"Sangkan Paraning Dumadi' yang secara harfiah dapat diartikan sebagai 
suatu ungkapan filosofi "asal dan tujuan manusia" sudah lama menjadi 
suatu kalimat yang menggelitik saya dan sering membuat saya mendadak 
berhenti dalam saat-saat tertentu kehidupan saya, bukan lagi untuk 
memperkenalnya namun mengenalnya lebih jauh dengan keinginan untuk 
mengetahui sekaligus menerapkan apa sebenarnya makna terdalamnya dan 
darimana Wong Jowo mengenal ungkapan nan indah itu. Kesempatan untuk 
lebih jauh menelusuri "Sangkan Paraning Dumadi" pun kemudian mencuat 
kembali di akhir abad ke-20 ketika huru-hara melanda Negeri Indonesia 
yang katanya terkenal ramah tamah ini. Simbol-simbol keramahtamahan 
itu tiba-tiba berantakan begitu saja di bawah asap dan api yang 
menggelora, membumi hanguskan Jakarta dan Indonesia. Zaman huru-hara 
dimulai (lagi), peribahasa Sangkan Paraning Dumadi tiba-tiba 
teraktualisasikan kembali melalui firman Kun fa Yakuun karena di saat 
yang sama saya pun sedang menelusuri makna firman Tuhan yang 
tercantum dalam QS 36:82 itu, yang menyembunyikan rahasia terselubung 
dari kemanusiaan dan kemukminan saya sebagai penganut Agama Islam.


Apa sebenarnya arti Sangkan Paraning Dumadi yang secara harfiah 
umumnya kita pahami sebagai "Asal dan Tujuan Manusia"? Cukup sulit 
juga saya mencari literatur tentang filsafat Jawa yang bagus yang 
menjelaskan makna kalimat sakral tersebut. Umumnya, berbagai 
pengetahuan tentang filsafat Jawa hanya sepintas-sepintas saja saya 
ketahui dari buku Koentjaraninggrat, antropolog terkenal Indonesia 
yang menulis buku tentang mentalitas bangsa Indonesia yang dulu 
pernah menjadi pegangan pelajaran etika di Perguruan Tinggi. Setelah 
beberapa waktu, akhirnya saya menemukan buku kecil yang cukup ringkas 
yang menjelaskan filsafat Jawa lengkap dengan huruf-hurufnya yang 
bagi saya mulai terlihat ajaib. 


Terus terang kesan ajaib itu muncul setelah risalah Kun fa Yakuun 
selesai di tulis dan sedang dalam renovasi untuk diubah menjadi 4 
buku dan 1 buku puisi. Entah kenapa Buku Pertama dari Kun Fa Yakuun 
saya beri sub-judul "Sangkan Paraning Dumadi" sebagai titik tolak 
penguraian "Kun fa Yakuun". Keduanya nampaknya saling bersanding 
kalau tidak malah suatu keniscayaan bahwa ungkapan filosofis "Sang 
Paraning Dumadi" dan firman "Kun fa Yakuun" bersumber pada satu 
sumber mata air yang sama, yang dulu di zaman Yunani juga pernah 
diungkapkan sebagai "Que Sera-sera" yang jadi kata pembuka lembaran 
tesis sarjana saya dulu.


Ungkapan-ungkapan metaforis filosofis masa kini yang kita kenal, 
memang sejatinya banyak yang berasal dari ujar-ujar kaum filsuf 
Yunani. Sebagai contoh, ungkapan "Telur dan ayam mana duluan?" yang 
sering membuat orang senewen berasal dari zaman Aristoteles yang 
menjalar sepanjang zaman yang sejatinya berkaitan dengan titik tolak 
penciptan makhluk. Demikian juga, "segalanya mengalir" atau "Pantha 
Rei", "dari titik menjadi garis", dan lain sebagainya banyak berasal 
dari kajian-kajian filosofis masa lalu yang mungkin hanya dikenal 
oleh anak-anak yang belajar filsafat saja. Yunani dulu terkenal 
sebagai Kerajaan Pikiran yang pernah ada di Planet Bumi dengan tokoh-
tokohnya yang terkenal seperti Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, 
Aristoteles, Plotinus, dan di masa akhir kejayaannya terdapat seorang 
wanita legendaris dari Aleksandria Mesir yang menjadi Guru 
Neoplatonis dan ahli matematika di Perpustakaan Aleksandria, yang 
mati dengan tragis karena kedengkian suatu kaum kepada kaum lainnya 
yaitu Hiphatya (370-415 M). Membaca riwayat Hiphatya di Internet 
seperti membaca kisah-kisah klasik masa lalu, dimana peran wanita 
meskipun termasuk kalangan yang tertindas sesungguhnya memiliki 
signifikansi yang erat dalam sejarah peradaban manusia sebagai tokoh-
tokoh perubahan zaman yang seringkali nasibnya lebih tragis ketimbang 
tokoh laki-laki semisal Socrates yang mati diracun atau Galileo yang 
di hukum mati oleh Gereja. Hiphatya disergap di rumahnya, dibunuh dan 
jasadnya dikuliti dengan kulit kerang untuk kemudian dibakar oleh 
para pengikut pendeta Cyril yang disebut oleh pengikutnya sebagai 
Orang Suci. Kisah tragis Hiphatya terjadi di sekitar abad ke-5 Masehi 
karena rasionalitas yang diajarkan Hiphatya disebutkannya sebagai 
ilmu sihir yang dapat menggerogoti kekuasaan Gereja saat itu. 


Hiphatya dari Aleksandria 370-415 M


 

Di Indonesia, kita mengenal RA Kartini yang akhirnya dibelenggu oleh 
Belanda dengan selubung keningratan dan perkawinannya sampai buah 
pikirnya muncul menjadi suatu kisah seorang wanita yang menjadi tanda 
perubahan zaman "Habis Gelap Terbitlah Terang" menjadi tulisannya 
yang mempengaruhi pergerakan kaum wanita Indonesia di masa mendatang. 
Meskipun gema dari semangatnya yang ingin mengangkat derajat wanita 
dengan pendidikan masih terdengar sampai hari ini (saya menulis 
risalah ini menjelang 21 Mei 2006 sebagai Hari Hartini), namun gema 
itu terdengar sayup-sayup saja yang masih kita ingat ketika kita 
melihat anak-anak sekolah memakai kebaya, baju bodo, atau baju-baju 
daerah lainnya. Begitulah yang kita lakukan sejak SD ketika Hari 
Kartini tiba. 


Kini, gagasan Kartini telah lama ditunggangi oleh niat-niat busuk 
yang mengarahkan pengertian kewanitaan kearah bias jender yang 
mengarah pada penurunan derajat wanita itu sediri ketika jenderisme 
disandingkan dengan kebebasan tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya 
semata-mata kesenangan dan hedonisme keakuan belaka yang diselubungi 
kapitalisme dunia hiburan. Niat Kartini untuk mengangkat derajat kaum 
wanita dari kegelapan pun melenceng sedikit demi sedikit, dijadikan 
ajang permainan kata-kata, semantik, dan politik dan tentu saja 
lumayan untuk mengangkat popularitas. Kartini-kartini lain, yang 
masih mengikuti ajaran RA Kartini, mungkin masih ada dan tersembunyi 
karena memang tidak membutuhkan wira-wiri dunia hiburan maupun 
popularitas media yang mutunya makin melorot kalau dibandingkan media 
zaman Raden Djoko Mono dulu, karena saat ini media massa bukan lagi 
menjadi media penerang rakyat, tetapi sebagai ajang media kepentingan 
pribadi yang diburu-buru para investor yang memutar-mutar uangnya. 


Mengingat tokoh wanita seperti Hiphatya dan RA Kartini, saya pun 
kembali teringat Ibu saya sebagai manifestasi Al-Rahmaan al-Rahiim, 
yang melimpahkan kasih sayang dan ampunan, dan bisa jadi menjadi 
penghukum bagi anak-anak yang durhaka. Ibu Pertiwi pun demikian juga, 
ketika anak-anak yang hidup di buminya mulai melenceng dan menjadi 
anak-anak durhaka, iapun mulai jengah, gelisah, menahan amarah, dan 
akhirnya menjadi amarah yang nyata dengan memperlihatkan karakter 
aslinya sebagai Ibu Pertiwi Bumi Indonesia yang sebenarnya berdiri di 
atas lempeng tektonik benua-benua yang tidak diam tetapi bergerak 
secara periodik. (Lihat gambar lihat Indonesia The Heart Of Allah)


Indonesia dengan posisi geografis diantara 90 derajat sampai 150 
derajat Bujur Timur dan diantara 10 derajat Lintang Utara sampai 10 
derajat Lintang Selatan adalah jantung Planet Earth atau The Hearth 
Of Allah yang menciptakan Planet Earth sebagai tempat menifestasinya 
bahwa Dia Maha Hidup dan Maha Mematikan, namun Dia juga 
Rabbul `Aalamin, yang menciptakan, memelihara dan mendidik semua 
makhluk-Nya dengan berbagai fenomena dan peristiwa yang kemudian 
diungkapkan dari zaman ke zaman menjadi legenda-legenda, kisah-kisah, 
ilmu pengetahuan dan Realitas The Matrix yang sebenarnya dimana bit-
bit dijital dengan basis biner aau huruf "Ba" berdenyut dan bergetar, 
bergerak dan menyusun gambaran realitas baru yang lebih cepat 
ditransmisikan, diubah semau kita, dan digunakan sebagai fondasi masa 
depan peradaban manusia sebagai Abad Tauhid Base Society atau 
Knowledge Base Society. 


Dengan posisi Indonesia (dari lokasi bujur diperoleh 90+150=240 atau 
24X10) yang mencitrakan arti sebagai kelahiran Cahaya Pengetahuan 
Tuhan pertama kali maka sungguh elok bahwa surat ke-24 (dengan 64 
ayat sebagai matriks papan catur 8x8=64) sebagai surat an-Nuur dalam 
kitab wahyu Al Qur'an berfirman tentang bagaimana Pesan-pesan Tuhan 
pertama kali dipahami dan diturunkan sebagai cahaya yang menerangi 
kegelapan akal pikiran dan jiwa manusia dengan penegasan yang 
kemudian dinyatakan dengan 47 huruf yang menjadi ciri Kepribadian 
Manusia yang beriman sebagai sebagai al-Mukminun. 


Relasi antara QS 24:1 dan QS 23:1 pun muncul sebagai suatu ungkapan 
Wahyu dalam al-Qur'an yang secara terselubung, dengan semantik logis 
yang indah dan pasti mengaitkan makna tersembunyi Indonesia yang 
memiliki nama dengan al-Jumal bahasa Arab 175 (Alif(1), Nun(50), Dal
(1), Nun(50), Sin(60), Ya(10) dengan rahasia Penciptaan terselubung 
sebagai huruf `Ain(70) yang mengiringi Alif sehingga nilai totalnya 
adalah 175+70=245=49X5) dengan asal-usul seluruh ajaran agama di 
dunia dan berarti sebagai sumber asal dari semua pengetahuan manusia 
yang saat ini kita kenal sebagai ilmu pengetahuan apapun juga dengan 
basis simbol, geometri, bilangan, dan abjad/alfabet. 


Suraatun anzalnaahaa wa faradhnaahaa

wa anzalnaa fiihaa aayaatim bayyinaatil la'allakum tadzakkarun

(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan kami wajibkan 
(ketentuan sebagai hukum-hukum atau sunnatullah) nya, dan Kami 
turunkan di dalamnya ayat-ayat yang terang (yang memberikan 
penjelasan), supaya kamu memperoleh pengajaran.


47 huruf dalam QS 24:1, mewakili Kepribadian Manusia Yang Optimum 
sebagai Kepribadian Nabi Muhammad SAW (simak surat Muhammad QS 47 
dengan 38 ayat) yang merupakan komposisi Kromosom Ke-11 manusia dari 
simpul ke-4 dan ke-7 sebagai komposisi genetis terbaik dengan masing-
masing rentang simpul memiliki 48 dijit kode genetis.


Kepribadian manusia yang optimum akan muncul dengan kaidah "illhaa 
khamsi" atau berserah diri dan tertunduk dengan Aslim sebagai 
kesadaran 24 jam sehari semalam yang mengakui lemahnya dirinya sebagi 
makhluk dan mengakui Tuhannya sebagai satu-satunya Realitas Mutlak 
Yang Maka Kuasa dengan penekanan Yang Maha untuk menyatakan ketidak 
terjangkauan akan gambaran Diri-Nya Yang SAMA SEKALI Berbeda dengan 
makhluk-Nya. Kendati demikian, Realitas Absolut-Nya tampil nyata ada 
dimana-mana dan dikenali oleh semua makhluk sebagai nama-nama-Nya, 
Sifat-sifat-Nya, Perbuatan-Nya dan Inti Dzat-Nya yang menjadi bagian 
dari seluruh makhluk yang hidup yaitu Ruh `Amriina atau Ruh dengan 
Perintah untuk Menauhidkan Diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang 
tertera dalam setiap komposisi kimiawi makhluk yang "kita sebut mati 
maupun hidup", yang berdenyut dengan ketukan dua satuan sebagai 
ketukan yang selalu bertasbih dan menyucikan-Nya dengan suatu lafaz 
yang terpahami dengan eksak mewakili arti Allaah, al-Rahmaan-al-
Rahiim, al-Iradah-al-Qudrah, dan al-Hayyu-al-Qayyum sebagai sifat-
sifat dominan yang mampu dikenali oleh makhluk yang berakal maupun 
yang kita sebut tidak berakal, yang sadar maupun yang tidak sadar, 
yang mengakui ke-Esa-an-Nya dengan tulus maupun yang tertipu daya 
karena memutuskan diri dari rahmat Tuhannya yang Maha Nyata sekaligus 
Maha Ghaib, Yang Maha Dekat sekaligus Maha Jauh, yang tidak bisa 
disandingkan dengan semua atribut pengetahuan yang dikenali manusia. 
Karena itu pula tidak layaklah manusia untuk memperbandingkan makhluk 
dengan Diri-Nya karena Dia Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Bathin dan 
Maha Lahir dan Dia Maha Meliputi segala sesuatu (QS 57:3). Yang lalai 
dengan kenyataan demikian, maka sesungguhnya menjadi makhluk yang 
menjadi summum bukmum dan umyuun karena hati yang telah buta dan akal 
pikiran yang telah keruh telah menjadi pembatas atau dinding-dinding 
Penjara Ghairullah (Selain Allah). 


Dengan berserah diri, maka orang-orang beriman atau al-Mu'minun 
adalah mereka yang disebutkan sebagai orang berbahagia dengan sebutan 
sebagai al-Mu'min yang dinyatakan oleh firman Tuhan dengan komposisi 
14/15 huruf dalam QS 23:1.


Qaf aflahal mu'minuun

(Sungguh berbahagia oang-orang yang mukmin)


Kebahagiaan ini bukan sekedar kebahagiaan karena dianugerahi nikmat 
materialistik semata (dengan barokah alam yang subur dan mestinya 
bisa makmur di Indonesia), namun nikmat yang lebih haikiki sebagai 
tetapnya ketenangan dan keyakinan dengan iman yang kokoh karena 
menetapnya Cahaya Pengetahuan Tuhan yaitu al-Sakhinah dalam akal dan 
hatinya yang jernih yang diungkapkan dalam QS 48:1-4 dengan suatu 
komposisi huruf yang pasti yaitu susunan 19, 61,19 dan 91 huruf atau 
susunan 19X dengan makna 190 (X=10 sebagai simbolisme kelahiran dan 
kematian Sang Waktu yang DIRASAKAN OLEH MANSUIA YANG HIDUP yang 
asalnya adalah tanda + dengan lingkaran dari huruf Phoenisia yang ke-
22 maknanya adalah seluruh PERADABAN DUNIA adalah Pengetahuan Tuhan 
Yang Esa, X=10 adalah konversi peradaban Mesir Kuno dan Yunani Modern 
yaitu X, tanda atau simbol = dari peradaban Cina yaitu Pengetahuan 
Kebijaksanaan I-Ching, 10 sebagai sintesa Arab-India dengan makna 
lahir sebagai bilangan 2 atau 10 adalah BINER dari 2). Artikulasi 
lengkapnya sebagai firman Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad 
SAW adalah (saya mengutipnya dengan bahasa latin Arab supaya pembaca 
merujuk langsung ke al-Qur'an, kalau tidak demikian kapan Anda mau 
kembali membuka al-Qur'an dengan lebih intim dan langsung [artinya 
kalau Anda punya AQ ambil dan bukalah, kalau belum punya belilah 
segera dan bacalah] menggunakan semua bentuk Asma-asma Allah yang 
muncul sebagai simbol, geometri, bilangan dan huruf?):


Innaa fatahnaa laka fat-ham mubiina (Sesungguhnya Kami telah 
memenangkan engkau dengan kemenangan yang nyata)[19 huruf]

Li yaghfira lakallaahu maa taqaddama min dzambika wa maa ta-akkkhara 
wa yutimma ni'matahuu `alaika wa yahdiya-ka shiraatham mustaqiima. 
(agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang 
serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan menunjukkimu yalan yang 
lurus).[61 huruf]

Wa yanshurakallaahu nashran'aziiza (dan menolongmu dengan pertolongan 
yang perkasa/kuat [yaitu dengan akal pikiran dan hati yang jernih 
dengan cara penyucian jiwa])[19 huruf]

Huwal ladzii anzalas sakiinata fii quluubil mu'miniina li yazdaaduu 
iimaanam ma'a iimaanihim wa lillaahi junuudus samaa-waati wal ardhi 
wa kanallaahu `aliiman hakiimaa (Dialah yang menurunkan ketenangan 
dalm hati orang-orang mukmin supaya bertambah keimanan mereka 
disamping keimanannya (yang telah ada [yaitu pengetahuan agama atau 
tauhid yang sebenarnya telah muncul ribuan tahun yang lalu melalui 
Nabi Adam a.s di Bumi Indonesia [kode 175 atau 17x5 sebagai al-
Mukmin]]. Dan kepunyaan Allah tentara yang ada di langit dan di bumi, 
dan adalah Allahyang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana)[91 huruf]


Jadi, sebagai al-Mukmin dengan format ibadah wajib 17x2x5 atau 34x5 
sehari semalam maka kebahagian itu meliputi makna yang lahir dan yang 
bathin juga atau mencakup apa yang diungkapkan dalam QS 57:3 sebagai 
tauhid hakiki dimana keimanan semakin bertambah dalam hatinya. 
Bertambahnya keimanan itu bukan sekedar ia menjadi kelompok al-
Mukminun namun ia menjadi al-Mukmin yang patuh dengan perintah dan 
larangan Tuhan dengan format ibadah yang wajib sebagai kadar minimal 
yang harus dilaksanakan dengan format 17x5=85 alias jumlah ayat Surat 
al-Mukmin dan mengandung arti 17x5 sebagai Indonesia dan sebagai 
simbolisme Burung Garuda dengan 17 pasang sayap (17x2, 17 rakaat 
shalat dengan ketukan 2) yang memiliki PERISAI DENGAN 5 BUAH BUTIR 
HIKMAH YANG DISEBUT OLEH BAPAK PENDIRI BANGSA INDONESIA SEBAGAI SUATU 
ENTITY KEBANGSAAN MULTI RAS DAN KEBUDAYAAN (BHINNEKA TUNGGAL IKA) 
UNTUK KESATUAN NEGARA DIBAWAH NAUNGAN TAUHID YAITU PANCASILA (ONE 
NATION UNDER ONE GOD, alias Laailaaha Illaa Allaah, 
Muhammadurrasulullah alias HUWA alias 11). Maka sadar kah Umat Islam 
Indonesia kalau Pancasila yang dicelanya adalah hikmah-hikmah Al 
Qur'an. Sungguh sesat dan menyesatkan ketika seseorang yang mengaku 
beragama Islam, Mukmin dan mengaku mengetahui Islam mengecam 
Pancasila sebagai sesuatu yang syirik hanya karena artikulasinya 
bukan dalam Bahasa Arab? Sedemikian dungukah Manusia Indonesia saat 
ini sehingga terkelabui tipu daya dengan simbol-simbol budaya dan 
memberhalakannya? Tidak tahukah arti syirik atau tauhid yang sejati? 
Dimanakah akal pikiran kita wahai manusia Indonesia yang lalai? Sudah 
lepaskah Paku Tauhid Sunan Giri yang mengikat akal pikiran dan hatimu 
wahai Umat Islam Indonesia sehingga menjadi gerombolan Kuntilanak, 
Kolong Wewe, Abu Lahab, Abu Jahal dan gerombolan Yakjuj dan Makjuj 
atau tukang khayal dan angan-angan tanpa akal pikiran dan hati yang 
jernih?


Pengetahuan Tuhan yang dikenal manusia pertama kali dikatakan sebagai 
Asmaa-aa Kullahaa yang dilimpahkan kepada Adam a.s sebagai Bapak 
Manusia. Kini semua pengetahuan itu telah terurai dan menjadi qadar 
yang dapat diterjemahkan dalam bahasa apapun dan mestinya mampu 
menyelaraskan semua gerak hati dan keinginan umat manusia di Planet 
Bumi sebagai keinginan dan gerak Tuhan Yang Maha Esa dengan 
artikulasi penyebutan yang bermacam-macam mulai dari Allah, YHWH, 
Siwa-Budha, Brahman, dan berbagai nama-nama lainnya yang pernah 
diucapkan dan dikenal manusia sebagai ungkapan akal pikiran dan 
hatinya yang jernih. Akal dan hati yang jernih, adalah instrumen 
ketuhanan yang melekat pada manusia sebagai anugerah untuk mampu 
mengikat wewangian Tuhan sebagai Realitas Maya dari Adanya Tuhan itu 
sendiri yang Meliputi Segala Sesuatu. Celupan Ilahiyah atau 
Shibghatallaahi itu kemudian kita citrakan sebagai apa yang kita 
sebut makhluk, wacananya, dan wahana ilmu pengetahuan-Nya untuk 
menyadari adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan wewenang dan perintah-Nya 
sebagai al-Haqq (Realitas Mutlak).


Posisi optimum Indonesia digambarkan sebagai posisi antara 10 derajat 
LU dan LS yang diungkapkan al-Qur'an sebagai QS 10:10 ebagai 
komposisi SATU yang menguraikan 99 Asma-Nya alias KOMPOSISI QAAF 
(Pengetahuan Tuhan), Asma Keseratus sebagai Jantung Hati Allaah, 
citra Ketuhanan yang dilahirkan sebagai REALITAS INDRA MAYA MATRIKS 
10X10 yang menjadi basis semua ilmu pengetahuan manusia di Planet 
Bumi apapun Ras dan Sukunya, kemajuan peradaban atau pun 
kemundurannya selama manusia itu masih menghidup komposisi H2O 
(OKSIGEN) di Planit Bumi maka semua itu adalah maujud nyata dari Asma-
asma-Nya Allah. Disebutkan-Nya dalam QS 10:9 dan Qs 10:10 dengan 
susunan 68 atau 2x34 (dibaca 2x10+34=54 atau 27x2 sebagai ungkapan 
simbolik QS 53:1 dan QS 54 yaitu surat an-Najm dan al-Qamar yang satu 
sama lain menjelaskan tentang arti terbukanya tabir kegelapan karena 
Pengetahuan Tuhan yang dimunculkan berupa dasar-dasar ilmu 
pengetahuan dengan basis simbol, geometri, bilangan dan huruf) dan 62 
huruf atau 2X31 (dibaca 2x10+31=51 yaitu susunan komposisi 34 rakaat 
+ 17 rakaat shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib) huruf yang 
mencitrakan makna terselubung arti lingkaran wujud yang ditopang 
dengan YANG ESA yang dinyatakan dalam keadaan berpasangan atau huruf 
ke-2 BA dari penguraian 31 dijit bilangan AKAR 2 (renungkan makna 
surat Luqman atau QS 31 dengan 34 ayatnya) membangun suatu atau 
lingkaran pi=355/113 dengan artikulasi bahasa Indonesia PAKU BUANA 
alias PAKU TAUHID (Paku Buana dicomot namanya oleh trah bangsawan 
Jawa menjadi Paku Bhuwono sebagai simbol kekuasaan raja Jawa, nama-
nama lain yang muncul di tanah Jawa kemudian mengikuti misalnya Cakra 
Buana, Buana Sari, Berita Buana dll. Dalam legenda Yunani Kuno Raja 
Buana disebut Dewa Atlas).


Innal Ladziina aamanuu wa `amilush shaalihati yahdiihim rabbuhum bi 
iimaaniihim tajri min tahtihimul anhaaru fii jannaatin na'iim. 
(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal 
saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, 
di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh 
kenikmatan.)

Da'waahum fiiha subhaanakalaahumma wa tahiyyaatuhum fiihaa salaamuw 
wa aakhiru da'waahum anilhamdu lillaahi rabbil `aalamin (Doa mereka 
di dalamnya , "Maha Suci Egkau Ya Allah", dan ucapan 
salamnya ,"Sejahtera", dan akhir doa mereka , "Segala Puji Bagi 
Allah, Tuhan Semesta Alam [Alam sebagai `Aalamin adalah apa yang 
terpikirkan dan dimaknai oleh setiap mansuia dengan Pengetahuan Tuhan 
atau dengan simbol, geometri, bilangan dan huruf]")


Kesejahteraan dan puja dan puji memang akhirnya hanya patut 
dipersembahkan kepada Allah, Al-Rahmaan, Al-Rahiim, Allah, Rabbul 
Aalamin yang sering kita nyatakan sebagai 19 huruf Basmalah dan 
Hamdallah. Suatu ungkapan gnosis dan suatu himne tentang Kemahagungan 
dan Kemahaindahan Tuhan yang mestinya menjadi nafas kehidupan semua 
penghuni Planet Bumi dengan Jantung Hati Indonesia yang permai ini. 
Namun, apa daya semua itu nampaknya mulai tercerai berai karena 
Lemahnya Jiwa Manusia Indonesia yang lalai dan tidak tahu ASAL USUL 
DIRINYA YANG MENYERETNYA KEPADA KETIDAKTAHUAN TENTANG ALLAH, SEBAGAI 
TUHAN YANG MAHA ESA yang menjadi penaung sejatinya dengan simbolisme 
ideologis yang tertera dengan jelas dalam setiap butir PANCASILA 
sebagai butir-butir hikmah atau MUTU MANIKAM AL-HIKAM DARI AL-QUR'AN, 
bahkan sejatinya mutu manikan Pengetahuan Tuhan yang tertera di semua 
kitab kaum beragama yang benar, lurus, dan sadar bahwa Tuhannya 
adalah Tuhan Yang Maha Esa yang pernah disaksikan di alam penyaksian 
dengan ungkapan reflektif saling behadapan atau posisi 11 atau | | 
atau saling bercermin "BUKANKAH AKU TUHANMU?"(QS 7:172).


Laa ilaaha ilaa HUWA

Ketahuilah, Ibu Pertiwi (Mother Earth is a Mother Heart atau Ibu Bumi 
adalah Hati Ibunda yang menghembuskan nafas kehidupan dengan rahmat 
dan kasih sayang, maupun ampunan dan hukuman, jadi bayangkan kalau 
kaum wanita menjadi rusak maka rusaklah suatu kaum) yang disebut 
Indonesia, berdiri sebagai pusat Planet Bumi atau Planet Earth 
sesungguhnya berkaitan erat dengan Sangkan Paraning Dumadi sebagai 
tempat dimana asal mula kehidupan Planet Bumi berasal. Ibu Pertiwi 
kita yang sekarang disebut Indonesia adalah tanah air semua manusia 
yang sekarang tersebar di seluruh permukaan bumi menjadi berbagai 
bangsa. Ia dulu telah dikenal, jauh sebelum gerombolan penyamun 
datang ke Indonesia dan merampok isi buminya habis-habisan, oleh 
orang-orang yang ada di India, Mesir , Phoenicia, sampai Yunani dalam 
kenangan primordial sebagai titik tolak, asal usul, peradaban manusia 
yang dimetaforakan sebagai Atlantis, Eden dari Adam dan Hawa, dan 
kisah-kiah serupa dengan nama-nama yang berbeda yang dikenal di 
peradaban-peradaban Kuno yang telah hilang, dari ujung Timur dan 
Barat, Utara dan Selatan. Ultima Thule, Iafones, Tapobrane, 
JavaDvipa, alias Indonesia yang oleh seorang profesor Fisika Nuklir 
asal Brazil disebut sebagai wilayah Atlantis, wilayah benua yang 
hilang ketika masa akhir zaman es berakhir sekitar 11600 tahun yang 
lalu dan limpahan gelombang tsunami, gempa bumi, dan letusan gunung 
berapi menenggelamkannya dalam hitungan satu malam menjadi lautan 
yang sekarang disebut sebagai laut Jawa dan Laut Cina Selatan, 
terbenam dengan kedalaman 100-150 meter di bawah laut. 


Kepulauan Indonesia adalah Atlantis? Pasti Anda bengong dan mengira 
saya gila, demikian juga saya J. Tapi, coba kunjungi 
http://www.atlan.org dan ulasan menarik tentang kesejarahan Indonesia 
di http://www.arkeologi.net .


Bab 1 dari Risalah ATMND :"Sangkan Paraning Dumadi: Mengintip Fajar 
Sejarah Manusia Indonesia dan Tuhan Yang Maha Esa" (Mudah-mudahan 
naskah lengkapnya bisa di donlot }








Untuk membatalkan keanggotaan dari group ini, silahkan kirim e-mail ke:
[EMAIL PROTECTED]

 
Yahoo! Groups Links



 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke