Adu domba???? janten emut....Asana mah keur leutik di pamekar basa (??)  aya 
kawih ngeunaan adu domba pokona mah domba lumahuh rieut cenah sirah 
dijedak-jedak...
Aya kitu wargi nu apal kana rumpaka kawih adu domba ieu??

 
JP


----- Original Message ----
From: Ema Sujalma <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 26, 2008 21:52:13
Subject: Re: [kisunda] Sepenggal Cerita Babakan Siliwangi


khususon alfatihah ka almarhum Bp Tohny Joesoef,
hatur nuhun ka Kang Abu, 
leres gening apan tokoh terbesar seni lukis Indonesia teh Raden Saleh
nu neraskeun na teh Solihin panginten nya ?
he he

namung salami janten plukis, kuring
can pernah ngagambar adu domba
sueeeerrrr.. .

baktos, 


2008/8/27 Abu Kasya <[EMAIL PROTECTED] com>

punten panjang teuing upami disundakeun mah :)
 
Sepenggal Cerita Babakan Siliwangi
Ema Nur Arifah- detikBandung
http://bandung. detik.com/ read/2008/ 08/23/121141/ 993175/490/ sepenggal- 
cerita-babakan- siliwangi

 
Bandung - Papan nama usang berwarna biru muda yang pudar disertai warna karatan 
di beberapa bagian terpancang dengan tulisan Rumah Makan Babakan Siliwangi 
sedikit bersembunyi di balik dedaunan. Namun papan inilah yang menunjukan 
kawasan ini sebagai Babakan Siliwangi, paru-paru kota yang selalu menuai 
kontroversi.

Rumah makan ini berdiri di lahan yang disebut Lebak Siliwangi. Akibat kebakaran 
tahun 2003 lalu, yang tertinggal hanya reruntuhan.

Berada di persimpangan Jalan Cihampelas, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan 
Tamansari. Dari luar tak tampak seperti tempat wisata. Tukang tambal ban 
menyambut kedatangan kala memasuki kawasan ini. Kemudian kios kecil dengan 
baju-baju bergelantungan di tali jemuran.

Menuruni beberapa anak tangga atau tanah yang melandai sampai pulalah di Jalan 
besar yang menghubungkan Jalan Cihampelas dan Jalan Ganesha. Jalan yang diapit 
oleh rimbunnya pepohonan.

Dua galeri seni berdiri berdampingan. Di kedua galeri yaitu Mitra Art Center 
dan Sanggar Olah Seni (SOS) ini tampak beberapa orang tengah memulaskan warna 
di atas kanvas. Mungkin hanya dua galeri inilah yang masih memberikan identitas 
bahwa tempat ini sebuah kawasan wisata.

Menurut Ketua SOS, Syarif Hidayat asal mula nama Lebak Siliwangi adalah Lebak 
Gede. Walikota Bandung saat itu, Otje Djunjunan melihat kawasan Lebak Siliwangi 
potensial untuk dijadikan tempat wisata.

Maka pada tahun 1970-an dibuatlah rumah makan dengan nama Rumah Makan Babakan 
Siliwangi. Dari sana pula pemerintah Jawa Barat melihat wisata lainnya. Maka 
atas gagasan seniman Popo Iskandar, Barli, Tony Yusuf dan seniman lainnya 
Sanggar Seni SOS didirikan pada 1982. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri 
Pariwisata saat itu Jove Ave.

Kedua galeri ini menawarkan pembelajaran dan pembinaan akan seni, tak hanya 
seni rupa tapi juga teater, musik dan seni lainnya. Diciptakan sebagai ruang 
budaya antara seniman dan masyarakat.

Syarif menuturkan, setiap bulannya pada minggu pertama di tempat ini biasa 
diadakan seni adu domba. "Kalau dulu adu domba ini lebih sering dilakukan 
lagi," jelasnya.

Menyusuri jalanan hingga menembus Jalan Cihampelas, kawasan ini terlihat tidak 
begitu terawat. Kawasan yang secara geologi sebagai tempat resapan air ini 
tercatat sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Bandung.

Pohon-pohon rimbun hijau hampir memenuhi keseluruhan wilayah. Dingin dan sejuk 
jika dibandingkan kawasan olahraga Sabuga yang berbatasan langsung dengan 
kawasan ini yang tampak panas, gersang dan berdebu. Namun di beberapa titik 
tampak tumpukan-tumpukan sampah di antara pepohonan yang juga tidak tertata. 
Reruntuhan bangunan yang tak lagi terjamah serta beberapa gubug kecil berdiri 
menjadi 'penghias' lain.

Untuk tempat seluas itu, hanya seorang perempuan bernama Eli yang dipercaya 
pemerintah untuk menjaga tempat ini. Dia mengaku menggantikan suaminya yang 
dulu menjaga tempat ini. "Saya menjaga agar tempat ini tidak digunakan oleh 
orang yang macam-macam," jelasnya.

Eli juga mengaku tidak ada yang menjaga datang untuk melakukan pemeliharaan 
lingkungan di tempat ini.

Menurut Pengelola Mitra Art, Herman R Suwarna yang memelihara lingkungan masih 
hanya orang-orang yang tinggal di kawasan ini termasuk para seniman. Herman 
mengusulkan penerpaan konsep eco wista di Babakan Siliwangi, misalnya dengan 
menata pohon dan memberikannya nama latin untuk menambah wawasan pengunjung.

Tahun 2001 lalu, penataan dan pengelolaan kawasan ini menjadi kawasan wisata 
terpadu dicetuskan Walikota Bandung saat itu, Aa Tarmana. Di dalamnya akan 
dibangun apartemen, wahana kawula muda, pusat seni, serta rumah makan.

Perencanaan yang sudah menggandeng developer PT EGI ini menjadi kontroversi 
baru meski PT EGI menjanjikan akan melakukan penataan terhadap pohon-pohon di 
tempat ini.

Kontroversi itu kini kembali mencuat. Berbagai kepentingan saling bersuara 
untuk mendudukan kawasan ini pada posisi semestinya. Posisi dari sudut pandang 
yang berbeda di mata pemerintah, pengembang, seniman dan masyarakat.

Semua memiliki dalih dan kepentingan termasuk kekhawatiran para masyarakat dan 
seniman akan terancamnya kembali satu paru-paru kota. Sekaligus hilangnya satu 
wilayah kreatifitas yang menjadi media pembelajaran bagi tangan-tangan pecinta 
seni.

Memang, oase hijau ini seperti kue lezat yang memikat. Dalam perjalanannya 
menuai kontroversi panjang dengan mempertanyakan, siapa yang akan menikmati kue 
lezat ini nanti?
(ema/ema) 


-- 
Ema Sujalma
 


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke