Urip iku neng ndonya tan lami Umpamane jebeng menyang pasar Tan langgeng neng pasar wae Tan wurung nuli mantuk Mring wismane sangkane uni Hidup didunia ini tidak akan lama, Bila diumpamakan kepasar tidak selamanya kita dipasar saja, Tak bisa tidak kita harus pulang kerumah asalnya semula. Jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota besar lainnyayang sering kita sebut sebagai kota Metropolitan, Kosmopolitan, ataupun Megapolitan karena ramainya kegiatan dan tak berhentinya deru nafas kesibukan, saat ini seolah-olah sedang mati, kehilangan nyawanya. Seperti yang terasa sekarang ini. Dari segala penjuru kota, Jakarta srasa kota mati, lengang dan sepi.... Yach, bersama dengan menyongsong Lebaran 'Idul Fitri' meski banyak orang sudah hidup dan tinggal permanen dikota seperti Jakarta ini, tetap kampung halaman adalah rumah sejatinya. Mudik....... Ada sebagian orang yang mendefinisikan kata mudik berasal dari bahasa Arab, Dho'a = hilang, Mudli' = orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Jadi bisa disama artikan bahwa menjelang Labaran ini, para perantau berduyun-duyun pulang kekampungnya karen amerasa kehilangan, sehingga perlu mudik guna menemukan kembali.
Dikutip dari tulisan Cak Nun, bahwa "Kalau agak sok ilmiah mudik dapat
dikategorikan menjadi 3 bagian: Mudik Sosiologis, Mudik Antropologis, dan
Mudik Kosmologis"
1. Mudik Sosiologis
Waktunya adalah sekarang ini, tempatnya ada pada wilayah sosial budaya.
Kita mencari hidup, mengembangkan diri dari kampung pergi keluar, bekerja
ataupun sekolah akhirnya menjadi Pejabat ataupun Presiden atau bisa jadi
malah terjebak pada peran menjadi seorang gembel atau gelandangan ditepian
jalan protokol seperti yang sempat alami. Yang pasti didepan ada masa yang
akan datang, dan dibelakang ada masa silam.
Masa Silam selalu lebih kuat dibanding masa depan. Masa silam memberi
kekuatan prima karena cukup dikhayalkan dan mudah dalam menambah unsur-unsur
kemerdekaan. Puji Syukur Alkhamdulillah sesedih apapun kita manusia masih
diberikan imajinasi pelipur lara diri.
Kenikmatan tiada tara akan timbul pada pandangan masa silam, karena masa
depan hanya akan berujung dimaut. Jika kita telah biasa hidup kekurangan,
merasa tak punya keunggulan apa-apa, mungkin akan lebih enteng memandang
kearah masa depan. Karena maut sudah kita akrabi melalui riwayat
sehari-hari. Tetapi sebaliknya kalau kita sukses dan kaya raya secara harta,
maka semakin uzur usia akan semakin menyesali berkurangnya umur, semakin
karib dalam kekosongan dan kengerian dialam kubur.
Disinilah timbulnya upacara mudik guna mengenang asal-usul dan tujuan hidup
kita. Sangkan Paraning Dumadi. dan mudik yang apling efektif adalah seusai
Romadhon, selain bersilaturahim pada saat Lebaran, adalah waktu yang tepat
apabila kita mengenang sejenak asal-usul sosial budaya kita dikampung
bersama keluarga, dibanding menikmati dunia nyata
2. Mudik Antropologis
Semakin banyaknya orang sukses secara duniawi maka membuat semakin
banyak orang menyorotkan eksistensi diri. Banyak ID Card yang mencantumkan
nama plus gelar plus nama hebat yang terkenalsebagai Clannya. Prof. DR dr
Gus Falun Maulana Fulus Ma.
Mudik antropologis semoga dapat kita tempuh dalam kehidupan seperti ini.
Semoga pula dapat menjadi bagian yang penting guna mengisi kekosongan diri
ditengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan, Hangus
terbakar kesombongan duniawi. Keindahan dunia hanyalah tipu belaka, yang
lebih penting bahwasanya kita manusia ini sesungguhnya adalah juga keturunan
Nabi Ibrahim Yang Percaya Adanya Alam Pencipta dan Tanda-Tanda kebesaranNya.
3. Mudik Kosmologis
Yaitu hakekat setiap detik untuk berproses dalam lingkar 'Inna lillahi
wa inna ilaihi roji'un'. Itulah prinsip utama kehidupan yang sudah
dibudayakan sebagai tanda kematian.
Semua yang berada dimuka bumi ini tidak bisa tidak, harus mudik, karena
hidup dimuka bumi hakekatnya juga adalah pergi untuk kembali. Bisa juga
diartikan bahwa perginya yang hidup adalah kembali.
Begitu juga kita umat manusia tak akan kemana-mana kita pergi kecuali
menyerahkan diri kita untuk kembali, Terpaksa atau ikhlas, Kepada asal-usul
yang sejati. Sangkan Paraning Dumadi. Juga apa saja yang kita pikir kita
miliki, kekayaan, harta benda, bertumpuk-tumpuk sebenarnya hanya untuk satu
tujuan: Mereka meninggalkan kita, atau mendadak kita yang meninggalkannya.
Setiap tempat pergi adalah tempat kembali, jika semisal ada barang yang kita
curi, tidak ada jalan yang lain kecuali nantinya juga bakal kita setorkan
kepada "Tukang Tadah Agung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali
milikNya sendiri.
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" sesungguhnya kita dan apa saja yang
berada dimuka bumi ini adalah hakNya, dan satu-satunya kemungkinan hanyalah
kembali kepada PangkuanNya. Tak ada kekuasaan yang benar-benar bisa kita
raih, karena menjelang lahir kita tidak setorkan apapun untuk saham rencana
kelahiran kita. Bukan saja kuasaNya yang titipan, akan tetapi diri kita
sendiri adalah juga titipan, karena kita tak mampu menciptakan diri ini.
Bahkan kedua orang tua kita pun tak mampu merancang hidup kita, jenis rambut
kita apalagi tingkat kecerdasan pikiran kita.
Dengan waktu hidup yang masih tersisa, sebelum datang kendaraanNya menjemput
mudiknya kita semua, marilah kita nersama-sama memaknai kehidupan ini dengan
melihat bertumbuhkembangnya pepohonanNya. Pepohonan tumbuh ditandai dengan
pucaknya yang semakin meninggi, rantingnya bertambah lebat, daunnya semakin
rimbun, bunga maupun buahnya pun muncul. Semakin lama semakin semakin
perkasa dalam menghadapi goyangan angin dan guncangan yang ada. Mampu
membuat pesona hijau siapapun yang memandang nya dan tidak pilih kasih daun
rimbunnya melindungi apa dan siapa saja yang berada disekitarnya.
Semoga antara hati dan analisa akal kita tidak terkontaminasi oleh keadaan
dunia untuk jujur menjawab hidup hingga mampu membagi damai seperti sang
pohon mampu memberi damai dalam rimbun kesejukan dahannya. Dan juga
berharap kita semua masih diberikan kekuatan dalam berbagi sebagaimana
ikhlasnya pepohonan tadi dalam memberikan buah ataupun bunganya, sambil
memohon petunjuk dan bimbingan dari 'Tangan BijakNya -Al Yad Al Khair'
sehingga kita semua mampu memasuki cakrawala kasih sayang Allah "Yadhuluna
fi dinillahi afwaja". Berharap ikhlas dariNya seperti keikhlasan kita dalam
memanjatkan do'a kepadaNya.
"If the only prayer you said in your whole life was, 'thank you' that would
suffice"
Ketika satu-satunya do'a manusia dalam hidup hanya 'terimakasih - keikhlasan
bersyukur nikmat', itulah sesungguhnya sebuah kehidupan yang sudah sangat
cukup
Meister Echkhart
--
Eminx
http://www.saatchi-gallery.co.uk/yourgallery/artist_profile//95268.html
<<attachment: Alloh.gif>>
