Sampurasun dulur... taaahhh...geuning resep akang mah...geuning seu'eur keneh anu ngagedur semangatna hoyong nanjeurkeun deui Dangiang Sunda teh... hayu atuh urang rorojongan tanjeurkeun deui....
--- In [email protected], agus rohaendi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sampurasun, > optimis weh, da Gusti maha uninga. > saurna US bade aya kejutan di taun 2009... > hm,.... sok atuh urang silih tukeran info. > fokus,...fokus,... > cag. > =ku jang roche= > > SASTRANEGARA THARYANA <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Sampurasun baraya, > > Ngelehen sanes hartos "eleh" ari dina teknik peperangan ngatur strategy. > US ti mimiti tukang beca, tukang bubur nepi ka kaum-kaum dalem, birokrat tos ngahiji > ayeunamah. Jumlah 40 juta US lain sa eutik da urang wetan sieuneun ku cara "ngelehan US". Sok ah urang ngabenkeun jatina, sarina, rasana US. > > cag > Kang Yan > www.silatpdusa.com > > ----- Original Message ---- > From: mj <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Cc: [email protected] > Sent: Wednesday, September 20, 2006 11:18:57 AM > Subject: [kisunda] fwd: neangan sunda > > kenging ngorowot ti milis alumni sman I ciamis. duka saha nu nyeratna. > - > > MENCARI KHARAKTER SUNDA YANG HILANG > : untuk seorang teman yang merindu progresivitas > > ORANG Sunda, umumnya, dikenal sebagai bangsa yang toleran dan > cenderung tidak menyukai konflik (baca: pengalah). Dalam menghadapi > sebuah perbedaan (konfrontasi) , alih-alih melakukan ngotot- ngototan, > mereka lebih senang mencari jalan tengah, atau mengalah, sambil > berusaha menikmati konsekwensi kemengalahan tersebut, dan sering > dengan segala pembenaran terhadap keputusannya tersebut. Dus, bangsa > yang "manis, baik hati dan tidak sombong", selain pandai menghibur > diri. > > Inilah juga yang konon menyebabkan tidak banyaknya muncul pahlawan > nasional dari orang Sunda dulu (dibandingkan dengan orang Jawa > misalnya). Karena orang Sunda memang tidak menyukai konflik. Para > pemimpin Sunda jaman kolonial, umumnya memilih ber-"baik-baik saja" > dengan penjajah, dibanding harus berkonfrontasi. Alasannya: melawan > dengan kekuatan senjata, selain sulit menang, juga pada akhirnya > malah akan lebih menyengsarakan rakyat sendiri, karena akan timbul > banyak korban. oleh karena itu sikap kooperatif (mengalah dan patuh) > dirasa lebih baik, sambil berupaya agar tidak terlalu menyengsarakan > rakyat. Konon, pemerintah kolonial dulu memang relatif lebih > menyukai bupati-bupati Sunda, dari pada daerah lain, karena mereka > pandai memuaskan keinginan pemerintah kolonial. Mereka pun digaji > dengan nominal yang jauh lebih tinggi dibanding bupati-bupati daerah > lain. Istimewanya adalah, bupati-bupati Sunda umumnya juga dapat > melindungi rakyatnya dari kesengsaraan yang lebih, meskipun di waktu > yang sama harus melayani sang penjajah. Hal ini menunjukkan bahwa > para pemimpin Sunda memang pandai dalam menjalankan posisi nengah > seperti itu, tanpa harus berpusing-pusing berkonflik. Pilihan yang > rasional sebenarnya, meskipun kadang ditafsirkan sebagai pengecut > dan kurang peduli dengan kebebasan dan harga diri. > > Kini pun demikian. Masyarakat Sunda jarang terdengar berkonflik. Di > tempat asalnya, wilayah Pasundan, masyarakat Sunda dikenal sebagai > masyarakat yang ramah dan sopan terhadap pendatang, meskipun > kemudian pada akhirnya sang tamu ternyata lebih berhasil > memanfaatkan sumber daya dari wilayah tersebut dibanding sang > pribumi. Tidak pernah terjaaadi kecemburuan yang kemudian > menimbulkan konflik tajam. Juga di perantauan. Jarang terdengar > konflik sosial yang melibatkan orang Sunda. Pada umumnya mereka > diterima dengan baik, karena selain tidak pernah berlaku aneh-aneh, > mereka juga dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan budaya > setempat. > > Hal ini, di satu sisi, tentunya positif saja, terutama dipandang > dari kepentingan pemeliharaan stabilitas nasional. Provinsi Jawa > Barat, sebagai tempatnya orang Sunda, relatif selalu aman dan nyaris > tanpa gejolak. Bila pun ada, itu disebabkan hal-hal yang memang > sangat sensitif, seperti isu agama, yang terjadi di Tasikmalaya > beberapa waktu yang silam. Tetapi di sisi lain, apabila kita telaah > lebih jauh, hal ini juga ternyata mengimplikasikan sesuatu yang > sangat menghawatirkan dan memprihatinkan, terutama berhubungan > dengan eksistensi mereka sebagai sebuah (suku) bangsa. Sering, > karena saking toleran dan tidak mau ada konflik -nya, - atau juga > cenderung karena minder (?), keadaan menjadi terbalik-balik. Dalam > hubungan bertetangga misalnya, ketika berkomunikasi dengan tetangga > yang bukan sunda, apalagi bila tetangga tersebut memiliki tingkatan > sosial yang tinggi, orang Sunda akan cenderung menyesuaikan diri > dengan gaya dan bahasa mereka, dan bukan memunculkan kharakter > sendiri. Jadi, alih-alih tetangga, yang nota bene pendatanglah, yang > menyesuaikan diri, malahan sang pribumi yang berubah terlebih > dahulu. Begitu seterusnya. > > Walhasil, jadinya pabaliut. Akhirnya tidak jelas mana yang pribumi > mana yang tamu. Apalagi ketika pendatang tersebut semakin membanyak, > seperti yang terjadi di kota-kota besar. Orang Sunda, sebagai > pribumi, kian terdesak, di segala bidang, baik politik, ekonomi > maupun budaya. Jati kasilih ku Junti. Di bidang politik, posisi > orang Sunda sebagai "penguasa" di daaerah sendiri makin terancam. > Pengalaman komposisi Sunda non Sunda di DPRD Jawa Barat periode lalu > yang berbanding terbalik seperti sering diributkan orang, > membuktikannya. Di bidang ekonomi apalagi. Sejak lama, orang sunda > terpinggirkan oleh ekspansi para pendatang, yang ternyata memiliki > kemampuan dan daya juang yang lebih tinggi. > > Yang menyedihkan juga adalah kekalahan di bidang budaya. Orang- orang > Sunda perlahan namun pasti semakin tercerabut dari akar budayanya. > Banyak dari mereka yang bahkan telah menanggalkan identitas > kesundaannya, karena diangap tidak lagi relevan dengan perkembangan > zaman. Dengan begitu, mereka sebenarnya telah memutus rantai > identitas yang diwariskan leluhurnya, yang selama berabad-abad telah > membuatnya berbeda dari bangsa lain. Dan ini sungguh > mnemperihatinkan. > > Separah itukah yang terjadi? Barangkali terlalu didramatisir. Namun > sulit dipungkiri bahwa kharakter sunda yang "terlalu toleran" > dan "cenderung pengalah" tersebut memang telah memberi andil yang > besar terhadap inferioritas dan inferiorisme orang sunda seperti > yang terjadi saat ini. > > Saya jadi teringat sebuah "teori" dari seorang teman yang menyatakan > bahwa sebenarnya ada kharakter lain yang pernah menonjol dan dominan > pada diri orang-orang Sunda. Yaitu kharakter yang kuat, tegas dan > berani dalam membela hak dan harga diri. Paling tidak, hal itu > tercermin dari persitiwa sejarah Pasunda Bubat. Ketika saang Prabu > Maharaja Linggabuwanawisesa, beserta pengiringnya, memutuskan untuk > melawan dengan gagah berani, dan mati dengan terhormat di medan > perang Bubat, ketimbang harus mengaku tunduk kepada kekuasaan dan > ambisi sang Gajah Mada. Tentunya kharakter Sunda yang kuat inilah > juga yang telah memungkinkan Kerajaan Sunda waktu itu mampu > bertahan, dan mejadi satu-satunya wilayah di Nusantara yang tidak > dapat dijamah oleh bala tentara Majapahit yang terkenal dahsyat. > Yang membuat Gajah Mada, sang Mahapatih Majapahit yang perkasa, > menjadi frustasi, sehingga merasa perlu menjalankan siasat licik > untuk menggenapkan sumpahnya menguasai seluruh nusantara itu. > Kharakter kuat inilah yang pastinya kemudian membawa Kerajaan Sunda > (Pajajaran) setelah peristiwa itu, mencapai puncak keemasan, sampai > perempat pertama abad XVI. > > Lalu kemana kharakter itu kini? mengapa seakan hilang tak berbekas? > Telah berubahkah orang Sunda? > > Teman saya tadi mengatakan bahwa huru-hara menjelang runtuhnya > kerajaan Pajajaran di tiga perempat akhir abad XVI-lah yang menjadi > pangkal penyebabnya. Perang, telah meghabiskan mereka yang memiliki > karakter kuat, baik karena gugur di medan perang, maupun yang > kemudian mengasingkan diri karena tidak sudi hidup terjajah. Dan > menyisakan hanya mereka yang berkharakter lemah, yang tunduk dan > bersedia hidup di bawah kangkangan bangsa lain. Kharakter itulah > yang kemudian kita warisi, dan terpelihara sampai kini. Kharakter > yang kalah dan terjajah. > > Pertanyaannya adalah: akankah kita terus menjadi yang kalah dan > terjajah? > > mj > > http://geocities. com/mangjamal > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > --------------------------------- > Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1ยข/min. > > [Non-text portions of this message have been removed] > PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
