tulisan si kuring dimuat Kompas jawa barat poe ieu, jumaah, 2 Februari.
teu aya diwebna, kabeneran aya keneh dina file. aslinya mah make ngaran
mang jamal, ngan dirobah ku ngaran seurieus. dina raraga 7 tahun kusnet, 5
tahun yp. nyanggakeun.

-------------------

Wajah Lain Orang Sunda

Oleh Jamaludin Wiartakusumah

Tulisan Sdr. Encep Dulwahab (Kompas, Sabtu 25 November 2006) senada dengan
sebagian sikap orang Sunda lainnya yang selama ini gelisah dengan minimnya
eksistensi orang Sunda di kancah nasional dan –apalagi- internasional.
Kegelisahan yang wajar mengingat berhubungan dengan masalah kebanggaan
atas partisipasi orang Sunda di dalam membangun negeri dan dunia.
        Ketika Presiden SBY melakukan perombakan kabinet dengan mengganti
beberapa menteri yang kebetulan orang Sunda, ada pihak -perorangan maupun
lembaga kesundaan- yang menyesalkannya. Sikap yang wajar karena peristiwa
itu melenyapkan kebanggaan orang Sunda. Meskipun dimata
sebagian orang Sunda sendiri, sikap itu, tampak naif mengingat
perombakan kabinet semata urusan politik yang dibungkus hak prerogatif
presiden. Orang Sunda yang menjadi menteri –di luar urusan politik-
menjadi kebanggan semata karena dianggap mewakili keberadaan Sunda sebagai
suku-bangsa di puncak manajemen negara. Meskipun menteri itu belum tentu
perduli pada nasib orang dan kebudayaan Sunda, seperti yang sudah-sudah.
        Jarang orang Sunda yang menyadari bahwa sesungguhnya ada orang Sunda
genetik -karena ayahnya orang Sunda- pernah berperan penting karena
memegang posisi setara Presiden RI. Adalah Syafruddin Prawiranegara yang
ketika Bung Karno dan Bung Hatta ditawan Belanda, mendirikan dan menjadi
ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Ia seorang
ahli hukum kelahiran Serang 28 Februari 1911, putra R. Arsyad
Prawiraatmaja.

Eagles  fly alone
Berbagai latar belakang kurang eksisnya orang Sunda di pentas nasional
telah banyak ditelaah, termasuk yang menjadi latar orang Sunda tidak mudah
bersatu bilang dibanding suku bangsa lain. Salah satunya konon tradisi
karuhun yang bukan petani tetapi ngahuma (peladang). Kondisi peladang yang
masing-masing berjauhan membuat bentuk guyubnya berbeda dengan misalnya
orang Jawa yang lebih komunal karena tradisi pertanian yang telah lebih
lama dibanding orang Sunda yang ngahuma itu.
        Tradisi karuhun ngahuma, selain memiliki sisi negatif, juga sisi positif
yang pada gilirannya membuat orang Sunda muncul sesuai karakter ngahuma
yaitu individual alias usaha keras yang diperjuangkan sendiri-sendiri
tanpa dukungan komunitas. Lalu, seperti pepatah, mereka bak rajawali yang
terbang sendiri (eagles fly alone).
        Arus mobilitas manusia di seluruh dunia juga diikuti sebagian orang 
Sunda
sehingga selain ‘beredar’ di seluruh wilayah Tanah Air juga telah
‘mengorbit’ di planet bumi. Mereka tersebar di berbagai benua hingga di
tempat terpencil seperti Kaledonia Baru Pasifik Selatan. Selain mereka
yang mendapat label Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan kita apresiasi
sebagai Pahlawan Devisa, masih ada –meski baru dapat dihitung dengan jari
dua-lima orang, mereka –secara individual- yang tinggal dan bekerja di
luar negeri karena kualitas pribadi yang langka dan keahlian yang
ditopang pendidikan tinggi.
        Keberadaan mereka di luar sana, barangkali hanya diketahui oleh pihak
keluarga, kolega, instansi terkait dan kenalan saja. Sekedar contoh, di
sebuah kampus swasta tertua di Seoul, Universitas Yongsei, salah seorang
peneliti dan dosen di tingkat master serta doktor adalah Dr. Yaya
Rukayadi, orang Situraja Sumedang kelahiran 1964 yang meraih gelar doktor
bidang bio-engineering di Amerika. Kemampuannya yang relatif langka pernah
membuat proposalnya diterima NASA untuk diujicoba di antariksa. Tapi
kemudian, dengan alasan pribadi, ia menolak bekerja di lembaga paling
canggih di Amerika itu. Beberapa hasil penelitiannya berbasis potensi
Tanah Air seperti penelitian terhadap kandungan koneng gede (temulawak)
telah diproduksi industri Korea Selatan.
        Badan PBB yang sekarang sering muncul di media berkaitan dengan 
aktivitas
Korea Utara dalam percobaan rudal nuklir adalah Badan Tenaga Nuklir Dunia
alias International Atomic Energy Agency (IAEA). Salah seorang staf di
Safeguard Department  badan itu- tugasnya antara lain mengawasi keamanan
instalasi nuklir terutama radiasi- berasal dari sebuah desa di Kecamatan
Talaga Majalengka bernama Suhermanto Duliman. Setelah lulus dari Fisika
UI, ia bekerja di Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), kemudian mengambil
S-2 Fisika Kuantum di Universitas Tokyo lalu bekerja di markas IAEA, Wina
Austria dengan wilayah kerja Asia Pasifik. Barangkali karena meningkatnya
aktivitas Korut di atas,  beberapa bulan lalu Herman dipindahkan ke kantor
cabang IAEA Tokyo.
        Yang lebih senior, Dr. Willy R. Wirantaprawira (lihat
wirantaprawira.net), orang Tasikmalaya kelahiran 22 Februari 1939 yang
baru dua-tiga tahun lalu pensiun dari posisinya sebagai anggota peneliti
utama (Senior Research Fellow) di Max Planck Institute for Comparative
Public Law and International Law di Heidelberg Jerman. Max Planck adalah
lembaga riset bergengsi di dunia-beberapa penelitinya banyak mendapatkan
hadiah Nobel. Di sana, Pak Willy adalah satu-satunya orang non-Jerman yang
menjadi peneliti tetap. Biasanya orang luar Jerman hanya menjadi peneliti
tamu yang bekerja paling lama delapan bulan. Putra seorang tukang jahit di
Tasik yang beristrikan orang Jerman itu adalah lulusan Fakulas Hukum dan
Hubungan Universitas Negeri Kiev, Ukraina (1963-1971). Sekarang Pak Willy
membantu pemerintah Tasik, diantaranya pengembangan ekspor industri kriya
ke Eropa.
        Di Big Apple alias New York City, ada Abah Joe Raggan alias Singgih Nata
(68) orang Sunda kelahiran Cicalengka yang puluhan tahun tinggal dan
berwiraswasta di sana dan sudah berpaspor sama dengan Oprah. Meskipun
demikian, mimpinya masih sering tentang sawah dan pohon randu di
pematang. Masih di NYC, ada Tharyana Sastranegera orang Bandung yang
mendirikan Silat PD USA School (lihat www.silatpdusa.com). Di bidang
militer, ada nama Sandy Latif, seorang serdadu marinir asal kota tahu
Sumedang yang mendapat tugas di Sierra Leone Afrika Tengah, bergabung
dengan pasukan PBB untuk menghentikan perang sodara di sana.

Kampung Halaman Imajiner
Seperti umumnya perantau yang butuh media untuk melepaskan rindu pada
kampung halaman, Orang Sunda yang ngumbara dimana-mana itu banyak yang
mencarinya di internet. Selain membaca situs berita Tanah Air, banyak dari
mereka bergabung dalam milis yang menggunakan bahasa Sunda sebagai salah
satu cara mengekpresikan kesundaan. Dari milis itulah mereka penulis
temukan dan kenal.
        Semoga eksistensi mereka di ‘antah berantah’ itu memberi semangat dan
memacu orang Sunda lainnya untuk berprestasi setinggi mungkin di bidang
masing-masing, untuk Tanah Air dan dunia yang lebih baik. Nyanggakeun
juragan!

Jamaludin Wiartakusumah
Moderator  KUSnet,
milis [email protected]




mj

http://geocities.com/mangjamal








PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke