batu kuya lengit di hutan lindung
aneh euy.. hutang lindung lain sok dijaga ku perhutani

nya udang we yuk ka perhutani..


--- On Sat, 9/27/08, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kisunda] BATU KUYA Dipaok Euy!
To: "kisunda" <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, September 27, 2008, 9:55 AM










    
             Print     Send    Close

Situs Purbakala Batu Kuya Hilang

dok KSB

Situs Batu Kuya diangkut menggunakan kontainer dari tempatnya di

kawasan Hutan Lindung Haur Bentes, Kabupaten Bogor, dan melintas di

Desa Pasir Madang, Selasa (23/9). Situs seberat 6 ton ini diameternya

3 meter dan tinggi sekitar 4 meter.

Sabtu, 27 September 2008 | 03:00 WIB



Bogor, Kompas - Sebuah batu purbakala peninggalan Kerajaan

Tarumanegara seberat 6 ton "hilang" dari lokasi situsnya di hutan

lindung Haur Bentes, Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten

Bogor, Jawa Barat. Batu yang dikenal masyarakat dengan nama "Batu

Kuya" itu diangkut menggunakan kontainer.



Dinamakan Batu Kuya karena batu raksasa tersebut bentuknya mirip

kura-kura atau dalam bahasa Sunda disebut "kuya". Batu tersebut

berdiameter sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 4 meter. Pada bagian

ujungnya terdapat benjolan seperti kepala kura-kura.



Hilangnya situs peninggalan abad IV atau ke V tersebut terlambat

diketahui aparat setempat. Namun, saat pemindahan batu situs tersebut

dengan menggunakan alat-alat berat dan diangkut truk tronton, Selasa

(23/9), banyak anggota masyarakat yang melihatnya.



"Begitu mendapat laporan dari masyarakat, Kamis (25/9), kami langsung

ke lokasi, namun truk tronton sudah tidak ada. Kami kejar ke Kecamatan

Leuwiliang juga sudah tidak ada. Kami mendengar truk tronton tersebut

sudah ada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dan batu situs akan

dikirim ke luar negeri," kata Kepala Bidang Budaya, Dinas Kebudayaan

dan Pariwisata Kabupaten Bogor Boy Gyawarman di Bogor, Jumat (26/9).



Menurut Gyawarman, hilangnya situs batu kuya dari tempatnya sudah

dilaporkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Kabupaten

Serang, yang mengawasi kelestarian situs-situs sejarah/purbakala di

Jawa Barat dan Banten. Laporan serupa juga disampaikan ke Direktorat

Peninggalan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.



"Menurut pejabat di direktorat itu, dipastikan situs batu purbakala

ini masih berada di Indonesia," katanya.



Gyawarman menambahkan, pihaknya memang sudah mencatat keberadaan situs

purbakala di hutan lindung Haur Bentes, Kecamatan Sukajaya. Ada

beberapa situs di kawasan hutan lindung tersebut yang berada di

permukaan tanah.



"Namun, identifikasi dan deskripsi terhadap situs-situs yang ada belum

dilakukan karena anggaran yang sangat terbatas," ujarnya.



Meski demikian, situs tersebut kemungkinan besar peninggalan Kerajaan

Tarumanegara, yang merupakan kerajaan tertua di Nusantara. Kerajaan

Hindu yang didirikan Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 Masehi

ini meninggalkan tujuh prasasti yang tersebar di Bogor dan Jakarta.



Dibuat jalan



Sejumlah anggota masyarakat yang menyaksikan pemindahan batu tersebut

mengatakan, alat-alat berat dikerahkan untuk mengangkut batu situs

tersebut. Untuk menuju lokasi situs di kawasan hutan lindung Haur

Bentes juga dibuat jalan selebar 3 sampai 4 meter.



Ukat Sukatma, tokoh adat Sindang Barang dan pemerhati situs-situs di

Bogor, mengatakan terkejut ketika melihat truk tronton mengangkut batu

situs. Apalagi ketika melihat "kepala kuya" atau kurang-kura dipotong

untuk memudahkan pengangkutan. "Namun, saya tidak bisa berbuat

apa-apa," ujarnya.



Di sekitar kawasan hutan lindung tersebut juga terdapat situs-situs

lainnya, seperti yang berbentuk buaya dan orang. Namun, semua situs

tersebut dibiarkan telantar. (RTS)



rts



Dapatkan artikel ini di URL:

http://entertainmen t.kompas. com/read/ xml/2008/ 09/27/0044296/ 
situs.purbakala. batu.kuya. hilang


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke