 

Tentang Berita Perkosaan 13-14 Mei
Kabakin: Ada Motivasi Politik

 

JAKARTA -- Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) Letjen (Purn) 
Moetojib menyatakan berita perkosaan massal yang terjadi saat kerusuhan Mei 
lalu bermuatan politis. Dia mensinyalir isu itu sengaja disebarkan dengan 
tujuan untuk menjatuhkan nama baik bangsa Indonesia.

"Kalau melihat cara pemberitaan, yang menyudutkan bangsa ini atau terutama 
ABRI, saya kira ada keinginan-keinginan untuk membuat bangsa ini jatuh," ujar 
Moetojib kepada wartawan di ruang kerjanya, kemarin.

Kabakin mendasarkan dugaannya pada fakta bahwa hingga kini belum ditemukan 
bukti adanya perkosaan tersebut. "Saya sudah mengecek ke rumah-rumah sakit, 
apartemen yang katanya digunakan memperkosa, dan belum menemukan bukti. Apa 
kurang mampunya agen-agen saya?"

Moetojib kemarin khusus mengundang wartawan karena mengaku tak tahan lagi 
dengan pemberitaan itu. Menurut dia, secara logika tak mungkin tidak ada satu 
pun di antara 168 orang -- yang disebut-sebut diperkosa -- yang mau bersaksi.

Selain itu, katanya, "Dilihat dari intensifnya pemberitaan yang disebarkan 
untuk menyudutkan bangsa ini dan ABRI, saya kira ada keingingan agar Indonesia 
jatuh, atau minimal pemerintah sekarang ini jatuh."

Untuk mengungkap kejadian itu, Kabakin mengaku telah menghubungi Badan 
Intelijen ABRI (BIA) dan intelijen Polri. Lembaga-lembaga itu, katanya, juga 
menyatakan sangat sulit menemukan bukti-bukti perkosaan tersebut.

Moetojib juga menjelaskan dia telah mengadakan koordinasi dengan inteligent 
community di Jakarta, membahas kasus perkosaan itu. Dari hasil pertemuannya 
tersebut, dia menyimpulkan bahwa intelijen negara luar pun tidak percaya begitu 
saja.

Kabakin bahkan mempertanyakan mengapa isu perkosaan muncul lama setelah 
kerusuhan terjadi. "Kerusuhan dan penjarahan terjadi 13-15 Mei. Mengapa isu 
perkosaan itu muncul pada awal Juni? Mengapa setelah 15 hari, bukan satu atau 
dua hari kemudian," ujarnya.

Ia meminta agar semua pihak berpikir rasional dan tidak terbawa arus emosi jika 
mendengar kabar yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. "Bagaimana kita bisa 
begitu saja percaya dengan kabar yang disebar-luaskan melalui internet, 
sedangkan kenyataan di lapangan sulit dibuktikan kebenarannya."

Kabakin tidak membantah kemungkinan isu disebarkan dengan motif kesenjangan 
ekonomi. Tapi, yang paling memiliki dampak saat ini adalah muatan politisnya. 
"Itu (isu pemerkosaan) merupakan salah satu upaya melemahkan bangsa Indonesia," 
katanya.

Meski demikian, Moetojib mengutuk perkosaan bila itu benar-benar terjadi. 
Sekali lagi bila betul-betul terjadi," tegasnya dengan nada tinggi.

Pada bagian lain, Moetojib berjanji menjamin kerahasiaan mereka yang bersedia 
bersaksi dalam kasus ini. Dia mengaku sangat prihatin dengan pemberitaan 
tentang perkosaan itu dan berharap agar segera dijelaskan.

Dia kemudian menceritakan bagaimana sedih perasaannya ketika mendengar laporan 
dari perwakilan Indonesia di luar negeri. "Mereka itu didemo, diteror, dan 
disebut sebagai negara pemerkosa," katanya.

"Kita tidak rela 'kan. Kita adalah bangsa besar yang mengagungkan peradaban dan 
nilai-nilai kemanusiaan. Jika peristiwa itu memang terjadi, sama-sama kita 
kutuk. Tapi jika tidak, kita harus menggunakan akal sehat untuk menolaknya," 
kata Moetojib. (Sumber: REPUBLIKA, 25 Agustus 1998).

 

 

 

 

Mempertanyakan Perkosaan Massal

 

     Kontroversi benar tidaknya ada perkosaan massal pada kerusuhan lalu makin 
mengemuka. Tapi, ada foto-foto palsu hasil rekayasa.
     Dulu pengancam LSM atau Tim Relawan yang mengusut kasus perkosaan massal 
pertengahan Mei lalu selalu misterius. Anggota LSM atau Tim Relawan pun hanya 
mendapati teror lewat telepon gelap sampai ancaman granat. Tapi, pekan lalu 
LSM-LSM dan Tim Relawan mendapatkan ancaman dari orang yang identitas dan 
alamatnya jelas. Kali ini yang mengancam adalah Kapolri Letjen [Pol] 
Rusmanhadi. Kapolri menyatakan akan menyeret ke pengadilan LSM-LSM yang selama 
ini gembar-gembor tentang pelecehan seksual dan perkosaan massal pada kerusuhan 
pertengahan Mei lalu namun tidak bisa memberikan bukti. Kapolri mengatakan 
bahwa LSM-LSM itu selalu mengembus-embuskan atau menghasut sehingga pihaknya 
bisa memeriksa mereka dengan tuduhan menyiarkan kabar bohong. "Kalau mereka 
tidak bisa menunjukkan bukti, kami akan cari pasalnya dalam pidana," ancam 
Rusmanhadi.
     Pernyataan Kapolri yang bernada mengancam itu dilatarbelakangi tidak 
adanya data perkosaan yang ditemukan oleh pihaknya. Memang, bukti-bukti adanya 
perkosaan pada kerusuhan pertengahan Mei lalu masih diselimuti kabut. LSM-LSM 
atau Tim Relawan yang menangani masalah ini pun belum bersedia menunjukkan 
bukti karena -- kata mereka -- terbentur masalah etika.
     Tapi yang cukup membuat kaget adalah pernyataan yang dikemukakan seorang 
anggota Tim Relawan. Pendeta Drs Ch MD Estefanus MSi membantah kebenaran 
laporan adanya 24 WNI keturunan Cina yang menjadi korban perkosaan massal di 
Solo. "Berita-berita itu tidak benar, angka 24 itu adalah jumlah korban 
kerusuhan dan penjarahan, bukan korban perkosaan," tegas Pimpinan Gereja Utusan 
Pantekosta Jemaat Pasar Legi, Solo. Kontroversi itu juga muncul dari 
bukti-bukti foto perkosaan massal yang muncul di Internet. Foto-foto itu 
dicurigai sebagai hasil rekaan. Kecurigaan itu dilansir oleh koran Asian 
Wallstreet Journal yang mencurigai sebagian besar foto-foto itu palsu dan tidak 
ada hubungannya dengan kerusuhan Mei lalu. Kecurigaan foto-foto seram itu juga 
dikemukakan oleh Dewan Reformasi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya [Derap] dan 
Aware [Kelompok dari Singapura yang menggelar pameran foto-foto itu di 
Singapura]. "Ini foto-foto kejadian di Timor-Timur, jauh sebelum kerusuhan Mei 
dan dipublikasikan
 kelompok Fretelin," tegas Andi Achmad Sanusi, anggota Presedium Derap. 
(Sumber: Tabloid Aksi, vol 2, No. 93, 25-31 Agustus 1998).

Tentang Kapok Jadi Nonpri
(Oleh Jousairi Hasbullah) 

 

(23 Juni 1998) - NORMALISASI pelecehan memang tengah terjadi. Mengutip sebuah 
sumber, Ariel Heryanto dalam tulisannya: Kapok Jadi Nonpri (Kompas, 12 Juni 
1998) memaparkan tentang "ratusan" wanita turunan Cina mengalami perkosaan atau 
pelecehan seksual lainnya ketika kerusuhan di Jakarta pada 14 Mei 1998. Kita 
juga sama-sama mengetahui ribuan toko milik warga turunan Cina hancur dan 
isinya dijarah. Termasuk milik warga turunan Cina yang miskin.

Tentang kasus perkosaan massal wanita turunan Cina di Jakarta, Ariel Heryanto 
cenderung menempatkan orang-orang yang terorganisir sebagai pelopor. "Bukan 
kejutan jika penelitian lebih lanjut akan menyimpulkan kejahatan itu merupakan 
sebuah paket program yang dipersiapkan dan dikomando oleh kelompok yang ahli 
dalam kekerasan dan teror." Selanjutnya Ariel menulis: "Tindakan immoral bulan 
Mei itu hanya mampu dilakukan oleh mereka yang berada jauh di bawah atau jauh 
di atas rata-rata manusia Indonesia." Ariel barangkali benar, barangkali salah.

Anehnya peristiwa biadab itu seperti sepi-sepi saja dari hujatan masyarakat. 
Ariel kemudian memberikan dua macam postulasi. Pertama, kebrutalan itu sudah 
kelewat jauh dari akal waras manusia. Manusia rata-rata tidak sanggup lagi 
berkata-kata karena derajat kesadisannya sangat tinggi. Kedua, tradisi 
diskriminasi telah melembaga menjadi sesuatu yang dianggap normal. Melecehkan 
orang turunan Cina baik dari segi pemakaian bahasa, penggunaan KTP atau apa 
saja, seakan-akan sah-sah saja.

Tentang kebungkaman

Sebelum tulisan ini dilanjutkan, siapa pun akan sepakat, siapa saja pelaku 
kerusuhan dan pemerkosaan 14 Mei 1998 di Jakarta, apakah itu dari kelompok 
terorganisir, kelompok setengah terorganisir atau kelompok berantakan perlu 
diusut, diadili, dan dihukum.

Mengapa masyarakat bungkam? Bungkam pada kejadian besar itu memang biasa. 
Biasanya, yang ribut memberi respons di media massa ketika terjadi 
ketidakadilan:

Kasus keluarga Acan, gugurnya mahasiswa Trisakti, penculikan Pius dan 
kawan-kawan, adalah kelompok menengah urban seperti kita-kita ini. Sekitar 170 
juta masyarakat "Ruralite" Indonesia yang bernama rakyat biasa selama ini juga 
biasa bungkam, apa pun yang terjadi tidak terdengar respons mereka. Mereka 
barangkali sudah takdir untuk selalu tersisihkan apakah secara ekonomi, dalam 
mengemukakan pendapat atau dalam bentuk ketersisihan sosial dan psikologis. 
Mereka juga bungkam soal Marsinah, soal Pius, soal Trisakti dan beribu soal 
lainnya. Mereka hanya bicara sekali-kali saja dengan bahasa yang sangat jelas 
yaitu jika sesak di dada tidak tertahankan lagi, hanya satu kata yang mereka 
miliki: ganyang.

Normalisasi pelecehan dan kebiadaban memang tengah terjadi. Sekadar memberi 
contoh kenistaan, tidak ribuan tapi jutaan bayi Indonesia mati sebelum berumur 
satu tahun menghirup udara dunia. Selama 30 tahun terakhir tidak kurang dari 10 
juta bayi yang mengakhiri hidupnya dengan nista. Jangankan untuk berbahasa, 
untuk ber-KTP, untuk diperkosa, untuk hidup pun mereka seperti tidak kita 
perkenankan. Sepuluh juta tunas bangsa mati, kita bungkam, tetapi segelintir 
bayi mati pada peristiwa klinik pengguguran di Jakarta, kita ribut.

Seluruh literatur demografi bersepakat, kematian yang demikian karena 
orangtuanya renta, miskin, tersisihkan dari dunia pengetahuan, dan terasing 
dari kehidupan yang wajar. Akibatnya bayi-bayi itu kurang gizi, rentan terhadap 
penyakit, lalu mati.

Mengapa Profesor Grant dan Morris, penggagas Indeks Mutu Hidup (Physical 
Quality of Life Index), dan UNDP, penggagas Indeks Pembangunan Manusia (Human 
Development Index), yang sangat terkenal itu, menempatkan kematian bayi dan 
angka harapan hidup (indikator paralel dari kematian bayi) sebagai satu di 
antara tiga indikator utama kelayakan kehidupan manusia, refleksi dari apakah 
manusia mampu hidup sebagai manusia?

Peristiwa bayi-bayi Indonesia yang mati karena kemiskinan hanyalah satu contoh 
di antara banyak kenistaan besar lainnya yang dialami ratusan juta rakyat yang 
menyebabkan mereka tidak sanggup lagi menangis, nurani sudah koma, kaku, lidah 
tinggal tegak lurus merasakan ketersisihan hidup.

Normalisasi pelecehan memang tengah terjadi. Kita semua bingung untuk 
menentukan mana ranking kebiadaban yang lebih tinggi. Barangkali itu sebabnya 
kelompok menengah yang disebut "bungkam" itu justru hanya mampu bersuara pada 
kasus-kasus yang relatif gampang dicerna untaian permasalahannya (kasus Pius, 
kasus Trisakti, keluarga Acan dan beberapa yang lain).

Mengapa turunan Cina?

Sisi lain kehidupan ini, selama 30 tahun terakhir keturunan Cina menikmati 
kelimpahruahan harta benda yang luar biasa. Kita semua bungkam. Kita tidak 
berani mendiskusikan ini secara terbuka karena takut dikatakan SARA. Adalah 
keliru jika Ariel Heryanto mengatakan hanya beberapa puluh (dari empat juta) 
orang turunan Cina yang menikmati kenikmatan KKN secara berlimpah. Justru 
bagian terbesar turunan Cina menikmatinya, hanya sebagian kecil yang miskin.

Di hampir seluruh kota, kota kecil sekali pun, di mana birokrasi pemerintah ada 
yang menikmati kontrak-kontrak dari proyek pembangunan mulai dari kontraktor 
jalan, perumahan, pengadaan barang seperti ATK (alat tulis kantor) sampai ke 
percetakan kop surat instansi, sebagian besar hanya dari dua kelompok: 
keluarga-keluarga pejabat atau pengusaha, besar dan kecil, turunan Cina.

Selama 30 tahun ini hotel-hotel mewah, pesawat udara, supermarket, 
gedung-gedung bioskop, tempat-tempat hiburan mewah, melancong ke luar negeri, 
restoran-restoran prestigious, sebagian besar penikmatnya adalah turunan Cina. 
Bahkan bila kita pergi ke tempat-tempat yang disebutkan terkadang kita bingung 
sendiri kita sedang di Indonesia atau sedang di Hongkong. Ratusan juta rakyat 
hanya menjadi penonton. Mereka seakan tidak punya hak untuk menikmati semua 
itu. Hak mereka telah dijarah dan diperkosa. "Pemerkosaan" dan "pelecehan" 
sudah menjadi normal-normal saja.

Ketersisihan kelompok mayoritas, kesenjangan ekonomi, sosial dan kultural 
itulah penyebab dari tragedi antiketurunan Cina yang selalu berulang, dan jika 
diabaikan akan terus meledak. Tidak hanya di zaman Orba, sejarah mencatat sejak 
zaman dulu ketegangan itu telah muncul. Pergolakan anti-Cina pada tahun 1913 
yang terjadi di seluruh pantai utara Jawa dan Solo bukankah sangat dahsyat? 
Begitu juga peristiwa pembantaian Cina di kota Kudus tahun 1918, dan banyak 
lagi sesudah itu.

Tidak hanya di Indonesia rakyat yang tersisih cenderung akan berbuat apa saja. 
Bukankah peristiwa Lambing Flat, Australia 30 Juni 1861, yang sangat terkenal 
itu, mungkin lebih kejam dari peristiwa 14 Mei 1998. Buruh-buruh turunan 
Inggris yang tersisih dalam berusaha di pertambangan emas Lambing Flat 
mengganyang ribuan turunan Cina yang mereka anggap eksklusif dan serakah. 
Petugas keamanan kewalahan. Jika saat ini masyarakat putih Australia tidak 
melakukan itu hanya karena kesejahteraan mereka sudah layak.

Bukankah orang-orang Aborigin sangat akrab menerima dan berasimilasi dengan 
migran asal Jepang dan dengan para sahabat mereka dari Makassar yang datang di 
awal abad ke-19. Tetapi justru terhadap turunan Cina ternyata sangat mereka 
benci. Mereka menganggap keturunan Cina sebagai pengecut dan hanya mau bergaul 
dengan kelompoknya (baca: Anderson and Mitchel, Kubara: A. Kuku - Yalanji of 
the Chinese in North Queensland. Aboriginal History). 

Lalu bagaimana?

Persoalan pribumi dan turunan Cina bukanlah persoalan bahwa yang satu berkulit 
sawo matang dan yang satu berkulit kuning. Persoalannya adalah kelompok 
pendatang, yang umumnya datang pada abad ke-19 bersamaan dengan masa eksodus 
imigran Cina ke Semenanjung Malaya, memiliki tradisi merkantilistik yang 
berbeda "nilai-nilai" dengan tradisi merkantilistiknya orang Melayu.

Walaupun orang Minang, orang Banjar, orang Bugis dan turunan Arab serta 
Pakistan memiliki tradisi merkantilistik yang tinggi, tetapi sebagian besar 
orang Melayu memandang mereka tidak setamak dan seeksklusif turunan Cina. 
Barangkali nuansanya sama dengan Aborigin memandang turunan Jepang dan orang 
Makassar. Secara umum kehidupan para turunan Cina sangat eksklusif, tinggal 
berkelompok-kelompok yang baik secara fisik, ekonomi, sosial dan psikis 
terpisah oleh tembok yang kukuh dengan rakyat banyak. Pengaruh-pengaruh 
kebudayaan, tekanan kehidupan di masa lalu di tanah leluhur, baik oleh alam 
maupun oleh penguasa mereka telah menjadikan perantau-perantau Cina memiliki 
sifat haus harta melebihi bangsa, suku, dan ras mana pun di dunia.

Postulasi tentang kehausan berlebihan ini gampang dibuktikan. Seperti yang 
mungkin dirasakan oleh masyarakat Lambing Flat, bukan rahasia, ketika turunan 
Cina berkehendak sesuatu, apa pun seakan bisa dikorbankan untuk mencapai 
tujuannya. Seperti dikemukakan oleh Kwik Kian Gie: "ciri mereka berbisnis 
dengan kotor dan gaya hidup berlebihan" (Republika, Minggu 14 Juni 1998). 
Inilah yang membuat pejabat banyak yang bertekuk lutut lalu, dengan mudah 
memberikan proyek kepada mereka. Orang Melayu sangat tipis dengan tradisi yang 
demikian, dan tentu saja, kalah. Adalah tidak masuk akal jika di kota besar 
mana pun di Indonesia hampir seluruh pertokoan besar berada di tangan turunan 
Cina, yang populasi mereka hanya 2-3 persen dari penduduk Indonesia.

Persoalan-persoalan yang disebutkan inilah yang menjadi inti dan akar masalah 
dari berbagai kerusuhan yang terjadi. Mengapa selama ini melulu kita hanya 
melihat akibat-akibatnya? Kita yakin sebagian terbesar rakyat ini masih cukup 
waras untuk membedakan: mana yang hak, mana yang batil.

*(Jousairi Hasbullah, lulusan Flinders University Australia; tinggal di 
Bandung.)

 

 

Perkosaan Etnis Tionghoa, Isapan Jempol

 

Dugaan adanya aksi pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa pada kerusuhan 
pertengahan Mei hanya isapan jempol karena tidak ada bukti-bukti nyata yang 
ditemui. Disimpulkan, "Pemerintah RI dikerjain" oleh organisasi-organisasi yang 
menggembar-gemborkan adanya pemerkosaan tersebut. 

Kesimpulan "Pemerintah RI dikerjain" itu disampaikan 11 anggota LSM dari Taiwan 
kepada Menhankam/Pangab dan dilaporkan dalam Sidang Kabinet Terbatas bidang 
Polkam yang dipimpin Presiden BJ Habibie di Bina Graha, Jakarta, Rabu (26/8). 

Menurut Menpen Muhammad Yunus, 11 anggota LSM dari Taiwan itu datang ke 
Indonesia guna mencari kebenaran terjadinya pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa 
pada Mei lalu seperti banyak dilansir media massa belakangan ini. 

"Selama mereka di Indonesia mereka telah bertemu dengan sejumlah tokoh, 
konsulat Taiwan di Jakarta, Menperta, dan mencari informasi tentang korban 
pemerkosaan. Ternyata ti-dak ditemukan adanya korban pemerkosaan, dan mereka 
menyimpulkan 'Anda (pemerintah) dikerjain'," kata Menpen. 

Sementara itu pihak Kepolisian RI, menurut Menpen, juga telah melakukan 
pengusutan tentang dugaan pemerkosaan tersebut. "Ada 103 pengusutan yang 
dilakukan Polri, tapi hasilnya adalah tidak bisa dibuktikan adanya kasus 
pemerkosaan itu," ujar Muhammad Yunus. Dari 103 kasus yang diusut itu, kata 
Menpen, antara lain pengusutan terhadap informasi adanya pemerkosaan di 
Apartemen Mitra Bahari (4 orang). "Setelah diusut, hasilnya adalah: korban 
telah dievakuasi ke Singkawang, Manado dan Minahasa oleh Romo Sandyawan. Adanya 
pemerkosaan ini diragukan," ujar Menpen. 

Begitu juga informasi tentang pemerkosaan yang terjadi di Jelambar, Jakarta 
Barat, yang bersumber dari informasi Pendeta Samuel Budi dari Gereja 
Pantekosta, Jelambar. "Hasilnya, tidak ada jemaah Gereja Pantekosta Jelambar 
yang diperkosa pada 13-14 Mei," kata Menpen. 

"Itu hanya contoh-contoh dari 103 kasus yang diusut Polri," kata Menpen. (*) 

Sumber: Kompas Online, 27 Agustus 1998

 

 

Mei-lan Memperkosa
Oleh: S Sinansari ecip

 

Mei-lan sedang duduk termangu. Hatinya kelu. Dia terus-menerus menangis, tapi 
air matanya tidak keluar, sudah habis. Apalagi yang harus ditumpahkan? 

Semula dia sangat percaya pada kisah-kisah perkosaan yang dimuat surat kabar. 
Sumbernya internet. Itu terjadi karena dia sangat emosional menghadapi trauma 
kerusuhan 14 Mei. 

Semula Mei-lan berhitung seperti membukukan uang. Ikut arisan di kampung. Upah 
bajaj selalu dilebihinya. Jika ada tetangga yang sakit atau meninggal atau 
pesta selalu didatangi dan diberinya bantuan. Kesemuanya itu masuk dalam 
pembukuan debet. Sorot mata mengejek di pasar dan semacamnya masuk pembukuan 
kredit. Saldo debet Mei selalu diperhitungkan lebih. 

Setelah itu, Mei-lan melangkah lebih rasional. Meratap terus-menerus adalah 
sebuah penyakit, tidak hanya bagi orang per orang seperti dirinya tapi juga 
untuk semua orang keturunan. Karenanya, dia ingin menggeledah apa sebenarnya 
yang telah terjadi. 

Terus terang, kalangan keturunan terlalu eksklusif. Semangat pembaurannya 
sangat kurang. Kalangan laki-lakinya bebas kawin-mawin dengan perempuan 
pribumi, tapi kalangan perempuannya tidak boleh dikawini oleh laki-laki 
pribumi. Ini kurang adil. Alasan warga keturunan, turunan darah akan hilang 
bila perempuan keturunan dikawinkan dengan laki-laki pribumi. Soalnya, garis 
keturunan darah selalu dihitung atau dilihat dari sudut garis laki-laki. 

Selain itu, karena bidang-bidang lain agak tertutup, maka kalangan keturunan 
habis-habisan bekerja di sektor ekonomi hingga berhasil. Sogok-menyogok adalah 
bagian kolusi dan korupsi di bidang ekonomi yang menarik. Sedihnya, para 
penyogok Melayu hanya menyogok sedikit dengan bangga bercerita ke mana-mana. 
Itu tidak terjadi pada penyogok keturunan. Mereka suka royal dalam memberi 
sogokannya dan cukup rapi menyimpan rahasia sogokan. Pejabat negara suka 
penyogok jenis yang belakangan. 

Kalangan pribumi kurang rajin, baik di bidang pekerjaan maupun di sekolah. 
Karena, jumlahnya yang sangat banyak, kalangan pribumi lebih mudah terlihat 
rendahnya, termasuk dalam kepemilikan hartanya. Keadaan ini diperparah oleh 
para penyogok keturunan yang menikmati hasilnya secara berlebihan di depan 
hidung pribumi. 

Tiba-tiba datang Pek-hong menemui Mei-lan. Sudah beberapa tahun Mei tidak 
bertemu temannya asal Medan ini. Wajahnya penuh heran. 

''Ngapain kamu tiba-tiba nongol?'' tanya Mei. 

Temannya lebih heran lagi. Dahinya berkerut-kerut. ''Kamu baik-baik?'' 
tanyanya. 

''Seperti kamu lihat,'' jawab Mei. 

''Sungguh kamu baik-baik saja?'' desak Pek-hong. 

Mei tidak mengerti maksud temannya. 

''Maaf,'' kata Pek-hong, ''kamu tidak seperti yang diceritakan internet?'' 

''Apa maksudmu?'' 

''Maaf, kamu diperkosa?'' 

Mei menggelengkan kepala. ''Saya justru memperkosa mereka dengan ketakadilan,'' 
jawabnya. Pek-hong makin tidak mengerti. 

Sumber: Republika Online, 14 Juli 1998

 

 

Siapa Memperkosa Siapa?

 

Perkosaan bisa terjadi kapan saja. Karena, kabar bahwa pada pertengahan Mei 
yang lalu terjadi perkosaan, masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah jumlahnya 
yang sekitar seratus lima puluh kasus. Karena tidak masuk akal maka banyak 
orang yang meragukan angka tersebut. 

Jaringan teknologi informasi global yang antisensor telah dimanfaatkan oleh 
orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka tidak memperhitungkan nasib 
rakyat Indonesia yang tidak berdosa. Memang benar ada orang-orang Indonesia 
yang bersalah. Mereka layak dihukum, ya koruptor, ya penipu, ya maling, ya 
penjarah, dan seterusnya. Namun, yang bertingkah laku baik, tidak sedikit 
jumlahnya. Mereka ikut menjadi korban informasi yang tidak benar masuk ke dalam 
jaringan internet. Barangkali bagi pelakunya, yang penting nama Indonesia 
hancur. 

Sedihnya lagi, jumlah yang masih perlu diragukan sebagai korban perkosaan 
massal begitu saja dipercaya oleh orang-orang yang punya nama. Kalau mereka 
intelektual, mestinya meragukan angka-angka. Mereka harus selalu bersikap 
skeptis alias ragu-ragu menghadapi data atau fakta lebih-lebih yang tidak 
jelas. Karena ragu-ragu itu diperlukan penelitian. Angka-angka tersebut perlu 
diselidiki kebenarannya. Apalagi kemudian, dengan penggambaran pelaku perkosaan 
adalah orang-orang yang beragama Islam. Boleh jadi yang melakukan pengrusakan 
dan penjarahan adalah orang-orang Islam yang setengah-setengah. Tapi, bagaimana 
pun, jika mereka memang benar-benar mengakui adanya Allah dan Nabi Muhammad 
saw, sulit dipercaya jika pemerkosaan dilakukannya sambil menyebut nama 
Tuhannya. Itu jelas-jelas ingin menyudutkan orang-orang Islam. Sangat masuk 
akal bila kerusuhan terjadi di daerah yang penduduknya sebagian besar beragama 
non-Islam, penggambaran yang sejenis tidak akan dilakukan. 

Laporan-laporan perkosaan di Indonesia tidak jelas jumlahnya. Bila diusut 
dengan cermat pun tidak dapat diketahui angka korban perkosaan yang pasti. 
Orang-orang tertentu mengabarkan angka-angka yang diragukan dengan penuh 
semangat. Jaringan mereka di luar negeri menyambut dengan tidak kalah gegap 
gempitanya. Anehnya, lebih dari satu orang rohaniawan (di Solo dan Jakarta) 
menyatakan kesangsiaan angka yang bombastis itu. 

Namun, sungguh aneh, pelanggaran HAM dan perkosaan sudah bertahun-tahun 
berlangsung di Aceh tidak ada yang mengabarkan, apalagi dengan gegap gempita di 
luar negeri. Perkosaan di sana -- seperti halnya perkosaan pada umumnya -- 
telah dilaksanakan dengan diam-diam. Hampir semua orang diam. Baru akhir-akhir 
ini dibongkar. Tapi, di Jakarta, lembaga yang perduli hanya sedikit. Yang 
paling nyaring berteriak hanya Kontras. Ke mana para aktivis HAM dan perkosaan 
massal terhadap etnis keturunan Tionghoa? Mereka ke mana? Mereka sedang 
melakukan apa? 

Apakah karena penduduk Aceh sebagian besar Islam maka harus tidak diberitakan 
dan diperjuangkan? Mereka memang bukan sejenis korban kerusuhan pertengahan Mei 
atau orang-orang Timtim. Mengapa pemberi kabar tidak terdengar suaranya. 
Katanya HAM adalah persoalan yang universal. 

Menyaksikan sikap yang demikian, kita patut bersedih. Mereka yang biasa 
mengabarkan perkosaan dan pelanggaran HAM tapi diam untuk kasus Aceh atau Priok 
atau Lampung atau Haur Koneng. Siapa memperkosa siapa? Mereka boleh dianggap 
telah melakukan perkosaan juga terhadap fakta yang notabene menyangkut 
bangsanya.

Sumber: Republika Online, 25 Agustus 1998

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Use Yahoo! to plan a weekend, have fun online & more.  Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke