Kieu anu dimaksad teh, yen aya sajarah Urang Sunda anu aslinamah euweuh...aya 
oge Urang Sunda anu nyicingan lempengan Sunda eta teh sabenerna mah urang 
Mongol akibat aya kajadian Migrasi Manusa ka dataran Nusantara kalawan 
gede-gedean. Ari aslina penduduk Nusantara mung ukur Jalma anu teu boga budaya 
alias Primitif samodel di Irian...cenah kituuuu...atawa Jelema anu nyicingan di 
Lempengan Sunda Besar khususna kosong, euwueh penduduk asli.

Upama kitu atuh meureun urang Kanekes di Baduy oge eta teh sabenerna mah urang 
Mongol tea da pedah dina rupana aya kamiripan jeng urang Mongol, geus tangtu 
bahasana oge kacampuran bahasa Mongol, Kayakinannana oge Hindu da ti karuhunna 
aya Mongol, "Budaya jeung bahasa kacampuran budaya lokal
Vietnam Sa Huynh anu aya didinya di zaman 1 abad
samemeh Masehi tepi ka abad 5 Masehi".

Sajarah anu di luhur eta geus sumebar dina rupa-rupa Buku Sajarah hasil 
panalungtikan para Ahli orang Barat. hal perkara ieu parantos aya seratan dina 
Pikiran Rakyat anu diserat ku Dadan Wildan (staf pengajar FKIP Universitas 
Galuh Ciamis) judulna "Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda".----teras 
dibantah ku Pak Engkus Ruswana K (Penulis adalah pengikut ajaran Mei 
Kartawinata dan seorang planolog/praktisi konsultan pembangunan daerah/kota) 
judulna "Memprihatinkan, Penulisan Sejarahnya Hanya Warisan Penjajah
Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda". 
http://pikiran-rakyat.com/cetak/0603/14/0801.htm

Simpulna hapunten teu disundakeun :
1. Anggapan/Vonis bahwa leluhur/Karuhun yang melahirkan kita di Tatar Sunda ini 
menganut Agama Hindu atau Budha, sangatlah keliru karena tidak ada bukti yang 
dapat membenarkannya. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Galuh dan 
Pajajaran menganut Hindu/Budha atau Agama/Kepercayaan Asli Sunda.

2. "Dijateng ada Candi, di Jabar Kabuyutan" yang dimuat dalam Harian Kompas, 3 
September 2001 yang menyatakan, "Dalam Carita Parahiyangan juga menunjukan 
bahwa kepercayaan umum raja-raja di Galuh ialah SEWA BHAKTI RING BATARA UPATI 
yang berorientasi kepada kepercayaan Asli.

3. Jika dihubungkan dengan penelitian Arkeologi, justru di Tanah Jawa ini telah 
ditemukan berbagai fosil manusia purba yang berumur 1,5-1,75 juta tahun yang 
dikenal dengan sebutan "Java Man" (Misteri "Java Man" oleh Bintoro Gunadi dalam 
HU Kompas) dan penemuan gigi manusia purba oleh Dr. Tony Djubianto di wilayah 
Rancah dan Tambak Sari Ciamis yang usianya lebih tua dari yang ditemukan di 
Sngiran, (Bukti nyata sejarah bahwa diwilayah Sunda ini telah berpenghuni sejak 
ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun umurnya).

4. Selain itu, telah ditemukan sejenis alat cor logam disekitar Dago Bandung 
yang menurut penelitian Van Bemmelen (peneliti Belanda) usianya telah mencapai 
125.000 tahun.

Memprihatinkan, Penulisan Sejarahnya Hanya Warisan Penjajah
Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda
Oleh ENGKUS RUSWANA K. 
BELAKANGAN ini agak sering muncul tulisan maupun pandangan mengenai perjumpaan 
Islam dengan budaya Sunda. Penulis merasa terusik untuk mengkaji ulang 
klaim-klaim sebagian masyarakat yang mengatakan Islam identik dengan Sunda dan 
Sunda identik dengan Islam. 

Ada masyarakat yang mengungkapkan bahwa di masyarakat Sunda terdapat juga 
penganut agama Sunda Wiwitan, komunitas pengikut Madrais dan komunitas pengikut 
Mei Kartawinata yang masih mempertahankan ajaran leluhurnya. Menurut 
pengetahuan penulis, penghayat atau kelompok masyarakat yang masih menghormati 
dan melaksanakan ajaran leluhur Sunda tidak hanya terdapat di Kanekes Baduy, 
Ciptagelar Sukabumi, Cigugur Kuningan, dan Ciparay Bandung. Banyak sekali 
masyarakat yang memegang teguh ajaran leluhurnya, tapi karena pertimbangan 
tertentu belum berani mengungkapkan keyakinannya.

Penulis merasa perlu memberikan ulasan sehubungan dengan ada kajian yang tidak 
lengkap yang mengundang penafsiran negatif dan pandangan yang keliru terhadap 
masalah tersebut di atas. Bahkan, ada bahasan yang tidak didukung oleh kajian 
mendalam khususnya yang berkaitan dengan ajaran Madrais dan ajaran Mei 
Kartawinata. 

Hal pertama, jika ada pihak yang menyimpulkan bahwa Kerajaan Galuh dan Kerajaan 
Sunda Padjadjaran menganut Hindu, masih patut diragukan kebenarannya sebab 
sampai dengan saat ini belum ada bukti sejarah yang dapat mendukung kesimpulan 
tersebut. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Galuh dan Pajajaran 
menganut Hindu-Buddha atau agama/kepercayaan asli Sunda. 

Beberapa komunitas Sunda, termasuk Sunda Wiwitan, Cigugur, Ciparay dan beberapa 
komunitas lainnya, berkeyakinan kepercayaan yang dianut kedua kerajaan tersebut 
adalah agama/kepercayaan asli Sunda. Hal ini sejalan dengan penelitian 
antropolog Nanang Saptono dalam tulisan berjudul "Di Jateng Ada Candi, di jabar 
Kabuyutan" yang dimuat dalam Harian Kompas, 3 September 2001 yang menyatakan, 
"Dalam Carita Parahyangan juga menunjuk bahwa kepercayaan umum raja-raja di 
Galuh ialah sewabakti ring batara upati yang berorientasi kepada kepercayaan 
asli". 

Hal kedua adalah mengenai kepercayaan leluhur bangsa yang disebut menganut 
animisme dan dinamisme. Dalam hal ini, kita perlu arif dan berpandangan luas, 
kenapa timbul kedua istilah yang seolah-olah merendahkan derajat dan 
kepercayaan leluhur kita, yang pengertiannya secara harfiah adalah menyembah 
nenek moyang dan menyembah kebendaan. 

Kiranya patut direnungkan sedangkal itukah penghayatan leluhur kita terhadap 
arti dan hakikat ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Padahal, leluhur kita 
tinggal di bumi nusantara yang subur makmur loh jinawi. Sumber pangan yang 
disediakan alam lebih dari cukup dan tinggal ambil apalagi penduduknya masih 
sedikit sehingga cukup banyak waktu untuk merenung, berpikir, berdialog, dan 
mengkaji tentang alam dan penciptanya serta berkreasi untuk mengembangkan 
budayanya. 

Terbukti dari hasil penelitian Nandang Rusnandar (peneliti dari Jarahnitra Jawa 
Barat) bahwa di tatar Sunda telah ditemukan 54 jenis huruf (wanda aksara) dalam 
budaya tulisan dan penelitian Ali Sastramijaya yang menyimpulkan leluhur bangsa 
kita sudah sejak ribuan tahun telah mengenal budaya sistem penanggalan yang 
didasarkan atas perhitungan matahari (Kala Surya), perhitungnan bulan (Kala 
Candra), dan perhitungan bintang (Kala Sukra) dengan presisi tinggi yang 
notabene didasarkan atas penelitian/pengkajian alam secara seksama dan terus 
menerus selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun melewati berbagai generasi. 

Dengan demikian, budaya tulisan tentunya dikenal jauh lebih tua lagi sebelum 
dikenalnya budaya penanggalan. Alasannya, untuk mencatatkan penelitian 
peristiwa alam, tentunya disimpan dalam bentuk tulisan. 

Selain itu, telah ditemukan sejenis alat cor logam di sekitar Dago Bandung yang 
menurut penelitian van Bemmelen (peneliti Belanda) usianya telah mencapai 
125.000 tahun. Hal itu berarti sejak zaman prasejarah orang Sunda telah 
memiliki keterampilan teknologi logam (alat tersebut kini tersimpan di Musium 
Geologi Bandung). Dalam hal ini hendaknya diingat, sejarah nasional dibuat oleh 
sebagian besar sejarawan Belanda pada masa penjajahan, yang tentunya akan 
terkait dengan kepentingan penjajah Belanda sehingga adalah suatu keniscayaan 
untuk merendahkan bangsa yang dijajahnya dengan berbagai cara, termasuk 
penulisan sejarah. 

Dengan demikian, fakta dapat diputarbalikkan dan opini dunia dapat dibangun 
bahwa mereka tidak menjajah, melainkan berjasa dalam membudayakan bangsa yang 
masih primitif dan biadab. Kenyataannya, banyak bukti-bukti sejarah yang 
menurut informasi dibawa dan disimpan di negeri Belanda sejak masa penjajahan. 
Bukan hal yang tidak mungkin bukti-bukti sejarah yang menguatkan kebesaran 
bangsa kita pada masa lalu hilang atau sengaja dihilangkan (dalam hal ini 
penulis sependapat dengan tulisan Ari J. Adipurwawidjana yang menyimpulkan 
berbagai pengaruh yang datang dari luar nusantara begitu besar sehingga 
kebudayaan yang sebelumnya berkembang tergeser kedudukannya dari wacana dominan 
menjadi wacana limbahan). Apalagi Belanda menjajah nusantara ratusan tahun dan 
sebelumnya Hindu, Buddha, dan Islam pernah mendominasi nusantara sehingga kita 
mangalami kegamangan akan jati diri bangsa yang hakiki karena memang banyak 
kehilangan akar sejarahnya.

Hal lain yang mungkin perlu dijadikan pertimbangan adalah perbedaan budaya 
barat yang lebih mengandalkan rasional dan simbol-simbol nyata yang nampak di 
permukaan dibandingkan dengan budaya timur khususnya nusantara/Sunda yang 
religius dan banyak mengandung falsafah yang tidak tampak ke permukaan 
(tersirat/ngandung siloka), kemungkinan tidak mampu ditangkap sejarawan masa 
itu. Akibatnya, kepercayaan leluhur kita yang sebetulnya cukup arif -- kita 
lahir dan hidup karena jasa ibu-bapak, ibu-bapak ada karena nenek-kakek dan 
seterusnya (dalam budaya Sunda-Jawa dikenal penamaan sampai tujuh turunan) --, 
demikian seterusnya dikenal sebagai leluhur atau nenek moyang yang pada 
akhirnya bermuara ke Tuhan YME. Jadi wajar apabila kita menghormati leluhur 
yang diwujudkan dalam bentuk tata-cara adat budaya sebagai bentuk penghormatan. 

Demikian pula halnya dengan kearifan leluhur kita atas kedekatannya terhadap 
alam dan lingkungannya. Kesadaran bahwa mereka hidup dan bermukim ditopang oleh 
alam lingkungannya, baik berupa batu, kayu, tanah, air, gunung, hutan, dan 
bermacam bahan pangan khususnya padi sebagai bahan pokok menimbulkan kesadaran 
akan perlunya berterima kasih dan penghormatan terhadap alam dan lingkungannya. 
Hal itu diwujudkan dalam bentuk tata cara adat budaya sehingga untuk 
memanfaatkan apa pun yang dari alam, terlebih dahulu harus dilakukan upacara 
adat (mipit kudu amit, ngala kudu menta). Misalnya pada waktu panen, menebang 
pohon, bongkar batu, bangun ruma,h dan sebagainya, serta untuk menjaga daerah 
yang sensitif dikenal daerah terlarang (pamali), begitu pula pepatah-pepatah 
yang sarat dengan pesan bagaimana memperlakukan alam.

Perilaku adat budaya tersebut di ataslah yang barangkali melahirkan vonis atau 
sengaja didiskreditkan sebagai animisme dan dinamisme. Padahal, ini jusrtu 
sesunggungnya merupakan bentuk perwujudan keluhuran budi pekerti leluhur kita, 
yang seharusnya dilestarikan. Kalau demikian, apakah mungkin leluhur kita tidak 
mengenal Tuhannya? 

Dalam pemahaman penulis yang juga sedang menghayati dan menggali kepercayaan 
asli Sunda, dipahami bahwa kasih sayang Tuhan ada yang langsung, yaitu yang 
melekat pada diri kita dan ada yang tidak langsung melalui orang tua dan 
seterusnya, ada yang lewat sesama hidup (termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan) 
serta yang lewat alam (tanah, air, udara, dan api) yang menjadikan diri kita 
dan memelihara hidup kita. Selain itu, setiap zat di bumi alam ini punya lahir 
dan punya batin (misal gula, wujud gula adalah lahirnya, sedangkan manis adalah 
batinnya; bibit ditanam hidup dan membesar karena tanah ada batinnya). Begitu 
pula pada setiap kegiatan yang berhubungan dengan proses kehidupan manusia 
(kelahiran, perkawinan, dan kematian) dikenal tata cara adat budaya yang sarat 
dengan muatan religius sebagai perwujudan keluhuran budi pekerti dan pemahaman 
tentang asas Ketuhanan dan Kemanusiaan. 

Oleh karena itu, seyogianya pendiskreditan bahwa leluhur kita menganut animisme 
dan dinamisme dengan gambaran sebagai masyarakat yang masih belum beradab, 
menurut penulis sudah waktunya diluruskan (tantangan buat ahli sejarah).

Migrasi manusia

Hal yang sama berkaitan dengan penulisan periwayatan sejarah kebudayaan 
nusantara, sebagaimana yang disitir oleh Ari J. Adipurwawidjana dalam 
makalahnya yang mengemukakan zaman prasejarah; terjadi gelombang migrasi 
manusia dari daratan Asia ke kepulauan nusantara. Pada awal zaman purba 
ditandai dengan datangnya manusia dari Subbenua India yang memasukkan 
kebudayaan Hindu-Buddha yang seolah-olah bumi nusantara belum berpenghuni, 
belum berbudaya, dan belum beragama. 

Dalam pemahaman penulis, ini juga terkait dengan kepentingan penjajahan, untuk 
mengeliminasi bahwa tidak ada bangsa asli karena yang mengaku pribumi pun 
nyatanya bangsa pendatang. Jadi dapat dijadikan alasan bahwa baik Belanda 
maupun penduduk nusantara sebelumnya punya hak yang sama dan tidak ada hak-hak 
istimewa bangsa pribumi. Tinggal bersaing saja, siapa kuat itu yang menang. 

Padahal, kalau dihubungkan dengan penelitian arkeologi, justru di tanah Jawa 
ini telah ditemukan berbagai fosil manusia purba yang berumur 1,5-1,75 juta 
tahun yang dikenal dengan sebutan "Java Man" (Misteri "Java Man" oleh Bintoro 
Gunadi dalam HU Kompas) dan penemuan gigi manusia purba oleh Dr. Tony Djubianto 
di wilayah Rancah dan Tambaksari Kabupaten Ciamis yang usianya lebih tua dari 
yang ditemukan di Sangiran (penulis tidak tahu apakah di belahan dataran Asia 
yang katanya asal migran zaman purba telah ditemukan fosil yang umurnya lebih 
tua). Bukti sejarah apa yang dapat memperkuat kebenaran adanya gelombang 
migrasi tersebut, suatu perkara yang perlu pengkajian kembali. 

Oleh karena itu, tidak heran kalau semua pemahaman dari catatan-catatan sejarah 
seperti di atas yang ditanamkan ratusan tahun secara turun-temurun sebagai 
akibat penjajahan, menimbulkan bangsa kita sampai sekarang kehilangan sebagian 
besar jati diri bangsanya, kehilangan kepercayaan dirinya yang cenderung rendah 
diri di hadapan bangsa asing. Jadi, semua hal yang datang dari luar selalu 
dianggap lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang datang dan dilahirkan dari 
tanah airnya sendiri. Kapan akan berubah, mari kita renungkan bersama.

Penulis ingin memberi uraian, khususnya yang berkaitan dengan aliran kebatinan 
Perjalanan. Perlu ditegaskan bahwa ajaran yang dikembangkan Mei Kartawinata 
bukanlah kepercayaan baru yang dilahirkan sebagai hasil dari perjumpaan Islam 
dengan budaya Sunda dan bukan merupakan sinkretisme antara ajaran Sunda 
Wiwitan, Hindu, Buddha, dan Islam, sebagaimana ditulis oleh Dadan Wildan dalam 
Pikiran Rakyat tanggal 26 Maret 2003. 

Selain itu, ini diunsuri penggalian kepercayaan asli Sunda yang sedikit demi 
sedikit dikumpulkan, diungkap dan dikaji kembali untuk memisahkan mana yang 
bersumber dari ajaran asli dan mana yang berasal dari luar, yang memang sulit 
untuk membedakannya karena sebagian telah terjadi percampuran dan sebagian 
lainnya sudah terkubur selama ratusan tahun sejak masuknya kepercayaan dari 
luar. Sampai sekarang pun belum seluruhnya dapat terungkapkan. 

Ajaran Mei Kartawinata pada dasarnya tidak berbeda dengan ajaran Sunda Wiwitan, 
hanya sedikit perbedaan dalam istilah dan metode pengajaran serta sedikit 
berbeda dalam penerapan tata cara adat budaya. Tentunya komunitas Kanekes tidak 
seutuhnya menerapkan tata cara adat budaya yang lengkap seperti pada zaman 
Padjadjaran (komunitas ini pada waktu Islam masuk ke Padjadjaran terpaksa 
mengasingkan diri ke suatu daerah yang medannya berat dan tidak ingin diketahui 
keberadaannya dalam rangka mempertahankan keyakinannya sehingga harus 
menyesuaikan diri dan terpaksa meninggalkan sebagian tata cara adat budaya 
sesuai dengan lingkungan alam dan misinya). 

Kalaupun dalam buku Budi Daya terdapat sebagian istilah-istilah dalam bahasa 
Arab, semata-mata didasarkan atas kondisi dan situasi waktu itu para 
pengikutnya kebanyakan berasal dari kalangan Islam yang menginginkan penjelasan 
dari apa yang mereka ketahui dan ingin mendalami isi yang terkandung di 
dalamnya ditinjau dari sudut pandang ajaran/kepercayaan Sunda, dan kalaupun 
terdapat persinggungan/kesamaan adalah wajar adanya. Pasalnya, ilmu Tuhan yang 
hakiki adalah satu dan bersifat universal, serta berlaku untuk semua umat-Nya. 

Selain itu, terdapat pula buku-buku dan berbagai tulisan Mei Kartawinata yang 
menggunakan istilah-istilah bahasa Belanda bahkan istilah bahasa Cina. Hal ini 
sesuai dengan kondisi waktu itu yang juga masyarakat banyak memahami bahasa 
Belanda, yang tentunya tidak dapat disimpulkan sebagai sinkretisme dengan 
ajaran Belanda.

Ungkapan bahwa Budi Daya dijadikan sebagai "kitab suci" oleh para pengikutnya 
adalah sungguh keliru dan menunjukkan bukti tidak mengetahui banyak tentang 
ajaran Mei Kartawinata. Dalam pemahaman penganut ajaran Mei Kartawinata, kitab 
suci adalah kumpulan tulisan Tuhan yang tidak bisa dibuat oleh manusia dan 
berlaku universal dan dapat dipelajari oleh semua makhluk tanpa membedakan 
usia, agama, bangsa/ras maupun gender, serta daripadanya kita bisa belajar. 
Tidak ada seorang pun yang akan mampu menamatkan belajar "Kitab Suci Tuhan" dan 
tak ada seorang pun yang mampu mengukur kedalaman maupun luasnya isi "Kitab 
Tuhan" ini, yaitu alam semesta beserta pengisinya. 

Salah satu bagian kitab suci adalah dunia besar, yaitu alam semesta tempat kita 
bisa belajar dan menghayati, bagaimana teraturnya alam (nyakra manggilingan). 
Bagaimana gunung, bukit, lembah, hutan, pepohonan, air, api, tanah, angin/udara 
telah menjalankan kodratnya dan telah memberikan hidup dan kehidupan seluruh 
makhluk. Begitu pula tumbuh-tumbuhan dan hewan semuanya telah menjalankan 
kodratnya yang pada dasarnya untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia. 
Sekarang tinggal tanya apakah manusia telah melaksanakan kodratnya melaksanakan 
kemanusiaannya, apakah orang Sunda telah melaksanakan kodrat kesundaannya, 
apakah orang Jawa tidak ingkar dari kodrat kejawaannya dan sebagainya, namun 
tidak berarti menganut paham chauvinisme. 

Begitu pula bagian kitab suci yang ada pada dunia kecil (diri kita), tidak ada 
seorang manusia pun yang mampu membuat diri atau bagian dari diri kita yang 
sangat sempurna ini. Banyak hal yang dapat dipelajari dari diri kita, bagaimana 
serasinya tubuh kita, bagaimana saling kerja sama, saling ketergantungan dan 
tolong antarbagian diri kita yang begitu harmoni, di dalam diri banyak hal yang 
dapat digali. 

Kita juga tak akan mampu menamatkan belajar pada diri kita, bahkan sampai hayat 
meninggalkan raga, begitu luasnya ilmu yang terkandung di dalam diri kita. 
Dengan demikian, pernyataan Budi Daya dijadikan sebagai "kitab suci" adalah 
sama sekali tidak benar, melainkan dijadikan sebagai buku ajaran biasa 
sebagaimana ditulis sendiri oleh Mei Kartawinata sebagai pamendak 
(penemuan/pendapat). Selain itu, banyak pemikiran-pemikiran dan penemuan Mei 
Kartawinata yang dituangkan dalam berbagai buku/tulisan/diagram/skema yang 
punya kedudukan yang sama sebagai buku/materi ajaran.

Hendaknya dipahami bahwa ajaran Mei Kartawinata banyak mengupas dan mendalami 
tentang aspek-aspek kemanusiaan. Dalam ajaran Mei Kartawinata yang 
sepengetahuan penulis juga dianut oleh Sunda Wiwitan maupun pengikut Madrais 
bahwa kita tidak mungkin dapat mengenal Tuhan apabila tidak mengetahui diri 
kita sendiri. Untuk mengenali Tuhan, kenalilah dulu diri sendiri "nyungsi diri 
nyuay badan angelo paesan tunggal". 

Dalam pengkajian diri dan sejarah diri, terungkap 3 unsur, yaitu lahir (wadag), 
batin (halus/hidup), dan aku (yang punya tekad dan menggerakkan lahir dan 
batin), atau dalam bahasa Sunda dikenal kuring (aku), jelema (orang) dan hirup 
(hidup). Ke mana dan bagaimana lahir dan batin akan digunakan tergantung 
sepenuhnya kepada aku (kuring), aku yang bertindak sebagai pengendali (sopir). 

Itulah sebabnya timbul istilah "agama kuring" yang sebetulnya sebutan yang 
bersifat melecehkan dari kalangan yang tidak menyukai terhadap ajaran Mei 
Kartawinata, bukan timbul dan dikemukakan oleh pengikut Mei Kartawinata 
sendiri. Penulis mengira kasus yang sama dialami oleh pengikut Madrais yang 
juga disebut orang luar lingkungannya sebagai "Agama Jawa-Sunda". Ajaran-ajaran 
lainnya dari Mei Kartawinata selain sarat dengan aspek-aspek spiritual 
ketuhanan dan kemanusiaan, juga sarat dengan ajaran mengenai kebangsaan dan 
"nation building". Ini bisa dikaji dalam buku-buku dan tulisan-tulisan yang 
dibuatnya.

Nama Perjalanan memang didasarkan atas pengamatannya terhadap air yang terwujud 
dari kesatuan tetesan-tetesan air yang tak terhingga banyaknya yang dalam 
rangka perjalanannya menuju sumbernya di lautan telah memberikan manfaat 
terlebih dahulu sepanjang jalan bagi kehidupan dan penghidupan segala umat 
Tuhan. Pengikut Mei Kartawinata harus terus ingat dan mempertanyakan manfaat 
apa yang telah kita berikan sebagai makhluk paling sempurna untuk kesejahteraan 
sesama hidup ini. Bagi penulis, kemuliaan seseorang terjadi ketika manusia 
bersatu dan bekerja sama memberikan manfaat bagi alam semesta ini, bukan malah 
merusaknya.

Selain itu, penulis merasa prihatin atas penulisan sejarah yang selama ini 
berlaku dan dianut merupakan warisan penjajahan yang niscaya banyak mengalami 
distorsi yang berdampak terhadap hilangnya jati diri bangsa dan kepercayaan 
diri bangsa. Oleh karena itu, penulis mengimbau kepada para sejarawan, 
antropolog, dan arkeolog, atau siapa pun yang berkompeten untuk coba secara 
objektif dan dibekali dengan hati nurani dengan menjunjung rasa kebangsaan 
untuk mengkaji kembali dan merevisi sejarah kebudayaan nasional kita.***  

Penulis adalah pengikut ajaran Mei Kartawinata dan seorang planolog/praktisi 
konsultan pembangunan daerah/kota.

  ----- Original Message ----- 
  From: surtiwa surtiwa 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, December 20, 2006 9:20 AM
  Subject: Re: [Urang Sunda] Re: [kisunda] Urang Sunda VS Champ ti Mongol


  Nahanya urang bisa janten kurang PD lamun kanyataan
  hasil pambuktian Sajarah yen Urang Sunda teh anu
  sesekelerna etnis (??) Malayo-Polynesia sakedik
  kacampuran Da Viet (mongoloid) ? Pan seueur didaerh
  Cirebon, Lampung, Bangka, Singkawang, Mnahasa eta
  bangsa endonesia anu kacampuran ras mongoloid
  (pangpangna Cina jeung Jepang). naha ceuk rarasaan
  etnis Sunda teh tadina mah...memang Urang Sunda we teu
  bisa diganggu gugat ? Duka nya badi keur rada leiur 
  kahujanan.....emam panadol...

  --- Agus Wirabudiman <[EMAIL PROTECTED]>
  wrote:

  >> 
  > Atuh tina hal sejarah peryogi oge dilereskeun, margi
  > bade ngangkat Budaya Sunda kumaha upami anu dicepeng
  > Sejarah Sundana yen Urang Sunda teh asimilasi ti
  > turunan Mongol akibat aya migran besar-besaran tea.
  > ieu hal anu ngabalukarkeun kurang Pede ceuk bahasa
  > ABG ayeuna mah, jadi kurang Percaya Diri dina raraga
  > miara Budaya Sunda-na. antukna cara-cara anu ti luar
  > boga anggapan leuwih alus tinimang anu asal di
  > lokal. tah palebah dieu urang dina ngamumule boh
  > Falsafah-na, Budaya-na jeung Bahasa-na rada beurat
  > ceungkatna.
  > 
  > sakitu heula anu tiasa kapihatur
  > Rampes
  > Baktos
  > Agus Wirabudiman
  . 
   

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke