Ieu hiji tangtangan keur Pamarentah Jabar, khususna bagean panalungtikan kepurbakalaan atawa pra sejarah, yen wewengkon Jabar oge beunghar kacida ku titinggal sajarah/prasajarah. Bill khusus, si kuring ngarojong pisan kana pamendak Prof Zaim, guru si kuring, yen panalungtikan teh kudu direncanakeun jeung yen masyarakat kudu dipaparin katerangan kumaha tatacarana lamun meunangkeun bukti-bukti kahirupan atawa titinggal sajarah/jaman baheula.
manar 2008/11/24 mh <[EMAIL PROTECTED]>: > Tulang Raksasa di Muara Gembong > > MUARA Gembong di sebelah utara Kab. Bekasi, hari-hari terakhir ini > dihebohkan dengan penemuan tulang raksasa. Apakah tulang belulang > tersebut merupakan peninggalan zaman purbakala? Hal itu belum bisa > dipastikan karena tim peneliti masih menuju ke Muara Gembong. > > "Tulang itu ditemukan kemarin (Minggu-red.) pagi sekitar pukul 9.00 > WIB. Warga sempat heboh dan mengira itu tulang badak atau gajah karena > dsini dulunya hutan," kata Ajun Komisaris Lestariyono, Kepala > Kepolisian Sektor Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, di kantornya, > Senin (24/11). > > Orang yang pertama kali menemukan tulang tersebut adalah Muasih, > pekerja tambak warga Kampung Bungin RT 03/01, Desa Pantai Bakti, > Kecamatan Muara Gembong, Bekasi. Saat sedang bekerja di tambak milik > Sarkani, warga setempat, tiba-tiba saja Muasih menginjak benda keras. > > Setelah diperiksa, ternyata benda itu tulang belulang. Bersama Daud > dan Rino, mereka bertiga kemudian menggali lebih dalam. Ternyata > mereka menemukan tulang belulang yang berukuran cukup besar. Jumlah > total tulang yang ditemukan mencapai 246 potong. Ukurannya, ada yang > mencapai panjang 120 cm dengan diameter 23 cm. Bentuk tulang-tulang > itu juga beraneka rupa, ada yang bulat seperti batu, panjang, dan > pipih. > > Untuk sementara, tulang belulang yang ditemukan tersebut diamankan di > Mapolsek Muara Gembong. > > "Kita amankan ke kantor karena isunya semakin simpang siur. Kita juga > khawatir ada orang-orang yang memanfaatkan masalah ini untuk > kepentingan pribadi," ujar Lestariyono. > > Lokasi penemuan tulang tersebut lumayan jauh dari Mapolsek Muara > Gembong. Kondisi jalan menuju lokasi penemuan juga sangat buruk. > Terlebih pada musim hujan, jalan itu becek dan berlumpur. > > Kondisi tulang belulang raksasa tersebut, saat ditemukan > terpecah-pecah menjadi potongan besar dan kecil. Tulang tersebut juga > berwarna hitam gelap. "Kita masih menunggu petugas terkait untuk > meneliti tulang-tulang itu," kata Lestariyono. > > Belum bisa dipastikan > > Menanggapi penemuan tersebut, ahli paleontologi Institut Teknologi > Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim belum dapat memastikan tulang > belulang tersebut dari jenis hewan purba ataupun lainnya. "Banyaknya > tulang belulang tidak bisa dijadikan dasar penetapan kerangka tersebut > merupakan hewan raksasa. Apalagi, istilah raksasa tersebut tergantung > definisinya," katanya ketika dihubungi lewat telefon, Senin (24/11). > > Menurut Zaim, tulang belulang untuk kerangka gajah pada zaman ini juga > berjumlah ratusan. "Ukuran gajah saat ini dengan pada zaman purba > tidak jauh berbeda, begitu juga dengan jenis hewan besar lainnya," > ujarnya menambahkan. > > Sekitar belasan tahun lalu, temuan kerangka badak purba pernah > ditemukan di kawasan Tangerang. Temuan serupa pernah terungkap di > kawasan Cirebon dan sekitarnya. > > "Dilihat dari usianya, jauh lebih muda dibandingkan dengan temuan > kerangka di daerah Sangiran Jawa Tengah. Untuk temuan kerangka di > Bekasi, bisa saja menjadi rangkaian temuan kerangka seperti di > Tangerang karena potensi Jabar sebagai peninggalan zaman purbakala > juga terbuka. Namun, harus dibuktikan lebih jauh," ujarnya. > > Mengenai warna tulang yang hitam pekat, menurut Zaim, terjadi karena > pigmen tulang menyerap warna pada tanah lumpur yang biasanya ada di > daerah tambak. > > Namun, Zaim menyayangkan sikap masyarakat sekitar penemuan tulang di > Bekasi yang langsung melakukan penggalian tulang belulang sebelum > dilakukan penelitian sebelumnya. Penggalian terhadap peninggalan > sejarah purbakala tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena dapat > mengaburkan konstruksi sejarah. > > "Begitu menemukan hal yang tidak biasa, harusnya masyarakat segera > melapor ke pemerintah daerah setempat dan lokasi penemuan tersebut > di-statusquo-kan terlebih dahulu sampai ada tim ahli yang meneliti," > ucapnya. > > Selain itu, pengangkatan temuan purbakala harus memiliki tujuan > mendetail. "Sebelum diangkat, kita harus tahu apakah hewan tersebut > mati terpendam di lokasi tersebut atau terbawa arus deras pada saat > proses kelangsungan hidup. Oleh karena itu, jangan langsung diangkat > sebelum konstruksi tulangnya jelas," katanya. (Ririn/"PR"/Dtc)*** > > Cita: > http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=44695 > > ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
