Tafsiran ngeunaan carita Sang Kuriang anu dimaksad ku Mang manAR, horeng tos
dimuat di Sundanet, http://sundanet.com/artikel.php?id=229
PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU
Suatu kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu
dengan segala aspeknya
Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar
Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng
Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi
maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang -
puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi
nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu,
sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya
lokal.
*MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP*
Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng
semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A. van Peursen
(1992:37) mengatakan sebagai sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman
dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah
lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang
kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya.
Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita
anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah
laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi
masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Mengacu kepada pendapat di atas ternyata mitos yang dikandung dalam legenda
adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam
segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai
alat transformasinya, sebab bentuk cerita lisan mempunyai pola struktur dan
alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk
seseorang menuturkannya kembali.
*HERMENEUTIKA ILMU TENTANG PENAFISRAN*
Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap
apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari
yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang
melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna
adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya. Kemampuan
mengartikan dan memaknai sesuatu dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan
memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk
menafsirkan secara: silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak
langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu penggunaan
susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam
bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam
bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah
berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma)
Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika untuk mencoba
menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu
dengan segala aspek yang dikandungnya.
Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis memanfaatkan leksikografi
(cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik
(tentang arti kata) dan semiotika (tentang arti dan makna lambang).
*BEBERAPA KARYA SASTRA YANG BERTEMAKAN LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU*
Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para
sastrawan untuk mewujudkannya dalam karya sastra seperti dalam:
- Bentuk Cerita : Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt.
- Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946 - Babad Sangkuriang dalam
Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.
- Bentuk Gending Karesmen (opera) : Sangkuriang Larung, Hidayat
Suryalaga, 1973.
- Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955 - Sang
Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992 - Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962
- Sang Kuriang, Beni Setia, 1972 - Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989-
Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992
- Bentuk Skripsi : Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita
Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994.
Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai
legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep
hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak
banyak berubah.
Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:
Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing
dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama
WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing
tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik.
Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias
RARASATI. banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada
yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya.
Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit
ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.
Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan
bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar
ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak
yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si
Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi
akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.
Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi
betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si
Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah
hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang
dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara
mengelilingi dunia.
Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat
lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya
berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya
adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu.
Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya,
dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa
untuk menikahinya.
Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau)
dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang
menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah
TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL,
rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika
bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar
maksud Sangkuriang tidak terwujud.
Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya),
sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar,
dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya,
sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma
menjadi Gunung MANGLAYANG.
Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan
bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG
TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak
menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun
Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG
akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG).
*ARTI SERTA MAKNA LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG
DIKANDUNGNYA*
Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis, tetapi
berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya.
Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu. Di bawah ini
saya susun nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda
tsb, yaitu: Sungging Perbangkara, babi hutan Si Wayungyang, Dayang Sumbi
atau Rarasati, anjing Si Tumang, Sangkuriang, taropong (torak), Citarum,
Sanghyang Tikoro, Gunung Putri, Gunung Manglayang, Ujungberung, kembang
Jaksi, boeh rarang, Gunung Bukit Tungggul, Gunung Burangrang Gunung
Tangkuban Parahu dan Talaga Bandung.
Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna
terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang penulis mencoba untuk membuat
penasiran arti dan makna menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan
hidup "urang Sunda" yang terkandung dalam alur cerita dan arti-makna dari
setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun telah dikaji-banding dengan
nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam cerita lama (pantun) yang
dianggap sakral yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di
Kusuma. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang
berhubungan dengan legenda gunung tangkubanparahu:
- SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen.
Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > 'ng = penanda hormat,
honorifik. > kara = matahari. Maknanya " Penanda dari kebaikan/kebenaran
sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya"
- Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang =
perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih
berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan
menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).
- DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat,
honorific. Yang < Hyang = gaib. > Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk
hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai
penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali
manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai
pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.
- RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan
yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh
dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.
- Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2)
mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah
karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah,
waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang
tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.
- SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. >
Kuriang < kuring = saya, ego. 2) Sang = penanda hormat, honorific. > Kuriang
< guru + hyang = ego yang gaib. Maknanya: Sangkuriang = Jiwa (ego) non
material yang menjadi dasar tumbuhnya kesadaran mental manusia yang selalu
mendapat cobaan dan ujian kualitas dirinya.
- TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil
(tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar
lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata
perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta
mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.
- Sungai CITARUM. Artinya: > Ci < cai = air. > Tarum = sejenis
tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada
kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam
perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan,
keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan
hatinya.
- SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. >
Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara
(tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya:
Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang
jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.
- Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita,
bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta
kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang
penuh rasa kasih sayang.
- Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang.
2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga.
Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari
karakter yang kotor.
- UJUNGBERUNG. Artinya: > Ujung = akhir. >berung > ngaberung =
menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang
negatif.
- Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi + saksi . 2)
Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan
seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya.
- BO'EH RARANG. Artinya : > Bo'eh = kain kafan. > rarang = suci,
mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus
memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara
fisik atau secara psikis.
- Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih
kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin,
pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya
(leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya.
- Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. >
rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada
sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yad. yang pada gilirannya
semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan).
- Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup,
menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang
bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda,
gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai
sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan
suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.
- TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau
dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2)
bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai
sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di
dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk
lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang
saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency
(saling ketergantungan yang harmonis), equaliter ( setara di depan hukum)
dan egaliter (setara di dalam kehidupan)
*KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI*
Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan
pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung
Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat
menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari keberadaannya baik secara
manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi).
Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat
memperjelas arti dan makna yang dikandungnya:
Legenda atau Sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya
pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi manusia yang masih bimbang akan
keberadaan dirinya dan berkeinginan untuk menemukan jatidiri kemanusiaanya (
= Wayungyang).
Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati
(nurani) sebagai kebenaran sejati (= Danghyang Sumbi, Rarasati); tetapi bila
tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong),
maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus
menerus (= digagahi si Tumang) dan akan melahirkan ego-ego yang egoistis,
yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani
termakan lagi oleh kewaswasan (= Danghyang Sumbi memakan hati si Tumang)
maka hilanglah kesadaran yang hakiki.
Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya
kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Tentu saja
kesombongannya pula yang mempengaruhi Sang Ego untuk menjauhi dan
meninggalkan Sang Nurani. Keangkuhan rasio yang telah lelah mencari ilmu
dengan mengelilingi seantero jagat, ternyata kembali ke titik awal
kehidupannya. Akhirnya menemukan Sang Nurani yang secara sadar atau pun
tidak tetap dicarinya (= Pertemuan Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi).
Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang)
dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi), tidak semudah yang
diperkirakan oleh Sang Ego. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya
Sang Ego (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang
dilandasi kasih sayang, interdependency - silih asih-asah dan silih asuh
yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan social (= Talaga Bandung)
yang berasal dari kumpulan manusia yang bermacam corak ragam perangainya (=
Citarum). Keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego sendiri
(= pembuatan perahu).
Keberadaan Sang Ego itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok
yang menjadi asal muasalnya (= Bukit Tunggul, pohon sajaratun) yang berasal
sejak dari awal keberadaannya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan) dan
Sang Ego pun pada akhirnya akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam
masyarakat yad. dan semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk
tulang-belulang (= gunung Burangrang). Betapa mengenaskannya, bila ternyata
harapan untuk bersatunya Sang Ego dengan Sang Nurani yang tercerahkan ( =
hampir terjadinya perkawinan antara Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi),
gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (=
Bo'eh rarang = kain kafan).
Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego tidak lain hanyalah rasa
menyesal yang teramat sangat dan marah kepada "dirinya", maka ditendangnya
keegoisan dirinya jadilah seonggok manusia transcendental yang tengah
tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung
Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran masih merasa penasaran dikejarnya
terus Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi) dengan harapan dapat
luluh bersatu antara Sang Ego dengan Sang Nurani, tetapi ternyata Sang
Nurani yang tercerahkan kini hanya menampakkan diri menjadi saksi atas
perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego ( = bunga Jaksi).
Akhir kisah dari Sang Ego (=Sangkuriang) yaitu datangnya kesadaran dengan
berakhirnya kepongahan hawa nafsunya (=Ujungberung); dengan kesadarannya
pula, dicabut sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang),
melalui proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang
Tikoro =tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong) serta
memperhatikan dan menjaga dengan seksama makanan yang masuk ke dalam
lambungnya yaitu makanan yang halal dan bersih (=Sanghyang Tikoro =
kerongkongan).
*AKHIR WACANA*
Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan
tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik
manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta
tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi.
Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat
yang bermartabat.
Bandung, 18 April 2004
Hidayat Suryalaga - Mkl. 264
On 8/4/05, oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ngeunaan carita "Sangkuriang", aya sababaraha versi dina wangun tulisan.
> Salah sahijina versi carita Sangkuriang kalawan tafsifran makna-na anu
> ngandung visi filosofis kamanusaan anu lumayan, yasana Abah Surya (di Kang
> Iskandar aya bukuna. Saenyana di si kuring oge aya, ngan bisi kajauhan
> teuing; manawi aya waktos Kang Kandar tiasa ngadigitalisasikeun eta karya
> Abah, orasi ilmiah di Itenas tea, mangga diantos).
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/