Tafsiran ngeunaan carita Sang Kuriang anu dimaksad ku Mang manAR, horeng tos 
dimuat di Sundanet, http://sundanet.com/artikel.php?id=229

PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU 

Suatu kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu 
dengan segala aspeknya 

Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar 
Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng 
Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi 
maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang - 
puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi 
nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, 
sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya 
lokal. 


*MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP* 

Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng 
semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A. van Peursen 
(1992:37) mengatakan sebagai sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman 
dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah 
lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang 
kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya. 
Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita 
anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah 
laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi 
masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. 

Mengacu kepada pendapat di atas ternyata mitos yang dikandung dalam legenda 
adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam 
segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai 
alat transformasinya, sebab bentuk cerita lisan mempunyai pola struktur dan 
alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk 
seseorang menuturkannya kembali. 


*HERMENEUTIKA ILMU TENTANG PENAFISRAN* 

Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap 
apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari 
yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang 
melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna 
adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya. Kemampuan 
mengartikan dan memaknai sesuatu dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan 
memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk 
menafsirkan secara: silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak 
langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu penggunaan 
susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam 
bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam 
bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah 
berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma) 

Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika untuk mencoba 
menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu 
dengan segala aspek yang dikandungnya. 
Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis memanfaatkan leksikografi 
(cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik 
(tentang arti kata) dan semiotika (tentang arti dan makna lambang). 


*BEBERAPA KARYA SASTRA YANG BERTEMAKAN LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU* 

Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para 
sastrawan untuk mewujudkannya dalam karya sastra seperti dalam: 

   
   - Bentuk Cerita : Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt. 
   - Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946 - Babad Sangkuriang dalam 
   Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983. 
   - Bentuk Gending Karesmen (opera) : Sangkuriang Larung, Hidayat 
   Suryalaga, 1973. 
   - Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955 - Sang 
   Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992 - Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962 
   - Sang Kuriang, Beni Setia, 1972 - Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989- 
   Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992 
   - Bentuk Skripsi : Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita 
   Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994. 
   

Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai 
legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep 
hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak 
banyak berubah. 

Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut: 
Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing 
dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama 
WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing 
tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik. 
Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias 
RARASATI. banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada 
yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. 
Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit 
ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG. 
Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan 
bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar 
ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak 
yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si 
Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi 
akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG. 
Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi 
betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si 
Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan 
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah 
hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang 
dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara 
mengelilingi dunia. 
Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat 
lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya 
berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya 
adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. 
Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, 
dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa 
untuk menikahinya. 
Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) 
dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang 
menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah 
TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, 
rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika 
bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar 
maksud Sangkuriang tidak terwujud. 
Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), 
sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, 
dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, 
sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma 
menjadi Gunung MANGLAYANG. 
Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan 
bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG 
TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak 
menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun 
Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG 
akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG). 


*ARTI SERTA MAKNA LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG 
DIKANDUNGNYA* 

Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis, tetapi 
berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. 
Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu. Di bawah ini 
saya susun nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda 
tsb, yaitu: Sungging Perbangkara, babi hutan Si Wayungyang, Dayang Sumbi 
atau Rarasati, anjing Si Tumang, Sangkuriang, taropong (torak), Citarum, 
Sanghyang Tikoro, Gunung Putri, Gunung Manglayang, Ujungberung, kembang 
Jaksi, boeh rarang, Gunung Bukit Tungggul, Gunung Burangrang Gunung 
Tangkuban Parahu dan Talaga Bandung. 

Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna 
terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang penulis mencoba untuk membuat 
penasiran arti dan makna menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan 
hidup "urang Sunda" yang terkandung dalam alur cerita dan arti-makna dari 
setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun telah dikaji-banding dengan 
nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam cerita lama (pantun) yang 
dianggap sakral yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di 
Kusuma. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang 
berhubungan dengan legenda gunung tangkubanparahu: 

   
   - SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. 
   Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > 'ng = penanda hormat, 
   honorifik. > kara = matahari. Maknanya " Penanda dari kebaikan/kebenaran 
   sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya" 
   - Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = 
   perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih 
   berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan 
   menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan). 
   - DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, 
   honorific. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk 
   hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai 
   penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali 
   manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai 
   pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt. 
   - RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan 
   yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh 
   dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi. 
   - Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) 
   mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah 
   karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, 
   waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang 
   tertutup rapat tidak mendapat pencerahan. 
   - SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > 
   Kuriang < kuring = saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorific. > Kuriang 
   < guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non 
   material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu 
   mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya. 
   - TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil 
   (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar 
   lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata 
   perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta 
   mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya. 
   - Sungai CITARUM. Artinya: > Ci < cai = air. > Tarum = sejenis 
   tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada 
   kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam 
   perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, 
   keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan 
   hatinya. 
   - SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > 
   Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara 
   (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: 
   Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang 
   jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram. 
   - Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, 
   bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta 
   kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang 
   penuh rasa kasih sayang. 
   - Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 
   2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. 
   Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari 
   karakter yang kotor. 
   - UJUNGBERUNG. Artinya: > Ujung = akhir. >berung > ngaberung = 
   menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang 
   negatif. 
   - Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi + saksi . 2) 
   Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan 
   seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya. 
   - BO'EH RARANG. Artinya : > Bo'eh = kain kafan. > rarang = suci, 
   mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus 
   memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara 
   fisik atau secara psikis. 
   - Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih 
   kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, 
   pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya 
   (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya. 
   - Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. > 
   rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada 
   sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yad. yang pada gilirannya 
   semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan). 
   - Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, 
   menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang 
   bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, 
   gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai 
   sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan 
   suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan. 
   - TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau 
   dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) 
   bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai 
   sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di 
   dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk 
   lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang 
   saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency 
   (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter ( setara di depan hukum) 
   dan egaliter (setara di dalam kehidupan) 
   



*KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI* 

Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan 
pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung 
Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat 
menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari keberadaannya baik secara 
manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi). 

Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat 
memperjelas arti dan makna yang dikandungnya: 
Legenda atau Sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya 
pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi manusia yang masih bimbang akan 
keberadaan dirinya dan berkeinginan untuk menemukan jatidiri kemanusiaanya ( 
= Wayungyang). 
Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati 
(nurani) sebagai kebenaran sejati (= Danghyang Sumbi, Rarasati); tetapi bila 
tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong), 
maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus 
menerus (= digagahi si Tumang) dan akan melahirkan ego-ego yang egoistis, 
yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani 
termakan lagi oleh kewaswasan (= Danghyang Sumbi memakan hati si Tumang) 
maka hilanglah kesadaran yang hakiki. 
Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya 
kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Tentu saja 
kesombongannya pula yang mempengaruhi Sang Ego untuk menjauhi dan 
meninggalkan Sang Nurani. Keangkuhan rasio yang telah lelah mencari ilmu 
dengan mengelilingi seantero jagat, ternyata kembali ke titik awal 
kehidupannya. Akhirnya menemukan Sang Nurani yang secara sadar atau pun 
tidak tetap dicarinya (= Pertemuan Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi). 
Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) 
dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi), tidak semudah yang 
diperkirakan oleh Sang Ego. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya 
Sang Ego (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang 
dilandasi kasih sayang, interdependency - silih asih-asah dan silih asuh 
yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan social (= Talaga Bandung) 
yang berasal dari kumpulan manusia yang bermacam corak ragam perangainya (= 
Citarum). Keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego sendiri 
(= pembuatan perahu). 
Keberadaan Sang Ego itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok 
yang menjadi asal muasalnya (= Bukit Tunggul, pohon sajaratun) yang berasal 
sejak dari awal keberadaannya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan) dan 
Sang Ego pun pada akhirnya akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam 
masyarakat yad. dan semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk 
tulang-belulang (= gunung Burangrang). Betapa mengenaskannya, bila ternyata 
harapan untuk bersatunya Sang Ego dengan Sang Nurani yang tercerahkan ( = 
hampir terjadinya perkawinan antara Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi), 
gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= 
Bo'eh rarang = kain kafan). 
Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego tidak lain hanyalah rasa 
menyesal yang teramat sangat dan marah kepada "dirinya", maka ditendangnya 
keegoisan dirinya jadilah seonggok manusia transcendental yang tengah 
tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung 
Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran masih merasa penasaran dikejarnya 
terus Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi) dengan harapan dapat 
luluh bersatu antara Sang Ego dengan Sang Nurani, tetapi ternyata Sang 
Nurani yang tercerahkan kini hanya menampakkan diri menjadi saksi atas 
perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego ( = bunga Jaksi). 
Akhir kisah dari Sang Ego (=Sangkuriang) yaitu datangnya kesadaran dengan 
berakhirnya kepongahan hawa nafsunya (=Ujungberung); dengan kesadarannya 
pula, dicabut sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang), 
melalui proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang 
Tikoro =tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong) serta 
memperhatikan dan menjaga dengan seksama makanan yang masuk ke dalam 
lambungnya yaitu makanan yang halal dan bersih (=Sanghyang Tikoro = 
kerongkongan). 

*AKHIR WACANA* 

Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan 
tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik 
manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta 
tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. 
Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat 
yang bermartabat. 

Bandung, 18 April 2004 
Hidayat Suryalaga - Mkl. 264

On 8/4/05, oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Ngeunaan carita "Sangkuriang", aya sababaraha versi dina wangun tulisan.
> Salah sahijina versi carita Sangkuriang kalawan tafsifran makna-na anu
> ngandung visi filosofis kamanusaan anu lumayan, yasana Abah Surya (di Kang
> Iskandar aya bukuna. Saenyana di si kuring oge aya, ngan bisi kajauhan
> teuing; manawi aya waktos Kang Kandar tiasa ngadigitalisasikeun eta karya
> Abah, orasi ilmiah di Itenas tea, mangga diantos).


[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke