PERLU JALUR KHUSUS ANGKUTAN UMUM DI BANDUNG 
UNTUK 10 TAHUN MENDATANG
-------------------------------------------
Oleh : 
Dipl. Ing. Anzikriadi Abdul Munir
(Mentan Ketua Persatuan Pemuda Muslim Eropa cabang Berlin)
(alumnus jurusan Teknik Mesin, TFH, Berlin)  

Nasrullah Idris
(Reformasi Sains Matematika Teknologi)

     Sebagai ibukota propinsi terdekat dengan pusat pemerintahan nasional, 
apalagi tidak berpantai dan bernilai historis, Bandung menjadi daya tarik 
tersendiri bagi seluruh etnis di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. 
Seolah-olah ia menjadi miniatur pluralisme Indonesia setelah Jakarta. Hampir 
tidak ada etnis yang tidak terwakili di sini. Ditambah lagi dengan keramahan 
penduduk aslinya yang membuat mereka betah, malah mengajak atau memancing 
familinya datang dari kampung halaman, seperti yang terjadi pasca lebaran.  
     Akibatnya Bandung menjadi daerah terpadat di tanah air, terutama siang 
hari karena penduduk beberapa wilayah terdekatnya, malah sampai radius 60 km,  
mempunyai akses ekonomi ke sini. Akhirnya sekarang ini jadilah Bandung sebagai 
sosok yang sarat dengan problematika, khususnya transportasi.  
     Meskipun otonomi sudah berjalan, yang secara teoritis bisa merangsang 
penduduk Bandung untuk hijrah, membangun daerah lain di seluruh pelosok 
Nusantara, khususnya yang mempunyai kekayaan alam yang tinggi, tetapi 
penduduknya sedikit, kenyataannya tidak sesederhana itu. 
INFRASTRUKTUR
     Besarnya obsesi warga di sini dalam mencari nafkah, sehingga tidak lagi 
mempersoalkan jauh dekatnya antara kantor dan rumah. Seolah-olah menerima 
pulang-pergi setiap hari dari ujung ke ujung demi kelangsungan hidup keluarga, 
baik dengan kendaraan pribadi, umum, atau dinas. Mereka pasrah menghadapi 
kemacetan dalam suasana panas, berhimpitan, dan bising, karena tidak ada jalan 
lain lagi. 
     Tetapi ironisnya banyak dari mereka yang berasumsi, problem rutinitas 
transportasinya akan teratasi bila memiliki mobil sendiri. Pemikiran ini 
umumnya muncul dari pelanggan angkutan umum. 
     Maka mulailah berpikir untuk memperolehnya, sementara dealer aktif 
mempromosikan mobil melalui beragam brosur iklan maupun keikutsertaan dalam 
pameran. Jadi kloplah. 
     Apa memang demikian? Tidak seluruhnya benar.
     Justru ketika berhasil mengwujudkannya berarti otomatis menambah jumlah 
kendaraan. 
     Masa bulan madu transportasi yang dibayangkan sebelumnya bisa berlangsung 
lama, ternyata hanya beberapa minggu saja. Kemudian terasalah beban baru, 
menuntut kesabaran dan kecermatan menyetir, ketika menghadapi antrian panjang 
di tempat parkir sampai POM Bensin. Belum lagi gerutu/hujatan supir lain hanya 
karena kecerobohan sepele. Kesadaran akan kelebihan angkot pun suka tidak suka 
harus diakuinya. 
     Hadirnya sebuah mobil pribadi yang ditumpangi sendiri saja telah menyedot 
areal sekitar delapan meter persegi. Bandingkan dengan angkot, yang per 
penumpangnya hanya setengah meter persegi saja.  
     Logika kalkulasi matematis sederhananya begini :
     Taroklah di Bandung ada 10.000 angkot dan 10.000 sedan. Berarti areal yang 
terpakai untuk semuanya sebesar 160.000 meter persegi bila rata-rata luasnya 8 
meter persegi. 
     Kalau saja 5.000 pelanggan angkot beralih haluan, masing-masing membeli 
sebuah sedan, akan terjadi penambahan areal sebesar 25 persen. Karenanya jangan 
heran bila mereka suatu kali merasakan perubahan suasana perjalanan seperti di 
prapatan jalan, mall, dan gerbang tol. Untuk jarak dekat saja memerlukan waktu 
beberapa menit lebih lama ketimbang masih menjadi pelanggan angkot.
     Itu baru satu macam efek. Lainnya akan muncul dengan keragaman tingkat 
korelasi serta di antaranya bersifat berantai. Beban jalan menjadi lebih berat 
karena semakin tingginya frekwensi kendaraan lewat dan semakin lamanya  
kendaraan harus diam. Resikonya apalagi kalau mempercepat kerusakan. 
      Bukan sampai di sana. Interaksi satu sama lain menyertainya pula. 
Syukur-syukur seluruhnya memberikan nilai tambah. Tetapi kenyataannya kan 
tidak. Sebagiannya bersifat "counter productive" dan "tumpang-tindih". 
     "Panjang jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan" sering dijadikan 
senjata untuk menetralisir hal demikian. Padahal tidak selalu benar. Bagaimana 
pun kekuatan maupun kelayakannya kalau tidak diimbangi dengan faktor 
infrastruktur di samping kedisiplinan akhirnya akan sama juga, menimbulkan 
kemacetan.
     Padahal kita tahu, kemacetan akan menyebabkan uang, waktu, dan tenaga 
terkuras dengan percuma. Masa untuk pulang dari/pergi ke kantor saja di Bandung 
bisa menghabiskan waktu sampai satu jam. Bukankah ini akan membuat stamina 
terkuras sehingga mempengaruhi pekerjaan? Masa umur mau dihabiskan untuk itu, 
bak orang mancing ikan sambil duduk berjam-jam, tetapi hasilnya sedikit. 
     Lalu sampai di kantor tidak langsung bekerja karena harus menyegarkan 
fisik dulu : membersihkan debu muka, menyisir rambut kusut, sampai membedaki 
pipi buram. Akhirnya produktivitas pun menurun, jam kerja yang efektif tidak 
lagi sesuai dengan kebijaksanaan, meskipun datang masih tepat waktu. Ini jelas 
tidak diinginkan oleh karyawan maupun perusahaan. Dalam skala besar akan 
mengganggu pertumbuhan ekonomi. 
     Belum lagi para buruh dengan upah minim yang harus menghabiskan waktu 
sampai empat jam perjalanan pulang-pergi. Karena tuntutan jadual majikan, 
mereka tidak mempunyai waktu cukup untuk beristirahat. Baru dirasakan akibatnya 
ketika penyakit akut menyerang serta mengharuskannya mengeluarkan biaya tinggi. 
Celakanya bila sebagian besar penghasilannya harus mengalir untuk dokter, rumah 
sakit, dan apotik. 
     Tentu akan lain ceritanya bila infrastruktur transportasi dilakukan secara 
menyeluruh, memperhitungkan semua variabel yang prima serta interaksinya satu 
sama lain, terutama yang berdampak signifikan.
     Dalam kaitan mengurangi kemacetan, misalnya, tidak bisa hanya meminta 
pemilik kendaraan pribadi untuk mengurangi penggunannya ke kantor, sekolah, 
atau supermarket. Bisa saja menggunakannya karena rute angkutan umum tidak 
mewakili rutinitas transportasinya. 
     Begitu juga di berbagai pusat keramaian. Meskipun terjangkau kendaraan 
umum, ada sebagian masyarakat yang lebih senang mendatanginya dengan kendaraan 
sendiri hanya kerena jalur angkotnya tidak praktis dilihat dari tempat 
tinggalnya masing-masing, terutama mereka yang mengalami kelainan pada fisik 
atau dihadapkan persoalan segera selesai. Ojek/becak yang ditunggu kebetulan 
tidak lewat, menggunakan angkot pun harus berjalan dulu, akhirnya terpaksa 
mengeluarkan kendaraan dari garasi. 
     Alasan lainnya, jaminan angkutan umum yang belum tentu tersedia setiap 
waktu. Ini jelas merepotkan bila urusan baru selesai pada tengah malam. Mau 
menyetop taksi, tarifnya beberapa kali lipat. 
     Jadi tidak semuanya berlatar belakang gengsi.
ANGKUTAN MASSAL ALTERNATIF
     Okelah, sekarang masih bisa diatasi alias masih dalam toleransi. Anggap 
saja belum perlu mengikuti jejak Jakarta dengan buswaynya meskipun tingkat 
kepadatan kota metropolitan itu masih di bawah Bandung.  
     Tetapi bagaimana pada satu dekade mendatang? Yaitu ketika kemacetan tidak 
bisa ditolerir lagi di samping membengkaknya populasi penduduk. Sedangkan 
mencari area untuk penambahan jalan/pembangunan rumah semakin sulit. 
     Karenanya perlu dipikirkan angkutan massal alternatif untuk memobilisasi 
masyarakat Bandung dalam waktu bersamaan dengan jumlah atau kapasitas yang 
banyak serta aman, nyaman, murah, cepat, informatif, nonstop, dan tepat. 
     Ia harus sanggup menghubungi titik-titik regional yang tingkat huniannya 
sangat padat ke tempat-tempat transit serta ke tempat-tempat tujuan akhir. 
     Adanya jalur khusus angkutan umum mau tidak mau harus tersedia kelak di 
mana hanya jenis kendaraan itu saja yang boleh melewatinya. Dalam hal ini 
setiap rute angkutan umum harus bisa saling melengkapi dan berfungsi optimal 
pada perannya masing-masing. 
     Pokoknya memerlukan sistem transportasi komprehensif yang mencakup seluruh 
kawasan. Kalau pun harus berjalan dulu ke tempat perhentiannya, jaraknya tidak 
terlalu jauh. Studi kelayakan seperti inilah yang harus dilakukan, mencakup 
perilaku jalan kaki pada masyarakat Bandung. 
     Bila kenyataannya nanti hal itu dirasakan praktis oleh siapa pun, penduduk 
Bandung tentu tidak perlu ngotot lagi, dalam artian, memaksakan diri menyetir 
kendaraannya sendiri meskipun tahu betul akan adanya kemacetan. Apalagi bila 
mereka sadar, kehadiran jalur khusus angkutan umum membuat mobil pribadinya 
pada jalur lain sering dihadapkan pada kemacetan. 
     Selanjutnya memikirkan tentang kapasitas penumpang per kendaraan. Karena 
ini berkaitan erat dengan beberapa hal seperti lebar jalan dan tenggang waktu.
     Demikian demikian, masyarakat akan semakin selektif/berhitung dalam 
menggunakan kendaraan pribadinya. Hanya dipakai bila dalam keadaan mendesak. 
     Secara psikologis, mereka yang sebelumnya terbiasa gengsi pun akan menjadi 
percaya diri, karena terpengaruh banyaknya orang yang berkecukupan, tetapi 
tidak malu menggunakan angkutan umum. 
PETUTUP
     Yang penting, sebagaimana yang sudah diisyaratkan di atas, apa pun 
terobosan transportasi massal yang diambil tetap harus dihadapi dengan 
perencanaan yang komprehensif. Jangan sampai keinginan memecahkan masalah 
transportasi menghasilkan permasalahan baru hanya kerena tersandung oleh 
kerikil sepele yang kurang diperhatikan.
     Memang tidak mudah mencari jalan tengah berdasarkan kondisi multi kompleks 
tersebut, termasuk juga sisi politik, ekonomi, sampai budayanya. Setiap 
keputusan harus mewakili setiap aspek signifikan. Diperlukan banyak/ragam pakar 
merumuskan solusinya yang terbaik. 
     Taroklah jalur khusus sudah terwujud secara lengkap. Namun tetap belum 
bisa dikatakan sempurna bila tidak didukung oleh sistem distribusi informasi 
seperti rute, denah, dan jadualnya. 
     Ingat, salah satu penyebab kemacetan adalah banyaknya orang memanfaatkan 
angkutan umum lebih dari satu macam trayek untuk satu tujuan. Padahal kalau 
mereka tahu rutenya tentu cukup satu kali saja. Penulis sendiri pernah 
mengalaminya. Yang seharusnya tiba di rumah famili menjelang berbuka puasa 
bersama, ini malah sampai 30 menit pasca adzan maghrib.  
     Tetapi bagaimana mau tahu kalau sumber informasinya tidak tersedia. 
Bukankah ini sama saja dengan meningkatkan frekwensi penghentian kendaraan 
serta gilirannya bisa mempengaruhi atau menciptakan kemacetan.
     Bagi para pendatang sementara dari luar kota, kemungkinan itu lebih besar. 
Mereka hanya diberitahu, untuk pergi ke sana naik jurusan ..., berhenti di ..., 
serta nyambung ke jurusan ..., akhirnya berhenti di ... Syukur-syukur tiba juga 
di tujuan. Celakanya bila tersesat karena mereka bingung mau berhenti di mana 
atau si supir lupa menghentikan angkotnya.
     Masa untuk menuju Jl Setiabudhi (Ledeng) dari Jl Inggit Garnasih (Ciateul) 
harus menumpang jurusan Kelapa-Cicaheum dulu, kemudian berhenti di Jl Ir H 
Juanda (Dago) untuk menaiki jurusan Cicaheum-Ledeng. Padahal cukup sekali 
dengan jurusan Kelapa-Ledeng, sehingga uang, waktu, dan tenaga bisa dihemat. 
     Sampai kini informasi yang tertulis di dinding kendaraan umum hanya untuk 
nama jalan/wilayah terkenal. Itu pun hanya satu dua nama saja. Padahal yang 
dilalui bisa sangat banyak untuk suatu trayek. Akhirnya konsentrasi supir 
sering diganggu oleh pertanyaan, "Pir, melewati Jl ... nggak?" atau "Pir, lewat 
mana saja?". Syukur-syukur dijawab cepat. Tetapi tidak jarang supir berpikir 
lama, bingung, sementara pikiran lainnya tertuju pada setir, gas, dan rem, 
belum lagi penumpang yang minta berhenti tiba-tiba. Padahal riset mana pun 
menunjukkan, kurang konsentrasinya supir sedikit-banyak telah memberi saham 
bagi kecelakaan lalu-lintas di banyak negara.  
     Hendaknya hal seperti itu tidak dipandang dengan sebelah mata oleh 
pihak-pihak kompeten, khususnya ketika angkutan massa yang dimaksud menjadi 
kenyataan. Bila dirasakan keberatan karena harus mengeluarkan anggaran lagi, 
toh bisa memanfaatkan sponsor. Artinya, biaya produksi brosur, buku pintar, 
stiker yang berisi informasi seputar angkutan itu dibebankan pada perusahaan 
yang ingin mengiklankan produknya. Jadi instansi perhubungan tidak perlu 
mengeluarkan anggaran, tinggal menginstruksikan stafnya menjadi negosiator.  
     Demikianlah pemikiran alakadarnya dari penulis untuk pemerintah kota 
Bandung. Semoga bisa dikunyah, agar terasa kekurangan, tantangan, peluang, dan 
kelebihan pada tulisan ini.



[Non-text portions of this message have been removed]





PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke