Kuring kungsi nonton film "Missisipi Burning", film soal kumaha urang
hideung di Amerika ditincak harkat darajatnya ku urang kulit putih di taun
1960'an. Sanggeus lalajo pelem eta, rarasaan teh teu mungkin Amrik dipimpin
urang hideung. Tapi ieu Amerika dimana ngimpi bisa jadi kanyataan: Januari
2009, Amerika dipimpin ku kulit hideung .....
'Sinyo' Hitam di Gedung Putih
[ Majalah Tempo, 10 November 2008]
MATAHARI terbit kembali di Amerika. Setidaknya itulah yang dirasakan para
pendukung Barack Obama setelah mendengar kemenangan kandidat Partai Demokrat
itu dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat pekan lalu. Maklum, mereka
merasa kepemimpinan George Walker Bush selama delapan tahun terakhir ini
telah membawa negaranya ke dalam malam yang pekat. Amerika menginvasi
Afganistan dan Irak, memenjarakan ribuan orang tanpa pengadilan di
Guantanamo, dan menerbitkan undang-undang antiteroris yang represif.
Mulanya adalah serangan teroris ke menara kembar di New York, 11 September
2001. Belum lagi asap menghilang dari reruntuhan bangunan, suara marah dan
semangat dendam keras berkumandang dari Gedung Putih. Perang terhadap
teroris digelindingkan ke seluruh penjuru bumi dan dunia dipaksa memilih:
ikut Washington atau akan dianggap sebagai lawan. Simpati dunia yang sempat
membanjir begitu gedung World Trade Center roboh pun pelan-pelan berubah
menjadi kekesalan. Popularitas Amerika melorot dan kaum antidemokrasi di
seluruh bumi berteriak lantang: demokrasi telah gagal!
Kini rakyat Amerika membuktikan betapa kelirunya pernyataan itu. Di negara
demokrasi, pengendali kekuasaan yang dianggap salah dapat diganti dalam
sebuah proses yang damai. Tak cuma tanpa kekerasan, tapi juga dapat
berlangsung seru, menegangkan, dan amat inspiratif. Bagaimana tidak, seorang
anak yang ayahnya beragama Islam dan berasal dari Kenya, yang sempat
dibesarkan di Menteng Dalam, Jakarta, dapat terpilih menjadi orang nomor
satu di negara terkuat di dunia. Kejadian ini membuktikan bahwa Amerika
tetaplah sebuah tanah bebas, tempat mimpi mungkin dikejar dan diwujudkan.
Paling tidak mimpi Dr Martin Luther King yang tewas ditembak 41 tahun silam
kini menjadi kenyataan. Pejuang persamaan hak bagi kulit berwarna ini
dibunuh karena mimpinya mengganggu kenyamanan kelompok masyarakat negaranya
yang rasis. Rasisme yang menyebabkan hukum Virginia mengkriminalkan
perkawinan berbeda warna kulit hingga Mahkamah Agung menyatakan hukum ini
melanggar konstitusi pada 1967. Rasisme yang kini kelihatannya tinggal
menjadi reruntuhan sejarah. Buktinya, Barack Obama juga menang suara di
negara bagian yang pernah memimpin pemberontakan bersenjata terhadap
Washington karena menolak kebijakan Presiden Abraham Lincoln menghapus
perbudakan ini.
Amerika rupanya sedang berubah drastis. Perubahan yang tak terelakkan karena
sistem yang berjalan selama ini ternyata membuahkan tiga krisis besar:
perang di dua negara, krisis keuangan, dan guncangan perubahan iklim bumi.
Obama menjanjikan untuk menyelesaikan perang, mengatasi krisis ekonomi, dan
menanggulangi masalah lingkungan global ini melalui aliansi dengan
negara-negara lain, tak lagi menempuh jalan Presiden Bush yang gemar
melakukan kebijakan unilateral.
Pilihan Obama ini perlu kita sambut dengan tangan terbuka. Kemenangan pria
yang pernah bersekolah di sekolah dasar negeri di Indonesia ini menunjukkan
rakyat Amerika memilih sikap terbuka dan rendah hati dalam menghadapi
tantangan masa depan. Sebuah pilihan yang tak mudah karena biasanya dorongan
untuk menutup diri dan bercuriga kepada pihak asing amat terasa di saat
krisis sedang melanda. Ini jelas menunjukkan bahwa rakyat banyak lebih
cerdas ketimbang anggapan mencibir yang kerap disuarakan segelintir kelompok
elite terdidik.
Buktinya, lebih dari tiga juta warga memberi sumbangan semampu mereka kepada
Obama sehingga ketergantungan alumnus Universitas Harvard ini pada sumbangan
konglomerat, yang biasanya merupakan penyumbang utama kandidat pertarungan
politik, tak terbentuk. Jutaan orang yang biasanya kurang peduli untuk
memilih pun kali ini rela antre berjam-jam untuk menggunakan hak suara
mereka. Mereka ingin Amerika kembali pada khitahnya: sebuah pemerintahan
yang dibentuk untuk kepentingan rakyat, oleh rakyat.
Keyakinan warga Amerika atas sistem demokrasi ini mudah-mudahan menjadi
inspirasi bagi warga dunia, terutama rakyat Indonesia. Kita seolah
diingatkan kembali bahwa prinsip dasar sistem demokrasi adalah kepercayaan
bahwa rakyat yang bebas itu menghasilkan pemikiran kolektif yang cerdas.
Bahwa hanya dalam kondisi setiap warga bebas mengutarakan pendapat dan
ekspresi, pasar bebas politik akan menghasilkan gagasan terbaik untuk
menghadapi tantangan bangsa. Justru tugas negara adalah memastikan bahwa
pasar bebas gagasan ini terjaga dari intervensi kelompok yang gemar
memaksakan aspirasi mereka dengan kekuatan nonkon-stitusional.
Keberhasilan Amerika dan banyak negara maju lainnya dalam menyejahterakan
bangsa mereka adalah bukti empiris ampuhnya sistem demokrasi. Sejarah
menunjukkan banyak bangsa yang sempat jaya di masa lalu akhirnya menjadi
merana karena ketidakmampuan rezim penguasanya menghadapi perubahan zaman.
Sebaliknya, sistem demokrasi yang merawat kebinekaannya seperti di banyak
negara maju saat ini terbukti mempunyai kemampuan untuk selalu mengadaptasi
diri menghadapi berubahnya zaman. Soalnya, bangsa yang demokratis selalu
dapat mengganti pemimpinnya secara damai dan teratur agar selalu sesuai
dengan tantangan yang baru.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/