Sampurasun, Kang Iwa Cyber...

aduh mani asa mobok manggih gorowong, numawi kang iwa simkuring nuju diajar 
perkawis Open Source, margi boga pancen gawe miara Server, OSna +Softwarena anu 
Open Source.

Kukituna disuhunkeun galihna Kang Iwa Cyber+anu sanesna dina milisi sunda ieu 
ngabantos informasi pelatihan Open Source atanapi anu sangkut paut sareng SDM 
bidang pengoperasioan Open Source ka simkuring.

hapunten kumawantu,
haturnuhun sateuacanna
baktos
Agus wirbaudiman


  ----- Original Message ----- 
  From: iwa cyber 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, October 18, 2006 7:58 PM
  Subject: [Urang Sunda] Bhra Eka Gunapriya, Presdir Sun Microsystems, <= urang 
Sunda yeuh!



  Kanca kanca kanca,....tacan patos lami simkuring mosting inohong Sunda di 
widang IT, nyaeta Teh Merry Harun, alias "Ibu Canon"... tah ayeuna ku abdi 
dicemplungkeun deui ka Kusnet ieu,..hiji deui inohong Sunda widang TI nu 
kalintang ageung peranna dina pengembangan open source software di Indonesia... 
jenenganna...Pa' Bhra Eka Gunapriya, Presdir Sun Microsystems Indonesia... 

  Kawitna mah manawi teh sanes urang Sunda diilik tina namina mah, he... mangga 
diaos....khususnya ka para kanca nu aya di Kusnet ieu, nu neuleman dunya IT...

  Atuh simkuring saparakanca, sakulawargi neda dihapunten dina samudaya 
kalepatan,..lahir tumikaning bathin,...Minal Aidin Wal Faidzin,...Wilujeng 
Boboran Siyam 1427,.. bray ah,...

  kembang tineutik sinebaran sari, tutup lawang sigotaka....



  Iwa Ahmad Sugriwa, 
Kujang Putra AnomBhra Eka Gunapriya, Presiden Direktur PT Sun Microsystems 
Indonesia.

  Open Source di Enterprise Sudah Berimbang


  Sejauh mana sektor enterprise kita memakai open source software (OSS) ?
  Dari sisi server, sudah banyak enterprise yang memakai OSS, seperti untuk 
internet facing: web-server, email, proxy, dan sebagainya. Begitu juga untuk 
core aplikasi, seperti untuk database, print, serta file server dan sebagainya. 
Hal ini disebabkan karena di sisi server atau back-end, OSS sudah mature dan 
sangat secure, reliable dan scalable. 

  OSS yang dipakai di server ini juga tidak berhadapan langsung dengan 
end-user, sehingga tidak ada masalah cultural atau kebiasaan yang harus 
dihadapi. Sementara ini, yang baru mulai berkembang adalah pemakaian OSS di 
sisi client atau desktop.

  Apa saja kendala penerapannya di enterprise?
  Secara teknis sebenarnya di enterprise berimbang antara OSS dengan 
proprietary. Artinya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Karena 
proprietary ini sudah incumbent, maka ada masalah migrasi untuk beralih ke OSS. 
Kendala terbesarnya lebih di sisi cultural atau kebiasaan user. Kalau masalah 
teknis bisa dikerjakan oleh ahlinya asalkan mendapatkan vendor yang tepat.

  Apa pula komentar Anda tentang penggunaan OSS? Bagaimana menurut Anda setelah 
memakai OSS?
  Kalau memakai hukum pareto, maka OSS sangat memadai untuk dipakai oleh 80% 
user yang biasanya hanya memakai 20% functionality yang ada. Tantangan terbesar 
sekali lagi adalah merubah kebiasaan user. Masa transisi untuk setiap user 
berkisar dua minggu sampai sebulan. Kalau perusahaan bisa melewati masa ini, 
maka manfaatnya akan makin terasa. Contohnya dari sisi virus dan reliability. 
Artinya, sekali OSS-nya sudah terpasang dan jalan dengan baik, maka akan jalan 
terus, tidak seperti di proprietary yang seringkali harus di-patch ataupun 
install ulang.

  Sejauh ini bagaimana sosialisasi OSS untuk enterprise di negara kita?
  Masih kurang, disebabkan beberapa hal, antara lain, kesadaran hak cipta masih 
kurang, jadi push-factor yang mendorong pemakaian OSS masih lemah. Kedua, 
infrastruktur internet yang merupakan media utama penyebaran OSS di Indonesia 
juga masih lemah. Ketiga, tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap OSS. 
Pemerintah tidak perlu memusuhi proprietary. Tetapi jelas OSS ini yang harus 
dikembangkan karena keuntungannya bagi negara sangat signifikan, seperti 
devisa-out yang bisa dikurangi. Sebab selain biaya pembelian OSS lebih murah 
bahkan gratis. Sisa biaya adalah untuk migrasi dan support, yang notabene bisa 
mengurangi pengangguran dan duitnya tetap di Indonesia.

  Pemerintah kita juga masih gamang dengan selalu mengatakan bahwa pemerintah 
bersifat netral. Di negara lain, seperti Malaysia tegas disebutkan di 
undang-undang mereka bahwa negara akan mendahulukan pemakaian OSS dibandingkan 
proprietari. Banyak negara termasuk negara maju juga sudah mengadopsi ODF (Open 
Document Format), sehingga semua dokumen negara dan eGovernment harus 
menggunakan format tersebut. Di negara kita tampaknya pemerintah belum 
menyadari implikasi dari penyimpanan dokumen negara tersebut dalam format 
proprietari.

  Pengalaman penerapan OSS untuk enterprise negara lain yang bisa diambil 
contoh?
  Bicara TI tidak bisa dipisahkan ke enterprise saja. Ada ekosistem yang 
memengaruhinya, seperti vendor, developer, support, bisnis, regulasi dan 
lainnya. Keberpihakan negara terhadap OSS, penegakan hak-cipta dan kualitas 
internet yang bagus dan murah akan mendorong adopsi OSS.

  Brazil, India, China, Malaysia bisa kita contoh dalam hal ini. Misalnya 
dengan mengadopsi ODF, artinya form dan dokumen di eGovernment harus di-submit 
dalam form tersebut, sehingga enterprise akan mempertimbangkan penggunaan OSS. 
Di Indonesia, misalnya form pajak yang disediakan di website pajak adalah dalam 
format proprietari, sehingga perusahaan tidak punya alternatif selain 
menggunakan software proprietari tersebut. Pilihannya adalah beli atau bajak.

  Aplikasi OSS apa saja yang dibutuhkan enterprise Indonesia saat ini? 
  Hampir semua aplikasi di OSS sudah ada. Dari yang bersifat infrastruktur, 
seperti Operating System, application server, web, email, portal, directory, 
proxy, database dan sebagainya. Programming language seperti Java, PHP, dan 
lain sebagainya.  Aplikasi seperti CRM, ERP dan lain-lain. Untuk desktop ada 
browser, mail-client, Office-suite, multi-media,  graphics dan sebagainya.

  Untuk Indonesia selain dilihat dari sisi fungsionalitas atau kegunaan, 
masalah infrastruktur perlu dipertimbangkan. Contohnya untuk Net Meeting butuh 
bandwidth, yang di Indonesia harga masih tinggi, sedangkan kualitas masih 
rendah.

  Bagaimana OSS berperan mengikis digital gap?
  Yang pertama OSS bisa gratis. Bayangkan kalau mau beli proprietari, harga 
software lebih mahal daripada hardware-nya. Kedua, OSS, karena source-code-nya 
tersedia, memungkinkan orang untuk belajar menciptakan software, dibandingkan 
kalau memakai proprietari berarti belajar memakai. Dengan demikian negara kita 
sebenarnya punya kesempatan yang sama dengan negara maju untuk menghasilkan 
software.

  Bagaimana soal sertifikasinya bagi enterprise?
  Sertifikasi berguna untuk menyamakan persepsi mengenai "Ahli" antara 
enterprise dengan profesional. Ini sangat penting mengingat di Indonesia 
pengangguran berpendidikan sangat tinggi, sedangkan di sisi lain enterprise 
kesulitan untuk mencari tenaga ahli. Adanya sertifikasi ini akan menguntungkan 
kedua belah pihak.

  Deklarasi IGOS belum tampak hasil nyatanya untuk OSS, bagaimana ini?
  Keberpihakan pemerintah yang lebih tegas untuk OSS masih diharapkan. Jadi 
selain deklarasi dan beberapa sosialisasi yang dilakukan, tindakan nyata yang 
signifikan belum ada. Kerjasama antara deklarator juga tidak terlihat. Ini 
terlihat dari tidak adanya blue print, roadmap, anggaran dan peraturan yang 
dikeluarkan untuk mendukung OSS ini. 

  Untuk blue print dan roadmap, Sun bisa membantu, dikarenakan visi dan 
pengalaman kami. Tapi untuk penerapannya yang bisa tercermin dari anggaran dan 
peraturan, balik lagi ke pemerintah. Di sisi lain perlu dilihat bahwa butuh 
waktu bagi OSS untuk berkembang. Di negara lain, inisiatif OSS adalah program 
jangka panjang dan terintegrasi, 5 - 20 tahun.

  Kenyataannya masyarakat sendiri masih sulit menemukan OSS yang dikembangkan?
  Benar, jadi selain masalah internet tadi, sosialisasi juga diperlukan. 
Makanya OSS bukan pekerjaan oleh satu departemen saja, tapi seharusnya langsung 
di bawah presiden. OSS menyangkut hukum-politik-keamanan, ekonomi dan 
kesejahteraan rakyat.

  Soal kelemahan, belum semua aplikasi bisa dijalankan dengan OSS, bagaimana?
  Menerapkan OSS bukan berarti membuang proprietari. Realistis dan bertahap 
saja. Seperti contoh di atas, kalau 80% user bisa dipindahkan ke OSS, 
saving-nya sudah luar biasa. Saat ini OSS dan proprietari juga bisa jalan 
bareng dengan teknologi seperti virtualisasi. Dari Sun punya OpenOffice dan 
StarOffice yang bisa jalan juga di Windows. Kita juga punya Sun Secure Global 
Desktop yang memungkinkan aplikasi apa pun bisa diakses dari browser.
 Hatur nuhun pisan, Pak Bhraâ?¦Sami-sami Kang Iwa, mugi tiasa kaanggo...
 



------------------------------------------------------------------------------
  Do you Yahoo!?
  Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

   


[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke