Numutkeun almarhum bapa Ayat Rohaedi, Gede-Pangrango memang gunung kabuyutan 
di Tatar Sunda. Saurna, gunung anu jadi taman nasional ieujadi "tempat suci" 
anu dijaga sarta dilanggengkeun. Di sabudeureunnana, pangrusakan alam masih 
terus lumangsung malah kedieunaeun beuki mahabu sarta ngabinasakeun lamun 
henteu dihalangan. diharapkeun tetep.


Ieu seratan lengkep almarhum dina KOMPAS kaluaran Salasa, 13 Agustus 2002:
 
  

Di akhir abad ke-15, atau selambat-lambatnya awal abad ke-16, seorang pendeta 
bernama Bujangga Manik melakukan "wisata ziarah" ke tempat-tempat suci di Pulau 
Jawa. Bahkan, dalam perjalanan kedua, ia sampai ke Bali. Ia berangkat dari ibu 
kota Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang), baik melalui darat maupun melalui laut. 
Kisah perjalanan yang dituliskannya pada helaian daun lontar, juga mungkin 
nipah atau gebang dengan menggunakan bahasa Sunda, sejak tahun 1627 tercatat 
sebagai koleksi Bodleian Library di Oxford, Inggris.


Dari catatan perjalanannya itu, terkesan ia sekurang-kurangnya dua kali 
melintas ke tempat yang sekarang dikenal sebagai daerah Gunung Gede Pangrango 
(3.019 m). Dalam perjalanan pertama sewaktu berangkat ke wilayah timur, ia 
melalui tempat-tempat yang namanya masih dipertahankan hingga sekarang, 
misalnya Tajur Mandiri (sekarang Tajur) dan Suka Beurus (sekarang Sukabirus). 
Demikian juga tempat bernama Puncak yang ketika itu sudah dikenal.


Katanya, "Panjang ta(n)jakan ditedak, ku ngaing dipeding-peding. Sadatang aing 
ka Puncak, deuuk di na mu(ng)kal datar, teher ngahihidan awak. Teher sia 
ne(n)jo gunung, itu ta na Bukit Ageung, hulu wano na Pakuan." Terjemahan 
bebasnya kira-kira berarti, "Panjang tanjakan yang kulalui, kutempuh dengan 
tekun. Setiba aku di Puncak, aku duduk di atas batu datar (rata) sambil 
mengipasi tubuh. Lalu aku memandang ke arah gunung, itulah Bukit Ageung, titik 
tertinggi di wilayah Pakuan".


Ketika kedua kalinya melalui daerah itu, ia datang dari timur. Sekembali dari 
perjalanan ziarahnya mengunjungi tempat-tempat suci di Majapahit, bahkan Bali. 
Katanya, ''Sadatang ka Bukit Ageung: eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, 
sanghiang Talaga Warna." Terjemahan bebasnya kira-kira, "Setiba di Bukit 
Ageung, itulah hulu Ci Liwung, kabuyutan (= tempat suci) dari Pakuan, (yaitu) 
sanghiang Talaga Warna".


Bukit Ageung atau Bukit (gunung) Besar yang terdapat di daerah Puncak, dan juga 
menyebut Ci Liwung dan Talaga Warna, pastilah gunung yang sekarang bernama 
Gunung Gede (2.958 m). Atau, dalam hal masih timbul keraguan, bersama "saudara 
kembarnya", Gunung Pangrango (3.019 m). Bagi sebagian masyarakat yang sekarang 
berdiam di sekitar kedua gunung itu, Gunung Gede memang kadang-kadang juga 
disebut Gunung Agung atau Gunung Ageung. Gunung lain yang oleh masyarakat 
sekitarnya juga dinamakan Gunung Ageung (Agung) atau Gunung Gede adalah Gunung 
Ciremay (3.078 m) di Cirebon dan Gunung Slamet (3.428 m) di Pekalongan.



Kutipan puisi itu memberikan petunjuk kepada kita bahwa di masa lampau, ketika 
negara yang beribukotakan Pakuan masih ada, Gunung Gede dengan Telaga Warna 
sudah merupakan kabuyutan atau tempat suci. Apakah Talaga Warna menurut 
Bujangga Manik itu (awal abad ke-16) sama dengan Talaga Rena Mahawijaya menurut 
prasasti Batutulis (1533)? Hingga saat ini sebagian ada yang berpendapat 
demikian. Walaupun, tentu saja, cukup mengherankan jika dalam waktu tidak 
sampai seperempat abad, jika memang benar, namanya sudah berubah dari Talaga 
Warna menjadi Talaga Rena Mahawijaya.


Petunjuk lain yang dapat diambil dari naskah itu adalah yang berhubungan dengan 
lembah Mandalawangi, yang oleh sebagian masyarakat juga dikenal dengan nama 
lembah Eyang Suryakencana. Bujangga Manik yang dengan sengaja berkunjung ke 
berbagai kabuyutan dan tempat suci hingga ke ujung timur Pulau Jawa dan Bali 
ternyata sama sekali tidak menyebutkan kabuyutan Eyang Suryakencana.


Apakah itu berarti bahwa ketika itu kabuyutan itu belum ada? Sesuatu yang juga 
sangat masuk akal mengingat, menurut tradisi rakyat setempat, Eyang 
Suryakencana adalah Raja Pajajaran yang terakhir. Artinya, jika itu dihubungkan 
dengan berita naskah Carita Parahyangan (1580) dan kemudian diperkuat oleh 
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa Kulwan (1687) karya Pangeran Wangsakerta dan 
kawan-kawan dari Cirebon, terdapat kesesuaian juga.



Menurut kedua naskah itu, raja terakhir yang bernama Nu Siya Mulya "ia 
(baginda) yang mulia" memerintah selama 12 tahun (1567-1579). Berarti, ketika 
Bujangga Manik berkunjung ke Gunung Gede, Nu Siya Mulya atau yang Suryakencana 
belum menjadi raja, bahkan mungkin juga belum lahir. Karena itu, sangat wajar 
jika ia tidak mengenal kabuyutan yang memang diharapkan itu belum ada.


Alam di sekitar Gunung Gede-Pangrango ternyata merupakan makmal, 
'laboratorium', alam untuk berbagai jenis tanaman. Hal itu menyebabkan para 
perintis botani pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, misalnya Franz Wilhelm 
Junghuhn (1809-1864), ahli botani keturunan Jerman yang berkelana di pegunungan 
Jawa Barat, meneliti fenomena alam tropis. Ia pun memperkenalkan tanaman kina 
dan membudidayakannya di daerah Lembang.

  Selain Junghuhn, juga tercatat peneliti tanaman tropis di daerah pegunungan 
Jawa, termasuk Gede dan Pangrango, adalah G Forbes, Direktur Museum Botani di 
Liverpool, Inggris. Forbes tahun 1871 pernah berkelana di alam pegunungan Jawa 
Barat, dari Buitenzorg (Bogor) ke Bandung dengan kereta pos dengan kuda dan 
kerbau, semalam suntuk baru tiba di Bandung.


  Kekayaan tanaman di pegunungan itu menyebabkan penguasa pada waktu itu lalu 
melakukan upaya perlindungan. Tindakan nyatanya adalah dengan menjadikan 
kawasan itu sebagai suaka alam dan kini menjadi Taman Nasional Gede-Pangrango.


  Untuk memperlihatkan betapa bermaknanya kedua gunung itu bagi orang Sunda 
yang menganggap berasal dari Pajajaran, simaklah lirik lagu ini, Gunung Gede 
siga nu nande/ nandean ka badan abdi/ Gunung Pangrango ngajogo/ ngadagoan abdi 
wangsul/ wangsul ti pangumbaraan/ kebo mulih pakandangan/ nya muncang labuh ka 
puhu/ anteurkeun ka Pajajaran. Terjemahan bebasnya, "Gunung Gede bagaikan 
menampung, menampung tubuh diriku; Gunung Pangrango menunggu, menanti aku 
kembali; aku pulang mengembara, bagai kerbau kembali ke kandangnya, bagaikan 
kemiri jatuh ke pangkal, antarkanlah daku ke Pajajaran".


  Begitu pun Kalipah Apo atau Ace Majid, ketika berada di puncak Gunung 
Halimun, ia bermadah, Laut Kidul kabeh katingali/ ngembat paul kawas dina 
gambar/ ari ret ka tebeh kaler/ Batawi ngarunggunuk/ lautna mah teu katingal/ 
ukur lebah-lebahna/ semu-semu biru/ ari ret ka kaler wetan/ Pangrango siga nu 
ngajak balik/ meh bae kapiuhan. Terjemahan bebasnya, "Laut Kidul semua jelas 
terlihat, membiru bagaikan gambar, ketika memandang ke arah utara, Kota Betawi 
pun muncul, namun lautnya tak tampak, hanya perkiraan letaknya yang terlihat 
berwarna biru; ketika menoleh ke timur laut, Pangrango bagaikan mengajak 
pulang, aku pun hampir pingsan".
  

Gunung Gede-Pangrango memang gunung kabuyutan di Tatar Sunda. Gunung yang 
menjadi taman nasional ini harap saja tetap menjadi "tempat suci" yang dijaga 
dan dilestarikan. Meski di seputarannya, penjarahan dan perusakan alam masih 
terus berlangsung, malah makin hebat dan membinasakan kalau tidak dicegah. Apa 
mampu?


  AYATROHAEDI, Guru besar UI dan pensiunan pendaki dari Depok
  KOMPAS, Selasa, 13 Agustus 2002

Salam,


Asep

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke