Hatur nuhun Ambu, nya skema eta pisana nu diantos-antos teh. Sabab,
sok sanajan kapungkur kungsi kenging ti pun guru Nampon, namung anu ti
Ambu langkung jelas tur langkung lengkep.

Leres, eta pisan diantarana nu tos dibekelan ku anu ngayuga urang
pikeun kakuatan. Hiji sistem tina sababaraha sistem kasampurnaan
manusa anu pikeun ngabukana diperlukeun usaha. Si kuring yakin, naon
wae aliranana, sadaya jalur silat jeung tanaga dalam museur kana
tujuan kumaha carana ngabuka eta titik-titik prana anu 10
(10-7-5-3-1-->0). Manawi kitu.

manAR



2008/9/14 richadiana kartakusuma <[EMAIL PROTECTED]>:
> ngahaturkeun
>
> AMBU
>
> ----- Original Message ----
> From: oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Sunday, September 14, 2008 6:02:13 AM
> Subject: Re: Cikalong ... Re: [kisunda] SILAT SUNDA - Rujukan
>
> Kang Wahyudi, bagea.
>
> Kacida kuring bingahna maos postingan ngeunaan sarsilah "ulin"
> Cikalong. Sarsilah nu langka, malah bisa-bisa manggihan teh ti
> panalungtik urng luar nagreg (luar negeri). Sababaraha taun ka tukang
> kungsi ngilikan sarsilah nu rada sarimbag teh ti Ambu Netty urang
> Ciwidey (lain Nety Martyn anu di Amrik ieu mah). Sok sanajan kitu,
> kuring yakin di rengrengan urang Sunda atawa kumna warganegara
> Indonesia oge, boh anggota ieu milist awata sejenn, aya sababaraha
> urang anu gaduh data atawa informasi ngeunaan sarsilah di Jawa Barat.
> Ngan nyakitu, bangsa urang mah kurang leukeun tutulisan.
>
> Patali jeung literatur ngeunaan silat ieu, asana Mh geus ngumpulkeun
> dina peperianana, meunang ngunyang utamana tina khazanah literatur anu
> nebrak di internet. Mangga Mh, kaidinan mah muga diasongkeun wae ka
> milist kumpulan literatur ngeunaan silat atawa aliran tanaga dalam di
> Indosia teh, khususna di Tatar Sunda.
>
> Ayeuna di jaman internet, literatur teh rada lumayan, jadi patarepung
> asal daek ngunyangna. Kang Yana tangtu tos nyusun oge informasi di
> website. Atuh nu sejenna, neruskeun sarsilah ti kang Wahyudi tiasa
> dipilarian di internet. Upamana wae anu kapanggih ku si kuring
> ngeunaan Nampon sakumaha di alamat ieu:
> http://www.geocitie s.com/nampon/ namponSejarah. htm Nya etang-etang
> silturahim dumeh si kuring kungsi diajar Nampon sakedapan taun 1986-an
> ti garis Ki Achmad->Ua Tamim. Hatur nuhun. Wilujeng
>
> Cag heula.
>
> baktosna,
> manAR
>
> 2008/9/14 Wahyudi <[EMAIL PROTECTED] com>:
>>
>>
>> ---------- Forwarded message ----------
>> From: Wahyudi <[EMAIL PROTECTED] com>
>> Date: 2008/9/14
>> Subject: Cikalong ... Re: [kisunda] SILAT SUNDA - Rujukan
>> To: [EMAIL PROTECTED] .com, sws-stttelkom@ yahoogroups. com
>>
>>
>> Cikalong - Sejarah
>>
>> Berbeda dengan Cimande, sejarah Cikalong cukup gampang ditelusuri. Ini
>> disebabkan karena Cikalong sendiri dikembangkan di keluarga "Menak" (Menak
>> =
>> Bangsawan Sunda), yang dalam hal ini memiliki kelebihan dalam budaya tulis
>> (bukan hanya budaya lisan), sehingga "sejarah" betul-betul bernilai
>> sejarah
>> (tanpa keraguan) karena ada bukti-bukti tertulisnya.
>>
>> Maenpo Cikalong pertama kali dikembangkan dan diajarkan oleh Rd.
>> Djajaperbata (Cikundul - Cikalong Kulon) yang setelah menunaikan ibadah
>> haji
>> berganti nama menjadi Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Beliau adalah anak dari
>> Rd. Radjadiredja dan cucu dari Aria Cikalong. (Masih ingat Aria Cikalong?
>> Aria Cikalong adalah anak dari Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI. Aria
>> Cikalong berguru Maenpo Cimande langsung ke Abah Khaer dan dianggap salah
>> satu murid terbaik Abah Khaer. Lihat sejarah Maenpo Cimande Versi 3).
>>
>> Selain belajar Cimande dari keluarganya, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata muda
>> juga berguru kepada kakak iparnya, yaitu Rd. Ateng Alimudin (tinggal di
>> Jatinegara), anak Rd. H. Tubagus Kosim yang merupakan keturunan ke-13 dari
>> Sultan Hasanudin Banten.
>>
>> Rd. Ateng Alimudin sendiri menguasai "Maenpo Cimande aliran Kampung Baru"
>> dan juga maenpo dari daerah asalnya, Banten. Beliau saat itu menjadi
>> terkenal karena berhasil menangkap seorang bandit yang sangat ditakuti di
>> Batavia, Bapak Beka.
>>
>> Setelah dianggap cukup, Rd. H. Ibrahim Djajaperbata berguru kepada Bang
>> Ma'ruf yang merupakan karib dari Rd. Ateng Alimudin. Bang Ma'ruf sendiri
>> tinggal di Kampung Karet - Tanah Abang. Aliran silat Bang Ma'ruf sendiri
>> tidak diketahui.
>>
>> Karakter Rd. H. Ibrahim digambarkan sebagai orang dengan kemauan keras dan
>> sangat jujur. Beliau tidak gampang puas dengan hasil latihannya dan juga
>> selalu berlatih dengan "rasa". (Rasa di sini adalah rasa dalam bahasa
>> Sunda,
>> yang kalau dalam bahasa Indonesia berarti "dengan sepenuh hati", "dengan
>> konsentrasi tinggi", atau "tidak sambil bermain-main" ).
>>
>>
>>
>> Bertemu dengan Bang Madi
>>
>> Setelah berguru Bang Ma'ruf, Rd. H. Ibrahim berguru ke Bang Madi.
>> Pertemuan
>> antara Guru dan Murid sendiri berlangsung secara tidak terduga. Untuk
>> pertemuan ini, di beberapa komunitas Maenpo di Sunda lagi-lagi ada
>> beberapa
>> versi. Saya akan ceritakan beberapa versi yang ada, dan nanti kita tanya
>> Kisawung sebagai pewaris sejati Maenpo Cikalong, versi mana yang diakui
>> oleh
>> keluarga besar Maenpo Cikalong. Gimana, sepakat?!
>>
>> Versi 1. Pertemuan dengan Bang Madi
>> Menurut versi ini, Bang Ma'ruf dan Bang Madi adalah tetangga dan juga
>> rekan
>> dalam berjualan kuda. Di masa itu berjualan kuda adalah sebuah pekerjaan
>> yang terhormat dan juga sangat menguntungkan. Asal dari Bang Madi sendiri
>> diketahui sebagai orang asli Batavia (Pernyataan Bang Madi ketika
>> berdialog
>> dengan Rd. H. Ibrahim).
>>
>> Suatu hari, ketika Rd. H. Ibrahim lagi berlatih Maenpo bersama Bang
>> Ma'ruf,
>> datanglah Bang Madi karena suatu urusan. Dan karena Bang Ma'ruf menganggap
>> Bang Madi adalah sobat dekatnya, maka latihanpun tidak dihentikan. Mereka
>> berlatih sampai beres. Besoknya, Rd. H. Ibrahim pun bertanya ke Bang
>> Ma'ruf... siapa orang yang tadi malam menonton latihan? Dan Bang Ma'ruf
>> menjelaskan bahwa itu adalah Bang Madi, rekannya dalam berjualan kuda.
>> Kebetulan saat itu Rd. H. Ibrahim memang membutuhkan kuda dalam jumlah
>> yang
>> cukup banyak untuk dibawa ke Cianjur, akhirnya beberapa hari kemudian
>> beliaupun menemui Bang Madi di rumahnya.
>>
>> Ketika bertamu itulah Bang Madi memuji Maenponya Rd. H. Ibrahim, dan Rd.
>> H.
>> Ibrahim pun menjadi heran dan sangat tertarik, karena pujian Bang Madi
>> bukan
>> asal ngomong, melainkan juga sedikit menyinggung soal tehnik. Walaupun
>> begitu beliau belum betul-betul menyadari kalau Bang Madi adalah seorang
>> jawara. Dengan sedikit memaksa akhirnya Rd. H. Ibrahim berhasil mengajak
>> Bang Madi untuk mengadu tangan ("nempelkeun leungeun" = istilah Maenpo
>> dahulu untuk mengadu jurus).
>>
>> Bang Madi menyanggupinya dan bertanya, siapa yang akan mengambil kuda-kuda
>> duluan ("mengambil kuda-kuda" berarti di sini posisi bertahan,
>> berkuda-kuda
>> siap untuk diserang). Rd. H. Ibrahim meminta Bang Madi untuk mengambil
>> kuda-kuda, dan Bang Madi pun mengambil kuda-kuda sambil berkata:"Silakan
>> Raden, inilah kuda-kuda Macan Turun dari Udik". Rd. H. Ibrahim pun
>> menyerang
>> dengan cepat, tetapi dengan mudah serangannya bisa diblok dan diapun bisa
>> dibanting sampai jatuh berguling-guling.
>>
>> Rd. H. Ibrahim mulai menyadari keahlian Bang Madi, dan akhirnya dia
>> meminta
>> Bang Madi yang menyerang dan dia yang mengambil kuda-kuda. Setelah Rd. H.
>> Ibrahim mengambil kuda-kuda, secepat itu juga Bang Madi sudah menyerang
>> dan
>> menyebabkan Rd. H. Ibrahim jatuh terjengkang.
>>
>> Begitu terus berulang-ulang, silih berganti saling menyerang dan mengambil
>> kuda-kuda. Sampai Rd. H. Ibrahim sendiri kehabisan tenaga dan
>> berkata:"Saya
>> mengaku kalah dan mulai saat ini mengakui Abang sebagai Guru".
>>
>> Cat: Macan Turun dari Udik
>> Di kalangan Maenpo Peupeuhan "Adung Rais", yang merupakan salah satu
>> "aliran" dari Cikalong, perkataan Bang Madi ini sangat terkenal. Kuda-kuda
>> "Macan Turun dari Udik" sebenarnya adalah sebuah kuda-kuda dasar, tetapi
>> yang dianggap penting di sini adalah makna dari perkataan itu sendiri,
>> bahwa
>> Bang Madi sebenarnya berasal dari daerah pegunungan sekitar Batavia.
>>
>>
>>
>> Versi 2. Pertemuan dengan Bang Madi
>>
>> Sebenarnya, apa yang berbeda dari versi pertama dan kedua adalah proses
>> pertemuan itu sendiri, hal-hal lainnya relatif sama. Menurut versi ini pun
>> Bang Madi adalah kawan Bang Ma'ruf, dan sama-sama berdagang kuda. Tetapi
>> di
>> versi kedua ini disebutkan bahwa salah satu keahlian Bang Madi adalah
>> menundukkan kuda-kuda yang masih liar. Hal itulah yang mengawali pertemuan
>> Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim Djajaperbata. Di versi kedua ini tidak
>> disebutkan kalau Bang Madi pernah melihat Bang Ma'ruf sedang melatih
>> Maenpo
>> ke Rd. H. Ibrahim.
>>
>> Pertemuan Bang Madi dengan Rd. H. Ibrahim diawali ketika Rd. H. Ibrahim
>> membeli seekor kuda eropa yang sangat besar, sedikit liar dan membutuhkan
>> penggantian tapal kuda yang baru (tapal = sepatu, terbuat dari logam).
>> Akhirnya Rd. H. Ibrahim membawanya ke Bang Madi yang memang ahli menangani
>> kuda yang agak liar. Bang Madi menyanggupi ketika Rd. H. Ibrahim datang
>> dan
>> memintanya mengganti tapal kuda, dengan tenang dia mengganti tapal kuda...
>> tetapi tiba-tiba ketika lagi membuka tapal yang lama, kuda itu menendang
>> sehingga membahayakan jiwa Bang Madi. Bang Madi dengan refleks dan
>> rileksnya
>> menangkis yang mengakibatkan kaki kuda itu patah.
>>
>> Apa yang terjadi itu bukannya membuat Rd. H. Ibrahim marah, tetapi kagum
>> dan
>> penasaran. Dia tidak menyangka sama sekali dengan perawakan yang kecil dan
>> terlihat lemah Bang Madi bisa melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak
>> yakin
>> bisa melakukannya. Dari sini kisahnya sama seperti yang terjadi di versi
>> pertama ketika Rd. H. Ibrahim mencoba mengadu jurus dengan Bang Madi.
>>
>> Apa ciri khas "ulin" Madi?
>> Ciri khas ulin Madi sendiri adalah tenang, lembut dan "ngaheurinan lawan"
>> (ngaheurinan lawan = membuat ruang gerak lawan menjadi terbatas). Tenang
>> dan
>> lembut tidak berarti gerakan menjadi lambat dan tidak bertenaga, dan
>> "ngaheurinan lawan" adalah sebuah strategi tempur dimana tenaga lawan
>> dimanfaatkan dan dikembalikan kepada lawan. Ulin Madi lebih berkarakter
>> bertahan (tidak agresif) dan mengandalkan counter attact dengan jurus yang
>> tepat dan moment yang tepat, dan dilakukan dalam jarak dekat seakan-akan
>> menempel kepada lawan.
>>
>> Di kalangan Maenpo Cikalong tehnik ini digambarkan dengan tiga kata,
>> yaitu:
>> "puhu tanaga", "puhu gerak" dan "bendungan".
>>
>> 1. puhu tanaga berarti mengerti dan mengetahui asal kekuatan suatu
>> gerakan.
>> (puhu = pusat, tanaga = tenaga).
>> 2. puhu gerak berarti mengerti dan mengetahui awal dari gerakan dan bagian
>> mana dari tubuh yang mempengaruhinya. (puhu = pusat, gerak = gerak).
>> 3. Bendungan adalah tehnik "membendung" serangan lawan tanpa kehilangan
>> posisi dan kuda-kuda kita sendiri (tidak mundur, lebih banyak maju dan
>> menghindar ke samping walaupun tidak ekstrem, dalam artian menghindar
>> bukan
>> depan loncatan, tetapi langkah pendek ke samping).
>>
>> Dalam aplikasinya, ketika kita sudah menguasai prinsip-prinsip di atas,
>> kita
>> bisa merasakan pergerakan lawan ketika tangan ditempelkan atau bahkan
>> ketika
>> lawan bergerak walaupun tangan kita tidak menempel (jarak dengan lawan
>> satu
>> lengan). Hal-hal inilah yang nantinya menjadi salah satu aliran di Maenpo
>> Cikalong yang disebut Maenpo Ulin Tapel (Permainan Menempel) dan Maenpo
>> Ulin
>> Tangtung (permainan jarak satu "tangtungan" , tangtung = berdiri).
>>
>>
>>
>> Berguru Ke Bang Kari
>>
>> Setelah dianggap sudah mewarisi seluruh ilmu Bang Madi, Rd. H. Ibrahim
>> atas
>> saran dari Rd. Ateng Alimudin dan Bang Madi pergi untuk menemui dan
>> berguru
>> ke Bang Kari. Bang Kari adalah sahabat dekat Bang Madi dan mereka berdua
>> memiliki kemampuan yang dianggap setara. Kalau dianggap memiliki kemampuan
>> yang setara, lalu kenapa Rd. H. Ibrahim disarankan untuk berguru ke Bang
>> Kari?
>>
>> Hal ini dikarenakan karena Bang Kari dan Bang Madi memiliki "gaya" maenpo
>> yang berbeda. Kalau Bang Madi yang terkenal dengan Maenpo Ulin Tapel
>> (Tempelan) dan Maenpo Ulin Tangtung, maka Bang Kari terkenal dengan Maenpo
>> Peupeuhan. Baik Bang Madi maupun Rd. Ateng Alimudin sepakat, dengan
>> berguru
>> ke Bang Kari akan menajamkan "rasa" Rd. H. Ibrahim.
>>
>> Bang Kari saat itu tinggal di Kampung Benteng Tangerang. (Ingat, sejak
>> abad
>> XIV Kampung Benteng sudah dikenal sebagai "China Town", lalu apakah Bang
>> Kari mewarisi suatu aliran Kung Fu? Tak ada keterangan tentang itu. Hanya
>> yang pasti beliau memang tinggal di Kampung Benteng, dan pertukaran ilmu
>> sangat mungkin terjadi). Sedikit soal Kampung Benteng, jauh sebelum
>> komunitas Cina tinggal di sana, Kampung Benteng memiliki sejarah yang
>> panjang sebagai tempat persinggahan pasukan-pasukan dari Pajajaran, lalu
>> selanjutnya Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram dalam usaha mereka
>> menundukan Batavia yang dikuasai VOC. Pasukan dari ketiga kerajaan itu,
>> sesuai zaman nya masing-masing menempati daerah-daerah sekitar Jakarta,
>> yang
>> salah satu nya dikenal menjadi Kampung Benteng. Masyarakat Cina sendiri
>> diduga mulai menempati daerah itu sekitar abad 14. Baik itu berupa
>> pasukan-pasukan yang dikirim Kaisar sebagai utusan ke Jawa maupun
>> pedagang-pedagang.
>>
>> Jadi tidak heran kalau Kampung Benteng memilki kekhasan budaya, baik itu
>> budaya musik (contoh Gambang Kromong) maupun ilmu beladiri. Ada satu hal
>> yang menarik, orang-orang Cina di Kampung Benteng dalam masa abad 18
>> terkenal dengan jago-jago beladirinya, dan karena mereka juga sangat
>> bersahaja dan sederhana, ada yang menyebut mereka "macan-macan dari udik"
>> (Ingat "Harimau Turun dari Udik", suatu ungkapan yang dikeluarkan oleh
>> Bang
>> Madi ketika memasang kuda-kuda diawal pertemuan mereka).
>>
>> Kembali ke Bang Kari. Bang Kari sendiri dikenal sebagai jago beladiri
>> tidak
>> hanya di Kampung Benteng, tetapi sampai Batavia. Dan Maenpo nya lebih
>> menekankan kepada ilmu pukulan, itulah sebabnya ketika ilmu itu diwarisi
>> oleh Rd. H. Ibrahim, aliran ini di Cikalong disebut sebagai "Maenpo
>> Peupeuhan".
>>
>> Ketika menemui Bang Kari, dan mengungkapkan keinginannya untuk berguru,
>> Rd.
>> H. Ibrahim diuji dulu kemampuan silatnya. Diuji berupa ilmu fisik maupun
>> kedewasaan dan kematangan karakter. Setelah ujian itu, apalagi Rd. H.
>> Ibrahim datang "dikirim" oleh sobatnya Bang Madi, Bang Kari sadar kalau
>> Rd.
