ieu mah kenyataan dari sekian juta banyak kenyataan, rehna alam urang teh
"beunghar" sagala aya, sagala gaduh, komo tatar Sunda mah numawi disebat
parahiyangan oge dikeukeup dibentengan ku lingkung gunung (puseurna puseur
sumberdaya alam). Ngan nyaeta nu dipasihanana teu nolih teu mikawanoh ka alam
na sorangan, komo bari hayang neuleuman tur ngarti mah tuluy ancrub seug
mulasara. . . . .jajauheun. . . . . . numawi gamparan kaagungan ka-agemna Sunda
teh ayeuna kari 'geu-eum'na wungkul; Bandung nu dilingkung gunung jadi
linglung, bingung, nguyung da taya nu ilubiung kana geusan nu jadi
indung....ambuing...ambuing..... deudeuh biung...deudeuh indung....nu kabarung
ku burung....deudeuh
numatak kelar pikir, sok hayang nanya bari teu hayang jeung teu kudu dijawab da
teu perlu, nu perlu mah "nindak mindak nincak bumi", yen eta pati huripna lemah
Sunda anu jadi uger ti jaman murba, nu jadi pupujan ati...tapi nu mang-windu2
dikisat ku tambelar, kiwari bati ramohpoy bae semet ukur direret.... cag wweh!
tabe pun
Ambu Wirumananggay
----- Original Message ----
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
To: kisunda <[email protected]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, July 13, 2008 6:31:19 AM
Subject: [kisunda] Situ Ciburuy "BULUKAN"?
Situ Ciburuy Semakin Senyap
Sabtu, 12 Juli 2008 , 18:22:00
SEBUAH kendaraan kijang seri terbaru menepi di sisi Situ Ciburuy, di
Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat, Sabtu (12/7) pagi. Sekeluarga
pengendara kijang itu celingukan dengan kepala yang dikeluarkan dari
jendela mobil. Mereka rupanya penasaran dengan situ yang telah
melegenda itu.
Seorang bapak di balik kemudi menyerahkan selembar uang Rp 50.000,00
kepada Cecep Sunarya (66), penjaga tiket Situ Ciburuy. Karena tak ada
uang kembalian, Cecep pun meminta agar keluarga itu membayar empat
tiket plus kendaraan sebesar Rp 9.500,00 saat pulang. Keluarga dalam
mobil kijang itu pun melaju memasuki Situ Ciburuy.
Lima menit baru berlalu. Kijang itu kemudian melaju ke luar Situ
Ciburuy. Bapak di balik kemudi itu menjulurkan tangannya kepada Cecep
sembari menyodorkan selembar uang Rp 5.000,00 dengan terburu-buru.
"Pa, teu janten ah," ucap Bapak itu singkat. Kendaraannya pun dipacu
di Jalan Raya Padalarang menuju arah Bandung. Pemandangan itu membuat
Cecep Sunarya tak mampu berbuat banyak.
Ia hanya dapat menarik napas panjang dengan tatapan yang tak lepas
dari mobil kijang yang melaju meninggalkan pintu utama Situ Ciburuy.
"Yah, begitulah. Orang banyak yang kecewa dengan Situ Ciburuy. Apa
yang bisa mereka lihat di sini selain genangan air?" ucap Cecep. Ia
menuturkan, semakin hari, pengunjung Situ Ciburuy semakin menurun.
Sebagai gambaran, saat kenaikan musim kelas seminggu lalu, tak ada
satu sekolah pun yang menggelar pesta perpisahannya di Situ Ciburuy.
Padahal, pada era 1980-1990 lalu, tempat ini menjadi favorit anak
sekolah. Saat liburan sekolah seperti sekarang pun, hampir tak ada
anak sekolah yang menjadikan Situ Ciburuy
sebagai tujuannya.
Dalam catatan Cecep, saat ini paling banyak 100 orang pengunjung yang
datang dalam sepekan. Itu pun terkonsentrasi pada hari Minggu.
Beberapa event besar yang digelar di situ ini rupanya belum menarik
lebih banyak peminat hingga kini. "Sebenarnya, tak ada lagi faktor
penarik bagi pengunjung di tempat ini. Jujur saja, saya sebenarnya
malu. Di satu sisi harus mempromosikan Situ Ciburuy, di sisi lainnya
memang tak ada lagi yang menarik di sini," ucap Cecep.
Tahun ini, ia ditarget untuk memberikan PAD untuk Pemprov Jabar dari
tiket masuk sebesar Rp 16 juta, atau naik Rp 4 juta dibanding tahun
lalu. Aji (52), seorang pendayung perahu mengeluhkan hal yang sama.
Rekan-rekannya sesama pendayung kini banyak yang beralih profesi.
"Beberapa menjadi buruh bangunan. Yang lainnya menjadi kuli bongkar
muat kayu di depan Situ Ciburuy," kata Aji. Seorang pengunjung Situ
Ciburuy, Yani (62) dari Kiaracondong Bandung, mengaku tak ada lagi
yang menarik di situ tersebut.
Seharusnya, kata dia, disediakan arena bermain untuk anak-anak hingga
fasilitas hiburan untuk orang dewasa. Ia bahkan mengusulkan agar Situ
Ciburuy dilengkapi dengan fasilitas outbound yang digabungkan dengan
sarana olah raga air hingga menjadi wahana menarik bagi masyarakat.
"Kalau begini terus, tak heran jika Situ Ciburuy terus ditinggalkan
masyarakat. Apalagi, kini makin banyak objek wisata lain yang lebih
menarik," kata Yani. (Deni Yudiawan/"PR" )***
Citation: http://pikiran- rakyat.com/ index.php? mib=news. detail&id= 22527