Assalamualaikum.
Saderek, mangga sareng-sareng mengenal ulang golongan santri ?.
www.muslimdelft.nl
www.pesantrenvirtual.com
Ahad, 10 Juli 2005, 09:21 AM
Peta Kemajemukan Santri ?
Oleh : Nasrul Afandi
Dalam poros ilmiah, adanya ummat santri, itu berawal dari tuntutan adanya
komunitas kiai. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengusung komunitas santri,
sesuai dengan peta dan posisi masing-masing.
Santri, secara total pada hakikatnya hanya orsinilitas spesipik budaya bangsa
kita, sebagai honoris causa dari masyarakat kepada individual dengan kriteria
tertentu, sebagaimana sang kiai, berdasarkan aspirasi masyarakat. Keberadaannya
terus eksis di tengah-tengah aneka ragam suku, kasta dan pergeseran budaya
bangsa kita. Dan honoris causa tersebut sama sekali tidak berlaku di negara
lain.
Dalam iklim bermasyarakat praktisi universitas, telah melekat dan membudaya
sebutan akademisi. Kini, dengan terus bertambah variatifnya aktivitas dan model
pondok pesantren yang ada, seiring dengan terus berkembangnya pola bahasa,
sudah saatnya pula berlaku dan mensosialisasikan istilah pesantrenisi,
yakni status bagi praktisi dan atau komunitas yang setidaknya punya hubungan
darah dengan urat nadi pondok pesantren.
Disisi lain. Dari aspek etimologis, jika gelar pesantrenik(gelar santri)
disetarakan dengan posisi gelar akademik(mahasiswa), yakni kata siswa yang
ditambah dengan awalan kata maha, sehingga menjadi mahasiswa. Umpamanya saja,
kata santri ditambah maha, kemudian menjadi mahasantri, misalnya saja,
Abdurrahman Masud(2004). Dengan sendirinya telah menggeser komunitas santri
dari posisi tawaddu-isme(baca: golongan yang rendah hati), baik secara
individual santri, maupun totalitas institusi pesantren, karena dari kata
santri itu pula, nama pesantren diambil dan dinisbatkan. Sekaligus merupakan
faktor yang memproklamirkan diri komunitas santri sebagai komunitas muadzom
nafsah(mengagungkan diri). Realitasnya, dengan menyandang gelar maha itu, juga
tidak jelas kualitas maha apa yang disandangnya ?.
Sedikit pun tidak tepat, kalau memberlakukan istilah pesantrenisasi, yang
terkesan promosi menggalakkan masyarakat untuk berhubungan dengan institusi
pesantren. Bukan pula santrinisasi, sebagaimana pendapat Dr. Azyumardi
Azra(2001), yang terkesan memaksakan kehendak kepada pihak lain, dengan
gerakan mengsantrikan berbagai lapisan masyarakat.
Jelaslah, dari aspek lain tetap sangat tidak tepat, bila gelar santri (status
pesantrenik) disetarakan dengan gelar mahasiswa (status akademik), baik dengan
penambahan kata maha di awalnya, atau -isasi di akhirnya.
Juga, tetap tidak tepat, kalau dalam jamaah santri, disebut adanya santri
Abangan, atau Santri Kejawen dan sejenisnya. Karena jelas, baik secara faktor
individual, maupun faktor warisan dari leluhurnya, tetap tidak ada peluang
untuk berposisi sebagai Santri Kejawen, atau Santri Abangan, yang istilah
tersebut terdapat dan sering berlaku digunakan dalam konteks gelar; Islam
Kejawen karena model faham yang diyakininya, atau Islam Abangan, berdaskan
percampuran aliran Islam warisan dari leluhurnya, dengan tanpa adanya
ketaatan beribadah.
Peta Komunitas Santri ?
Realitas sekarang ini, secara total sangat tepat komunitas santri dibagi ke
dalam dua golongan. Pertama, santri profesi, sebuah gelar pesantrenisi, yakni
gelar bagi praktisi, umumnya mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya
punya hubungan darah dengan pesantren.
Kedua, santri kultur, yaitu gelar santri yang disandangkan berdasarkan oleh
budaya yang berlaku atau membudaya dalam kehidupan masyarakat. Meskipun orang
tersebut tidak pernah bersentuhan dengan bancik(bangku) pendidikan
pesantren.
Pertama; Santri Profesi
Santri, pada asalnya adalah honoris causa bagi orang yang bernaung di sebuah
pondok pesantren, sehingga dalam konteks pendidikan, oleh para peneliti sering
dikatakan bahwa santri adalah salah satu unsur dari pondok pesantren.
Sekarang ini, telah berlakunya monopoli dua gelar santri dan mahasiswa,
persisnya santri dari pesantren mahasiswa, yakni sebagaimana yang telah marak
sekarang-sekarang ini, meskipun, kadar ke-santriannya masih sering perlu
dipertanyakan dan dipertimbangkan kembali. Karena mereka, sifatnya santri
baru, yang sebelumnya mayoritas-- identik dengan pergaulan bebas di tempat
kost-kostan.
Terlebih lagi, dengan maraknya bermunculan institusi yang menamakan diri pondok
pesantren mahasiswa. Dengan berbagai ragam karakter ummat akademisi itu, kalau
mereka sebagai mahasiswa merebut peluang santri, maka dapat dipastikan akan
lahirnya komunitas santri kombinasi.
Level santri, jelas jauh sangat kecil dibandingkan dengan besarnya bendera
Islam, yang secara bahasa kini telah ternoda oleh kalimat liberal, sekuler dan
sejenisnya.
Dengan semakin kencangnya gerbong pemikiran di Indonesia yang menamakan diri
Islam liberal (atau sejenisnya). Maka dapat lebih dipastikan lagi, untuk muncul
dan bangkitnya komunitas santri liberal dan sejenisnya, meski pun tidak
muncul secara terorganisir, tetapi akan liberalis atau sekularis secara
individual dan sangat alamiah, atas hembusan (liberalis, sekularis) yang terus
dialirkan oleh para promotor dengan masing-masing kepentingannya itu. Tentunya,
sangat wajar pula akan berlaku gelar santri liberal, santri sekuler dan
sejenisnya.
Sebagaimana yang dikatakan di awal tadi. Bahwa komunitas santri adalah identik
dengan akhlakulkarimah dan berbagai aspeknya. Bukti, loyalitas, toleransi dan
tawaddu(rendah hati) dalam kehidupan komunitas santri, baik santri di dalam
pesantren(santri profesi), maupun komunitas santri di luar pesantren(santri
kultur). Di antaranya, bisa dilihat dari etika sosial sesama santri dengan
saling memanggil kakang (bahasa Jawa yang berarti kakak) atau yang singkatnya
kang (kak).
Juga para kiai pengasuh pesantren biasa memanggil kang atau kakang kepada para
santrinya, sebagai proses pembelajaran etika sosial terhadap para santrinya.
Meskipun, juga tetap terdapat "jarak" antara santri unior dengan santri senior
yang sudah menamatkan jenjang pendidikan, dan menjadi tenaga pengajar di
pesantren tersebut, yakni para santri unior biasa memanggil bapak(pak guru)
atau ustadz. Hal itu masih tetap sebagai expresi tawaddu dari sesama
santri(antara santri unior-senior).
Beda halnya dalam iklim bermasyarakat dunia akademisi, sangat nampak jarak
antara unior-senior. Misalnya saja, hanya para unior yang memanggil kakak
kepada senior, tapi tidak adanya interaksi dari senior untuk memanggil kakak
kepada unior. Memang, hal itu secara etika beragama benar, dengan adanya posisi
unior (sebagai adik) dan senior(sebagai kakak).
Tetapi dari etika sosial, di sinilah salah satu hal dominan yang membedakan
kondisi pesantren(dalam konteks pendidikan) dengan lembaga pendidikan lainnya.
Yakni di dalam pesantren(baca: komunitas santri) terciptanya interaksi dan
generalisasi dalam iklim bermasyarakat. Baik sesama santri, maupun antara kiai
dan santri, meski pun jarak disebabkan oleh "posisi" yang berbeda-beda, baik
santri-kiai, santri unior-santri senior, di antara mereka tetap tercipta.
Iklim bermasyarakat tersebut, juga berlaku bagi komunitas santri
kultur(santri di luar pesantren) yang akan kita bahas berikut.
Kedua ; Santri Kultur
Bila ada orang dari komunitas terpelajar mana pun, baik pelajar non-pesantren
maupun pelajar pesantren sekali pun, tetapi tidak jelas akhlaknya, atau ber
akhlakussayyiah(berakhlak buruk) alias tidak mampu iffah(jaga diri) dari
ikhlasnya honoris causa(santri), maka, kultural atau budaya masyarakat pasti
mempertanyakan ke-santrian orang tersebut !!.
Realitasnya, dalam kultural atau budaya masyarakat, selama ini telah mengakar
sebuah fenomena, gelar santri juga berhak di sandang oleh siapa pun yang
memaksimalkan akhlakulkarimah(baca: taat kepada Allah) dalam berbagai aspek
kehidupannya. Meski pun mereka tidak pernah menyentuh pendidikan pada pondok
pesantren.
Sesuai asal-usul gelar santri, selama ini adalah honoris causa dari
masyarakat(sebagaimana gelar sang kiai), yang dianugerahkan kepada para pelajar
yang menempuh studi di pondok pesantren(baca: santri profesi). Hal itu,
dikarenakan pelajar pesantren identik dengan ruh religius yang tercermin dalam
akhlakulkarimahnya. Tentunya(gelar santri) identik dengan siapa pun yang
memaksimalkan akhlakulkarimah, sebagaimana pandangan masyarakat selama ini.
Jadi, pada hakekatnya dalam kultur masyarakat, gelar santri tidak harus
dimonopoli oleh pelajar dan alumni serta komunitas(jamaah) pesantren saja.
Dengan demikian, sesuai pendapat Clifford Geertz(1958) ; bahwa gelar santri
juga berlaku bagi siapa pun yang taat beribadah, meski pun tidak pernah
menyentuh pondok pesantren.
Tentunya, sudah saatnya kultur masyarakat pun menyatakan sungguh sangat naif
dan disayangkan, honoris causa santri, selama ini hanya didominasi bahkan
dimonopoli oleh para praktisi pesantren, dan sedikit sekali membuka jalur
kepada pihak lain untuk ambil bagian dalam menyandang gelar tersebut.
Hal tersebut cukup wajar. Sebab, santri dari aspek etimologi, jelas sangat
terpancar tawaddu atau rendah hati(baca: ber akhlakulkarimah), sesuai dengan
posisi yang semestinya harus dipertahankan dan dijaga atau iffah, oleh
inidividu komunitas penyandangnya. Sehingga, juga sering berlaku penyebutan
keluarga santri, yang dimaksud adalah keluarga yang taat, atau minimalnya oleh
publik dianggap taat beribadah. Meskipun sering juga pendidikan dan pengetahuan
agama yang pernah ditempuh apa adanya.
Memang, dewasa ini, sebagaimana gelar kiai. Gelar santri pun terdapat berbagai
macam dan bentuknya. Misalnya, "santri gaul" gelar bagi santri yang nakal
misalnya, atau "santri kalong" yakni anak-anak kampung di sekitar pesantren
yang hanya numpang belajar mengaji di pesantren pada malam hari. "santri
endableg(istilah Jawa Timur), yakni santri yang seenaknya sendiri, dan
seterusnya.
Itu semua hanya sebuah "reaksi budaya bahasa" dari pergantian iklim budaya yang
terus bergejolak di dalam pranata sosial kehidupan masyarakat, dan pola
perubahan "gelar" tersebut berubah berdasarkan individual santri. Dan sama
sekali tidak akan mempengaruhi terhadap hakikat santri secara global atau
total, serta hal tersebut hanya merupakan suatu pola bahasa yang cukup wajar.
*Nasrul Afandi, mahasiswa universitas al-Qurawiyien Marocco, anggota pembina
Pondok pesantren Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat.
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/