>> H. Ibrahim adalah murid yang sangat istimewa. Istimewa baik itu dalam
>> karakter maupun kemampuan dan dedikasinya dalam Maenpo. Karena itu Bang
>> Kari
>> menerimanya sebagai murid, walaupun begitu... Bang Kari memberikan nasehat
>> yang sangat panjang kepada Rd. H. Ibrahim, salah satunya adalah 5 hal yang
>> harus dijauhi oleh ia ketika mewarisi ilmu Maenpo nya, yaitu:
>> 1. Ujub (Berpuas diri dan merasa cukup)
>> 2. Riya (Melakukannya untuk menyombongkan diri)
>> 3. Takabur (Merasa paling bisa dan paling jago)
>> 4. Sum'ah (Melakukannya karena mencari pujian dan ingin dianggap jago)
>> 5. Dholim (Menyakiti orang lain).
>>
>> Cat: (Semoga ada yang bisa menjelaskan lebih jelas perbedaan Ujub, Riya,
>> Takabur, Sum'ah dan Dholim tersebut).
>>
>> Setelah itu, Bang Kari dan Rd. H. Ibrahim melakukan sumpah guru dan murid.
>> Bentuk upacara yang dilakukan adalah duduk berdua di atas kain kafan yang
>> melambangkan kesucian dan saling berjabat tangan sambil menghadap Kiblat.
>> Sebelumnya saling membersihkan diri dulu, baik itu fisik maupun rohaninya
>> (dengan mandi dan berpuasa). Sesudah itu "ditalek", atau ditanya... apakah
>> sumpah itu dilaksanakan dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan
>> tanpa
>> paksaan. Setelah itu baru mengucapkan sumpah yang intinya akan mengikuti
>> semua aturan yang diberikan oleh Guru dan Agama.
>>
>> Apa ciri khas "ulin" Kari
>> Ulin Kari sendiri adalah sebuh ilmu pukulan yang mengutamakan kecepatan,
>> ketepatan dan kekuatan. Serangan dilakukan cepat dengan karakter "Batur
>> Arek
>> Urang Anggeus", yang artinya "Lawan baru memulai, kita sudah mengakhiri
>> dan
>> juga karakter "Teu Numpangkeun Rasa", yang artinya "Tidak ragu-ragu dan
>> kasihan dalam menyerang". Ini mungkin terlihat kejam, tetapi kalau kita
>> merasa ragu-ragu justru celaka buat diri kita sendiri.
>>
>> Dalam penerapannya, counter attack yang dilancarkan bukan diawali dengan
>> tangkisan, tetapi dengan serangan juga yang memiliki kecepatan dan
>> ketepatan
>> yang lebih daripada lawan. Gerakan dilakukan dengan agresif dan terus
>> merangsek ke depan. Secara teori mungkin terlihat gampang, tetapi dalam
>> kenyataannya ini sangat sulit dilakukan kalau kita mempunyai pengalaman
>> yang
>> minim dan "intipan" yang dangkal. Intipan adalah kemampuan mengamati
>> musuh.
>> Rd. H. Ibrahim sendiri sudah memilki dasar yang kuat dalam hal ini, hal
>> ini
>> beliau pelajari ketika belajar ke Bang Madi ("puhu tanaga" dan "puhu
>> gerak".
>> Hal lainnya yang merupakan ciri khas adalah serangan-serangan dengan sikut
>> yang sangat cepat, permainan kaki dalam menggoyang kuda-kuda lawan,
>> potongan
>> terhadap persendian dan juga serangan dengan buku-buku jari dan jempol
>> ("Teke" dan "Rojok").
>>
>> Jadi jelas, ada perbedaan yang sangat jauh antara Ulin Madi dan Ulin Kari.
>>
>>
>>
>> Lahirnya Cikalong
>>
>> Dalam usia yang cukup matang, yaitu sekitar 40 tahun, Rd. H. Ibrahim
>> dianggap mewarisi Maenpo nya Bang Kari. Jadi bisa dibayangkan proses
>> belajar
>> Rd. H. Ibrahim yang cukup panjang, diawali di masa kanak-kanak dengan
>> Maenpo
>> Cimande dari lingkungan keluarga (kakeknya, Aria Cikalong adalah murid
>> Abah
>> Khaer), lalu masa remaja ke Rd. Ateng Alimudin, lalu ke Bang Ma'ruf, Bang
>> Madi dan akhirnya Bang Kari di awal umur 40 tahun. Suatu proses yang
>> menunjukan dedikasi dan kecintaan terhadap ilmu beladiri yang sangat
>> dalam.
>> Disamping itu, disebutkan juga kalau Rd. H. Ibrahim "bertukar" ilmu kepada
>> kurang lebih 40-an guru lainnya, tetapi memang yang sangat berpengaruh dan
>> menjadi inti dari Maenpo Cikalong adalah dari 4 orang yang disebut di atas
>> itulah.
>>
>> Setelah berguru ke Bang Kari itulah Rd. H. Ibrahim melakukan "khalwat" di
>> sebuah Gua kecil di sebuah gua kecil pinggir sungai Cikundul Leutik,
>> Kampung
>> Jelebud - Cikalong Kulon, Cianjur. Khalwat yaitu sebuah proses perenungan,
>> introspeksi dan atau bisa diartikan juga memikirkan apa yang sudah
>> dilakukan
>> dan merencanakan apa yang akan dilakukan, atau bisa juga diartikan
>> menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari. Beliau melakukan khalwat
>> selama
>> kurang lebih 3 tahun. Bukan berarti bahwa beliau berdiam diri di Gua
>> tersebut selama 3 tahun, tetapi melakukannya berulang kali, setiap saat
>> dan
>> waktu dimana beliau membutuhkan ketenangan untuk "mengumpulkan" dan
>> "merumuskan" semuanya, terutama maenpo yang sudah beliau pelajari selama
>> ini, karena beliau menyadari, setiap aliran memiliki kelemahan dan
>> kekuatannya masing-masing, dan beliau mencoba "menyatukan" itu semua.
>>
>> Setelah 3 tahun, barulah beliau "mengenalkan" alirannya sendiri yang
>> akhirnya dikenal sebagai Maenpo Cikalong. Mengapa "mengenalkan" ? Karena
>> beliau melakukannya bukan dengan melakukan demo-demo di atas panggung di
>> depan penonton yang banyak, tetapi dengan mengajarkannya ke keluarga atau
>> kenalan, itupun sangat rahasia sekali dan sangat selektif. Saat itu sangat
>> tidak mungkin orang di luar keluarga atau kenalan dekat yang bisa belajar
>> Maenpo Cikalong.
>>
>> Satu lagi keistimewaan beliau adalah dalam penerimaan murid. Beliau tidak
>> memiliki murid yang banyak karena beliau berpikir setiap murid harus punya
>> waktu khusus dengan beliau. Satu waktu latihan untuk satu murid. Dan juga
>> beliau sangat berhati-hati dalam memilihnya, karena apa yang beliau
>> pelajari
>> dan ajarkan bisa menjadi sangat berbahaya kalau ada di tangan yang salah.
>> Dengan jalan begitu beliau betul-betul mengenal karakter setiap murid dan
>> juga kelebihan serta kekurangan masing-masing. Beliau tidak akan begitu
>> saja
>> misalnya mengajarkan "Peupeuhan" kalau murid itu punya kelebihannya di
>> "Ulin
>> Tangtung", begitu sebaliknya. Tetapi ada juga murid-murid yang sangat
>> berbakat, misal Rd. Obing (yang akhirnya dikenal dengan nama Rd. Obing
>> Ibrahim, nama Ibrahim diberikan oleh Rd. H. Ibrahim sendiri karena sangat
>> sayang dengannya). Rd. Obing Ibrahim adalah contoh murid yang diajarkan
>> semuanya.
>>
>> Dari semuanya itu, yang sangat penting di Maenpo Cikalong adalah "Olah
>> Rasa", yang dilakukan melalui "Ulin Tapel". Jadi murid-murid baik itu yang
>> pelajar Peupeuhan, Ulin Tangtung, Ulin Puhu, dsb... pada akhirnya semua
>> belajar Ulin Tapel. Ulin Tapel (olah rasa) sendiri dilakukan dalam
>> tahapan:
>> 1. Rasa Napel
>> 2. Rasa Anggang
>> 3. Rasa Sinar
>>
>> 1. Rasa Napel (Napel = Menempel)
>> Ini adalah tahap pertama dalam olah rasa, dilakukan dengan menempelkan
>> kedua
>> lengan dengan lawan. Mungkin secara sepintas bisa disamakan dengan Tui Sho
>> di Tai Chi (saya sendiri belum pernah melakukan Tui Sho, ini penilaian
>> subjektif saja), atau "sticky hand" nya Wing Chun (juga subjektif). Untuk
>> murid dengan "rasa" yang sudah sangat halus dan tajam, mereka melakukannya
>> dengan tidak melihat (menunduk atau menutup mata dengan kain), tetapi bisa
>> merasakan pergerakan lawan maupun arah tenaga dan sumber tenaga lawan.
>> (Susah sekali kalau emosi sudah ikut).
>>
>> 2. Rasa Anggang (Anggang = "terdapat jarak")
>> Tahapan kedua adalah "rasa anggang", yang dilakukan tanpa menempelkan
>> tangan, dan mencoba membaca tenaga, arah serangan, sumber tenaga dan
>> pergerakan lawan. Ini seperti "rasa napel" yang diberi jarak. Seperti juga
>> dalam "rasa napel", murid-murid expert bisa melakukannya dengan mata
>> tertutup.
>>
>> 3. Rasa Sinar
>> Ini mungkin terdengar dan terlihat seperti "utopia", seperti mimpi...
>> seperti khayalan. Tetapi kalau sudah melihat seorang pelaku Maenpo
>> Cikalong
>> melakukannya mungkin akan percaya. Hal ini tidak berhubungan dengan ilmu
>> ghaib. Rasa Sinar sendiri bisa diartikan latihan intuisi dan existensi.
>> Mungkin salah satu contoh penerapannya kita bisa mengetahui orang yang
>> datang mendekati kita itu punya niat baik atau jahat. Sesuai dengan
>> namanya,
>> merasakan dari "sinar" orang.
>>
>> Ketiga "olah Rasa" tersebut bertujuan untuk mencari "kesempurnaan rasa"
>> dalam Maenpo Cikalong yang disebut "rasa sajeroning rasa", artinya "rasa
>> di
>> dalam rasa". Sebuah wujud ketenangan dan kematangan dalam ber-Maenpo.
>>
>> Saya sendiri, takutnya ada yang salah pengertian, belum pernah belajar
>> "Rasa
>> Anggang" apalagi "Rasa Sinar" Untuk itu mungkin nanti Kisawung bisa
>> menjelaskan lebih detail untuk hal-hal itu. Atau misal menunjukan beberapa
>> praktisi yang bisa memberikan pencerahan.
>>
>>
>>
>> Perkembangan Awal Maenpo Cikalong
>> Murid-murid Rd. H. Ibrahim Djajaperbata
>>
>> Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Rd. H. Ibrahim sangat selektif dalam
>> memilih murid. Maenpo Cikalong sendiri pertama kali hanya diajarkan di
>> lingkungan keluarga atau kenalan/kerabat terdekat saja. Begitu juga
>> latihannya, bisa dianggap cukup rahasia... dimana Rd. H. Ibrahim
>> memberlakukan "satu waktu latihan untuk satu murid", apalagi jika murid
>> sudah mencapai tingkatan lanjut... biasanya waktu latihan dilakukan malam
>> hari (setelah sholat Isya atau sebelum/sesudah sholat shubuh) di ruangan
>> tertutup.
>>
>> Satu lagi yang kembali harus sedikit diceritakan, dalam latihan Maenpo
>> Cikalong murid berlatih beberapa jurus tunggal yang dilatih terus menerus.
>> Dalam melatih jurus-jurus tersebut murid dilarang untuk mencari aplikasi
>> dari jurus tersebut. Tujuan dari cara seperti ini adalah agar nantinya
>> "usik
>> kalayan hideng ku sorangan" (usik kalayan hideng ku sorangan = bergerak
>> dengan sendirinya), dimana gerakan-gerakan Maenpo Cikalong diharapkan
>> sudah
>> menjadi bagian dari badan pesilat sendiri (seperti halnya kita mengangguk
>> kalau mengiyakan, dan menggeleng kalau tidak).
>>
>> Rd. H. Ibrahim sendiri betul-betul memperlakukan muridnya secara personal.
>> Murid diajarkan hal-hal yang lebih cocok dengan karakter dan bakatnya.
>> Itulah kenapa nantinya hanya ada murid yang menguasai Maenpo Ulin Tangtung
>> /
>> Maenpo Ulin Puhu, Maenpo Tempelan atau Maenpo Peupeuhan, cara latihan
>> seperti inilah yang melahirkan aliran-aliran di Maenpo Cikalong dan juga
>> perbedaan jumlah jurus yang diajarkan oleh Guru-guru Maenpo Cikalong saat
>> ini. Walaupun begitu beberapa murid merupakan murid-murid yang sangat
>> berbakat sehingga belajar semuanya. Tingkatan akhir dari Maenpo Cikalong
>> yaitu berlatih "Tapel" (dimana praktisi belajar mengolah rasa, yang
>> sebenarnya dari awal pun sudah dilatih... tetapi di tahapan Tapel lebih
>> diintensifkan untuk mencapai "kaayan sanalika"/"rasa sajeroning rasa",
>> lihat
>> post-post sebelumnya).
>>
>> Untuk menentukan kemajuan murid, dalam Maenpo Cikalong dikenal dalam 4
>> kata,
>> yaitu: "bener", "bobot/ngisi" , "leumeus" dan "ngarti" (bener = benar,
>> artinya gerakan sudah benar sesuai pakem nya. Bobot = berbobot, artinya
>> tidak asal gerak... tetapi harus jelas isi dan kosong nya. Leumeus =
>> halus,
>> artinya gerakan tidak kaku dan tidak dipaksakan.. . atau gerakan natural.
>> Ngarti = pengertian, ini dilakukan apabila ketiga hal pertama sudah
>> dicapai).
>>
>> Berikut ini jalur murid-murid awal Maenpo Cikalong, walaupun begitu...
>> beberapa murid tidak tercantum dalam silsilah ini.
>>
>>
>>
>> Cat:
>> 1. Rd. H. Abdullah (dimana Maenpo Peupeuhan Adung Rais nantinya turun),
>> Rd.
>> H. Muhyidin dan Rd. Obing Ibrahim adalah murid-murid yang pertama membuka
>> perguruan sepeninggalnya Rd. H. Ibrahim di tahun 1906.
>>
>> 2. Rd. Abad adalah murid dari Rd. Busrin yang nantinya mengajarkan Maenpo
>> Cikalong berdasar metode baru yang mencakup semuanya tetapi hanya terdiri
>> dari 30 Jurus.
>>
>> 3. Rd. H. Sanusi adalah murid Rd. H. Ibrahim yang nantinya mendirikan
>> perguruan baru di Cikaret dan disebut Maenpo Cikaret.
>>
>> 4. Rd. H. Enoh adalah murid yang Rd. H. Ibrahim yang termasuk juga
>> murid-murid awal dari Mama Kosim (pendiri Sahbandar). Diyakini dari Rd. H.
>> Enoh lah Sahbandar menyebar dalam Maenpo Cikalong dan dianggap bagian
>> Maenpo
>> Cikalong, walaupun begitu ada beberapa murid yang tetap hanya belajar
>> Maenpo
>> Cikalong saja.
>>
>> 5. Wa Nampon adalah salah satu murid Maenpo Cikalong yang juga belajar ke
>> Mama Kosim dan melahirkan aliran baru yang disebut "gebreg Nampon".
>>
>> 6. Rd. Obing Ibrahim adalah salah satu murid Rd. H. Ibrahim yang
>> dianugrahi
>> nama Ibrahim di belakangnya, saking sayangnya Rd. H. Ibrahim ke Rd. Obing.
>> Rasa sayang itu timbul karena melihat ketekunan, dedikasi dan bakat yang
>> luar biasa dari Rd. Obing. Sepeninggal Rd. H. Ibrahim, Rd. Obing lah yang
>> dianggap salah satu "sesepuh" tempat bertanya. Disamping itu beliau
>> belajar
>> juga ke Mama Kosim, dimana saat itu sudah terjalin kekeluargaan yang
>> sangat
>> erat sekali antara keluarga Maenpo Cikalong dan Maenpo Sahbandar di
>> pesantren Ajengan Cirata (Mama Cirata).
>>
>> 7. Rd. Didi Muhtadi adalah penerus Maenpo Cikalong yang menggabungkan
>> Maenpo
>> Cikalong dengan seni "Kendang Penca" yang sudah lebih dahulu ada. Di awal
>> penerapannya hal ini menimbulkan beberapa tanggapan negatif dari sesepuh
>> lain karena dianggap menyalahi "pakem". Gan Didi jugalah yang menerapkan
>> metode baru dalam melatih Maenpo Cikalong, dimana murid belajar dulu
>> "ibingan", baru setelah itu Jurus yang hanya terdiri dari 13 Jurus. Di
>> masa
>> inilah mulai dikenal "ibing" dan "buah" dalam Maenpo Cikalong.
>>
>> 8. Rd. Utuk Sumadipradja adalah sesepuh Maenpo Cikalong yang melahirkan
>> aliran baru yang beliau namakan "Sanalika". Aliran ini hasil "penggabungan
>> kembali" Maenpo Cikalong dengan Cimande, Kari, Sahbandar dan Jurus 7 dari
>> keluarga sendiri. (Rd. Utuk adalah cucu seorang ulama terkenal di Garut
>> yang
>> disebut Ajengan Biru (Ulama Biru), beliau terkenal juga dengan suatu
>> Maenpo
>> unik yang disebut Jurus 7).
>>
>> 9. Rd. Harun Sirod, Rd. Abdurr Rauff, Gan Ita Sasmita dan Rd. Popo (sudah
>> wafat) adalah generasi terbaru yang meneruskan mengajarkan Maenpo Cikalong
>> dan Maenpo Sahbandar. Rd. Abdurr Rauff adalah gurunya Kisawung (Kisawung,
>> mohon dicari informasi untuk Gan Ita Sasmita, beliau sudah sangat tua...
>> saya sudah lama tidak mendengar kabar tentang beliau ini.) Mohon dicermati
>> juga, di silsilah di atas tidak terlihat bahwa Rd. Abdurr Rauff belajar
>> Maenpo Sahbandar... tetapi pada kenyataannya beliau mengajarkan Sahbandar
>> ke
>> Kisawung. Itulah salah satu bukti bahwa Sahbandar sudah betul-betul
>> dianggap
>> sebagai bagian Cikalong.
>>
>> 10. Abah Aleh, sesepuh Maenpo Cikalong yang mendirikan Paguron Panglipur
>> di
>> Garut, yang sekarang dipimpin oleh anaknya, yaitu Ibu Enny Sekarningrat.
>> Dalam sejarahnya, Maenpo Cikalong banyak melahirkan pendekar-pendekar
>> Wanita
>> yang mumpuni. Salah satunya Ibu Enny ini.
>>
>> 11. Lihat bahwa beberapa murid berguru lagi kepada kakek Gurunya, misal
>> Gan
>> Didi yang asalnya berguru ke Rd. Obing dan Rd. Idrus... akhirnya dikirim
>> untuk berguru ke kakek gurunya, Rd. Bratadilaga.
>>
>>
>
> 

------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke