Nuhun kang tos ngalungkeun dongeng jawa.
 ~ jalak pakuan ~ 



________________________________
From: Kang Maman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, November 25, 2008 23:10:33
Subject: [kisunda] Teraakhir : Sangkalaning Majapahit


Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batin merasa sangat
menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha. 


Lama beliau tidak berkata. Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya
agama Islam itu karena terpikat kata putri Cempa, yang mengatakan
bahwa orang agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang
melebihi surganya orang kafir. 

Sabdapalon berkata sambil meludah, "Sejak jaman kuno, bila laki-laki
menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk
wadah, tidak berwewenang memulai kehendak." Sabdapalon banyak-banyak
mencaci Sang Prabu. 

"Kamu cela sudah tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya
kamu kutanya, masihkah tetapkah tekadmu? Aku masuk agama Islam, sudah
disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada Buddha lagi." 

Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau.
Ketika ditanya perginya akan ke mana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi
tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya
meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang. 

Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua,
berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdapalon. Orang Jawa akan
diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan
Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut musnah. (=tiba-tiba
menghilang; red: bandingkan pencapaian kedua orang ini dengan kisah
para arahat pada jaman Sakyamuni Buddha) 

Sang Prabu kemudian menyesal dan meneteskan air mata. Kemudian berkata
kepada Sunan Kalijaga, "Besok Negara Blambangan gantilah nama dengan
Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdapalon ke tanah
Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdopalon masih dalam alam Ghaib." 

Prabalingga karo Bangerwarih 
Sunan Kalijaga kemudian diperintahkan menandai air sumber, jika bau
harumnya hilang, besok, orang Jawa akan meninggalkan agama Islam,
kembali ke agama Kawruh. 

Sunan Kalijaga kemudian membuat dua buah tabung bambu, yang satu diisi
air tawar, satunya diisi air sumber. Air sumber tadi untuk pertanda,
jika bau wangi hilang, orang tanah Jawa akan kembali ke agama Kawruh.
Tabung setelah diisi air, kemudian ditutup daun pandan dan dibawa dua
orang sahabatnya. 

Prabu Brawiaya kemudian pergi, diiringkan Sunan Kalijaga dan dua orang
sahabatnya. Malam harinya istirahat di Sumberwaru. Esok harinya tabung
itu dibuka, airnya dicium masih wangi, kemudian segera melanjutkan
perjalanan lagi agar ketika matahari tenggelam sudah sampai di
Panarukan. Sang Prabu istirahat di sana. 

Pagi harinya air dicium masih wangi. Sang Prabu kemudian melanjutkan
perjalanan lagi. Sesudah matahari tenggelam mereka telah sampai di
Besuki. Sang Prabu beristirahat di sana. 

Esok harinya tabung air dicium masih berbau wangi. Sang Prabu kemudian
meneruskan perjalanan sampai matahari tenggelam. 
Sampai di Prabalingga, disitu juga istirahat semalam. 

Esok paginya air itu dilihat lagi. Air yang tawar masih enak, tetapi
berbusa harum. Tetapi tinggal sedikit, karena kerap diminum di jalan.
Sedangkan air sumber setelah dicium baunya menjadi bacin (=busuk),
lalu dibuang. 

Sang Prabu kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga, "Prabalingga di
besuk namanya dua, Prabalingga dan Bangerwarih. Di sini besok menjadi
tempat untuk perkumpulan orang-orang yang mencari pengetahuan
kepintaran dan kebatinan. Prabalingga artinya perbawanya orang Jawa
tertutup dengan perbawa tetangga." 

Sang Prabu kemudian segera meneruskan perjalanan, agar dalam waktu
tujuh hari sudah sampai di Ampelgading. Nyai Ageng Ambil menyambut
kemudian menyembah kepada Sang Prabu sambil menangis bercucuran air mata. 

Sang Prabu kemudian berkata," Jangan menangis, sudahlah semuanya sudah
menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Aku dan kamu hanya sekedar
menjalani, semua peristiwa ini sudah ditulis dalam Lauh Mahfudz. Baik
buruk jangan ditolak. Sudah kewajiban orang hidup sabar dan menerima." 

Nyai Ageng Ampel kemudian berkata kepada Sang Prabu, melaporkan
tingkah laku cucunya, Prabu Jimbun, seperti yang sudah diceritakan di
depan. Sang Prabu kemudian memerintahkan untuk memanggil Prabu Jimbun.
Nyai Ampel mengutus santri ke Demak dengan membawa surat. Sesampai di
Demak, surat disampaikan kepada Sang Prabu Jimbun. 

Tidak lama kemudian Prabu Jimbun berangkat menghadap ke Ampel. 
Putra raja Majapahit, yang bernama Raden Bondan Kejawan di Tarub,
mendengar berita bahwa negara Majapahit dibedah oleh Adipati Demak,
malah Sang Prabu meloloskan diri dari istana, tidak jelas ke mana
larinya. Merasa tidak enak pikirnya, maka kemudian pergi ke Majapahit. 

Raden Bondan Kejawan menyamar untuk mencari berita dimana ayahandanya.
Sesampai di Surabaya ia mendengar berita bahwa Sang Prabu ada di
Ampel, tetapi kemudian sakit. Raden Bondankejawan kemudian
menghaturkan sembah bhakti. 

Sang Prabu bertanya, "Siapa yang menyembah ini?" 

Raden Bondan Kejawan berkata, "Hamba putra Paduka, Bondhan Kejawan." 

Sang Prabu kemudian merangkul putranya. Sakitnya Sang Prabu semakin
parah. Beliau merasa sudah akan pulang kepada jaman kelanggengan. Kata
beliau kepada Sunan Kalijaga demikian, "Sahid, mendekatlah kemari, aku
sudah akan kembali ke jaman kelanggengan, buatlah surat ke Penging dan
Ponorogo. Nanti kuberi tanda tangan. Aku sudah terima hancurnya
Majalengka. Jangan ada perang berebut tahtaku, semua tadi sudah
kehendak Yang Maha Suci, jangan ada perang, karena hanya akan membuat
kekacauan dunia. Sayangilah rakyat dan jangan merusak tanah Jawa.
Menghadaplah ke Demak. Jangan ada yang memulai perang setelah aku.
Kuminta kepada Yang Maha Kuasa, perangnya akan kalah." 

Kembali ke Alam Kalanggengan 
Sunan Kalijaga kemudian menulis surat. Setelah selesai kemudian
ditandatangani oleh Sang Prabu. Kemudian diberikan kepada Adipati
Pengging dan Ponorogo. 

Sang Prabu kemudian berkata, "Sahid, setelah aku tidak ada,
pandai-pandalah kamu memelihara anak cucu-ku. Aku titip anak kecil
ini. Seketurunannya asuhlah. Bila ada untungnya, besok anak ini yang
bisa menurunkan bibit tanah Jawa. Dan lagi pesanku kepada kamu,
apabila aku sudah kembali ke alam kalanggengan, kuburkan aku di
Majapahit sebelah utara laut buatan. Adapun kuburanku kuberi nama
Sastrawulan. Siarkan kabar bahwa yang dikubur di situ Raja Putri
Cempa. Dan lagi pesanku, besok anak cucuku jangan sampai kawin dengan
lain bangsa. Jangan sampai membuat panglima perang orang bangsa lain." 

Sunan Kalijaga kemudian menjawab, "Apakah Sang Prabu tidak memberi
izin kepada putra Paduka Prabu Jimbun untuk menjadi raja di tanah Jawa?" 

Sang Prabu berkata, "Ya, kuberi izin, tetapi hanya berhenti tiga
keturunan." 

Sunan Kalijaga meminta petunjuk apa artinya nama kuburan Sang Prabu. 
"Sastra artinya tulisan, wulan artinya cahaya dunia. Artinya kuburanku
hanya seperti cahaya rembulan. Apabila masih kemilau cahaya rembulan,
nanti orang Jawa ingat bahwa kematianku sudah memeluk agama Islam.
Maka kutinggikan Putri Cempa, karena aku sudah dibetinakan oleh si
Patah, serta tidak dianggap laki-laki, sampai aku disia-siakan seperti
ini. Maka aku hanya mengizinkan ia menjadi raja hanya dalam tiga
keturunan. Karena si Patah itu dari tiga bangsa, Jawa, Cina, dan
Raksasa. Maka ia tega kepada ayah serta ngawur caranya. Maka wasiatku,
anak cucuku jangan kawin dengan lain bangsa, karena dalam
berkasih-kasihan dengan orang lain bangsa tadi bisa merubah keyakinan.
Bisa mencelakai hidup, maka aku memberi wasiat jangan mengangkat
panglima perang orang yang lain bangsa. Karena akan menginjak
Gustinya, dalam berperang mendua hati. Sudah Sahid, semua wasiatku
tulislah." 

Sang Prabu setelah bersabda demikian, tangannya kemudian bersedekap,
terus wafat. Jenazahnya kemudian dikuburkan di Astana Sastrawulan
Majapahit. 

Sampai sekarang terkenal bahwa yang dikubur di situ adalah Sang Putri
Cempa. Adapun sebenarnya Putri Cempa itu wafatnya di Tuban. Tepatnya
kuburan di Karang Kemuning. Setelah tiga hari wafatnya Prabu
Brawijaya, dikisahkan Sultan Bintara(= Raden Patah) baru datang di
Ampelgading dan bertemu Nyai Ageng Ampel. 

Nyai Ageng berkata, "Celaka kamu Jimbun, tidak melihat wafatnya
ayahanda, jadi tidak bisa sungkem serta minta izin olehnya menjadi
raja, serta minta ampunan semua kesalahan yang sudah terjadi." 

Prabu Jimbun berkata kepada Nyai Ageng, ia hanya bisa pasrah kepada
takdir. Barang yang sudah terlanjur hanya bisa dijalani. Sultan Demak
di Ampel tiga hari dan kemudian pulang kembali ke Demak. 

Diceritakan Adipati Pengging dan Ponorogo, yaitu Pangeran
Handayaningrat di Pengging dan Raden Batara Katong, sudah mendengar
berita bahwa negara Majapahit dibedah oleh Adipati Demak dengan
menyamar menghadap kepada Sang Prabu waktu Hari Raya. 

Adapun Prabu Brawijaya dan putra Raden Gugur meloloskan diri dari
istana dan tidak ketahuan besembunyi dimana. Adipati Pengging dan
Adipati Ponorogo sangat marah. Keduanya kemudian menyiapkan sebuah
pasukan hendak menyerang Demak, membela ayah merebut tahta. Para
prajurit sudah siap senjata untuk menempuh perang hanya tinggal
berangkat. Tiba-tiba datang utusan dari Sang Prabu Brawijaya
memberikan surat wasiat. Adipati Pengging dan Adipati Ponorogo segera
menerima dan membaca surat tersebut. Surat itu kemudian disembah
dengan meneteskan air mata berat. Keduanya terhenyak, marah, giginya
gemeretuk, wajahnya merah seperti api, dan kata-katanya ketus
menyumpah kepada ayahnya sendiri, mudah-mudahan jangan hidup lebih
lama lagi, agar tidak memperpanjang rasa malu. Kedua adipati ngotot
tidak mau menghadap ke Demak, karena gelap pikirannya kemudian
keduanya jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal. 

Sekalaning Majapahit

Adapun menurut pendapat yang lain, matinya Adipati Pengging dan
Ponorogo karena ditenung oleh Sunan Giri, agar jangan mengganggu di
belakang hari. Maka cerita hancurnya negeri Majapahit itu
disembunyikan, tidak seimbang dengan kebesaran serta luasnya
kekuasaannya. Semua itu untuk menutupi rahasia raja, seorang putra
memusuhi ayahandanya. Apabila dipikirkan sangat memalukan. Sejarah
hancurnya Majapahit disemukan oleh para pujangga bijaksana menjadi
demikian: 
"Karena Karomah para wali, keris Sunan Giri ditarik keluar ribuan
tawon yang menyengati orang Majapahit. Mahkota Sunan Gunung Jati
Cirebon, keluar tikusnya beribu-ribu menggerogoti bekal dan pelana
kuda prajurit Majapahit sehingga bubar, karena banyaknya tikus."
"Peti dari Palembang ada di tengah perang dibuka keluar demit-nya,
orang Majapahit geger karena ditenung demit. Sang Prabu Brawijaya
wafat mikraj."

Kemudian Kyai Kalamwadi bertutur kepada murid yang bernama Darmo
Gandhul, "Namun semua tadi hanya pasemon(=kiasan) . Adapun
kenyataannya, cerita hancurnya Majapahit itu seperti yang kuceritakan
tadi. Negara Majapahit itu besar dan kokoh. Akan tetapi bisa rusak
karena digerogoti tikus? Biasanya tawon itu bubar karena diganggu
orang. Hutan angker banyak demitnya. Bubarnya demit apabila hitannya
dirusak oleh manusia untuk dibuat sawah. Tetapi apabila Majapahit
rusak karena dari tikus, tawon, dan demit, SIAPA YANG PERCAYA?

Apabila orang percaya Majapahit hancur karena tikus, tawon, dan demit,
itu artinya orang tadi tidak tajam pikirannya. Cerita yang demikian
tadi ANEH DAN TIDAK MASUK AKAL. Tidak cocok lahir batin. Maka hanya
untuk pasemon (= kiasan). Apabila diterangkan dengan jelas maka
artinya membuka rahasia Majapahit. Maka hanya diberi perlambang agar
orang berpikir sendiri. Adapun pasemon tadi artinya demikian:
Tikus itu wataknya remeh, tetapi lama-lama apabila dibiarkan akan
berkembang biak. Artinya, para ulama awalnya ketika baru sampai di
Jawa meminta perlindungan kepada Prabu Brawijaya di Majapahit. Sesudah
diberi, balas merusak.
Tawon itu membawa madu yang rasanya sangat manis, senjatanya berada di
anus. Adapun tempat tinggalnya di dalam tala, artinya tadinya ketika
dimuka memakai kata-kata yang manis, akhirnya menyengat dari belakang.
Adapun tala artinya mentala `tega' meusak Majapahit, siapa yang
mendengar pasti marah.
Adapun demit diberi wadahi peti dari Palembang, setelah dibuka
berbunyi menggelegar. Artinya Palembang itu mlembang, yaitu ganti
agama. Peti artinya wadah yang tertutup untuk mewadahi barang yang
samar. Demit artinya samar, remit, rungsid. Demit itu juga TUKANG SANTET.
Adapun jelasnya demikian, Hancurnya Negeri Majapahit disantet dengan
cara samar, ketika akan menyerang tidak ada tantangan apa-apa,
menyamar hanya untuk menghadap ketika hari raya grebeg. Mereka
dikejutkan, Orang Majapahit tidak siap senjata, tahu-tahu Adipati
Terung sudah membantu Adipati Demak.
Sejak Jaman Kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit
hancur dengan disengat tawon serta digerogoti tikus saja, bubarnya
orang sekerajaan hanya karena disantet demit. Hancurnya Majapahit
suaranya menggelegar, terdengar sampai ke negara mana-mana. Kehancuran
tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu yaitu Wali
Delapan atau Sunan Delapan yang disujudi orang Jawa. Sembilannya
Adipati Demak. Mereka semua memberontak dengan licik.

Keajaiban Alam 
Kemudian lagi kata Ki Kalamwadi, "Guruku Raden Budi Sukardi
meriwayatkan sebelum Majapahit hancur, burung kuntul itu belum ada
yang memakai kuncir. Setelah negara pindah ke Demak, keadaan di Jawa
juga berubah. Lantas ada burung kuntul memakai kuncir. Prabu Brawijaya
disindir, Kebo kombang atine entek dimangsa tuma kinjir. 
Kebo artinya kerbau, yakni raja kaya, Kombang artinya diam tapi
suaranya riuh, yaitu Prabu Brawijaya tak habis pikir ketika Majapahit
hancur. Maksudnya diam marah saja, tidak berkenan melawan dengan
perang. Adapun tuma kinjir itu kutu babi hutan. Tuma artinya tuman
`terbiasa', babi hutan itu juga bernama andapan, yaitu Raden Patah
ketika sampai di Majapahit bersujud kepada ayahanda Sang Prabu. Waktu
itu diberi pangkat, artinya mendapat simpati dari Sang Prabu. Tapi
akhirnya memerangi dan merebut tahta. Tidak berpikir benar dan salah,
sampai Sang Prabu tidak habis pikir.

Adapun kuntul memakai kuncir itu pasemon Sultan Demak. Ia
mengejek-ejek kepada Sang Prabu, karena agamanya Buddha kawak kafir
kufur. Makanya Gusti Allah memberi pasemon gitok kuntul kunciran.
Artinya lihatlah tengkukmu, ibumu putri Cina, tidak boleh menghina
kepada orang lain beragama. Sang Prabu Jimbun itu berasal dari tiga
benih. Asalnya Jawa, maka Sang Prabu Jimbun besar hati menginginkan
tahta raja, ingin cepat kaya sesuai sifat ibunya. Adapun berani tanpa
pikir itu dari sifat Sang Arya Damar, karena Arya Damar itu ibunya
putri raksasa, senang minum darah, sifatnya sia-sia. Maka ada kuntul
memakai kuncir itu sudah kehendak Allah, tidak hanya Sunan Demak
sendiri saja yang diperingati mengakui kesalahannya, tetapi juga para
wali lainnya. Apabila tidak mau mengakui kesalahannya, dosanya lahir
batin. Maka namanya wali diartikan walikan dibaiki membalas kejahatan.
Adapun adanya orang Cina datang di tanah Jawa itu dongengnya demikian,
Pada jaman kuno, ketika santri Jawa belum banyak pengetahuannya,
setelah mati sukmanya terbawa angin kemudian tumbuh di tanah Cina,
maka sekarang kembali ke tanah Jawa menjadi sukmanya orang Cina tadi.
Jadi mereka itu tadinya banyak yang sukma Jawa.

THE END

============ ===

Kitu tah dongeng kapungkur. Aya teu hubunganana sareng Sunda ? Ningali
ti dongeng di luhur mah, duka kumaha hubunganana Majapahit teh gening
disebat oge Majalengka, apan eta ngaran daerah di urang.

 


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke