Kenging ti baraya multiply. Nyanggakeun.
----- Forwarded Message ----
From: Gunung Galunggung (via Multiply) <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, September 26, 2008 12:42:27 PM
Subject: Sunda (Kawali)
Gunung Galunggung has posted a new blog entry.
Manage alerts settings
Sunda (Kawali) Sep 26, '08 12:42 PM
for everyone
SUNDA (KAWALI)
I. Pengantar
Kesejarahan Sunda di Kawali dikukuhkan dengan bukti otentik yang dimuat dalam
Prasasti Kawali 1 yang terletak di Astana Gede. Prasasti ini diyakini merupakan
tanda kehadiran Wastu Kencana.
Isi Prasasti tersebut, sebagai berikut :
Prasasti Kawali 1 :
00 nihan tanpa kawa-
Li nu siya mulia tanpa bha-
Gya parebu raja wastu
Mangadeg di kuta kawa-
Li nu mahayu na kadatuan
Surawisesa nu margi sa-
Kuliling bdayeuh nu najur sagala
Desa aya ma nu pa(n) deuri pakena
Gawe rahhay pakeun heubeul ja-
Ya dina buana 00
Prasasti Kawali
(yang berada di kawali ini adalah yang mulia pertapa yang berbahagia Prabu Raja
Wastu yang bertahta di Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang
membuat parit (pertahanan) sekeliling ibu kota, yang mensejahterakan (memajukan
pertanian) seluruh negeri. Semoga ada (mereka) yang kemudian membiasakan diri
berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Prasasti Kawali 1 tentu tidak bisa dipisahkan dari Prasasti Kawali Ke 2. Isinya
mengenai nasehat Prabu Wastu Kencana kepada para penerusnya. Prasasti tersebut
sangat akrab disebuat Wangsit atau Wasiat Wastu Kencana.
Prasasti Kawali 2 tersebut berisi :
Aya ma
nu ngeusi bha-
gya kawali ba-
ri pakena kere-
ta bener
pakeun na(n)jeur
na juritan.
(semoga ada (mereka) yang kemudian mengisi (negeri) Kawali ini dengan
kebahagiaan sambil membiasakan diri berbuat kesejahteraan sejati agar tetap
unggul dalam perang).
Wasiat ini benar-benar memiliki makna yang universal. Mungkin jika dilarapkan
untuk teori kepemimpinan tepat juga jika kaitkan dengan pepatah : Raja adil
raja disembah – raja lalim raja disanggah. Raja yang tak mampu mensejahtrahkan
rakyatnya, maka ia tak mungkin menguasai pentataan rakyatnya.
2. Ibukota yang berpindah-pindah
Tentang pusat pemerintahan Sunda memang banyak menimbulkan tanya, terutama
ketika dikaitkan dengan letak ibu kota Tarumanagara, apakah di daerah Bekasi
atau di Bogor ?.
Peristiwa perpindahan pusat pemerintahan Sunda dari Pakuan ke Kawali, demikian
pula sebaliknya kembali lagi ke Pakuan pernah muncul spekulasi, terutama dari
para peneliti yang menghubungkan dengan prasasti Pasir Muara. Banyak akhli
meraba-raba tentang kedudukan Ibu kota yang sebenarnya. Permasalah menjadi
sangat kompleks ketika ditemukan prasasti Kawali yang meneguhkan adanya ibu
kota Sunda di daerah tersebut. Sehingga pendapat yang paling rational dalam
menenetukan letak ibu kota Sunda harus dianggap sering berpindah-pindah,
terutama dari Pakuan ke weilayah timur, demikian sebaliknya.
Perpindahan ibu kota Sunda tentu memiliki alasan yang masuk akal, sangat
terkait dengan pengembangan wilayah dan keamanan negara. Namun ada juga yang
mengaitkan dengan tardisi Sunda yang agraris, tapi dalam menetapkan ibu kota
masalah ini bisa dikesampingkan, kecuali pengaruh dari sifat masyarakat agraris
yang sangat theis dan percaya terhadap kekuatan alam.
Sebagai suatu contoh ketika masa Tarusbawa, ia memindahkan ibu kota
Tarumanagara ke Sundapura, dengan alasan untuk membangkitkan kembali kejayaan
Sunda sebagaimana pada masa Purnawarman yang berkedudukan di Sundapura. Memang
ada dampak negatifnya, yakni ketika Galuh berkehendak memisahkan diri dari
Sunda. Itupun tidak lebih hanya akibat Tarusbawa bukan putra Mahkota
Tarumanagara dan ia hanya bekas seorang raja daerah, sehingga Urang Galuh
merasa tidak memiliki hubungan emosional dengan Sunda.
Contoh lain ketika masa Prabu Darmasiksa, ia mencanangkan untuk memindahkan ibu
kota ke Pakuan, agar dekat dengan pantai, karena pada masa itu bajak laut sudah
sangat mengganggu wilayah perairan sunda. Banyak alasan dari negara lain untuk
eksis diperairan Sunda dengan alasan mengamankan kapal-kala niaganya. Sementara
sunda sendiri tidak memiliki angkatan laut yang kuat. Sehingga dengan
dipindahkannya ibu kota ke dekat pantai maka sunda dapat membangun armada
lautnya.
Ada juga yang menghubungkan dengan masalah belum cairnya hubungan Sunda dengan
Galuh, akibat dari adanya perbedaan tradisi (lihat Galuh dan Kerajan Sunda 1).
Disatu sisi ada juga yang disebabkan karena Manarah dan ketutunanannya sangat
sulit mendapat anak laki-laki untuk menjadi putra mahkota, sehingga pada tahun
852 Tahta Galuh jatuh kepada Rakeyan Wuwus, keturunan Banga, yang beristrikan
puteri keturunan Galuh. Sebaliknya adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan
putera Galuh yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Raja Sunda IX
dengan gelar Prabu Darmarksa Buana.
Kekerabatan dari cara perkawinan tersebut belum sampai keakar rumput dan hanya
terjadi pada level raja. Sunda dan Galuh memang memiliki tradisi dan entitas
yang mandiri sehingga masih ada rasa untuk melakukan dokotomi antara Galuh
disatu sisi dan Sunda disisi Lain. Sama ketika Sanjaya, putra Mahkota Galuh dan
Tamperan yang sulit diterima lingkungan Galuh. Demikian pula sikap masyarakat
Sunda terhadap Galuh. Bahkan Prabu Darmaraksa (891 - 895), Keturunan Galuh
dibunuh oleh seorang menteri Sunda yang fanatik.
Alasan-alasan inilah yang termasuk menjadi perhitungan raja-raja Sunda dalam
menetapkan pusat pemerintahannya. Jadi wajar pusat pemerintahan selalu
berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Sehingga antara tahun 895
sampai tahun 1311 kawasan Jawa Barat sering diramaikan oleh iring-iringan
rombongan raja baru yang pindah tempat.
Suatu contoh berturut, sebagai berikut Raja Sunda ke 19 : Sanghyang Ageung,
berkedudukan di Galuh ; Raja Sunda ke 20 : Sri Jayabupati berkedudukan di
Pakuan ; Raja Sunda ke 21 : Darmaraja (Sang mokteng Agung), berkedudukan di
Galuh ; Raja Sunda ke 22 dan ke 23 : Langlangbumi (Sang mokteng Kreta) dan
Rakean Jayagiri, berkedudukan di Pakuan ; Raja Sunda ke 24 : Darmakusuma (Sang
Mokteng Winuraja) berkedudukan di Galuh.
Konon kabar hubungan tradisi Sunda dengan Galuh baru benar-benar cair pada abad
ke-14. Sejak saat itu sebutan Sunda melekat pada kedua entitas yang sudah
mencair, bahkan sudah meliputi seluruh Jawa Barat. Sebutan Sunda kemudian
dipergunakan untuk menyebut daerah dan etnik.
Pemahaman selanjutnya mengenai Sunda dan Galuh mungkin dapat merujuk pada
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, nama Sunda mulai digunakan oleh
Purnawarman untuk Ibukota Tarumanagara yang baru didirikannya, yakn Sundapura.
Sundapura mengandung arti Kota Suci atau Kota Murni, sedangkan Galuh berarti
Permata atau Batu Mulia, atau banyak juga yang mengartikan Gadis.
3. Kawali Ibu Kota Sunda
Kawali dalam Naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh kai Raga dari
Srimanganti – Cikuray diistilah sebagai dalem si pawindu hurip atau keraton
yang memberikan ketenangan hidup. Nama kraton tersebut jika dikaitkan dengan
prasasti Kawali disebut Surawisesa. Prasasti Kawali 1 ini yang sebenarnya
merupakan bukti otentik bahwa Sunda pernah beribukota di Kawali.
Kawali sebagai pusat pemerintahan ditegaskan pula didalam Pustaka Nusantara,
dengan kalimat : Katatwa kitagheng rajya Kawali wastanya. Ring usama nira
mangadeg dumadi mahaprabu rikung juga” (Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana
adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa
sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ).
Para akhli sejarah dalam mengartikan data diatas kemudian menyimpulkan bahwa
antara Sunda dengan Galuh pada tahun 1333 sampai dengan tahun 1482 masehi
sangat terkait erat dengan Kawali. Pakuan pada masa itu sudah menjadi kerajaan
daerah, sedangkan Galuh fungsinya dianggap sudah berakhir. Jika diurut ke
muasalnya, berakhirnya Galuh bukan karena di “rurug musuh”, namun akibat dari
hubungan pertalian perkawinan antara keturunan Manarah dengan Keturunan Banga.
Manarah dan keturunannya sangat sulit mendapat putra pewaris tahta Galuh,
sedangkan Banga memperolehnya karena memiliki keturunan laki-laki pemegang
tahta Sunda.
audio reply video replyAdd a Comment
Copyright 2008 Multiply Inc, 6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse: click here