dimuat KOMPAS sabtu 14 juli 2007

 

Forum
Mencermati Ajaran Karuhun 

Oleh Jamaludin Wiartakusumah 

Ketika ribut-ribut soal melemahnya "daya saing" orang Sunda, bahkan di
kampung halamannya sendiri, banyak kritik kemudian dialamatkan terhadap
berbagai watak atau karakter manusia Sunda. Upaya introspeksi yang kemudian
menyalahkan ajaran karuhun umumnya terpatri dalam bentuk pepatah yang
mengandung nilai filsafat praktis petunjuk hidup. Someah hade ka semah
(bersikap ramah kepada tamu) digugat. 

Ajaran karuhun itu dituding telah membuat mental orang Sunda lembek dan
terlalu lunak kepada pendatang. Sebuah gugatan yang salah kaprah mengingat
ujaran itu mempunyai nilai luhur dan universal untuk bersikap baik kepada
sesama. 

Gugatan itu juga seolah menutup mata terhadap kenyataan bahwa sudah sejak
dahulu kala Tatar Sunda didatangi orang dari berbagai penjuru Tanah Air.
Banyak tokoh nasional dalam segala bidang-sejak sebelum kemerdekaan-pernah
menetap di Bandung, dari Bung Karno yang menjadi insinyur dan mendirikan PNI
sampai Affandi yang mendirikan Persagi. Di bidang militer, hampir dapat
dipastikan seluruh jenderal, marsekal, dan laksamana pernah menetap di
Bandung karena Seskogab berada di Bandung. Mereka sedikit banyak pernah
berinteraksi dengan kebudayaan dan masyarakat Sunda serta alam Parahyangan. 

Manusia Sunda sudah lama berinteraksi dengan kebudayaan luar yang masuk,
baik langsung melalui pendatang maupun pengaruh modernisasi plus
westernisasi. Bisa jadi justru karena tidak lagi mengamalkan ajaran karuhun
itulah manusia Sunda lalu terpuruk. 

Memahami ungkapan atau pepatah orangtua sebaiknya tidak hanya satu-dua
kalimat, tetapi harus dicermati konteksnya, dan kalau mungkin memahami
keseluruhan ajaran itu. Ada banyak petunjuk hidup warisan leluhur untuk
setiap segi kehidupan. Masing-masing, tentu ada yang bersifat kontekstual
atau kondisional. Harmoni 

Untuk hidup rukun, ada rumus hidup harmonis yang diungkap dalam runtut raut
sauyunan (hidup rukun bersama). Kebersamaan hidup dirumuskan dalam satata
sariksa (satu aturan bersama-sama memelihara). Konsep "daya saing" yang
diserap dari luar tanpa penyesuaian dengan nilai yang dianut budaya lokal
mengakibatkan keruhnya kondisi secara umum karena istilah itu dipahami
sebagai hidup untuk bersaing di mana-mana dan dengan segala cara. Akibatnya,
lihatlah di jalan raya. Bukannya saling memberi kemudahan bagi yang lain,
tetapi malah saling serobot. Budaya antre dianggap sebagai ciri penakut,
bukannya ciri manusia berbudaya tinggi. 

Sikap yang ada di masyarakat bukanlah "saling bersaing", tetapi justru
sebaliknya, terutama dalam budaya desa, yaitu gotong royong, kerja sama atau
saling membantu, saling mendukung, dan kalau bisa guyub untuk kebaikan
bersama dalam konteks hidup bermasyarakat. Seperti terdapat dalam ajaran
silih asah, silih asuh, silih asih. Siliwangi sendiri konon berasal dari
kata silih wangi yang artinya saling mengharumkan nama, dalam pengertian
saling mendorong dan mendukung mencapai prestasi. 

Sementara siger tengah (meletakkan mahkota di tengah kepala) menunjukkan
sikap untuk hidup moderat. Harus seperti apa orang Sunda hidup, terdapat
dalam pepatah hirup kudu masagi (hidup harus seperti bentuk bujur sangkar).
Maksudnya hidup harus dijalani dalam kualitas yang sama di semua sisi, tidak
hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga etika dan keluhuran budi,
mencari kehidupan yang lebih baik, tetapi juga dibarengi ibadah. Tidak hanya
menjalin hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia. Berusaha
mencari bekal hidup di dunia dan sekaligus di akhirat nanti. Elmu tungtut
dunya siar (ilmu dipelajari, kekayaan juga cari). 

Dalam masalah kepemilikan atau properti, ada etika yang harus dijalankan,
yaitu Mipit kudu amit, ngala kudu bebeja (mengambil milik orang lain harus
minta izin/memberitahu pemiliknya terlebih dahulu). Setiap benda mempunyai
pemiliknya dan orang harus minta izin untuk mendapatkannya atau melakukan
jual-beli untuk memperolehnya. 

Bagaimana sebaiknya memecahkan masalah, ada caina herang laukna beunang
(airnya jernih ikannya dapat). Uraikan dahulu permasalahan satu per satu
sehingga semua kerumitan terurai dan menjadi jernih. Dalam kondisi jernih
seperti itu-termasuk pikiran-penyelesaian setiap masalah dapat ditemukan.
Berani menghadapi risiko 

Kumaha engke (bagaimana nanti) dianggap sikap nekat tanpa perhitungan dan
dianggap sikap sembrono dalam menghadapai masalah. Sikap yang tentu saja
disalahkan karena hanya dipahami sebagai tidak punya perencanaan yang baik
dan matang. Segala sesuatu sepertinya dipikirkan belakangan. 

Padahal, untuk sampai mengatakan kalimat itu, orang sudah melalui proses
berpikir cepat untuk menganalisis permasalahan yang terjadi. Tidak lantas
berarti nekat, tetapi justru telah dapat menyimpulkan permasalahan,
perencanaan, dan penyelesaian berbagai kemungkinan. Kumaha engke adalah
bersiap untuk hal yang akan terjadi di luar yang diperkirakan. Sesungguhnya
ini sikap optimistis, percaya diri, dan berani mengambil risiko. Bentuk lain
adalah kop badak kop maung (siap menghadapi segala risiko terburuk). Sikap
teguh tercermin dari teu unggut kalinduan teu gedag kaanginan (tidak goyah
kena gempa, tidak berubah kena angin). 

Minimnya orang Sunda yang menjadi pemimpin, terutama dalam skala nasional,
dianggap akibat sikap mental mangga ngiringan, kumaha saena, atau kumaha nu
dibendo. Sikap ini sesungguhnya hanya berlaku dalam konteks hubungan kerja
bawahan dan atasan. Orang harus tahu diri terhadap posisi, dan ungkapan tadi
hanya menunjukkan sikap loyal yang hanya ditunjukkan bawahan kepada atasan
yang memang dipercaya sepenuhnya dapat mengambil keputusan yang baik. Orang
harus loyal pada lembaga tempatnya bekerja, pemimpin, dan negara. Sikap ini
juga terdapat dalam Parentah gancang lakonan, panyaur geura temonan,
pamundut gancang caosan (Her Suganda, 2006: 42). 

Dalam masalah ekonomi, seperti mengatur keseimbangan antara pendapatan dan
pengeluaran, ada saeutik kudu mahi, loba kudu nyesa (sedikit harus cukup,
banyak harus ada sisa). Ketika pendapatan sedikit, orang harus dapat
mengaturnya sedemikian rupa sehingga mencukupi kebutuhan. 

Dari beberapa contoh di atas tampak, bukan ajaran karuhun yang harus
dipermak, tetapi telaah lebih dalam yang harus dilakukan! 

JAMALUDIN WIARTAKUSUMAH Dosen Desain Itenas 

 

Kirim email ke