http://www.mail-archive.com/[EMAIL PROTECTED]/msg04113.htmlKalender Sunda (?)

Belakangan ini mulailah populer apa yang disebut Kala Sunda, yang dikatakan
sebagai kalender lunar asli Sunda yang terlupakan selama ratusan tahun. Kala
Sunda ternyata memiliki kejanggalan dalam penentuan awal bulan. Berbeda
dengan kalender solar yang tidak tergantung pada posisi bulan, semua
kalender lunar dan lunisolar harus memperhitungkan munculnya bulan baru
dalam penentuan tanggal satu.

Itulah sebabnya tanggal satu (awal bulan) dari kalender-kalender Hijriah,
Jawa, Yahudi, Saka, Buddha dan Imlek selalu berdekatan.

Anehnya, Kala Sunda menetapkan tanggal satu ketika bulan berwujud setengah
lingkaran (padahal seharusnya tanggal 7 atau 8). Istilah Sansekerta
suklapaksa (paro terang), yang arti sesungguhnya "separo bulan (half-moon)
sebelum purnama", dipersepsi secara lain oleh sang pembuat kalender Kala
Sunda, yaitu "awal bulan terjadi ketika bulan terlihat separo (half-moon)"!

Ternyata apa yang dinamakan Kala Sunda itu merupakan kalender modern yang
diramu dari berbagai sistem kalender lain, lalu dimodifikasi agar kelihatan
berbeda dengan kalender-kalender sebelumnya. Sistem Kala Sunda persis sama
seperti pinang dibelah dua dengan sistem kalender

Jawa: dalam sewindu ada tiga tahun kabisat, dan setiap 120 tahun dihilangkan
sehari, sehingga jika misalnya awal windu (indung powe) Senen Manis, maka
awal windu selanjutnya Senen Manis juga. Setiap 120 tahun, indung powe
berganti dari Senen Manis menjadi Ahad Kliwon, kemudian menjadi Sabtu Wage,
dan seterusnya.Jadi, sama sekali tidak ada kelebihan Kala Sunda dari
kalender karya Sultan Agung yang selama ini dipakai oleh masyarakat Sunda,
termasuk oleh Harian Pikiran Rakyat setiap hari.

Nama-nama bulan dalam Kala Sunda (Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna,
Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, Asuji), nama-nama hari (Radite,
Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek), serta pembagian bulan menjadi
suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16, semuanya itu
meniru kalender Saka, kecuali nama hari Tumpek (Sabtu) yang entah dari mana
diambil. Nama-nama ini bukan budaya asli Sunda, melainkan pinjaman dari
India. Di kalangan rumpun Indo-Jermania (termasuk India), hari pertama
berhubungan dengan dewa matahari (Raditya, Dies Solis, Sunday, Zondag,
Sonntag, Dimanche), dan hari kedua dengan dewa bulan (Soma, Dies Lunae,
Monday, Maandag, Montag, Lundi). Nama-nama hari kalender Saka yang sudah
dihapuskan Sultan Agung lantaran berbau kemusyrikan kini dihidupkan kembali
oleh Kala Sunda.

Masih ada lagi beberapa hal yang patut dijelaskan oleh sang pembuat kalender
Kala Sunda. Mengapa bulan pertama dalam Kala Sunda adalah Kartika, yang
dalam kalender Saka bulan kedelapan? Apakah manfaatnya menghitung tanggal
satu dari saat bulan setengah lingkaran, yang tidak pernah ada sepanjang
sejarah kalender sejak zaman Mesopotamia dan Mesir Purba? Apakah gunanya
menghidupkan kembali pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa,
padahal dalam kalender Saka modern di India tidak dipakai lagi? Jika
sekarang tahun 1942 Sunda, berarti tahun 1 kalender Kala Sunda jatuh pada
tahun 123 Masehi. Peristiwa penting apakah gerangan yang terjadi tahun 123
Masehi, sehingga kita tetapkan sebagai Tahun Satu?

Kala Sunda memang cukup akurat, cuma kita harus jujur mengatakan bahwa ini
adalah kalender baru ciptaan seorang budayawan Sunda, Ali Sastramidjaja
(Abah Ali), yang sangat patut kita hargai! Tetapi janganlah kita gegabah
mengatakannya sebagai warisan leluhur Ki Sunda, sebab belum pernah ada
kalender seperti itu. Prasasti-prasasti sebelum Islam selalu menggunakan
kalender Saka (India), meskipun banyak yang dilengkapi pancawara (bahkan ada
juga yang memakai sadwara) hari-hari asli Jawa dan Sunda.

Kalender Hijriah Solar

Ditinjau dari hubungan terhadap kalender Hijriah, kalender Jawa berkebalikan
dengan kalender Iran (Persia). Jika di Jawa kalender mengikuti Hijriah
tetapi angka tahun tidak berubah, maka di Iran kalender tidak berubah tetapi
angka tahun dihitung dari hijrah Nabi.

Jadi kalender Iran adalah kalender Hijriah Solar (kalender Hijriah dengan
perhitungan matahari). Selain berlaku di Iran, kalender ini juga dipakai di
Afganistan dan Tajikistan sebagai sesama rumpun bangsa Persia.

Kalender Iran diciptakan Raja Cyrus tahun 530 SM, dan dibuat lebih akurat
pada awal abad ke-12 oleh ahli matematika dan astronomi yang juga sastrawan,
Umar Khayyam (1050-1122). Tahun baru (Nawruz) selalu jatuh pada awal musim
semi. Nama-nama bulan adalah Farwardin, Ordibehest, Khordad, Tir, Mordad,
Shahriwar, Mehr, Aban, Azar, Dey, Bahman, Esfand. Enam bulan pertama 31 hari
dan lima bulan berikutnya 30 hari. Bulan terakhir, Esfand, 29 hari (tahun
biasa) atau 30 hari (tahun kabisat yang empat tahun sekali).

Dibandingkan dengan kalender solar yang lain, kalender Iran paling cocok
dengan musim. Tanggal 1 Farwardin selalu 21 Maret (awal musim semi), tanggal
1 Tir selalu 22 Juni (awal musim panas), tanggal 1 Mehr selalu 23 September
(awal musim gugur), dan tanggal 1 Dey selalu 22 Desember (awal musim
dingin).

Setelah bangsa Iran memeluk agama Islam, tahun hijrah Nabi (622 M) dijadikan
Tahun Satu, tetapi kalender tetap berdasarkan matahari.

Tahun baru tanggal 1 Farwardin 1385 Hijriah Solar jatuh pada 21 Maret 2006.

Khatimah

Sebagai penutup uraian, penulis artikel ini mengimbau agar umat Islam
membiasakan penggunaan tarikh Hijriah (di samping tarikh Masehi) dalam
catatan harian, surat-surat, hari lahir anggota keluarga, dan sebagainya.
Banyak di antara kita yang mungkin belum tahu bahwa proklamasi kemerdekaan
bangsa dan negara Republik Indonesia berlangsung pada hari Jumat tanggal 9
Ramadhan 1364 Hijriah atau 9 Ramelan (Pasa) Ehe 1876 atau 26 Mordad 1324
Hijriah Solar, yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 Masehi.***

Penulis, Direktur "Ganesha Operation" Bandung.

Kirim email ke