ALLAH = TOTALITAS sebagai SANG MAHA dalam segalanya, CIPTA NYA dalam jagat semesta ini, makhluk mengenal HASIL CIPTA KE-ESA-annya dalam keberadaan manusia itu sendiri sebagai DIRI YANG DICIPTA OLEHNYA
sebagai manusia memang sulit menyetuhnya, tetapi mengenal dan mengahayatinya merasakan betapa bersatunya diri kita kepadaNYA, betapa sadarnya diri kita sebagai makhluk yang dicipta. maka pokok pangkal dari manusia kepada SANG PENCITA adalah KESADARAN. Manakala seseorang berada dalam DIAnya sendiri sebagai diri yang unik yang melampau taraf abstraksi dan pembahasan. Maka dia telah diterangi olehNYA. dia mendapat penerangan dariNYA, dia telah menjadi dirinya sendiri an melihat kedalaman atas anugrah qodratNYA. manusia melihat kedalaman qodratnya (seeing into one's own nature)juga taqdir diriya atas yang telah diberikanNYA.Maka tiap2 makhluk memiliki AKU dengan objektivitasnya sendiri-sendiri. Namun AKU masing-masing tidak hidup dalam dunia yang sama obvjektivnya dan tentu saja tidak sama poa tingkahlaku yang tidak sama pula atau tidak satupun AKU mempunyai qodrat yang sama. Tetapi dapat dipastikan bahwa setiap manusia menghasil kan penerangan untuk kediriannya sendiri. Manusia hidup dalam kediriannya masing2 dan tidak bisa saling dipertukarkan;setiap manusia terpaut dengan lingkungan alam sekitarnya sendiri. Kerangka kesadaran terhadap dirinya yang UNIK, sekaligus terpaut dalam lingkungannya yang Unik pula. Obyektivitas Pada alam ini, ada bidang kosong yang disebut emptiness(sunyata) dan semua realitas di jagat semesta ini menempati sunyata tersebut. Realitas terdiri dari alam dan manusia itu adalah suchness (tathata) yakni sunyata yang sadar akan dirinya atau menjado sadar tentang dirinya dengan melihat dan menyadari sesuatu sebagaimana adanya, menyadari bahwa tathata pada segala sesuatu terjadi dan sudah sejak belu mengatakan apa dan ininya. Maka memahami inti qodratnya sendiri tidak bisa lepas dari alam di mana seseorang disituasikan. Kehidupan mnusia dapat dikatakan utuh (kalau tidak boleh dikatakan "sempurna" dalam tanda petik) bila dia muncul, hadir dan menjadi satu dengan alamnya(bhaga neker bhaga angger; bhaga nincak bhaga rempag) atau ada kesamaan antara dirinya an alamnya. Sebab diri sejati tiadalain adalah objek sejati. Tetapi kesamaan tersebut tidak mengandung peniadaan yang satu pada yang lainnya; diri-sejati bukan meniadakan kenyataan tetapi mempertegas setiap hal yang dapat disentuh nya, bukan melalui analisis tetapi melaui kehidupan sehari-hari di mana seseorang meng-IYA-kan setiap kenyataan yang ada. Disinilah perbedaan pokok memahami dan menghayati kehidupan dan manusia sebagai DIRI yang tidak bisa dipaksa dan dipertukarkan , ditentang tetapi dihargai sbagai bagian inti dario pengalaman KESADARAN tiap2 manusia sebagai maklhluk ciptaanNYA! Tabe pun AMBU ________________________________ From: abas_amin08 <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, November 7, 2008 6:55:42 PM Subject: [kisunda] Re: Taqdir-2 AA: Itu adalah hukum didalam Alam Semesta; dan Allah itu diluar Alam Semesta; Dia meliputi seluruh Alam Semesta Dulunya tak ada apa ap KECUALI DIA saja Tunggal ; kemudian dia menciptakan didalam dirinNya suatu Ruang hampa; diciptakan Kabut berpilin dan dibuatkan Proses supaya berevolusi sehingga terjadilam Matahari; jutaan bintang2 planit dan segala Isinya. Maka Allah diluar semua hukum Alam. Dialah Yang Menciptakan Hukum Alam sehimgga semua saling berputar; diangkasa dst dst. Maka Hukum Alam yang dicptakan Tuhan Juga; tak berlaku bagiNYA. Dia Maha segalaNya; Dzul Jala Li Wal Ikram --- In [EMAIL PROTECTED] .com, richadiana kartakusuma <richadianakartakus [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ada dan tiada > ada berada karena sang tiada > maka tidak akan ada jikalau tak ada sang tiada > maka ada dan tiada berlangsung secara dialektis > > > > > > > ____________ _________ _________ __ > From: Abbas Amin <abas_amin08@ ...> > To: urangsunda <[EMAIL PROTECTED] ups.com> > Cc: kisunda <[EMAIL PROTECTED] .com> > Sent: Friday, November 7, 2008 6:42:04 PM > Subject: [kisunda] Taqdir-2 > > > Taqdir-2 > > Tiap hiji jelema unggal rek ngalengkah nyanghareupan ratusan atawa rebuan Qadha ; tah wktu milih, eta teh Qadar, jadi masing tetap sadayana oge tos diserat di lauh mahfudz; tapi ari nu jadina mah ngan ukur hiji ! Tah nu hiji teh Taqdir. > > Jadi mun dipesek deui Taqdir teh hiji tindakan anu dijalankeun ku manusa hasil tina pilihan; tapi naon wae nu dipilih ku manusa sadayana oge tos kaununga ku Gusti Nu Maha Suci; da sadayana oge tos aya dina programna. > > Jadi Taqdir teh sami sareng lengkah CATUR; sakapeung pilihan urang teh hade pisan; sakapeun nyoledat; tah pikeun ieu aya cara ngurangan kasalahan nya eta seing ngadu¢a Ihdinas shiraatal mustaqiem tea. Anu hartina pisan mah Yaa Allah ulah nyalahan abdi ngalengkah teh, mugi alternatif nu dipilih ku abdi teh anu pangtepatna. > > Satiap adha teh , terusanan nyangjareupan deui alternatif sejen deui ; tapi tetep tina rebuan qadha ngan hiji nu bisa dipilih kalawan ratusan variant nu bakal tumiba; eta sadaya parantos diprogram ku Allah. >
