Kedah dicek deui:
1. naha Bre bet budha sanes hindu?
2. naha sanes Sunan Giri? Sunan X jaga mah mun teu lepat upruk aprakna tumali 
jeung Mataram sanes MP.
 ~ JP ~ 




________________________________
From: Kang Maman <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, November 25, 2008 21:15:18
Subject: [kisunda] PERDEBATAN TEOLOGIS PRABU BRAWIJAYA


Sang Prabu berkata, "Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu,
coba ucapkan biar aku dengarkan." 

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, "asyhadu ala ilaha
ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi,
tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu
utusan Allah. " 

Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, 

Quote:
"Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu
sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada
sesuatu yang kelihatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka
manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap
itu harus paham kepada apa yang diucapkan. Adapun maksud Nabi Muhammad
Rasulullah adalah itu Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia
itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji
Muhammad di Arab. 

Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah
letak rasa. Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lesan, rasul
naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu
rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah. Yang
pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia
menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah,
maka sembahyang yang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Ada
pun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhamad Rasul,
artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang
terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat,
tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian."

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan
pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga,
akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas
berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya
lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian
berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong. 

Perdebatan Prabu Brawijaya dengan Sabdapalon 
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon
dan Nayagenggong, 

Quote:
"Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha
dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati.
Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan
meninggalkan agama Buddha."

Sabdapalon berkata dengan sedih , 

Quote:
"Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, Siapa yang
bertahta menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur Paduka dahulu, Sang
Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai
sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. 

Hamba jika ingin tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada
peperangan saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri.
Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh
raja-raja Jawa. Tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama
menempati agama Buddha, baru Paduka yang berani meninggalkan pedoman
luhur Jawa. 

Jawa artinya 'tahu'. Mau menerima berarti 'Jawan'. Kalau hanya
ikut-ikutan, akan membuat celaka muksa Paduka kelak," Kata Wikutama
yang kemudian disambut halilintar bersahutan.

(Redaksi: Menurut ajaran Buddha mengenal adanya reinkarnasi, jadi
Sabdapalon ini telah berkali-kali bereinkarnasi dan selalu menjadi
seorang patih di tanah Jawa. Bandingkan dengan reinkarnasi dari para
Lama di Tibet) 

Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata, karena mau masuk agama Islam,
yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal: (1) rumput
Jawan, (2) padi Randanunut, dan (3) padi Mriyi. 

Sang Prabu bertanya, "Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan
agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasullalah
dan nama Allah Yang Sejati?" 

Sabdopalon berkata dengan sedih , 

Quote:
"Paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat watak sia-sia,
seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak
tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak.
Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji
diri sendiri. 

Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga
mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebut Dewa Yang Maha
Lebih. Dunia itu tubuh Dewata yang bersifat budi dan hawa, sudah
menjadi kewajiban manusia itu menurut budi kehendaknya, menjadi tuntas
dan tidak mengecewakan, jika menyebut Nabi Muhammad Rasulullah,
artinya Muhammad itu makaman kubur, kubur rasa yang salah, hanya
men-Tuhan-kan badan jasmani, hanya mementingkan rasa enak, tidak ingat
karma dibelakang. Maka nama Muhammad adalah tempat kuburan sekalian rasa. 

Ruh idafi artinya tubuh, jika sudah rusak kembali kepada asalnya lagi.
Prabu Brawijaya nanti akan pulang kemana. Adam itu sama dengan Hyang
Ibrahm, arthinya kebrahen ketika hidupnya, tidak mendapatkan rasa yang
benar. Tetapi bangunnya rasa yang berwujud badan dinamai Muhammadun,
tempat kuburan rasa. Jasa budi menjadi sifat manusia. Jika diambil
Yang Maha Kuasa, tubuh Paduka sifatnya jadi dengan sendirinya. 

Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan
sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Lata wal
Hujwa, yang meliputi wujud, wujudi sendiri, rusak-rusaknya sendiri,
jika diambil oleh Yang Maha Kuasa, hanya tinggal rasa dan amal yang
Paduka bawa ke mana saja. Jika nista menjadi setan yang menjaga suatu
tempat. Hanya menunggui daging basi yang sudah luluh menjadi tanah.
Demikian tadi tidak ada perlunya. Demikian itu karena kurang budi dan
pengetahuannya. Ketika hidupnya belum makan buah pohon pengetahuan dan
buah pohon budi. Pilih mati menjadi setan, menunggu batu
mengharap-harap manusia mengirim sajian dan selamatan. Kelak
meninggalkan mujizat Rahmat memberi kutukan kiamat kepada anak cucunya
yang tinggal. Manusia mati tidak dalam aturan raja yang sifatnya
lahiriah. Sukma pisah dengan budi, jika tekadnya baik akan menerima
kemuliaan. Akan tetapi jika tekadnya buruk akan menerima siksaan. Coba
Paduka pikir kata hamba itu!"

Prabu berkata "Kembali kepada asalnya, asal Nur bali kepada Nur". 

Sabdapalon bertutur "Itu pengetahuan manusia yang bingung, hidupnya
merugi, tidak punya pengetahuan ingat, belum menghayati buah
pengetahuan dan budi, asal satu mendapat satu. Itu bukan mati yang
utama. Mati yang utama itu sewu satus telung puluh. Artinya satus itu
putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak,
tetapi yang rusak hanya yang berasal dari ruh idhafi lapisan, bulan
surup pasti dari mana asalnya mulai menjadi manusia. Surup artinya
sumurup purwa madya wasana, menepati kedudukan manusia." 

Sang Prabu menjawab, "Ciptaku menempel pada orang yang lebih." 

Sabdopalon berkata, "Itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel
di pepohonan besar, tidak punya kemuliaan sendiri hanya numpang. Itu
bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya hanya
menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir kemudian
gentayangan menjadi kuntilanak, kemudian menempel kepada awal mulanya
lagi." 

Sang Prabu berkata lagi, "Aku akan kembali kepada yang suwung,
kekosongan, ketika aku belum mewujud apa-apa, demikianlah tujuan
kematianku kelak." 

"Itu matinya manusia tidak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika
hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum, dan tidur. Demikian itu
hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang
makna hidup dalam mati." 

Sang Prabu, "Aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh
menjadi debu." 

Sabdopalon menyambung, "Itulah matinya manusia bodoh, menjadi setan
kuburan, menunggui daging di kuburan, daging yang sudah luluh menjadi
tanah, tidak mengerti berganti ruh idhafi baru. Itulah manusia bodoh,
ketahuliah. Terima kasih!" 

Sang Prabu berkata, "Aku akan muksa dengan ragaku." 

Sabdopalon tersenyum, "Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa,
tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging. Manusia
mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad.
Tidak bersyahadat, tidak mati dan tidak hidup, tidak bisa menjadi ruh
idhafi baru, hanya menjadi gunungan demit." 

Sang Prabu, "Aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih,
terserah Yang Maha Kuasa." 

Sabdopalon, "Paduka meninggalkan sifat tidak merasa sebagai titah yang
terpuji, meninggalkan kewajiban sebagai manusia. Manusia diwenangkan
untuk menolak atau memilih. Jika sudah menerima akan mati, sudah tidak
perlu mencari ilmu kemuliaan mati." 

Sang Prabu, "Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap
Yang Maha Kuasa." 

 


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke