Batur  mah bisaan, Kartini nu leweh nyeungceurikan nasibna sarta curhat ka 
baturna di Walanda dipieling tiap 21 April sacara nasional, ari Dewi 
Sartika kalawan cikaringet, banda beak, jeung gawe nyatana ngamajukeun atikan 
wanoja jarang disabit-sabit.

Jaipongan ngalalakon nganasional disirikan dihubungkun jeun tari erotis. Ari 
tari tayub jeung panari jawana mah teu digogoreng. Geulis ku geulisna, wanodya 
Sunda mah dipikasirik, digogoreng, dianggap dangdan nurutan jalma beunghar. Ari 
awewe jawa nu olo-olo dilulur mah teu digogoreng. Ngahaja eta mah, pembunuhan 
karakter. Alus wae aya nu ngalawan nulis dina PR. Tapi wanodya Sunda kudu 
nyaring, sabagian nu ogoan ulah ogoan, sabagian nu pamalesan ulah terus jadi 
pamalesan, sing palinter, sing saringer. Mugia.


 



________________________________
From: Roza Rahmadjasa Mintaredja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, November 3, 2008 7:49:12 PM
Subject: Re: [kisunda] Re: Nong Gerak NGAMANIPULASI DATA


wah?????
eta namina disakompet daunkeun kg Waluuuuuyyy. ..
wanoja Sunda sakabeh jadi kitu?
padahal sakabeh awewe mun keur pacaran pasti berkosmetik ria heula...
padahal Dewi Sartika mun dibanding RA Kartini...
jauh kamana mendi dina prakna...
padahal awewe Jawa di luar jawana seueur nu jd tk pijat teselubung..
jadina etamah pasti aya tujuan terselubung. ..
keur menggradasi rendahkeun wanoja sunda...
upami anu di cupumanikna aya?
nhn
he33x!
....oca tea..

--- On Mon, 11/3/08, Waluya <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
From: Waluya <[EMAIL PROTECTED] co.id>
Subject: Re: [kisunda] Re: Nong Gerak NGAMANIPULASI DATA
To: [EMAIL PROTECTED] .com
Date: Monday, November 3, 2008, 3:50 AM

> From: Roza Rahmadjasa Mintaredja
> sok sanjan uin can maca artikelna ogen

Nyanggakeun artikelna Bah Oza, Majalah ME (Male Emporium), Februari 2005. 
Sigana majalah ieu teu medal deui ayeuna. Ieu majalah khusus lalaki. Maksad 
teh sanes kanggo muka-muka jaman katukang, ngan ieu mah kanggo intropeksi 
we, sabab anggapan negatip ka wanoja Sunda, saeutik atawa seueur didorong 
ku sikep sabagian lalaki Sunda oge!

Di Balik Kecantikan Wanita Sunda

Ada kesan umum, bahwa wanita Sunda pemalas dan suka berdandan.
Benarkah demikian?

Memang susah mencari pasangan atau istri ideal. Cantik, pintar
bekerja, beretika, setia, jujur relegius
dan feminim. Akan sempurna hidup seorang pria, bila mendapatkan istri
seperti ini. Barangkali pula itu hanya padangan utopis saja. Tapi,
Amir Hamzah, seorang general manager perusahaan asuransi, selalu
berusaha untuk mendapatkannya.

Akibatnya, Amir Hamzah sering gontaganti pasangan. Sekarang dia
mempunyai dua kekasih. Pertama, keturunan )awa, bekerja sebagai
coordinator public relations di perusahaan elektronik. Secara karier
wanita ini cukup bagus, namun secara fisik kurang cantik. Kulitnya
sedikit hitam dan tubuhnya biasa-biasa saja, pokoknya bukan tipe Amir.
Pacar kedua, perempuan Sunda. Cantik, kulit halus bak bengkuang dan
pintar pula berdandan. Tapi secara karier dan intelektual, biasa-biasa
saja, dan hanya sebagai karyawan biasa.

Amir bingung, mana yang harus dipilih, sementara usia dan orangtua
terus mendesak. Diakuinya, bahwa kedua pacarnya itu mempunyai
kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sebagai pria normal, ia ingin
memiliki istri cantik. Masalahnya, kecantikan belum menjamin apakah si
wanita akan menjadi mitra hidup yang baik nantinya.

Lingkungan & Alam
Sudah menjadi pengetahuan bagi sebagian orang, bahwa wanita Sunda
cantikcantik. Alamnya yang elok memberikan andil dalam hal ini,
terutama untuk kehalusan kulit. Tapi, di balik keindahan dan
kecantikan yang dimiliki wanita Sunda, terdapat unsur buruk, yaitu
pemalas, dengan hobi berdandan dan bergaya seperti orang kaya. Tidak
itu saja, dipercayai pula oleh sebagian orang, bahwa dalam berumah
tangga, wanita Sunda selalu mengandalkan pendapatan suami. Tentu saja
ini hanya pandangan sebagian orang. Sebab bukan berarti semua
perempuan Sunda seperti itu.

Secara antropologis, banyak faktor yang menyebabkan wanita Sunda
setiap berinteraksi dengan pria selalu mengandalkan keindahan fisik.
Bukan kemampuan intelektual dan kepribadian yang kuat seperti wanita
Sumatera Utara, Jawa dan Bali, yang tegar dalam kehidupan.
Wanita-wanita Jawa, Bali dan Sumatera Utara, terkenal sebagai wanita
ulet. Mereka tidak memilih-milih pekerjaan, yang penting halal. Ini
bisa dilihat di terminal-terminal, pasar, dan ladang.

Menurut Agus Wiyanto, budaya Sunda adalah budaya yang memiliki sisi
erotisme tinggi, yang bisa dilihat dari kesenian tarinya, seperti
tarian Jaipong. Jaipong kental dengan goyangan tubuh, yang menonjolkan
bagian-bagian tubuh yang seksi. Berbeda dengan tarian-tarian Jawa yang
lebih sarat dengan simbol dan makna kehidupan.

"Alam yang subur meninabobokan wanita Sunda sampai terlena, hingga
tidak perlu bekerja keras. Alam sudah menjamin kelangsungan. kehidupan
mereka. Cukup suami yang bekerja di ladang atau sawah, sementara istri
di rumah mengurus dan merawat anak, mempercantik diri, melayani suami
dan membersihkan rumah," tutur anggota Persatuan Cendekiawan Nasional
Indonesia ini.

Agus menambahkan, keindahan dan kesuburan alam (dan kecantikan wanita)
Jawa Barat ini sampai ke wilayah bagian pantai Jawa Barat, Banten
(sebelum menjadi propinsi sendiri), yang termasuk bagi dari kota Paris
in Java. Tidak jauh beda dengan Bogor yang pada zaman VOC dijadikan
tempat peristirahatan kaum bangsawan Belanda.

Malah di sebagian daerah jawa Barat, ada pula wanita yang bangga
menjadi janda. Ini terjadi karena adanya anggapan, bahwa wanita yang
mampu menikah tiga atau empat kali, berarti wanita tersebut lebih
bagus dibandingkan wanita lain yang hanya kawin satu kali. "Ini
terjadi di Karawang, wilayah Pantai Utara dan Indramayu," kata Agus.

Bila kondisi sosial seperti ini dibiarkan, tentu saja akan berpengaruh
pada generasi berikutnya. Secara tidak langsung mereka akan melakukan
apa yang telah diperbuat generasi sebelumnya. Akibatnya, pandangan
orang terhadap wanita Sunda bisa semakin buruk.

Berbeda dengan wanita Jawa yang dikesankan suka bekerja keras. Bagi
mereka, bekerja merupakan kehormatan. Lebih baik bekerja walau
hasilnya kecil, daripada menjual diri tapi tidak halal. Agus
menjelaskan, kelemahan wanita jawa adalah tidak mempuyai ambisi dan
rencana matang. Akibatnya, mereka selalu marjinal, menjadi pembantu
rumah tangga, pedagang sayuran di pasar, dan perjual jamu. Ini akibat
rendahnya pendidikan yang membuat pola pikir dan pengembangan hidup
menjadi rendah.

Dosen IISIP ini menambahkan, ada pula pandangan di kalangan orangtua
yang mengatakan, bahwa tidak ada gunanya wanita bersekolah sampai ke
perguruan tinggi. Pasalnya, wanita tetap akan kembali ke dapur
mengurus dan merawat anak serta melayani suami. Pola pikir ini hanya
bisa dihapus melalui pendidikan dan kesadaran akan fakta. Bahwa di era
global kini, yang dibutuhkan dari wanita manapun (tidak hanya wanita
Sunda) - bukan hanya kecantikan fisik - tapi juga kemampuan
intelektual dan kemauan kerja yang tinggi. © Ajo
Sumber: Male Emporium

------------ --------- --------- ------

Yahoo! Groups Links

 


      

Kirim email ke