Kamari dinten Ahad, sim uing nglangkung ka waduk jati luhur kaleresan nempo 
karamba apung. Sumuhun edun urang Sunda mah dugi ka tiasa kaemutan cara-cara 
miara lauk sapertos dina karamba apung. Oge kaemutan ku aranjeunna kumaha 
sangkan lauk anu tos diala awet ku cara diawetkeun nganggo uyah sareng dipoe. 
Abdi meser langkung ti sakilo mung 15 rebu rupiah; ngan hanjakal tos diasakan 
mah teu tiasa ka tuang da molelel asin pisan sareng hanyir pisan. Atuda lauk 
emas sareng lauk nila diasinkeun, asa teu biasa (nurutkeun sim uing duka 
nurutkeun nu sanes mah). Masih peryogi cara / teknologi kumaha carana lauk-lauk 
air tawar (sanes lauk laut) eta diawetkeun kalayan tiasa dikonsumsi salayakna.
Salam,
Aschev Schuraschev

 



----- Original Message ----
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, June 26, 2008 10:45:39 AM
Subject: [kisunda] Lauk Cai, Euy!



Kepopuleran Jawa Barat membudidayakan ikan tidak disangsikan.
Munculnya teknologi kolam air deras, teknologi longyam (integrasi
antara balong dan ayam), teknologi keramba jaring apung di Waduk,
termasuk teknologi Sariban di era 1970-an, telah menambah semarak
khazanah budidaya ikan di Jawa Barat.

Namun, kini gaung lauk cai di Tanah Pasundan seolah nyaris tidak
terdengar. Pasalnya, perikanan budidaya air tawar yang berlangsung
selama ini hanya bertumpu pada cara tradisional.

Padahal, peran teknologi dalam perkembangan budidaya ikan merupakan
kunci keberhasilan. Karenanya untuk membedah potensi budidaya yang
dimiliki, para pelaku dianjurkan menggunakan kaidah-kaidah
sciencetific based, artinya peran iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi) harus dijadikan andalan. Apalagi dalam era globalisasi,
jangan terjebak dalam kondisi yang selamanya tradisional dan primitif.

Teknologi tradisional yang kita miliki telah menjadi inspirasi para
ahli perikanan dari luar. Mereka senantiasa mengkaji kemudian
memperbaiki kisi-kisinya. Israel berhasil mengembangkan teknologi
perkolaman intensif sehingga memiliki tingkat produktivitas kolam yang
cukup tinggi. Hungaria berhasil memanfaatkan jerami padi dan cincangan
kol guna memproduksi rotatoria (makanan larva) yang cukup signifikan.
China melesat menjadi negara yang memiliki produksi akuakultur nomor
wahid di dunia.

Dari konteks di atas, dapat diambil kesan bahwa teknologi di manapun
senantiasa harus terus dikembangkan, tidak berjalan di tempat walau
bukan berasal dari negerinya sendiri.

Peran iptek

Untuk mengembalikan gaung budidaya air tawar di Tatar Sunda, kita
harus pandai-pandai menerapkan iptek pada berbagai segmen kegiatan,
serta bagaimana inovasi teknologi itu dapat diserap para pelaku
budidaya.

Teknologi budidaya ikan telah memperlihatkan kemajuan. Aplikasi
teknologi pembenihan ikan dengan metoda artificial propagation telah
banyak diterapkan, walau pemanfaatannya tidak merata di kalangan
pembudidaya. Teknologi "manipulasi kromosom" pada sex reversal ataupun
pada proses gino/androgenesis, maupun teknologi poliploidi untuk
mendapatkan ikan "mandul", serta teknologi "implantasi" untuk
mempercepat kematangan gonad sepertinya sudah tidak ada kendala.

Namun, kenyataannya teknologi tersebut jarang ditemui pemakaiannya
dilapangan. Hal itu harus menjadi bahan renungan bersama. Terlebih
teknologi mengutak-atik DNA untuk menghasilkan "ikan transgenik" -
walau di berbagai negara telah berhasil- di negeri ini masih jauh dari
jangkauan.

Teknologi lain yang belum termanfaatkan adalah "sperma beku" (frozen
sperm). Teknologi ini sesuai dan sangat dibutuhkan untuk dikembangkan,
apalagi saat ini Jawa Barat "paceklik" induk ikan. Sebenarnya
teknologi-teknologi di atas sudah layak diaplikasikan di kalangan
pembudidaya. Ini agar lauk cai yang menjadi ikon Jawa Barat tidak
hanya menjadi "tembang kenangan", tetapi juga dapat membawa Jawa Barat
sebagai provinsi termaju.

MUHAMAD HUSEN Anggota Masyarakat Akuakultur Indonesia

Citation: http://64.203. 71.11/kompas- cetak/0604/ 20/Jabar/ 1402.htm
 


      

Kirim email ke