Dimuat Kompas Jawa Barat rubrik Forum, Senin September 2008

 

Menata Jalan Braga

 

Oleh Jamaludin Wiartakusumah

 

Kawasan jalan Braga yang legendaris, seperti juga kota Bandung sendiri,
dibangun pada masa kolonial Belanda, ketika kondisi kota masih lebih
sederhana dan populasi yang masih sedikit dibanding sekarang yang lebih
kompleks. Dahulu jalan itu demikian populer karena kualitas arsitektur
pertokoan dan produk yang dijualnya melebihi kawasan komersial lain. Namun,
kemudian, kehadiran kawasan komersial di kawasan lain telah membuat Braga
ketinggalan jaman. Walaupun di Braga sekarang terdapat apartemen dan pusat
pertokoan di bawahnya yang disebut Braga Citywalk, tapi tampaknya belum
berhasil menghidupkan seluruh kawasan Braga kembali menjadi kawasan populer
Bandung, sebagaimana diceritakan Haryoto Kunto dalam buku-bukunya mengenai
Bandung.

            Rencana Pemerintah Kota Bandung mereka ulang atau revitalisasi
kawasan Braga tampaknya akan menemui berbagai kendala terutama daya dukung
kawasan itu yang dibanding kawasan komersial lain sudah tidak lagi sesuai
dengan kondisi kota Bandung sekarang. Tanpa perubahan, kalau perlu radikal,
misalnya dengan merubah kawasan Braga menjadi superblok yang akan merubah
total wajah Braga, kawasan itu rasanya sulit untuk dapat bersaing dengan
model kawasan komersial kontemporer seperti mal atau plasa. Belum lagi
kawasan pemukiman seperti Dago dan Riau yang berubah menjadi kawasan
komersial bentuk baru, menjadi pesaing baru dengan komoditas yang lebih
populer. Kawasan komersial baru memiliki fasilitas yang kurang dimiliki
Braga seperti pepohonan peneduh, lahan parkir yang luas, desain toko yang
kontemporer serta produk yang populer seperti factory outlet (FO), distro
dan café serta restoran dengan desain mutakhir. Bila keukeuh ingin
direvitalisasi,  Braga harus sanggup tampil menyesuaikan diri dalam
bentuknya yang sama sekali lain dan unik.

            

Kawasan Klasik

Rencana mengganti aspal di jalan Braga dengan batu seperti kawasan kota tua
di Eropa tampaknya berangkat dari pandangan bahwa Braga dipandang sebagai
representasi wilayah klasik kota. Kualitas klasik Braga harus diimbangi
dengan upaya mengembalikan unsur nostalgia kawasan itu,  misalnya dengan
mengembalikan fasade toko yang telah berubah ke model aslinya seperti gaya
Art Deco. Dengan begitu, nuansa klasik Braga secara visual akan kembali
muncul. 

            Untuk menjaga gengsi jalan Braga sebagai pusat pertokoan produk
berkualitas tinggi seperti jaman dahulu, toko-toko di sana tentunya harus
menjual produk-produk merek terkenal yang eksklusif khas gaya hidup urban
yang mungkin sebagian berupa produk impor. Hotel yang ada di ujung jalan
Braga harus dibuat menjulang dan berbintang agar kualitas kawasan tersebut
kembali terangkat. Bila di New York ada Fifth Avenue, di Los Angeles ada
Rodeo Drive,  diharapkan di Bandung ada Braga. Sebagai kawasan legendaris,
Braga dapat saja diformat sebagai kawasan campuran antara pertokoan dengan
pusat-pusat kebudayaan seperti museum dan ruang publik lainnya.

            Untuk memberi bobot kawasan antik yang tinggi pada kawasan Braga
barangkali di Braga layak dibangun sebuah museum Kota Bandung, dengan
berbagai objek yang mengisahkan perjalanan sejarah kota Bandung. Di Braga
juga tampaknya tempat yang ideal untuk berdirinya gedung ‘Hall of Fame’ kota
Bandung yang mengoleksi nama-nama warga Bandung bersama prestasinya yang
menjulang dan mengharumkan Kota Bandung dalam berbagai bidang mulai dari
kesenian, ilmu pengetahuan, agama, olahraga, wiraswata, dan prestasi
kebudayaan lainnya. Salah satu calon daptar itu adalah para pemenang Anugrah
Kota Bandung dan juga pemain legendaris Persib. Format gedung ini barangkali
dapat digabung dengan museum lilin (wax museum) yaitu patung dari lilin
tokoh-tokoh terkenal sebagaimana terdapat dikota-kota Eropa tetapi untuk
konteks Hall of Fame Bandung ini khusus tokoh-tokoh yang memberi warna pada
sejarah Kota Bandung dan Jawa Barat umumnya. 

 

Etalase Industri Kreatif

Alternatif lainnya adalah memanfaatkan potensi dan karaksteristik kota
Bandung yang mulai dikenal sebagai kota kreatif termasuk julukan kota mode
paling dinamis di negeri ini. Berlainan dengan pendekatan klasik di atas,
upaya menyulap kawasan Braga menjadi kawasan kreatif, antara lain di samping
toko yang menjual produk kreatif seperti kriya yang bersifat souvenir khas
Bandung, juga dengan merubah produk yang dijual toko di kawasan itu dengan
komoditas khas Bandung yang sekarang sedang trend yaitu FO dan distro, yang
tentu saja dilengkapi dengan fasilitas lain seperti café atau restoran.
Dengan model ini, wajah toko-toko di Braga dapat dikemas dalam gaya desain
kontemporer seperti postmodern yang mengacu pada gaya art deco.

            Toko-toko buku di kawasan Braga harus dibuat lebih populer
dengan cara seperti yang dilakukan komunitas toko buku anak muda seperti
menyediakan sarana untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan dunia
buku seperti tempat peluncuran buku baru, bedah buku, temu muka dengan
penulis, dan seterusnya. Gedung Asia Afrika Cultural Center (AACC) di ujung
selatan jalan Braga saya kira tempat yang ideal untuk berbagai kegiatan yang
menunjang kegiatan seperti itu. Intensitas kegiatan di gedung itu harus
dibuat lebih kontinyu dengan variasi kegiatan lain yang dikemas lebih
menarik dan populer. 

            Adapun bekas kantor Gas Negara sangat ideal untuk dibuat menjadi
ruang publik seperti Museum Kota Bandung,  Hall of Fame Kota Bandung atau
tempat berbagai kegiatan budayawan atau seniman termasuk bermacam pameran
karya seni. Sekarang beberapa toko di jalan Braga telah bersalin rupa
menjadi toko lukisan yang semula digelar di trotoarnya..

            Beberapa café yang sekarang ada di Braga umumnya hanya buka pada
malam hari. Café jenis ini membuat  sebagian wajah Braga pada siang hari
tampak mati. Café-café tersebut harus diformat agar juga buka pada siang
hari agar  jalan Braga juga tampak hidup di siang hari.

             Dewasa ini berbagai komunitas tumbuh subur di kota Bandung.
Salah satu komunitas sepeda motor besar, Brotherhood, telah bermarkas di
Braga. Kehadiran komunitas anak muda di kawasan ini adalah potensi yang
dapat membangkitkan kawasan Braga menajdi lebih hidup dan dinamis. Kawasan
parkir di Braga yang terbatas dapat terbantu dengan adanya kawasan parkir di
tepi Sungai Cikapundung di samping Gedung Merdeka.

            Tentu upaya ini harus didukung dan melibatkan pemilik toko di
kawasan tersebut. Upaya ngawawaas kawasan Braga tidak akan berhasil tanpa
dukungan penuh pemilik toko karena sesungguhnya upaya revitalisasi itu
tentunya untuk meningkatkan arus pengunjung ke kawasan Braga, baik lokal,
warga Jakarta kala liburan, maupun wisatawan mancanegara. Di sisi lain,
masyarakat urban sekarang memberi apresiasi tinggi terhadap kualitas suatu
tempat. Mereka akan bersedia datang untuk sesuatu yang unik dan khas di
suatu kawasan. Nyanggakeun!

 

Jamaludin Wiartakusumah

Dosen Desain Itenas

 

 

Kirim email ke