Sanghyangtikoro, Perempuan tak Boleh "Silanglang" DALAM bahasa Sunda ada dua organ tubuh di dalam leher yang berbeda sesuai fungsinya, yaitu tikoro (kerongkongan), tempat masuknya makanan dan minuman, seperti terungkap dalam babasan bahasa Sunda, bengkok tikoro, untuk menggambarkan orang yang kurang beruntung. Ketika orang itu datang ke suatu pertemuan, makanan yang disediakan sudah habis, misalnya, ia disebut bengkok tikoro. Dan ada genggerong (tenggorokan), sebagai saluran hawa untuk bernapas, seperti terungkap dalam babasan, heuras genggerong, untuk menggambarkan orang yang ucapannya keras menyakitkan/songong.
Oleh karena itu, sungai bawah tanah di selatan Rajamandala tempat aliran Ci Tarum sebagian airnya masuk ke sana dianalogkan dengan tikoro tempat masuknya air dan makanan ke dalam perut sang dewa alam. Maka, tempat penyayatan air di daerah batu kapur itu dinamai Sanghyangtikoro. Sesungguhnya sungai bawah tanah Sanghyangtikoro adalah hasil proses pelarutan. Tempat ini lama dipercaya sebagai tempat menyusutnya air Danau Bandung purba. Sanghyangtikoro dengan segala mitosnya, menyimpan cerita yang amat panjang. Misalnya, bila dihanyutkan sebatang lidi ke dalam Sanghyangtikoro, akan terdengar jeritan yang menyayat hati, karena betapa sakitnya tenggorokan tertusuk lidi. Pengalaman masa kecil Oom Bas (Embas Suherman, lahir di Dayeuhkolot, 4 Mei 1932) lain lagi. Khususnya anak-anak perempuan di sana waktu itu agak takut untuk silanglang, keramas membersihkan rambut yang terurai di Ci Tarum dengan muka tengadah ke langit, karena takut rambutnya lepas dan hanyut kemudian membelit menyumbat Sanghiangtikoro. Menurut kepercayaan masyarakat saat itu, bila batuan besar yang terikat areuy, tanaman merambat yang berada di mulut Sanghyangtikoro itu putus, batu besar itu akan jatuh menyumbat lubang Sanghyangtikoro. Bandung akan tergenang kembali menjadi danau. Betulkah? Bukan tempat bobol 50 meter ke hilir dari power house Danau Saguling, aliran Ci Tarum bercabang dua. Satu cabang mengalir seperti sungai terbuka biasa, sedangkan cabang yang satu lagi menghilang ditelan gua kapur Pasir Sanghyangtikoro, menjadi terowongan/sungai bawah tanah. Sifat batu gamping atau batu kapur ini berpori-pori, banyak celah, sehingga air dapat dengan mudah merembes mengisi celah setipis selaput buah salak sekali pun. Perbukitan batu kapur adalah hasil kegiatan organik. Adanya batu kapur menandakan adanya sisa-sisa kehidupan laut, seperti karang, serta berbagai hewan dan tumbuhan laut. Hal ini karena 23 juta tahun yang lalu, pulau Jawa belum muncul di permukaan laut secara sempurna. Banyak bagian yang masih tergenang laut. Binatang koral mengendap di laut dangkal yang jernih di Tagogapu-Rajamandala. Sebagian besar batu kapur terdiri atas kalsium karbonat (CaCO3). Batuan ini dapat larut dalam air yang menghasilkan gas kabon dioksida (CO2) yang berasal dari atmosfer, yang pada umumnya terdapat di semua perairan permukaan. Jadi, terbentuknya gua Sanghyangtikoro tidak berhubungan secara langsung dengan Danau Bandung purba, melainkan murni hasil proses karsifikasi yang dipengaruhi oleh air tanah. Keyakinan yang kuat di masyarakat tentang tempat bobolnya Danau Bandung purba di Sanghyangtikoro yang fantastis itu, sesungguhnya tak akan pernah terjadi. Sebab terowongan/sungai bawah tanah yang terkenal dengan sebutan Sanghyangtikoro itu berada pada ketinggian antara 300- 00 meter di atas permukaan laut (m.dpl). Sementara itu, bibir Danau Bandung purba berada pada ketinggian 725 m.dpl. Juga di kawasan Sanghyangtikoro tidak terdapat bekas endapan danau. Endapan danau yang luas terdapat pada kontur 650 - 725 m.dpl. Di sebelah barat, endapan Danau Bandung purba dibatasi rangkaian gunung yang mengarah utara-selatan, sekarang berada di sebelah barat Danau Saguling. Endapan danau tidak melewati rangkaian gunung tersebut. Demikian juga tentang mitos bila Sanghyangtikoro tersumbat batu yang jatuh dari bagian atasnya Bandung akan kembali tergenang, sesungguhnya tak akan pernah terjadi. Bandung baru akan tergenang bila pembendungan di Sanghyangtikoro ketinggiannya mencapat 600-an m.dpl. lebih. Selain itu, Sungai Ci Tarum di sana bercabang dua, satu cabang seperti sungai biasa, dan satu cabang lagi masuk ke Sanghyangtikoro. Kalau Sanghyangtikoro tersumbat, air akan mengalir ke cabang yang satunya lagi. Secara logika, bila Pasir Sanghyangtikoro yang tingginya hanya 392 m.dpl., tidak mungkin Dataran Tinggi Bandung tergenang menjadi danau, sebab, paras tertinggi air di sana pasti hanya mencapai 392 m. dpl., sesuai ketinggian bukit tersebut, setelah itu air akan melimpas di punggungannya. Jadi tidak akan sampai menggenang Bandung. Akan tetapi, walau bukan menjadi tempat bobolnya Danau Bandung purba, Sanghyangtikoro amat baik untuk dijadikan contoh morfologi sungai atau morfologi kars. (T. Bachtiar)*** Citation: http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=22751 ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
