Sigana mah kudu ngajujut ka puhuna heula, naon harti masing2 kandunganana, nu pokona nyaeta kecap sapamulu (katut 'varian'na) & sakarupa.
Sapamulu asal kecap tina pamulu ditambah awalan sa-. Pamulu hartina rupa beungeut, wanda, ditambah sa- jadi sarupa beungeut, sawanda. Sakarupa asal kecap tina rupa ditambah awalan sa-, terus diselapan -ka- (tah nu ieu mah ngarang, da lamun langsung ditambah awalan saka- mah bet jadi 'elmu saka' geuning). Rupa teh hartina wangun atawa wanda, sahingga sakarupajadi boga harti sawangun atawa sawanda. Kacindekanana, sapamulu jeung sakarupa teh eta-eta keneh, sawelas dua welasceuk urang Garut mah... Tuh, can oge digabungkeun dina hiji kalimah, nu tilu teh geus ngahiji sorangan: sapamulu jeung sakarupa teh eta-eta keneh. Nya atuh ari kitu mah, kari tambahan we ku angka-angka, itung-itung pamapaes, jadi we tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh. Lamun kuring kaci ngembohan mah, rek ditambahan deui jadi tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh, sawelas dua welas, anu hartina taya bedana. Ayeuna, kunaon pangna Juragan Jakob Sumardjo nepi ka kudu ngahususkeun medar ieu kalimah dina hiji artikel (mangga aos di handap, ti PR Online<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1105/12/khazanah/lainnya01.htm>)? Aeh, duka ketang, da geuning kalimahna ge rada beda. Nu di luhur mah sapamulu, sedengkeun nu di handap mah sapamula. Sapamula mah meureun asalna tina kecap mula (awal, asal) ditambahan ku sa- jeung -pa-, nu hartina saawal, saasal, sasumber, meureun... Aya deui warta PR sejen anu ditepikeun ku Handiman, nu ieu mah tilu sapamilu, dua sapakarupa, nu hiji eta keneh. Sejen deui, heheh... Lamun sapamilu, nya urang saruakeun bae jeung pola di luhur, asalna tina kecap milu nu ditambahan ku sa- jeung -pa-, hartina meureun saihwan, saaliran, sapamingpin, da anu diiluanana hiji (awalan sa-). Sigana mah anu ieu teh nujul ka anu dibahas ku Juragan Jakob, da pada2 ngabahas urang Gunung Halimun. Tamba panasaran, moal ngoretkeun, mangga aos oge artikelna di handap (ti PR Online <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/20/0107.htm>oge). Naha anu dua di handap teh palasipah anu asalna tina babasaan anu disoledatkeun atawa sanes? Duka teh teuing, da abi mah teu apal... Hampura bisi 'pedaran' anu di luhur asup kana kategori ocang, ieu mah tamba gado ngaburayot bae... -- sikandar kumincir.blogspot.com "Tilu Sapamula, Dua Sakarupa, Hiji Eta-eta Keneh" Oleh *JAKOB SUMARDJO* DI masyarakat Ciptagelar, Sukabumi Selatan, terdapat ungkapan adat yang terkenal, yakni *tilu sapamula, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh.* Ungkapan itu, oleh masyarakat setempat ditafsirkan sesuai dengan pengalaman adatnya. Ungkapan adat dan masyarakat adat tentu tak dapat dipisahkan, karena ungkapan adat adalah etos sosial yang berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri. Namun, patut disimak bahwa ungkapan adat itu telah ada sebelum masyarakat yang sekarang menggunakannya ada. Ungkapan itu berasal dari kebijaksanaan nenek moyang mereka berabad-abad yang lalu. Dasar pemikiran ungkapan adat itu tentu kurang dikenal oleh keturunannya yang sekarang karena diturunkan secara lisan. Masyarakat adat sekarang ini menafsirkannya berdasarkan kepentingan masyarakat ini. Memang itulah kepentingan adat, berkembang maknanya sesuai dengan perubahan-perubahan zamannya. Hal ini berarti bahwa penafsiran masyarakat adat inilah yang benar. Kita yang berada di luar komunitas itu tentu tak ada sangkut pautnya dengan kebenaran tafsir mereka. Kita harus menghormati pemaknaan masyarakat setempat. Namun dalam tafsir budaya kita juga punya kesempatan untuk ikut menafsirkan makna simbolis ungkapan tersebut. Di sini saya akan mencoba menafsirkan ungkapan terkenal itu dari segi sistem atau struktur budayanya yang oleh filsuf budaya Ernst Cassirer disebut sebagai pendekatan sinkronik. Sedangkan penafsiran ungkapan itu oleh masyarakat setmpat disebut sebagai penafsiran diakronik yang berdasarkan genetik (satu turunan) dan historis (kondisi budaya masyarakat zaman ini). Kedua pendekatan ini tidak harus dipertentangkan, tetapi diharapkan saling melengkapi. Pertanyaan pertama kita adalah, mengapa ungkapan itu dinyatakan dalam urutan numerik yang terbalik, yakni dari* tilu, dua*, kemudian* hiji.* Mengapa bukan* hiji, dua, tilu?* Hitungan satu-dua-tiga adalah hitungan maju, sedangkan sebaliknya hitungan mundur. Hitungan maju berarti dimulainya sebab dan akibat. Sedangkan hitungan mundur menjadi akibat menuju sebab. Dengan demikian ungkapan masyarakat Ciptagelar ini harus dibaca dari akibat menuju sebab. *Tilu sapamula* adalah akibat yang disebabkan oleh*hiji eta-eta keneh.* Jadi kalau dibalik urutannya, yang mula-mula ada ialah* hiji eta-eta keneh* dan berakhir sebagai akibatnya *tilu sapamula.* Inilah asas pola tiga atau *tritangtu* masyarakat Sunda sejak zaman dahulu kala. Pola adalah sistem hubungan-hubungan abstrak yang dapat dibaca dari perwujudannya dalam struktur tiga. Jadi pola boleh sama, namun penstrukturannya dapat berbeda-beda. Inilah pengaturan diri yang dikenalkan oleh Fritjop Capra. Pola tiga dalam struktur atau sistem berpikir masyarakat Sunda di zaman dulu adalah bahwa keberadaan ini hanya sempurna, baik, kalau distruktur dalam hubungan tiga. Mengapa harus tiga? Karena keberadaan ini substansinya hanya dua saja, dan yang dua ini selalu merupakan pasangan kembar substansial yang saling berlawanan namun saling melengkapi. Untuk itu semua pengalaman manusia Sunda dapat dikategorikan menjadi pasangan dualistik oposisioner. Ini semua hanya ada dalam kesadaran sehingga pemaknaan dualistik juga bisa berbeda-beda dalam setiap komunitas Sunda. Kalau ada kategori "dalam" tentu ada yang disebut "luar". Kalau ada kategori "asli" tentu ada yang disebut "asing". Kalau ada yang disebut* buhun* atau "lama" tentu ada yang disebut "baru". Kalau ada kategori "produktif" tentu ada yang disebut "konsumtif". Kalau ada kategori "bebas" tentu ada yang disebut "terikat". Kalau ada kategori "tunggal" tentu ada yang disebut "plural". Kategori-kategori pasangan oposisi substansial ini tentu dapat dilanjutkan dengan ribuan yang lain. Pada pandangan masyarakat Sunda *buhun*, seperti pandangan manusia Indonesia lama di mana-mana, kondisi dualisme-antagonistik disebut* dua sakarupa.*Yang *dua sakarupa* ini "tidak berdaya" kalau dibiarkan mengada begitu saja. Inilah kondisi imanen, sehingga untuk mencapai "daya-daya" diperlukan adanya kesatuan dari *dua sakarupa.* Dan itulah kembali pada esensi tunggal,* hiji eta-eta keneh.* Dunia ini bergerak dan hidup oleh daya-daya paradoksal *eta-eta keneh* itu. Inilah hadirnya yang transenden di dunia imanen. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa *tilu sapamula* adalah eksistensi, *dua sakarupa* adalah sunstansi, dan *hiji eta-eta keneh* adalah esensi tunggal itu. Eksistensinya tiga, namun substansinya cuma dua, dan esensinya tunggal. Ketiganya merupakan kesatuan. Kembali pada kesatuan adalah kembali pada sumber kehidupan itu sendiri, penyebab utama dari segala yang ada ini. Terjemahannya dalam kehidupan sosial masyarakat Ciptagelar yang sekarang, *tilu sapamula* yang terdiri dari* buhun, nagara, sarak.* *Buhun* adalah adat istiadat Sunda *buhun, nagara* adalah tata pemerintahan nasional negara Republik Indonesia, sedangkan *sarak* adalah agama Islam dan lembaga-lembaga Islam. Di sini masyarakat Ciptagelar memasang pasangan oposisi *buhun* dan * sarak,* adat istiadat nenek moyang yang asli Sunda dengan iman Islam. Keduanya disatukan dalam eksistensi ketiga yakni kecamatan atau kelurahan modern Indonesia. Eksistensi sosial itu terdiri dari tiga unsur di atas. *Tilu sapamula.* Sejak dulunya memang ada pola tiga. Dan pola tiga ini berubah strukturnya sesuai dengan tuntutan zamannya, yakni tuntutan perubahan itu sendiri. Sunda yang lama menjadi Sunda yang baru dari kesundaan itu sendiri. Marilah kita lihat struktur yang berubah itu sesuai dengan perubahan zamannya. Masyarakat Ciptagelar sendiri membagi komunitasnya menjadi tiga kelompok besar yang huniannya mengitari Gunung Halimun atau Sanggabuana. Di sebelah barat gunung ada kelompok Citorek dan di sebelah utara gunung ada kelompok Ciurug, serta di selatan gunung ada kelompok Ciptagelar. Rupanya kelompok Citorek bersubstansi *buhun,* Ciurug *sarak,* dan Ciptagelar * nagara.* Keseluruhan perkampungan Ciptagelar, yakni *tritangtu-*nya, terdiri dari sembilan kampung. Struktur yang lebih tua dan lebih terkenal adalah perkampungan Baduy yang terdiri dari Cikeusik sebagai *buhun,* Cibeo sebagai Sunda baru, dan Cikertawana sebagai penyatu dua oposisi tersebut. Pada zaman maraknya kepercayaan Hindu-Budha di Sunda (abad 4 (?) sampai 1575) struktur tiga ini jelas tergambar dalam *carita-carita* pantun yang terdiri dari Pakuan Pajajaran sebagai *buhun,* negara-negara pantai sebagai *sarak,* dan negara-negara tengah (Sumedang, Subang, Garut, dll.) sebagai * nagara.* Istilah populernya tiga kesatuan *resi, ratu, rama.* *Resi* adalah pemilik mandat kekuasaan para dewa, *ratu* adalah pelaksana pemerintahan yang menyatukan antara *buhun* di Pakuan dengan negara-negara pesisir. Pada zaman penyebaran agama Islam di Sunda, struktur tiga ini tetap bertahan dalam bentuk lain, yakni Islam (pesantren), *menak* (bangsawan-bangsawan pelaksana kekuasaan di daerah-daerah), dan *rama*, yakni masyarakat perdesaan Sunda. Kesatuan tiga antara Islam, *menak*, dan rakyat ini dapat dibaca sebagai Islam, *menak,* dan adat Sunda (rakyat). Di sini terjadi konversi yang luar biasa dalam sejarah budaya Sunda, yakni Islam menjadi kategori "dalam", identitas Sunda yang baru, dan adat Sunda (*buhun*) menjadi kategori oposisinya. Dan keduanya disatukan oleh kaum *menak*. Konversi struktur budaya semacam itu bukan hanya terjadi di masyarakat Sunda, tetapi juga masyarakat Melayu, Minang, Bugis. Islam menjadi identitas baru, yakni kategori "dalam" yang memisahkan *buhun* adat istiadat aslinya. Namun Sunda tidak mau kehilangan kesundaannya juga, artinya pasangan yang saling melengkapi. *Tilu sapamula* adalah perwujudan struktur pola tiga yang adaptif dalam menangani perubahan zaman. Semua perubahan itu niscaya dalam hukum keberadaan ini, namun masyarakat Sunda tetap berpegang pada pola tiganya. Tetapi apakah makna perubahan itu? Perubahan adalah sesuatu menjadi sesuatu yang lain dari sesuatu itu sendiri. Dibaca secara budaya akan menjadi: Sunda menjadi Sunda yang baru dari kesundaannya itu sendiri. Bagaimana mekanisme yang terjadi? Mekanismenya memang agak paradoksal, yakni tetap menyatu namun juga memperhitungkan pemisahan. Yang asli tetap dipertahankan, sedang yang berubah juga masih diakui dari bagian dirinya, namun dipisahkan. Ini terlihat pada mekanisme Baduy yang masih taat pada adat dipertahankan, sedangkan yang sudah berubah dipisahkan dari yng masih bertahan pada keaslian. Baduy asli dipisahkan dari Baduy baru, dan Baduy baru yang lebih baru lagi dipisahkan lagi. Yang tunggal adalah plural dan yang plural esensinya tunggal. *Tilu sapamula, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh.***** * "Ngadongkapkeun", Wujud Syukur Ala Warga Cisungsang *"...nyanggakeun sari pangabaktina, hayang kasari, kabukti, kateda, katarima, agungna ka nu kawasa...*. KALIMAT di atas adalah penggalan doa yang diucapkan warga di Kesatuan Adat Banten Kidul, Kaolotan Cisungsang, Kec. Cibeber, Kab. Lebak, Banten, saat menggelar tradisi *ngadongkapkeun* (mendatangkan). Doa itu isinya antara lain tentang penyerahan diri kepada Yang Kuasa, agar penghambaan mereka diterima. *KEBERADAAN leuit (lumbung padi) yang menjadi bagian utama dari kehidupan masyarakat tani Kesatuan Adat Banten Kidul, Kaolotan Cisungsang, Kec. Cibeber, Kab. Lebak, Banten.*HANDIMAN/"PR"* Tradisi *ngadongkapkeun* merupakan perpaduan antara adat lokal dengan ajaran Islam. Intinya, bentuk rasa syukur warga kepada Allah SWT dan penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa sehingga anak cucunya bisa hidup bahagia. "Tradisi *ngadongkapkeun* dilakukan di saat ada rezeki berlebih, berlangsung pada hari pertama bulan puasa, setelah salat Idulfitri, hari terakhir puasa, sehabis ziarah kubur, bulan purnama, dan magrib. *Ngadongkapkeun* bisa dipimpin langsung para pemimipin adat seperti *olot* atau *kokolot lembur*(tetua kampung)," kata Agus Suhendra (31), Kokolot Lembur Gede, Kaolotan Cisungsang. Pada perayaan Idulfitri 1425 H lalu, tradisi *ngadongkapkeun *tak dilewatkan oleh masyarakat di kaki Gunung Halimun ini. Selepas ziarah kubur selepas salat Idulfitri, masyarakat berkumpul di rumah *kokolot lembur* sambil membawa makanan. *Kokolot lembur* lalu memimpin upacara ritual kepada leluhur yang diakhiri pujian kepada Allah SWT. Di Cisungsang, ada empat *kokolot lembur* yaitu Lembur Gede, Babakan, Tonggoh, dan Lebak. Peran *kokolot lembur *merupakan perwakilan langsung * olot* di setiap kampung. Kegiatan serupa juga dilakukan di rumah Olot Cisungsang, Abah Usep Suyatna (34). Ritual *ngadongkapkeun* dilangsungkan di *kokolot lembur* dimaksudkan agar semua masyarakat tak tumpah ruah semua ke rumah *olot.* Hal itu sesuai peran *kokolot lembur* sebagai perwakilan abah. Dengan pakaian khas Banten Kidul, yakni berwarna hitam serta penutup kepala, *kokolot lembur* langsung memanjaatkan doa kepada Allah SWT dan leluhur. Kemenyan yang digunakan pun berasal langsung dari *olot.* Sehabis berdoa, masyarakat pun sungkem kepada *olot* atau *kokolot lembur,* tergandung di mana mengikuti acara ritualnya. Serangkaian doa dalam tradisi *ngadongkapkeun* dimulai dengan bacaaan * basmallah,* doa bakar kemenyan, doa selamat, dan diakhiri dengan kalimat *laa haula walaa quwwata illaa billaah* (tidak ada daya dan upaya selain kepada Allah SWT). Selain dilakukan secara massal, dalam kriteria lebih kecil, tradisi * ngadongkapkeun* bisa juga dilakukan secara pribadi di rumah masing-masing. Ritual yang lebih personal ini biasa terlihat pada saat sehari sebelum Idulfitri, setelah buka puasa terakhir, di mana tradisi *ngadongkapkeun*juga dilaksanakan di setiap rumah warga secara masing-masing. Ritual dipimpin oleh setiap kepala keluarga. "Di kala kita memiliki rezeki berlebih, sudah sewajarnya mengingat dan mengucapkan terima kasih kepada para leluhur yang telah mendahului. Jadi, wajar setelah satu bulan berpuasa dan merayakan hari kemenangan, kita mengingat leluhur dengan mengadakan tradisi *ngadongkapkeun*," kata Agus. Dalam ritual tersebut, sejumlah sesajian disediakan. Biasanya terdiri dari makanan kecil, air putih, kopi, dan sebagainya. Jumlahnya harus ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh rupa. Ritual ini dipimpin oleh tetua adat yang berpakaian khas Banten Kidul, berawarna hitam-hitam langsung memimpin doa untuk para leluhur itu. Agus mengatakan, antara ritual agama Islam dan tradisi lokal bisa hidup berdampingan di Cisungsang. "Walau bagaimanapun, kami menyadari tradisi itu bukan agama," katanya. Sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, kata Agus, tradisi tidak mesti ditinggalkan. "Sebagai contoh, tradisi *ngadongkapkeun* tidak bertentangan dengan Islam karena merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan para leluhur," kata pria yang biasa dipanggil Mang Agus. Bukti berjalan sejajarnya tradisi dan agama itu bisa dilihat ketika masyarakat sangat antusias dalam melaksanakan takbiran dan salat Idulfitri. Dua masjid di Cisungsang, Baiturrahman dan Cisungsang, ramai dijadikan ajang takbiran dan salat id. Pemuda pun ramai-ramai keliling kampung sambil menabuh beduk. Keberadaan beduk bisa dikatakan suatu "kewajiban" bagi masjid atau musala di Cisungsang. Tabuhan beduk juga menandakan berapa banyak rakaat yang dilakukan. Misalnya, salat asar, maka beduk ditabuh sebanyak empat kali. Biasanya, setiap menjelang akhir ceramah Idulfitri, khatib mengingatkan warga untuk menjalankan tradisi *ngadongkapkeun *di rumah *kokolot lembur.*Selepas salat id, kaum laki-laki dan perempuan saling berbanjar untuk bersalaman dan bermaaf-maafan. Setelah itu, mereka pun berziarah ke kubur keluarga dan ketiga *olot* sebelum Abah Usep yaitu Abah Ruman, Abah Sakrim, dan Abah Sardani. ** KETUA Dewan Keluarga Masjid (DKM) Baiturrahman--masjid terbesar di Cisungsang--Sudin mengatakan, pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Cisungsang semakin hari semakin besar. Hingga 1960-an, nuansa tradisi pada masyarakat Cisungsang jauh lebih kental dibandingkan nuansa Islam. Namun, seiring berdirinya sekolah madrasah diniyah di akhir 1970-an dan kemudian pesantren Bahrul Ulum pada 1990-an, pengaruh Islam pada masyarakat Cisungsang berkembang pesat. "Masyarakat saat ini menjalankan ajaran agama dan tradisi secara berimbang. Kondisi itu sangat jauh berbeda dibandingkan 1960-an," katanya yang juga mantan Kepala SD Cisungsang I ini. Hal senada diungkapkan Mang Agus. Menurutnya, generasi di atasnya umumnya belum mengamalkan syariat Islam seperti salat. "Walaupun sudah mengaku Islam, mereka umumnya belum menjalankan ajaran Islam, melainkan hanya menjalankan tradisi saja. Namun, pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari terus meningkat akhir-akhir ini," katanya yang juga pernah mengecap pendidikan di salah satu SMP Muhammadiyah di Jakarta ini. Dikatakan Mang Agus, tradisi di masyarakat Cisungsang telah hidup sebelum Islam datang. "Walau bagaimana, tak ada satu manusia pun yang benar-benar kosong dari tradisi lama. Begitu pula, sangat sulit bagi orang untuk menghanguskan tradisi lama. Oleh karena itu, biarlah tradisi lama tetap diamini selagi tidak mengganggu hal-hal yang pokok yaitu keimanan," katanya. Pengaruh tradisi yang sudah hidup di Banten Kidul setidaknya dalam 500 tahun terakhir memang telah berurat-akar di tengah masyarakatnya. Buktinya, tradisi *seren taun* sebagai puncak acara adat Banten Kidul yang bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan pelaksanaan *tetanen* (tata cara bertani) berikutnya, jauh lebih meriah dibandingkan perayaan Idulfitri. Mantan Ketua Ikatan Keluarga Mahasiswa Banten (IKM Banten), Apriyandi, mengatakan bahwa masyarakat Kaolotan Banten Kidul adalah petani yang dipimpin *olot.* "Karena tradisi petani sudah ratusan tahun hidup, maka sudah wajar acara *seren taun* dianggap sebagai puncak acara adat bagi masyarakat Banten Kidul," katanya. Setelah Islam datang, konsep yang "Maha Kuasa" itu ditujukan kepada Allah SWT. "Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan antara tradisi dan ajaran Islam di Banten Kidul. Selain pemimpin adat, masyarakat di sini pun memiliki tokoh-tokoh informal dalam bidang keagamaan," kata Apriyandi, alumnus Universitas Winayamukti di Jatinangor ini. Olot Cisungsang, Abang Usep Suyatna Srd, menegaskan, tradisi pada masyarakat Cisungsang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu kunci bertahannya sistem kasepuhan di Cisungsang adalah karena kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Berdasarkan itu, tradisi lama tetap digunakan bukan dalam kerangka ideologis, namun dalam kerangka pragmatis. Pada masyarakat adat yang beragama Islam terjadi proses pengawinan dua unsur, agama dan tradisi, yang dikenal dengan istilah "mendayung di antara dua perahu". Satu sisi mereka mengimani akidah Islam, pada sisi lain mereka juga menggunakan tata cara bertahan hidup dengan bersumber pada tradisi. *Tilu sapamilu, dua sakarupa, nu hiji eta keneh* (tiga berbarengan, dua serupa, yang satu itu juga). Demikianlah prinsip masyarakat Kaolotan Cisungsang di kaki Gunung Halimun ini. *Tilu sapamilu* berarti agama, tradisi, dan pemerintahan harus berjalan beriringan. *Dua sakarupa* berarti tradisi dan agama harus berjalan sejajar sedangkan *nu hiji eta keneh*berarti semuanya harus mengacu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Handiman/"PR")*** On 11/7/07, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > 1. Tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta keneh (Ki Santa, Milis Urang > Sunda) > 2. Tilu sapamulu, dua salaksa, nu hiji eta-eta keneh (Oman, Milis Ki > Sunda) > 3. Tilu sapamilu, dua sakarupa, nu hiji eta keneh (Handiman, PR Online) > 4. Tilu sapamula, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh (Yakob Sumardjo, PR > Online) > 5. Tilu sapamilu, dua sakarupa, hiji eta keneh (Kusnaka Adimihardja, > Geocities) > > Cing sugan aya baraya nu tiasa medar. Mangga nyanggakeun. Nu mana nya > nu leuwih pantes. > [Non-text portions of this message have been removed] PENTING..! attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member. dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa pencabutan membership. terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu mengupdate antivirusnya. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
