Kamis, 2008 Agustus 14

Arti Sebutir Beras 
 



Tidak bisa kita pungkiri acara pembukaan Olympiade Beijing 2008 yang 
berlangsung sukses dan spektakuler merupakan hasil dari suatu kerja keras.


Dan sebagai tuan rumahpun Cina mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk 
menyelenggarakan pesta olahraga sedunia tersebut.


Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat 
miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang 
mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.


Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu 
dari negara super power Uni Sovyet.


Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina 
era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar 
statement dari pemimpin Sovyet, 


“ Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap 
tidak akan mampu membayar hutangnya. !' 
 

Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao 
kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, perihal 
penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga 
malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan 
melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

 
Ajakan pemimpin Cina kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 ( satu ) butir 
beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali 
mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup 
sisihkan 3 butir beras.


 
Nah , beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak 
dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. 


Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk 
membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.


Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat 
cepat.
Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk 
bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan 
seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.


Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah 
terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya dan sebentar lagi akan merayakan 
Dirgahayu Kemerdekaannya yang ke – 63.


Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan 
bahkan sebaliknya menjadi beban karena masih banyaknya tikus yang berada di 
lumbung beras Republik Indonesia.

 

Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari 
hal kecil yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati.


Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.
Maukah kita ?



Salam
PWS Medan
www.pwsmedan.blogspot.com
 



      

Kirim email ke