Assalamu alaikum ka sadayana wargi kisunda   
  nepangkeun abdi AWAN ( Taufik Ridwan ) Alumni UIN JOGJA kawit ti Sukabumi 
(jalan Tipar Gede) anu pas kajantenan GEMPA masih di Jogja. aduh.. hapunten 
ngangge bahasa indonesia wae nya salajengna ( kumargi tos 8taun di Jogja janten 
bahasana teu sapertos orang sunda kaumuman deui)
   
    nama Saya Awan (Taufik Ridwan S,Th.I ) Alumni UIN SUKA JOGJA tinggal di 
daerah gowok ( daerah perbatasan Sleman, kota Jogja dan BANTUL )

    miliser, saya kirim email ini dalam keadaan gak menentu ( menangis, sedih , 
bingung, masih di hantui ketakutan karena hampir setiap 2 jam terjadi gempa 
susulan) 
  saya merasakan sendiri bagaimana dahsyatnya gempa, bumi seperti di 
goncang-goncangkan, berhamburan orang2 keluar dari rumah masing dengan rasa 
terkejut dan ketakutan yang amat dalam sambil bertanya tanya, APA YANG 
TERJADI???
  GUNUNG MELETUS KAH? TSUNAMI KAH
karena dua hal itu yang pertama kali terdetik. 
  saya menambahkan info saja dari laporan solopos. keadaan yang tidak menentu 
itu yang membuat orang2 tidak tau apa yang selanjutnya harus dilakukan,
  LISTRIK MATI TOTAL, KOTA JOGJA LUMPUH TOTAL,  
  ketakutan semakin menjadi ketika Isyu Tsunami terjadi,  bersamaan di Langit 
utara Jogja mengepul awan yang membumbung tinggi,
  LENGKAP SUDAH KETAKUTAN KITA ( PASRAH )
  Berlari ke UTARA TAKUT LETUSAN MERAPI, sedangkan jika ke arah SELATAN (LAUT ) 
TSUNAMI MENGANCAM.
  Ya.... ALLAH kenapa ini bisa terjadi.??
   MENANGIS!! Menjerit2 , mengucapkan nama TUHAN, 
   
  MOHON DI DORONG DOA DARI SEGENAP BANGSA INDONESIA
  HANYA SEMANGAT YANG KAMI PUNYA SAAT INI. 
  SEMAGAT BERTAHAN HIDUP, YANG SELAMAT MEMBANTU MENYALAMATKAN
   
  bagi miliser, yang ingin menyumbang VIA SMS ( sumber info dari SCTV) dapat 
menyumbang via sms dengan mengetik YOGYA kirim ke 2000 ( tarif per SMS = 2000 ) 
mohon di konfirmasikan lagi

   
  ieu laporan ti salahsawios wartawan solopos
  Sabtu pagi belum genap hadir ketika kalender menunjuk angka 28 Mei 2006, 
manakala lantai bergerak, berderak dan berantakan. Seketika itu juga dinding 
dan atap rumah runtuh berdebam.
  Mereka yang ada di bawahnya hanya sebentar teringat di mana saudara dan 
kerabat berada. Sebab yang terasa hangat kemudian adalah aliran darah merah 
dari kepala-kepala yang menganga.
  Ketika kesadaran belum pulih untuk mengingat, mereka hanya bisa mendengar 
suara memekakkan telinga dari lolong teriakan kengerian. Jerit mengaduh 
bertalu-talu. Dari tubuh-tubuh yang perih; dari tulang kaki yang patah; dari 
bahu yang terobek; dari pinggul yang ngilu; dari kening yang retak, dan dari 
hidung yang tersedak butiran kasar debu reruntuhan.
  Dinding dan atap rumah semua telah terhempas, lumat menyatu dengan bumi....
  Pleret, Jetis, Imogiri, Bantul, Jogja, Sleman, Wedi, Gantiwarno dan 
Prambanan.... Dalam sekejap berubah warna. Hitam duka dan merah nestapa. Gempa 
bumi itu menyergap tiba-tiba. Menebar seonggok malapetaka, bahkan tanpa sapa.
  Matahari mulai beranjak naik ketika mereka terus berkubang dalam kebingungan.
  ***
  Sabtu siang 28 Mei 2006 masih berlanjut dengan kepanikan. Para korban 
bertanya-tanya tanpa kepastian, ketika sirine ambulan meraung-raung, berlalu 
lalang membawa tubuh-tubuh berlumur darah. Di berbagai pelosok lokasi musibah 
yang tiada tersentuh pertolongan, tubuh-tubuh berlumur keringat mulai menyibak 
reruntuhan.
  Maka yang terjadi kemudian adalah satu jenazah diangkat, dua jenazah 
menyusul; tiga diangkat, sepuluh menyusul; dua puluh diangkat, dua ratusan 
menyusul; lima ratusan diangkat, ribuan menyusul... oh mengerikan. Kalau ini 
ibarat buah peperangan, maka yang terjadi kemudian adalah gambaran yang 
disampaikan Iwan Fals: "...mayat-mayat bergelimpangan... tak terkubur dengan 
layak...."
  Ya, bagaimana mungkin jenazah-jenazah itu bisa terkubur dengan layak, terawat 
satu-satu, ketika para pengubur sendiri terus bertanya-tanya tentang kelanjutan 
nasib mereka hari itu, esok hari, dan hari-hari mendatang yang masih membentang.
  ***
  Pertanyaan tentang hari esok, itulah yang sempat saya rekam ketika mulai 
Sabtu sore pada hari datangnya gempa bumi itu, saya menyusuri sejumlah lokasi 
bencana. Para korban tidak lagi bertanya-tanya tentang apa dan mengapa bencana 
itu terjadi. Mereka sudah pasrah. Apapun yang telah terjadi, rela atau tidak 
rela, mereka harus menerimanya apa adanya.
  Tetapi kepastian tentang hari-hari mendatang, itulah yang mereka pertanyakan. 
Tidak perlu jauh berandai-andai tentang pekan dan bulan mendatang, bahkan 
tentang hari yang sedang mereka jalani, juga tiada ketentuan.
  Mulai dari desa-desa di wilayah Klaten yang diterpa bencana sampai di pelosok 
Imogiri dekat kawasan Makam Raja-Raja Mataram, saya lihat mereka tidak kuasa 
melakukan apapun. Berkumpul dan makan makanan seadanya, itulah yang hanya bisa 
mereka perbuat. Pada saat yang sama, mereka terus mewaspadai datangnya gempa 
bumi susulan.
  Bagi korban yang rumahnya rata dengan tanah, tiada pilihan lain untuk 
mengungsi di tempat-tempat lapang. Bagi yang rumahnya masih terlihat berdiri, 
juga tidak banyak beda. Tiada lagi keberanian untuk memasukinya, ketika mereka 
tahu bahwa rumah bisa roboh sewaktu-waktu.
  Ketika malam beranjak datang di Yogyakarta misalnya, para korban mulai 
menambah gelaran tikar. Ketika mendung mulai menggantung, tenda-tenda dari 
bahan apa saja yang ada, mulai dibentangkan. Tetapi jumlahnya tak mencukupi. 
Maka, ketika hujan turun dengan derasnya, banyak di antara mereka yang berbasah 
kuyup, tak bisa memejamkan mata, kedinginan menanti datangnya pagi hari.
  Saya yang nunut di bawah tenda satu keluarga korban bencana, pun tak sempat 
jenak memejamkan mata. Kuyup air mendatangkan dingin yang menusuk tulang. Pada 
saat yang sama perut melilit kelaparan. Dan yang bisa saya santap malam itu 
hanyalah nasi putih berlaukkan cumi asin kering.
  Namun ketika Minggu pagi saya mulai memasuki kawasan Pleret, Imogiri, Bantul 
dan menyusur ke timur sampai ke wilayah Wedi di Klaten, yang telah porak 
poranda, maka derita nyata para korban bencanalah yang saya temui. Banyak di 
antara mereka yang belum tersentuh bantuan sama sekali.
  Di sebuah klinik kesehatan di wilayah Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, 
misalnya, banyak tergolek pasien di gelaran tikar seadanya. Persediaan obat 
habis, demikian pula bahan pangan. Keluh menyayat terdengar dari para korban 
luka, sementara peluh menetes dari kening para perawat yang mengaku kelelahan 
tiada terkira.
  Maka bukan pada tempatnya kalau saya berpanjang kata dan berorasi di kolom 
ini kecuali meneruskan permohonan mereka bahwa mereka benar-benar membutuhkan 
bantuan. Benarlah apa yang ditulis dan disiarkan media massa, bahwa korban 
bencana gempa bumi menunggu uluran tangan kita. Sangat-sangat segera....(Duto 
Sri Cahyono/SOLOPOS)
   
   
  salam 
  Awan Taufik Ridwan
  Wargi Sunda nu aya di JOGJAKARTA
  mantan kabid Seni Budaya dan Humas KPM "Suryakancana"
  keluarga pelajar dan mahasiswa Sukabumi di Jogjakarta
  Asrama Kujang Jawa Barat - Jogjakarta
   
  let's chatt with me
  y!m : awan_art
  msn : awan.art
  gtalk : awan.art
  mIRC : aWan^aRt
  Friendster : awan_art at yahoo dot com
  mobile : 0856 2575 333

                
---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls.  Great rates 
starting at 1¢/min.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke