Ti milist sanes, punten henteu ditarjamahkeun kana basa Sunda.
Salah sahiji seratan ngeunaan hubungan basa jeung pipikiran, oge pangaruh &
lolongkrang basa indung (bahasa ibu) kana/keur mekarkeun pola pikir. Seratan
utamana ti salah saurang panganggit carita, Kang Seno Gumira Ajidarma (anu
tetela anjeunna ti pihak indung aya getih/katurunan Sunda). Urang tiasa
ngeunteung tina pangalaman anjeunna ngeunaan migunakeun basa indung jeung
basa Indonesia. Wilujeng ngalenyepan.
manAR
---------- Forwarded message ----------
From: Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Oct 31, 2006 2:26 AM
Subject: [wanita-muslimah] "Saya dan Bahasa" oleh Seno Gumira Ajidarma
To: sastra pembebasan <[EMAIL PROTECTED]>, Iba
[EMAIL PROTECTED]
Catatan Laluta:
Pada tanggal 28 Oktober, 2006, 8:30-18:30, di Palais du Luxembourg, 15 rue
de Vaugirard, 75006 Paris, telah diadakan acara ceramah, meja bundar, film
dan interviews, dengan tema berjudul "Pengarang yang lepas dari negerinya:
Pengarang dengan kultur ganda"
Acara tersebut Didukung oleh :
Philippe Adnot, sénator ; Ambassade de France ; Ambassade d'Indonésie ;
Ambassade des Pays-Bas ; Centre National du Livre ; DRAC-Ile de France ;
Institut Néerlandais ; NLPVF*; Société des Gens de Lettres (Masyarakat para
Pecinta Sastra); Maison des Cultures du Monde (Graha Budaya Dunia) et
Willem (karikaturis)
Pada acara Ceramah Claude Hagège, linguiste, Collège de France membahas
Mitos dan Realitas bahasa ibu di Indonesia.
Bahasa Indonesia ada bahasa yang sejarahya telah dimulai pada awal abad ke
VII, pada tahun 1928 diputuskan bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional,
hal mana dipertegas pada tahun 1945.
Setelah kemerdekaan pada tahun 1945, bahasa Indonesia bisa dipandang sebagai
bahasa kedua bagi kebanyakan orang Indonesia. Dan sesungguhnyalah, orang
Indonesia pertama-tama dilahirkan sebagai orang Jawa, orang Sumatra, orang
Bali dll, anak-anak di keluarga pertama-tama belajar bahasa daerah, baru
kemudian belajar bahasa Indonesia di sekolah. Dari pandangan ini, Indonesia
merupakan satu kasus tersendiri dari problematika universil.
Dan, pada acara meja bundar Seno Gumira Ajidarma, pengarang Indonesia yang
dikenal sejak pertengahan tahun 70an. Seno Gumira Ajidarma lahir tahun 19
Juni 1958 di Boston - USA.
Sub-tema pada acara Meja Bundar mengenai "Bahasa natural/bahasa yang
diperoleh dari belajar; perjalanan ke berbagai tempat Kendala dan kebebasan,
keserasian atau perusakan? ". Dibawah ini adalah salah satu lampiran Catatan
untuk diskusi. yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma berjudul "Saya dan
Bahasa", .
Salam,
MiRa
***
Saya dan Bahasa
Oleh SENO GUMIRA AJIDARMA
Saya dilahirkan di Amerika Serikat, dan untuk sementara ini berarti sejak
mulai belajar bicara saya menggunakan bahasa Inggris, baik dengan orangtua
saya maupun teman-teman sepermainan saya. Usia lima tahun, melewati Inggris,
Prancis, dan Italia mereka membawa saya kembali ke Indonesia, untuk kemudian
tinggal di Yogyakarta, dan sejak saat itu sedikit demi sedikit terhapuslah
perbincangan bahasa Inggris dari mulut saya, untuk berganti dengan bahasa
Jawa. Demikianlah mula-mula saya berbahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan
teman-teman sepermainan, dan setelah itu berbahasa Jawa pula dengan orangtua
saya.
Untuk diketahui, bahasa Jawa adalah bahasa yang bertingkat-tingkat sesuai
dengan kedudukan orang yang mengajak atau kita ajak bicara. Dengan kata lain
bahasa masyarakat feodal. Kosa kata yang digunakan untuk berbicara dengan
orang yang lebih tua lain dengan yang digunakan untuk berbicara dengan orang
yang seusia misalnya, tetapi kelompok umur ini hanya menentukan sejauh kita
wajib menghormatinya atau tidak, karena kepada orang yang meski lebih tua
tetapi kelas sosialnya terandaikan di bawah kita, mengajaknya berbicara
dengan bahasa untuk orang lebih terhormat akan membuatnya salah tingkah.
Akibatnya, saya sering menjumpai, jika ada majikan kebetulan menikahi
pembantu rumah tangganya, maka mantan pembantu rumah tangga ini akan tetap
berbahasa seperti kepada majikan terhadap anak maupun cucunya sendiri.
Namun kerumitan "politik bahasa" dalam bahasa Jawa sebenarnya jauh lebih
pelik, karena di antara peringkat kelas sosial maupun usia masih terdapat
"peringkat antara" yang menambah kerumitan. Tidak cukup "lebih rendah",
"sederajat", dan "lebih terhormat", terdapat pula "peringkat antara" seperti
"lebih rendah tapi sebaiknya dihormati", "seusia tetapi tidak sederajat",
atau juga "lebih tua tetapi tidak perlu ditinggikan" dan lain sebagainya.
Belum lagi jika kita mesti "membahasakan orang lain" dalam berbagai
peringkat ini. Secara umum bahasa Jawa terbagi kepada dua peringkat, yakni
krama (halus) dan ngoko (kasar); bahasa krama masih dibagi lagi antara krama
dan krama inggil (halus dan tinggi). Artinya kalau saya berbahasa krama
kepada seseorang yang tidak saya kenal, maka kepada kakek saya dari pihak
bapak mau tidak mau saya harus berbahasa krama inggil, jika tidak itu
berarti saya menganggap kakek saya lebih rendah dari seorang asing.
Meskipun kepada kedua orangtua saya terizinkan berbahasa Jawa ngoko dalam
kedudukan setara, di luar rumah saya tidak mungkin berbahasa ngoko kepada
orangtua teman-teman saya. Demikianlah sistem nilai dalam bahasa Jawa ini
terkukuhkan ketika saya memasuki sekolah dasar pada usia enam tahun, setelah
sebelumnya setahun digaulkan di taman kanak-kanak. Dalam dua tahun pertama,
seluruh mata pelajaran disampaikan dalam bahasa Jawadan baru pada tahun
ketiga, artinya menginjak usia delapan tahun, bahasa pengantarnya sekarang
berbahasa Indonesia . Harus saya katakan betapa saya merasa mendapat
pembebasan dalam bahasa Indonesia , karena dalam bahasa Indonesia tidak
terdapat peringkat seperti dalam bahasa Jawa. Rupa-rupanya kedudukan sosial
saya sebagai "anak kecil" dalam sistem sosial Jawa telah membuat saya susah
payah berbahasa kepada berbagai macam pihak, kecuali terhadap teman-teman
sepermainan tentunya.
Maka inilah komposisi pengetahuan bahasa saya sampai usia delapan. Saya
berbicara dengan teman-teman menggunakan bahasa Jawa, berbicara dengan guru
dan membaca dalam bahasa Indonesia, tetapi meskipun berkomunikasi di rumah
menggunakan bahasa Jawa, saya selalu mendengarkan orangtua saya berbicara
dengan bahasa Belanda. Sejak kecil orangtua saya masing-masing dalam
keluarganya memang berbahasa Belanda, dan memang itulah yang saya dengar
dalam berbagai kunjungan keluarga yang saya alami. Hanya karena Jepang
menduduki Indonesia dalam Perang Dunia II dan melarang siapapun berbahasa
Belanda, mereka mau tidak mau berbahasa Indonesia yang kelak bagi saya
selalu terdengar agak aneh. Telah saya sebutkan bahwa terhadap kakek dari
pihak bapak saya berbahasa krama inggil. Memang akar budaya keluarga ayah
saya adalah Jawa, dan dalam rangka mengakui ke-jawa-annya, kakek saya yang
mendapat gelar doktor dalam bidang kedokteran di Belanda telah menulis
buku-buku tentang falsafah wayang
kulit Jawa dalam bahasa Indonesia . Ini menjelaskan bagaimana bahasa menjadi
bagian dari kehidupan sosial dalam keluarga saya.
Sementara itu, akar budaya keluarga ibu saya adalah Sunda. Kakek dari
pihak ibu adalah juga seorang dokter, bahkan satu kelas dengan kakek dari
pihak ayah, meski tidak meneruskan sampai tingkat doktor. Dari keluarga
besar pihak ibu saya, selain selalu mendengarkan orang berbahasa Belanda,
saya juga selalu mendengar berbagai celetukan bahasa Sunda. Dengan begitu
boleh dikatakan saya berbahasa Jawa dan Indonesia, tetapi mengerti
percakapan dalam bahasa Belanda dan Sunda. Bahasa Indonesia kemudian sangat
saya akrabi, karena buku-buku bacaan yang nyaris semuanya berbahasa
Indonesia. Meski begitu, justru pada umur delapan ini pula kami mendapat
pelajaran untuk membaca dan menulis dalam huruf Jawa. Memang, pelajaran ini
tidak sulit, tetapi karena huruf Jawa sudah sangat terdesak oleh huruf
Latin, saya sekarang ini hanya mengetahui bunyinya saja, yang kelak masih
akan berguna untuk kepentingan lain.
Masih di sekolah dasar, mungkin umur sepuluh, kami diperkenalkan dengan
huruf Arab, sehingga kami diharapkan bisa membaca ayat Al-Qur'an, tetapi
tidak berarti kami mendapat pelajaran bahasa Arab. Dalam latihan menulis
dengan huruf Arab, kami tetap menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu,
dalam hal saya, pengetahuan saya dengan huruf Arab sampai hari ini hanyalah
pengetahuan seorang anak sekolah dasar.
Perkembangan selanjutnya adalah pelajaran bahasa Inggris yang saya
dapatkan di sekolah menengah pertama. Bahasa yang satu ini, boleh dibilang
terpelihara dengan banyak cara: oleh lagu-lagu pop, film, dan bacaanbahkan
sampai sekarang. Saya takbisa katakan saya fasih berbicara bahasa Inggris,
tetapi buku-buku yang disebut sebagai berat, rasanya bisa saya pahami dan
dengan a la kadarnya saya bisa berdiskusi di berbagai forum internasional
dalam bahasa ini. Tentu saja di sekolah menengah atas kami juga mendapat
pelajaran bahasa Jerman, tetapi seperti juga terjadi dengan sebagian besar
murid lain, jejaknya sudah tidak berbekas lagi.
Sekarang, saya berbahasa Indonesia kepada anak saya, tetapi kepada ibunya
saya berbahasa Jawa. Jadi anak mendengar orangtuanya berbahasa Jawa, tetapi
berkomunikasi dengan orangtuanya itu dengan bahasa Indonesia.
Demikianlah secara ringkas riwayat kebahasaan saya.
***
Dalam sebuah diskusi di University of Washington di Seattle, Amerika
Serikat pada 1999, untuk pertama kalinya saya mendapat pertanyaan, "Dalam
bahasa apakah Anda berpikir?" Seingat saya, saya menjawab pertanyaan itu
dengan, "Bahasa Jawa." Namun sebetulnya saya masih bertanya- tanya, apakah
kita berpikir dengan suatu bahasa? Ternyata masalah semacam itu nyaris tidak
pernah saya pikirkan. Berbahasakah kita ketika berpikir? Ketika pikiran itu
diutarakan, memang kita menyampaikannya melalui bahasa, tetapi ketika masih
berkelebat dan bergulat di dalam kepala, dengan sangat cepat ataupun
melintas sepintas dari saat ke saat, apakah berlangsung dalam susunan
kebahasaan tertentu? Dalam berbahasa, pikiran sudah berlangsung runtut;
dalam pikiran yang belum runtut, apakah sudah terdapat suatu bahasa?
Ketika saya menjawab bahwa saya berpikir dengan bahasa Jawa, barangkali
saya pikir bahasa Jawa adalah semacam "bahasa ibu" bagi saya, tempat ketika
saya berbahasa Indonesia pun niscaya dengan aksen Jawa; tetapi saya kira ini
tidak bisa berlangsung dengan "segala pikiran". Dengan bahasa Jawa misalnya,
saya memang bisa berpikir, tetapi tidak "memikirkan pikiran-pikiran". Jika
saya berpikir, "Saya mau pergi ke mana?" memang sangat mungkin saya pikirkan
dalam bahasa Jawa; tetapi jika saya memikirkan sebuah topik untuk seminar
misalnya, tidak mungkin saya pikirkan dalam bahasa Jawa, melainkan pasti
dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, bahasa pun terbagi-bagi wilayah
intelektualnya, berdasarkan pengalaman budaya pemilik bahasa-bahasa itu.
Saya tidak mengatakan bahasa Jawa dengan begitu tidak mungkin menjadi bahasa
intelektual, sama sekali tidak, hanya saja dalam hal saya bahasa Jawa tidak
pernah saya pergunakan demi kebutuhan intelektual saya.
Dengan demikian, dengan bahasa apa saya berpikir? Tentu saja tergantung
kepada apa yang saya pikirkan. Pengalaman tersimpan bersama bahasanya.
Artinya bahasa yang tersimpan dalam perbendaharaan budaya seseorang selalu
berkait dengan pengalaman tertentu. Maka apabila kepala saya terantuk dan
saya berkata, "Aduh!", tentunya adalah kesamaan pengalaman yang mengingatkan
dan memanggil kata itu keluar, dan begitu pula jika terdapat rangsangan
berpikir yang sangat abstrak, maka hanyalah pengalaman berbahasa Indonesia
yang berurusan dengan rangsangan yang sama. Ketika kemudian saya lebih
banyak membaca dalam bahasa Inggris daripada dalam bahasa Indonesia, agaknya
saya masih tetap berpikir dalam perkara yang saya baca itu dalam bahasa
Indonesia, meski ketika mengajarkannya kembali di depan kelas, saya
pertahankan tetap dalam bahasa Inggris.
Saya tidak terlalu yakin, apakah saya telah merumuskan pengalaman saya
dalam berbahasa ini dengan cukup, karena saya merasa bahwa memeriksa bahasa
dalam pikiran tidaklah terlalu mudah. Mungkinkah karena saya berada di
dalamdan bukan di luarbahasa? Seperti bermimpi misalnya, saya mungkin
masih ingat mimpi-mimpi itu sebagai naratif, tetapi dalam bahasa apakah saya
telah memahaminya, agak tidak terlalu jelas. Namun berikut ini saya
sampaikan saja sebuah pengalaman dalam penulisan berbahasa Indonesia, yang
telah memanfaatkan perbendaharaan bahasa Jawa karena tuntutan keadaan.
Dua buku saya, kumpulan cerita pendek Saksi Mata dan novel Jazz, Parfum,
dan Insiden bermain dengan materi situasi sosial politik di Timor Timur dan
terbit semasa Orde Baru. Karena situasinya yang khusus, saya tidak bisa
menyebut Timor Timur sama sekali, bahkan apapun yang bisa
mengingatkannyasehingga saya terpaksa memanfaatkan apa yang disebut basa
walikan ("bahasa terbalik"). Bahasa tersebut bukanlah bahasa tersendiri,
melainkan bahasa Jawa yang berfungsi sebagai kata sandi, konon digunakan
oleh komunitas underworld, yakni kaum kriminal, pencuri, perampok, begal,
dan lain sebagainya, untuk menutupi kegiatan mereka, sehingga juga disebut
basa maling (bahasa pencuri). Bahasa yang saya kenal dari pergaulan sebagai
remaja di Yogyakarta itu memanfaatkan bunyi dari 20 huruf dalam tulisan Jawa
yang terbagi menjadi empat baris. Baris pertama berpadanan dengan baris
ketiga dan baris kedua dengan baris keempatapa yang seharusnya diucapkan
dengan baris pertama diucapkan dengan
baris ketiga dan sebaliknya, begitu pula dengan baris kedua dan keempat.
Dengan bahasa sandi tersebut, Gidoy Giduy berarti Timor Timur dan Ningi
berarti Dili, salah seorang kritisi yang membahas novel saya berhasil
menguraikan bahasa sandi tersebut dalam sebuah resensi, dan tentu saja
beliau pernah tinggal di Yogyakarta. Memang sebuah karya tulis tidak hanya
berisi "rahasia" yang disandikan, melainkan ada tuntutan "kualitas sastra"
di sana, tetapi telah saya sebutkan terdapatnya situasi khusus dalam iklim
ketertekanan semasa Orde Baru, yang menyudutkan saya untuk menggunakan
bahasa sandi Jawa tersebut, di samping juga bahasa Inggris, dalam penulisan
berbahasa Indonesia. Sudut itu sebuah ruang yang sangat pribadi dari masa
lalu saya sebetulnya, tetapi yang telah berperan untuk kepentingan yang
lebih umum karena tekanan keadaan. Saya kira, hanya karena saya seorang
pengarang yang hidup lebih dengan satu bahasa, yang telah membuat saya dapat
melakukannya.
Baru belakangan saya sadari, betapa sudah terlalu lama saya
menyia-nyiakan kemampuan saya berbahasa Jawa dalam hidup saya, baik untuk
membaca, apalagi untuk menulis. Jika selama ini saya merasa beruntung bisa
menggali perbendaharaan pengetahuan melalui buku-buku berbahasa Inggris, hal
yang sama mestinya saya alami dengan naskah-naskah berbahasa Jawasekali
pernah saya melakukannya dan saat itulah kesadaran saya terbuka, betapa
tidak termanfaatkannya pengetahuan bahasa Jawa saya selama ini. Jadi, di
satu pihak saya mungkin merasa beruntung, tetapi pada saat yang sama
tampaknya saya juga orang yang rugi, karena telah menganggap bahasa Jawa
dalam diri saya sebagai taken for granted, tidak usah saya pedulikan lagi
karena sudah ada di sana dari sononya. Memang sangat berbeda dengan sikap
saya terhadap bahasa Indonesia, yang selama ini menjadi wahana representasi
diri saya, maupun bahasa Inggris, yang melaluinya saya selalu berusaha
meluaskan wawasan saya. Begitulah.
SENO GUMIRA AJIDARMA
Catatan untuk diskusi
"L'auteur depayse: Ecrivains de double appartenance culturelle."
Association franco-indonesienne Pasar Malam Palais du Luxembourg, Paris,
28 Oktober 2006.
Association franco-indonésienne Pasar Malam
Association Loi 1901 pour l'amitié entre les peuples français et indonésien
14 rue du Cardinal Lemoine
75005 Paris
33 (0)1 56 24 94 53
[EMAIL PROTECTED]
http://
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
---------------------------------
Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things
done faster.
[Non-text portions of this message have been removed]
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:[email protected]
Berhenti mailto:[EMAIL PROTECTED]
Milis Keluarga Sejahtera mailto:[email protected]
Milis Anak Muda Islam mailto:[email protected]
This mailing list has a special spell casted to reject any attachment ....
Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/