Prestasi Orang Sunda Kalah oleh Orang Batak

Bandung, Kompas - Sosok orang Sunda yang diperlukan sekarang adalah sosok
yang mampu melihat kenyataan. Orang Sunda harus sadar, tantangan
pembangunan yang mereka hadapi bukanlah melanjutkan kejayaan Kerajaan
Pajajaran, melainkan membangun bangsa Indonesia yang demokratis.

Hal tersebut disampaikan Ajip Rosidi dalam Seminar Pembangunan Berbasis
Budaya Sunda di Bandung, Sabtu (25/6). Selain Ajip Rosidi, tampil sebagai
pembicara di antaranya pengamat sejarah dari Universitas Padjadjaran,
Reiza Dienaputra, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Setia Hidayat.

Ajip Rosidi mengatakan, dalam skala nasional, prestasi orang Sunda kalah
oleh orang Batak yang jumlahnya lebih sedikit. Hal ini merupakan kenyataan
yang dapat dilihat oleh siapa saja.

Pria yang pernah mengajar di Universitas Kyoto dan Osaka Jepang ini
mencontohkan, dalam pemilihan presiden tahun 2004 lalu tidak ada orang
Sunda yang berani mencalonkan diri menjadi presiden.

Apakah karena kebudayaan Sunda yang lemah lebih mendahulukan orang lain?
Atau justru itu merupakan bukti bahwa orang Sunda memang tidak mampu
bersaing? tanya Ajip Rosidi.

Pria kelahiran Jatiwangi, Majalengka, 31 Januari 1938, ini juga
menegaskan, kenyataan seperti itu harus dilihat secara jujur oleh orang
Sunda. Kebijaksanaan daek eleh sungkan meunang yang dapat berarti rela
mengalah enggan menang, menurut Ajip Rosidi, sudah tak relevan lagi
dijadikan alasan.

Sosok Prabu Siliwangi dalam alam pikiran telah menjadi pelarian dari
ketidakberdayaan orang Sunda dalam kehidupan,” ujar sastrawan perintis
penghargaan Rancage ini.

Kalau orang Sunda terus- menerus diajak bermimpi dan berimajinasi
keagungan Prabu Siliwangi, artinya kita berusaha melupakan realitas yang
dihadapi. Jika hal ini terus-terusan dilakukan, tidak beda dengan
membodohi diri sendiri,” tutur Ajip Rosidi.

Sumuhun dawuh

Ajip Rosidi, yang juga mantan Redaktur PN Balai Pustaka (1953-1955) ini,
menjelaskan, setelah Kerajaan Sunda tenggelam, tidak ada lagi kerajaan
besar yang dapat menyamai kebesarannya.

Penguasa-penguasa daerah kemudian bermunculan. Akan tetapi, mereka ini
dapat dengan mudah ditaklukkan oleh Kerajaan Mataram.

Sejak saat itulah tatar Sunda menjadi daerah jajahan. Kondisi ini terus
berlanjut hingga Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad.

Dengan demikian, mentalitas kaum elite yang terbentuk memperlihatkan sikap
sumuhun dawuh atau patuh tanpa prasyarat.

Akibatnya, mentalitas seperti ini masih terbawa hingga kini oleh
pemerintah daerah. Sehingga para pejabat di daerah lebih memerhatikan
kepentingan pusat daripada rakyat, ujar pria yang kini tinggal di Pabelan,
Magelang, ini.

Reiza Dienaputra menuturkan, kini orang Sunda tengah mengalami proses
kehilangan identitas diri. Hal ini disebabkan oleh minimnya pemahaman
orang Sunda terhadap sejarah dan budayanya sendiri.

Reiza menambahkan, keterbatasan sumber mengenai sejarah Sunda menyebabkan
hilangnya ruh kesejarahan dalam diri orang Sunda. Akibatnya, rasa memiliki
orang Sunda terhadap budayanya sendiri semakin memudar. (d11)


mj

http://geocities.com/mangjamal
[EMAIL PROTECTED]




PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke