apakah benar?
Jati Utomo Dwi Hatmoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: [EMAIL PROTECTED], ppiuk
<[EMAIL PROTECTED]>
From: "Jati Utomo Dwi Hatmoko" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 4 Dec 2006 13:56:16 +0000
Subject: [ppi-uk] Fwd: Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
SUARA PEMBARUAN DAILY
------------------------------
CATATAN SHANGHAI
Apakah Budaya Indonesia Menghambat Kemajuan?
*Sabam Siagian*
[image: K]olumnis harian *The New York Times,* Thomas Friedman yang luas
sekali khalayak pembacanya di berbagai benua, dalam sebuah tulisan baru-baru
ini mengutip sebuah buku karya Lawrence Harrison. Karya tersebut mengkaji
dampak budaya sebuah bangsa pada dinamika politik dan pembangunan ekonomi di
negara yang bersangkutan.
Si penulis tiba pada kesimpulan bahwa ada sejumlah bangsa-bangsa yang
budayanya memang mendorong laju kemajuan (istilah bahasa Inggrisnya *
progress-prone*). Tapi, menurut Lawrence Harrison, ada pula sejumlah
bangsa-bangsa yang budayanya cenderung menghambat kemajuan (istilah bahasa
Inggrisnya *progress-resistance*).
Berdasarkan kerangka analisis itu, para pengamat wilayah Asia Tenggara
sering membanding-bandingkan perkembangan di dua negara: Indonesia dan
Vietnam. Memang dua bangsa itu memiliki ciri-ciri kesejarahan yang paralel.
Mereka masing-masing memproklamasikan kemerdekaan secara unilateral setelah
Perang Asia-Pasifik berakhir pada 14 Agustus 1945. Soekarno-Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Dan
Ho Chi Minh mencanangkan kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945 di Hanoi.
Baik Indonesia, maupun Vietnam harus mengangkat senjata untuk mempertahankan
kemerdekaannya. Namun, kalau perjuangan Indonesia melawan kolonialisme
Belanda relatif singkat-maka Vietnam harus berhadapan dengan Perancis selama
bertahun-tahun sampai 1954. Kemudian ia terlibat dalam suatu peperangan
dahsyat melawan adikuasa dunia, Amerika Serikat. Perdamaian dan persatuan
Vietnam baru tercipta pada tahun 1975.
*
Hasil sementara (moga-moga hanya "sementara") dari perbandingan demikian
menyimpulkan bahwa budaya Vietnam cenderung mendorong kemajuan. Sedangkan
budaya Indonesia seperti menghambat kemajuan.
Memang setiap pengamat yang mengunjungi Vietnam sekarang, mau tidak mau
terkesan oleh semangat kerja dan gairah hidup masyarakat Vietnam. Sebagai
seorang yang secara periodik mengunjungi Vietnam, dan tertarik pada sejarah
modernnya, dalam kunjungan bulan April lalu di Hanoi saya tertegun menatap
hiruk-pikuk keramaian kota Hanoi.
"Dalam sepuluh tahun, ekonomi Vietnam mengadakan loncatan kuantum dari tahap
sepeda ke sepeda motor," demikian observasi seorang wartawan AS. Bangsa yang
berjumlah 82 juta ini seperti mesin yang berputar siang-malam, bekerja tanpa
henti.
Vietnam secara resmi adalah negara komunis, di mana partai komunis yang
berkuasa. Tapi budayanya memang pragmatis. Ketika Uni Soviet ambruk pada
tahun 1991 dan tetangga raksasa di sebelah Utara, Republik Rakyat Tiongkok,
mempraktekkan prinsip ekonomi pasar, maka Vietnam juga menyesuaikan diri.
Investasi asing disambut tidak hanya dengan ucapan manis dan janji muluk,
tapi dengan tindakan nyata.
Contoh yang sering disebut-sebut akhir-akhir ini adalah kasus investasi
perusahaan elektronik Intel Corp. Rencana orisinalnya, ia akan membangun
pabrik *chip* dengan fasilitas uji coba di lokasi seluas 13.500 meter
persegi dengan investasi 300 juta dolar AS.
Namun, setelah terkesan oleh lingkungan investasi yang kondusif, Intel Corp
mengumumkan akan melipatgandakan investasinya itu menjadi sekitar satu
miliar dolar AS. Dan lokasinya di luar kota Ho Chi Minh diperluas menjadi 45
ribu meter persegi.
Wakil Presiden Intel Corp Brian Krzanich menerangkan, keputusan itu
didasarkan, karena, "Vietnam memiliki penduduk yang dinamis, sistem
pendidikan yang bertambah baik, tenaga kerja yang produktif dan pemerintahan
yang memandang kedepan. Pada tahun 2009, ketika pabrik itu mulai
operasional, sekitar 4 ribu buruh mendapatkan lapangan kerja.
Sikap memandang ke depan dan tidak terjerat oleh kemegahan masa-lampau
(Vietnam berhasil mengalahkan AS secara strategik) yang ditekankan oleh
seorang redaktur dan penulis *The New York Times*, Roger Cohen, setelah
baru-baru ini ia keliling Vietnam. "Budaya Vietnam berfokus ke depan.
Kadang-kadang memang perlu kompromi, tapi kemudian maju terus, "tulisnya.
*
Baru-baru ini, Profesor Michael Porter dari Harvard Business School (bagian
dari Universitas Harvard di Cambridge, AS) diundang untuk menyampaikan
ceramah-ceramah di Jakarta. Ia dikenal sebagai pakar ekonomi, khususnya
tentang peningkatan produktivitas dan daya-saing. DR. Porter telah diundang
oleh sejumlah negara sebagai konsultan khusus.
Pertemuan yang agaknya paling menarik berlangsung Selasa malam (28/11)
dengan sejumlah tokoh-tokoh pemerintahan Indonesia, termasuk juga Wakil
Presiden Jusuf Kalla, dan pimpinan badan-badan independen seperti Bank
Indonesia.
Apa yang dikemukakannya Selasa malam dihadapan tokoh-tokoh pemerintah pusat
dan yang disampaikannya pada ceramah umum Rabu lalu (29/11) dengan tema
"Mengembangkan daya saing dalam lingkungan Global" (terjemahan bahasa
Indonesia), merupakan suatu daftar kelemahan-kelemahan yang ada pada diri
Indonesia sekarang ini.
Kalau disimpulkan, maka diagnosa yang dilakukan Profesor Michael Porter
terhadap pasiennya Indonesia, sebagai berikut: "Perekonomian Indonesia
stagnan dan produktivitas rendah karena sejumlah faktor: sistem tenaga kerja
tidak efisien, ber-bagai peraturan dan prosedur baik di pusat maupun di
daerah yang sering saling bertentangan, infrastruktur yang tidak me- madai.
Indonesia berusaha keras menarik investasi asing tapi lingkungan berbisnis
justru seperti menolak investasi. Mentalitas yang terlalu memikirkan
kepentingan sendiri dalam jangka pendek harus dirubah. Dunia sekarang sedang
maju cepat, kalau Indonesia tidak segera melakukan pembenahan diri, maka
akan ketinggalan."
Demikian inti yang tersimpul dalam pesan-pesan Profesor Potter. Ia tidak
pergunakan istilah* progressive-resistant*, tapi jelas, yang dimaksud betapa
budaya Indonesia itu seperti menghambat kemajuan.
Berbagai cerita aneh-aneh yang dapat kita tampung. Tentang sebuah perusahaan
pertambangan internasional yang ingin mengadakan investasi sekitar 2 miliar
dolar AS di luar Jawa di lokasi dengan endapan logam yang sudah terbuktikan.
Berbagai prosedur dan peraturan diikuti dengan tekun. Namun di mana ada
peraturan yang saling bertentangan, sulit menemukan pejabat yang berani
mengambil keputusan. Akhirnya, setelah lebih setahun, proses investasinya
ngambang terus. Cerita demikian dalam berbagai versi begitu sering kita
tampung.
Sebenarnya Indonesia pernah mengalami tahap-tahap ketika semangat hidup,
kegairahan bekerja dan keberanian mengambil risiko nampak mekar. Kenapa
sekarang ini, ketika Indonesia membanggakan dirinya sebagai negara demokrasi
dan presidennya rajin ke luar negeri untuk menarik investasi, maka justru
para pejabatnya dan birokrasinya ragu-ragu mengambil keputusan, enggan
mengambil risiko demi kemajuan?
Dalam *long march* kita sebagai bangsa yang kadang-kadang jatuh-bangun,
agaknya kita mesti yakin bahwa bangsa ini masih memiliki kekuatan utuh yang
mampu mengubah budayanya supaya mendorong kemajuan.
Penulis adalah pengamat perkembangan sosial politik dan masalah
internasional
------------------------------
*Last modified: 1/12/06*
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------------------------
* Mari kita gunakan Tags [INFO] untuk setiap
informasi, dan [BUTUH INFO] untuk setiap
permintaan bantuan/informasi
* Milis PPI-UK tidak menerima attachment.
* Website http://www.ppiuk.org
Informasi untuk pelajar/calon pelajar
Indonesia - United Kingdom
* Disclaimer:
http://www.ppiuk.org/disclaimer.php
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get
things done faster.
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/