Republika
Selasa, 28 Maret 2006
Menghitung Waktu Ala Kalender Sunda
Hitungan Kala Sunda menggunakan basis matematika dan astronomi.
Perbedaan suku tidak hanya terlihat dari warna kulit manusia dan bahasanya.
Namun, leluhur dari sebuah suku di bumi ini masing-masing meninggalkan pedoman
penghitungan waktu. Misalnya di tanah Sunda, sudah 500 tahun ini tidak terbuka
warisan nenek moyangnya, yakni Kalender Sunda. Awal tahun 2006 ini, Tokoh Sunda
yang berlatar belakang ilmu matemetika, Ali Sastramidjaja, berhasil menggali
Kalender Sunda dari kuburannya. Selama sembilan tahun, Abah Ali, panggilan Ali
Sastramidjaja bersama Yayasan Canda Sangkala, mengumpulkan data seputar
Kalender Sunda.
Dalam proses penggalian data Kalender Sunda, Ali melibatkan kalangan astronom
dan pakar lainnya. Bila melihat pada jumlah hari dan bulannya, Kalender Sunda
atau yang sering disebut Kala Sunda, sama dengan kalender Masehi dan Hijriah.
Yakni, 12 bulan dalam setahun, dan 30 hari dalam sebulan. Hanya, nama hari dan
bulan antara Kala Sunda dan Masehi serta Hijriah berbeda. Di Kala Sunda, kita
menggunakan nama Radite untuk hari Ahad, Soma untuk Senin, Anggara untuk
Selasa, Buda untuk Rabu, Respati untuk Kamis, Sukra untuk Jumat, serta Tumpek
untuk hari Sabtu.
Pakar Astronom dari ITB, Muji Raharjo menilai, Kala Sunda yang diangkat
kembali oleh Abah Ali, jauh lebih akurat dibandingkan dengan kalender Masehi.
Bahkan, Abah Ali berani menetapkan bila Kala Sunda 138 kali akurat ketimbang
kalender Masehi yang ditetapkan oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) tahun 1956.
Dalam hitungan Kala Sunda yang mengacu pada konsep Candrakala (bulan-waktu),
tahun 2006 masehi ini merupakan tahun tahun 1942 Caka. Dalam Kala Sunda,
biasanya nama tahun diikuti dengan kata Caka. Caka berasal dari kata
Candrakala, yang artinya bulan (Candra) dan waktu (Kala).
Sebagian kelompok Sunda, hingga kini kerap menggunakan Kala Sunda sebagai
acuan untuk menentukan gerhana matahari, bulan, hajatan, atau pindah rumah.
Seorang konsultan perencanaan dan arsitek yang turut berperan dalam peluncuran
Kala Sunda, Roza Rahmadjasa Mintaredja membantah bila penerapan hitungan waktu
itu sebagai konsep mistik, wangsit atau ramalan yang biasa digunakan para
dukun.
''Hitungan Kala Sunda menggunakan basis matematika dan astronomi. Itu semua
dengan cara penghitungan,'' ujar Roza, dalam peluncuran Kala Sunda di Aula
Serba Guna Kota Bandung, belum lama ini. Bagi Roza, hanya kekuasaan Allah SWT
yang mampu mengubah taksiran atau hitungan Kala Sunda.
Sebuah LSM yang bernama Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Hidup Tatar
Sunda (DPKLTS), memandang Kala Sunda ini sebagai kalender fenologi. Artinya,
Kala Sunda mampu mengaitkan proses periodik pada tanaman dan hewan dengan cuaca
dan lingkungan di sekitarnya.
Anggota DPKLTS, S Sobirin mengatakan, Kala Sunda ini akan bermanfaat bagi
masyarakat dalam rangka menyelamatkan lingkungan hidup. Pasalnya, melalui Kala
Sunda ini, kita bisa membaca gejala alam. ''Andaikan kearifan budaya dan
pengenalan waktu diterapkan, maka bencana lingkungan di tanah air ini bisa
dihindari,'' cetusnya.
Ditambahkan Roza yang menjadi Pupuhu (Ketua) Kala Sunda ini, sosialisasi Kala
Sunda untuk saat ini tidak mudah. Dirinya berharap, dibutuhkan kearifan lokal
bagi orang Sunda dalam menjungjung tinggi peninggalan nenek moyangnya.
Ditegaskan dia, sangat sedikit orang Sunda yang mengerti tentang Sunda dan
kesundaan.
Menurut dia, masyarakat saat ini semakin cerdas dan pintar. Namun, imbuh dia,
di balik kecerdasannya itu kerap tumbuh jiwa tidak arif dalam membaca kondisi
zaman ini. ''Kami coba mengajak warga Sunda untuk lebih ngamumule
(melestarikan) budaya dan asset sukunya,'' ucapnya.
Dalam acara peluncuran Kala Sunda, belum lama ini, tim yang tergabung dalam
Kala Sunda mencoba mengingat pengunjung yang menghadirinya, bila Sunda tidak
bisa dipisahkan dari Siliwangi dan Indonesia. Lebih-lebih, suku Sunda memiliki
saham dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Tidak heran, dalam Kala Sunda dilengkapi dengan foto pahlawan yang berasal
dari tanah Siliwangi. Di antaranya, R Otto Iskandar Dinata (Si Jalak Harupat),
Dewi Sartika, RAA Wiranatakusumah, R Enoch Danubrata, Inggit Garnasih Soekarno
(istri Soekarno), Penghulu H Hasan Mustafa. Selain memperjuangkan kemerdekaan
RI, pahlawan asal Sunda itu turut berjuang dalam menyebarluaskan Agama Islam.
Paling tidak, dengan kata Siliwangi, kita dituntut untuk hidup rukun sesama
bangsa. Siliwangi yang berasal dari Silih (saling) dan Wangi (harum) itu
menyuruh umat untuk saling mengharumkan nama sesamanya. Melalui Kala Sunda ini,
seluruh masyarakat Sunda dituntut menjadi pelopor dalam menjaga martabat
budayanya. Dalam beberapa pertunjukannya, dalang kondang, H Asep Sunandar
Sunarya, mengingatkan semua umat untuk mejaga budayanya. Menurut Asep, kondisi
budaya akan mencerminkan kondisi bangsanya.
''Bila budayanya rusak, maka bangsanya pun sedang rusak,'' ucapnya. Karena
budaya Sunda atau timur, sarat dengan pesan yang diamanatkan dalam Alquran.
Misalnya dalam cara berpakaian orang Sunda atau timur, tentu berbeda dengan
budaya barat.
Fakta angka
9 Tahun
Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data seputar Kalender Sunda.
138 Kali Lipat: Tingkat akurasi Kala Sunda dibandingkan kalender Masehi yang
ditetapkan PBB tahun 1956.
( sandy ferdiana )
---------------------------------
New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and save big.
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/