Muzayyanah Yaqien,
Mahasiswi Banten Meraih Cumlaude
Tiga tahun yang lalu (2002), profil seorang lelaki kelahiran Kudus, Saeful
Bahri, pernah di muat di Harian Umum Republika, lantaran Saeful Bahri berhasil
menyabet predikat imtiyâz (cumlaude; istimewa) di universitas Al-Azhar Putra,
Kairo-Mesir. Ijtihad Saeful Bahri meraih predikat itu, sangat dikagumi, karena
tingkat kesulitan di Al-Azhar diakui relatif lebih besar ketimbang universitas
yang lain. Predikat cumlaude di universitas Al-Azhar memang tergolong langka,
tidak hanya bagi mahasiswa asing (yang tidak berbahasa Arab), tapi juga bagi
mahasiswa pribumi (yang berbahasa Arab). Saeful Bahri saat itu, menjadi
mahasiwa Indonesia pertama yang meraih nilai camlaude.
Tahun 2004 kemarin, predikat itu juga berhasil disabet oleh mahasiswi
Indonesia. Kali ini, Muzayyanah Yaqien, mahasiswi asal Carenang, Serang-Banten,
menjadi mahasiswi Indonesia pertama yang meraih predikat cumlaude di
universitas Al-Azhar Putri, Kairo-Mesir. Prestasi yang diraihnya sangat luar
biasa, ia berhasil mempertahankan predikatnya dalam tiga tahun terakhir
berturut-turut. Atas prestasinya itu, Muzayyanah banyak menuai pujian dari
rekan-rekannya, para dosen, bahkan Duta Besar RI untuk Mesir, Prof. DR.
Bachtiar Aly, MA, juga memberikan penghargaan dan hadiah kepadanya.
Saat ditanya perihal predikatnya, Muzayyanah mengatakan bahwa dirinya tidak
pernah berangan-angan mendapatkan nilai cumlaude, ia hanya berharap bisa
memaksimalkan apa yang ada. Mahasiswi kelahiran Serang, 22 Juli 1980 ini, punya
trik tersendiri dalam belajar. "Saya lebih suka belajar ketika orang lain
sedang terlelap," katanya, saat ditanya berkenaan dengan cara belajarnya. Lebih
lanjut ia menceritakan bahwa, saat musim dingin ia belajar tengah malam ketika
teman-temannya asyik terlelap, sementara saat musim panas-ketika waktu malam
menjadi sangat pendek-, Muzayyanah berganti trik, ia belajar saat pagi hari
ketika teman-temannya lebih senang tidur pagi.
Menurut data anggota Keluarga Mahasiswa Banten (KMB Kairo), Muzayyanah datang
di Kairo pada 9 September 2000, ia mendapatkan beasiswa dari Al-Azhar. Selain
dikenal cerdas dan tekun, Muzayyanah juga aktif di berbagai organisasi
kemahasiswaan di Kairo. Setiap Tahun Akademik Baru, ia selalu diminta untuk
mengisi acara Orientasi Mahasiswa Baru (OMABA) berkenaan dengan metode belajar
yang efektif, tidak saja di KMB, tapi juga di acara yang diadakan oleh
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI Mesir) sebagai organisasi induk
mahasiwa Indonesia di Mesir.
"Yakinlah kepada Allah," sarannya, saat mengisi OMABA di KMB, "Setelah kita
berusaha, kita serahkan semuanya kepada Sang Maha Tahu!" lanjutnya
menyemangati. Dari keyakinan yang ia tanamkan, Muzayyanah berhasil mengalahkan
tradisi di kalangan mahasiswi Indonesia, bahwa belajar di Universitas Al-Azhar
itu sulit. Tidak hanya itu, ia juga berhasil mengalahkan tradisi di kalangan
mahasiswi Mesir, bahwa meraih predikat cumlaude itu sulit. Muzayyanah,
mahasiswi asal Banten yang juga aktif di FLP Mesir, berhasil mendobrak kedua
tradisi itu.
Saat ini, Muzayyanah tengah mengambil program Majister (paska sarjana) di
universitas yang sama. Ia mengambil jurusan Tafsir, sesuai dengan fakultas dan
jurusan yang ia ambil saat S1 (License). Setelah menyelesaikan program S1,
tepatnya November 2004, Muzayyanah menikah dengan Akmal Syafar, Lc, yang juga
mahasiswa program paska sarjana universitas Al-Azhar, alumni LIPIA, Jakarta.
Berbicara tentang pendidikan, Muzayyanah berharap bisa melanjutkan jenjang
pendidikannya sampai S3, "Kalau ada kesempatan, mudah-mudahan bisa meneruskan
sampai S3," tuturnya.
Muzayyanah dan Akmal menjadi pasangan yang keduanya tengah menempuh program
Majister di universitas Al-Azhar. Sebelum menikah, Muzayyanah mengaku sempat
kepikiran bagaimana caranya membagi waktu untuk suami dan belajar. Tapi
kekhawatirannya itu justru sirna setelah mereka menikah, "Ternyata menikah itu
tidak sesulit teori," katanya tersenyum, "Semua masalah pasti ada
penyelesaiannya," lanjutnya lagi.
Putri keenam dari pasangan H. Muhammad Nawawi dan Hj. Usminah ini, bercita-cita
ingin mendirikan lembaga pendidikan (pesantren, yayasan) nantinya, "Tapi," kata
Muzayyanah, "Kami (Muzayyanah dan suami) masih belum bisa memastikan, apakah
mau tinggal di Banten atau di tempat suami, Padang," tuturnya lagi.
Sebagai mahasiswi nomor satu di Al-Azhar putri, Muzayyanah selalu berusaha ikut
berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan KMB di Kairo. Dan, sebagai mahasiswi
yang berasal dari Banten, Muzayyanah juga punya harapan-harapan ideal terhadap
Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov), yang mudah-mudahan
bisa terwujudkan kemudian. Menurutnya, perhatian pemerintah baik daerah maupun
provinsi, belum begitu terasa kepada para pelajar Banten, "Pemerintah
seharusnya memperhatikan pelajar Banten," tuturnya, "Supaya mereka peduli
terhadap pembangunan di Banten." Senada dengan itu, Muzayyanah juga mengaku
belum merasa diperhatikan oleh pemerintah, "Belum. Saya belum merasa
diperhatikan oleh pemerintah," katanya tersenyum.
Muzayyanah, dalam bahasa Arab bisa berarti 'yang dihiasi'. Tentunya, nama
Muzayyanah tidak sekedar nama orang, ia juga bisa berarti harapan, bahwa pada
suatu saat nanti, ia 'dihiasi' dengan ilmu dan penghargaan. Dan, di manapun ia
mengabdikan ilmunya, semoga senantiasa dimudahkan oleh-Nya, amien. (Edi Hudiata
HMT, Pemred AHSANTA, buletin Keluarga Mahasiswa Banten di Kairo).
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/