Punten teu disundakeun, 
tamba janten runtah...hehehe....
-------------------------------------------


MENGAKRABI KATA-KATA
Oleh Sarabunis Mubarok


/1.

Apa itu sajak atau puisi? Dari begitu banyak orang menerangkan sajak atau puisi 
--mulai yang paling sederhana sampai yang paling rumit-- kiranya yang paling 
menarik adalah apa yang disampaikan oleh Sutardji Calzoum Bachri: "Niatmu 
adalah sajakmu. Apapun yang kau niatkan sajak, itulah sajakmu."  

Pengertian ini,  bisa didedahkan untuk membuka sebuah optimisme akan kegairahan 
menulis dan mengapresiasi puisi, sesuatu yang selama ini sering dianggap 
sebagai hal yang pekat dan sulit dijangkau masyarakat. 

Bahwa niat penyair sangat penting bagi puisi, nafas intuisi yang akan
membawa kata-kata pada kehidupan, menjemputnya, dan dengan sendirinya akan 
menyampaikan niatnya (niat kata) untuk sampai pada niat sang penyair. Untuk 
menuju puisi, kata-kata tidak hanya bergerak dalam tabiat dengan niatnya 
sendiri-sendiri, ia akan berkembang dengan menyusuri berbagai lembah dengan 
cara dan jalannya yang kreatif bersama peta dalam niat penyair.
 
Kata-kata akan menemukan kreatifitas, keindahan dan kecerdasannya dari berbagai 
alam yang ia masuki. Masa lalu dan masa kini, kesedihan dan kegembiraan, mimpi 
dan kenyataan, ketakutan dan keinginan, angan-angan dan masa depan, dan segala 
rasa yang menyertai tubuh daging manusia dalam kehidupan. 

Dalam lorong kehidupan masa kini yang serba instan, kekuatan niat penyair 
menjadikan kata-kata tak boleh lagi hanya bergerak di jalur-jalur yang sudah 
usang, ia mempelajari dirinya sendiri dari sudut-sudut lain, lalu ia memilih 
jalur dengan teliti, menghirup aura-aura kegelisahan yang bertenaga, bergerak 
dalam kombinasi daya bunyi dan nilai rasa yang tak sekedar spontan, namun 
menjiwainya sebagai perpaduan dari makna dan nilai yang menyegarkan kehidupan. 
Lalu diam-diam kata-kata akan tumbuh sebagai puisi, kelahiran yang menyihir 
penyairnya sendiri.

Demikianlah, dalam kekuatan niat penyair, puisi terus terlahir. Di sini, 
kata-kata tak lagi berputar dalam lingkaran dirinya yang menjemukan. Seperti 
Chairil, kata-kata ingin hidup seribu tahun lagi, melewati berbagi zaman dengan 
tak sekedar mengikuti arus, tapi ia meneratas pembaruan dalam berbagai 
perubahan zaman. Arus pembaruan untuk menghindari jebakan-jebakan yang melulu 
menawarkan kepastian dan kesempurnaan, sementara sejatinya kepastian dan 
kesempurnaan adalah juga lingkaran yang menjemukan.


/2.

Seperti juga dorongan melepaskan nafsu sexsual atau libido, pengulangan yang 
konvensional akan sampai pada lingkaran yang menjemukan. Disinilah tubuh-jiwa 
perlu pelepasan dengan cara-cara lain yang tak sekedar berhubungan badan, atau 
berfantasi sexsual dengan gambar-gambar film biru. Sigmund Freud, dengan 
psikoanalisanya menemukan bahwa cara lain pelepasan tenaga libido adalah 
melalui kesenian.  Melalui puisi, si penyair menggunakan tenaga dalam dirinya 
untuk melepaskan diri dari berbagai hal kompleks. Dalam puisinya diletakkan 
kemauan-kemauan dan keinginan-keinginannya sendiri.  

Dengan mengutip apa yang diungkapkan Freud, penulis tak hendak membahas 
pengaruh psikoanalisa dalam karya sastra. Yang hendak dikemukakan adalah bahwa 
memilih melepaskan lingkaran menjemukan melalui menulis puisi, akan menguatkan 
niat penyair. Kesungguhan niat ini akan melepaskan lingkaran menjemukan yang 
mengurung kata-kata, menuju puisi yang dibangun dari pemilihan kata yang 
kreatif untuk memperoleh kesegaran baru dalam puisi. Dan pada maqam ini, sang 
penyair pun akan disadarkan bahwa begitu banyak sampah yang telah ditulis, dan 
dibacakannya dalam riuh tepuk tangan para pemulungnya.

Bagaimana dengan orang yang baru akan menulis puisi Indonesia? Tentu syarat 
utamanya harus bisa berbahasa Indonesia. Lalu mulailah menulis. Lupakanlah 
keinginan untuk menjadi Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam noor, Godi 
Suwarna, atau para penyair manapun. Karena puisi akan menyerap sari kehidupan, 
dan kehidupan setiap orang berbeda-beda. Puisi menginginkan gairah-gairah baru 
untuk melepaskan dirinya dari kejemuan, seperti libido yang menginginkan 
pelepasan dengan proses kreatif yang penuh ketegangan namun sangat mengesankan.

/3.

"Aku tak bisa mengajarimu, dan tak mungkin bisa mengajarimu menulis puisi." 
"Lalu kepada siapa saya harus belajar menulis puisi?"
"Hidupmu adalah mata air puisimu, dan hanya kaulah yang bisa mengalirkannya ke 
sungai-sungai kegelisahan menuju muara puisimu."
"Aku tak mengerti?"
"Ingatlah, bahwa kata-kata ada di mana-mana, ada sebelum engkau ada. Bisakah 
kau menghitung berapa banyak kata yang sedang bergerak saat ini? Pada detik ini 
saja semua manusia di seluruh dunia tengah mengucap kata, di hati dan pikiran, 
di mulut dan tulisan, di buku-buku, di ilmu pengetahuan, di televisi, di radio, 
telepon, komputer dan internet, di mana-mana. Satu detik berapa kata yang 
tengah bergerak? Bermilyar-milyar? Betapa riuhnya jika semua kata-kata itu 
dikumpulkan. Setiap detik kata-kata bergerak dalam lingkarannya yang 
begitu-begitu saja berulang-ulang."
"Lalu bagaimana aku harus menulis?"
"Baiklah, saat ini berapa kata yang keluar masuk ke perpustakaan kehidupanmu? 
Berapa kata dari masa lalumu, berapa kata dari suka-dukamu, dari mimpi dan 
kenyataanmu, dari hati dan mulutmu, dari tangkapan mata dan telingamu, dari 
setiap detik denyut nadi, hingga kini, setelah lebih dari satu milyar detik 
usiamu. Berapa kata? Lalu mengapa kata-kata itu sulit sekali memasuki 
pintu-pintu puisimu? Ini karena kau membunuh niat penyairmu."
"Tidak, kini aku berniat menulis puisi, lalu bagaimana dengan teori-teorinya?"
"Kata-kata adalah segala-galanya bagi puisi. Ia yang menyertai perjalanan 
kehidupanmu. Akrabilah ia, lalu tulislah! Tulislah apa yang paling dekat 
denganmu! Tulislah terus hingga menjelma puisi! Lalu bacalah! Kenalilah 
puisimu! Dan kenalilah teori-teori itu dari puisimu?" 

/4.

Membicarakan teori puisi, tentu saja akan sangat panjang dan rumit. Ini bukan 
saja karena teori puisi yang terus berkembang, tapi juga penuh perdebatan 
seiring dengan saling berdebatnya pendekatan kritik yang satu dengan yang 
lainnya. Sementara puisi bukan sekedar kerja intelektual, tapi merupakan kerja 
seni yang memerlukan proses kreatif, sebuah kesungguh-sungguhan dalam 
mengakrabi kata-kata. 

Untuk memulai menulis sebuah puisi, kita simpan dulu sejenak teori-teori. 
Sebagai kerja seni, puisi berangkat dari intuisi. Ia memasuki ruang-ruang 
imajinasi untuk mendedahkan pengalaman puitik sang penyair. Kata-kata tak hanya 
harus diserap dari sumur-sumur kehidupan, tetapi juga harus diakrabi dengan 
sabar dalam upaya membangkitkan kreativitas untuk melahirkan berbagai makna. 
Dengan mengakrabi kata-kata, ruang-ruang imajinasi akan menghembuskan berbagai 
gagasan kreatif, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan dan nilai rasa.

Memasuki ruang imajinasi harus terbebas dari teori-teori. Pembebasan ini 
penting untuk mencongkel kreativitas dalam mengkomunikasikan pikiran dan 
perasaan. Kata-kata diserap dan diakrabi dari segala sisi. Keinginan, 
ketakutan, kegembiraan, alam, mimpi, kegilaan, fantasi tak masuk akal, menjelma 
hewan, menjelma benda, melintasi ruang dan waktu. Dengan pengakraban seperti 
ini, akan menajamkan kepekaan penyair dalam menaklukkan kata-kata sehingga 
menjadi lebih lentur dan segar, tidak terbatas pada makna leksikon yang sudah 
umum.   

Lalu bagaimana dengan teori? Tentu saja teori perlu dipahami dan dikuasai. Tapi 
teori tidak membentuk puisi dan puisi tidak dibentuk dari teori-teori. Puisilah 
yang membentuk teori-teori. Secara kreatif ia akan membentuk pararelitas atau 
benang merah dalam dirinya, mengalir ke dalam bentuk-bentuk tipografi, 
pemilihan diksi, metafor-metafor, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan 
berbagai perangkat stilistika lainnya seiring dengan mengalirnya berbagai 
gagasan, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan, sugesti, sensitifitas dan 
nilai rasa yang mengandung kejujuran dan keindahan. 

Jadi mulailah menulis puisi, mulailah mencari jalan sendiri! Seperti apa yang 
dikatakan Jakob Sumardjo, "Menulislah seperti berenang. Dalam berenang kita tak 
mengingat aturan atau teori dalam buku."

***


Salam,
Sarabunis Mubarok___________ Singaparna

Kirim email ke